
Setelah mengantarkan bi Ani pulang kerumah, Rey dan Sista pun meluncur ke kediaman Wiratmadja.
Di sepanjang perjalanan, tidak banyak obrolan selain pertanyaan tentang kebutuhan rumah tangga baru mereka.
Setiap satu pertanyaan selesai dijawab, mereka akan saling diam sambil sesekali mencuri pandang.
Sebenarnya di dalam hati, Rey ingin sekali bisa berlaku manis pada istrinya. Tapi apalah daya, ia tidak tahu bagaimana cara memulainya.
Rey masih sangat minim inisiatif, bahkan tidak terpikirkan olehnya untuk sekedar menggenggam tangan Sista selama perjalanannya ke rumah Morgan.
Oh padahal itu saja sudah cukup manis dan bisa membuat dada wanita menjadi berdebar-debar.
"Kak,"
"Amel,"
Panggil mereka secara bersamaan, yang tentu saja membuat suasana menjadi tambah canggung dan kikuk.
"Kau duluan,"
Lagi-lagi mereka mengatakannya secara bersamaan.
"Baiklah aku duluan, aku hanya ingin tanya. Apa dirumah mu yang waktu itu sudah tidak ada foto-foto atau benda apapun yang tersisa dan ingin kau ambil?" tanya Rey serius.
"Tidak ada, Kak, disana mungkin hanya tinggal barang-barang yang sudah usang," jawab Sista seraya tersenyum.
Melihat senyum istrinya yang imut, Rey pun hampir saja kehilangan fokusnya.
"Hati-hati, Kak," ujar Sista yang mendapati mobil suaminya sedikit oleng.
"Maafkan aku, kau ... kau sangat manis jika tersenyum," kata Rey polos begitu saja.
Seketika membuat wajah Sista bersemu merah, entah sudah se-merah apa pipinya saat ini.
Namun sayangnya, momen mereka harus tertunda karena mereka sudah sampai di tempat tujuan mereka.
"Pagi sekertaris Rey, Nona Sista," sapa dua orang penjaga yang baru saja membukakan pintu gerbang untuk mereka.
__ADS_1
Rey dan Sista hanya mengangguk menanggapinya.
Mereka kemudian turun setelah mobil yang di kemudikan Rey berhenti semprna di tempat khusus untuk lelaki itu.
Tanpa mengetuk pintu, Rey berjalan masuk ke dalam rumah utama. Sementara Sista mengekor dibelakangnya.
"Rey? Aku sudah bilang padamu untuk mengambil cuti beberapa hari, kenapa kau masih datang kemari?"
"Saya hanya mengantarkan istri saya untuk mengambil barang-barangnya yang tertinggal disini, Tuan."
"Oh, begitu? Ya sudah, pergilah kebelakang!"
"Baik, saya permisi Tuan," ujar Rey kemudian berlalu dari hadapan Morgan.
"Emmm, oh ya ... berhubung kau ada disini. Sekalian saja antarkan aku dan istriku pergi kerumah sakit," kata Morgan dengan enteng.
"Baik Tuan,"
Tadi dia bilang menyuruhku untuk cuti, tapi sekarang dia memerintah untuk mengantarnya ke rumah sakit.
Selepas Rey dan Sista ke belakang, Eylina muncul dari arah kamar Emily.
"Hey, sayang. Hati-hati jalannya! Pelayan baru saja membersihkan lantainya, tadi," Morgan memperingatkan istrinya dengan nada dan raut wajah yang khawatir.
Ia bahkan berlari menjemput istrinya yang berjarak hanya tiga meter darinya.
"Kau selalu berlebihan seperti ini," protes Eylina.
"Dia calon anak pertama kita, tentu saja aku mengkhawatirkannya. Bagaimana jika lantainya memang masih licin?"
"Itu tidak mungkin sayang, peralatan untuk menge-mob lantai di rumahmu ini sangat bagus. Dan para pekerja disini juga sangat teliti, kan?"
Disaat mereka berdebat kecil, seseorang datang dan menjewer telinga Morgan begitu saja.
"Kau ini bagaimana, Morgan? Bisa-bisanya membiarkan istrimu berdiri saja disini! Wanita hamil itu sering merasa pegal di bagian kakinya! Ayo sini, sayang. Duduk di sofa empuk ini," ajak Ayu seraya menggandeng lengan menantunya.
Sementara Eylina menatap Morgan dan menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
"Kau? Awas saja nanti malam," ancam Morgan dengan mulut komat-kamit tanpa suara.
Bug...
Ayu memukul lengan putranya dengan keras, melihat lelaki itu masih komat-kamit dan melotot ke arah Eylina.
"Apa saja yang kau katakan? Beraninya mengancam menantu Mama!"
"Ma ... anakmu itu Morgan, Ma. Kenapa Mama akhir-akhir ini sering sekali memukul Morgan?" Protes Morgan seraya memasang wajah merajuk dan manja pada ibunya.
Namun bukannya disayang atau dimanjakan oleh ibunya, Morgan justru mendapat jeweran lagi di telinganya.
"Karena kau nakal sekali! Ingat Morgan, yang sedang di kandung Eylina adalah calon cucu Mama. Jadi kau harus menjaganya baik-baik! Jangan suka mengganggunya malam-malam!"
Ayu memberi peringatan keras pada putranya.
"Iya, Ma. Selama ini Morgan juga sudah berusaha menjaga calon anak Morgan dengan baik. Bukan begitu sayang?" tanya Morgan seraya berjongkok di dekat istrinya dan mengusap serta menciumi perut Eylina yang sedikit membuncit.
"Permisi, Tuan. Apa Tuan jadi ingin pergi ke rumah sakit?" tanya Rey saat sampai di ruang tamu. Ia tengah berdiri berdampingan dengan istrinya juga.
"Tentu saja, aku ingin melihat perkembangan calon bayi kami," jawab Morgan dengan bangga.
"Jadi kalian berangkat bersama Rey dan istrinya? Ingat ya Morgan, jangan terlalu menjahili istrimu!" kata Ayu, lagi-lagi mengingatkan putranya.
"Iya, Mama. Mama sama yang lain jadi ikut?"
"Tentu saja! Mama, Papa juga ingin melihat calon cucu kami,"
"Kami juga, Kak," teriak dua bocah pembuat onar.
Morgan hanya mencebik melihat tingkah mereka. Sekarang tambah lagi anggota mereka berdua, yaitu mamanya. Dan anggota terakhir merekalah yang justru membuat Morgan mati kutu sekarang.
"Ya sudah mari kita berangkat," ajak Morgan pada semua orang. Papa juga sudah siap, beliau sedang berjalan ke arahnya.
"Aku ambil tasku dulu," kata Eylina yang seketika membuat semua orang menoleh padanya.
"Jangan sayang, kau disitu saja! Aku yang akan mengambilnya."
__ADS_1
Sebelum dijewer lagi oleh mamanya, lebih baik Morgan berinisiatif duluan. Ia berjalan cepat ke kamar tamu yang telah beberapa bulan ia tempati sejak tau istrinya hamil.