
Melihat anak - anak yang tersenyum ke arahnya, Eylina pun juga mengembangkan senyumnya.
"Hai ... wah, kalian asik sekali bermainnya, boleh kakak bergabung?" tanyanya ramah kepada anak - anak itu.
"Tentu saja, kakak Eylina," jawab beberapa anak yang usianya belasan tahun.
Eh ... mereka tau namaku? Tau dari mana?
Eylina tercengang saat mendengar namanya disebutkan oleh anak - anak itu.
"Emm ... kalian tau nama kakak?"
"Hehehe ...." Anak - anak itu justru terkekeh, sungguh sangat menggemaskan dimata Eylina. Walaupun menderita penyakit mematikan, namun mereka mudah sekali tertawa. Ini sungguh mengharukan bagi Eylina.
Eylina masih penasaran, darimana anak - anak itu tahu namanya? Gadis itu kemudian menarik lengan suaminya agar mendekatkan telinganya. Lalu dengan setengah berbisik gadis itu bertanya pada suaminya, "Sayang, darimana mereka tau namaku? Aku bahkan baru bertemu dengan mereka hari ini kan?"
"Kau lupa? Kau ini istri siapa?" bisik Morgan ditelinga Eylina.
Ah iya ... hahaha, suamiku kan lelaki kondang ini. Bodohnya aku, batin Eylina. Ia kemudian menatap mata suaminya seraya menyeringai kuda karena malu akan kebodohannya.
"Mmm ... boleh kakak berkenalan dengan kalian?" tanya Eylina antusias, matanya berbinar penuh harap.
"Tentu saja, kakak Eylina." Salah satu dari mereka yang terlihat pemberani pun menjawab. Diantara mereka juga ada yang nampak malu - malu, ada yang memainkan tangannya, ada yang memainkan baju ataupun menggigit jemari mungil mereka.
Uhh ... kalian sungguh menggemaskan sekali, semoga apa yang kalian derita ini segera di angkat oleh Tuhan.
"Baiklah, kalian sudah tau nama kakak, kan? Sekarang giliran kalian yang menyebutkan nama masing - masing."
Eylina bersikap sangat baik, ia tersenyum seceria mungkin. Namun di dalam hatinya ia ingin sekali menangis melihat anak - anak ini. Membayangkan bagaimana ekspresi mereka saat divonis menderita penyakit mengerikan itu saja membuat dada Eylina sesak. Lalu bagaimana dengan mereka yang mengalaminya?
Eylina mengulurkan tangannya pada mereka.
Anak - anak itupun kemudian menyambut tangan Eylina, satu persatu dari mereka memperkenalkan namanya, menyebutkan usia mereka, hobi dan juga cita - cita. Anak - anak itu nampak antusias menceritakan harapan - harapan mereka.
Ada diantara mereka yang ingin menjadi dokter, presiden, profesor, pilot dan lain - lain. Eylina dan Morgan tersenyum mendengar cerita mereka.
__ADS_1
Anak - anak itu juga mengajak Eylina dan Morgan untuk ikut bermain bersama dalam permainan yang mereka mainkan. Namun karena kondisi Eylina yang masih belum bisa banyak bergerak, akhirnya ia dan suaminya hanya bisa duduk dan melihat permainan mereka.
Mereka sedang bermain lempar bola, tawa anak - anak itu pecah saat ada teman mereka yang gagal mengangkap benda itu ataupun harus terjatuh.
Eylina pun ikut tertawa melihat tingkah mereka. Tanpa disadari, sesosok laki - laki yang dari tadi berada disampingnya ikut tersenyum - senyum sendiri.
Morgan mengamati setiap gerak - gerik istrinya, ia ikut tersenyum saat Eylina mengembangkan senyumnya.
Kau memang mengagumkan, polos, tulus, memiliki hati yang hangat, sangat lembut dan juga cantik sekali. Mungkinkah kau adalah seorang malaikat dalam dunia nyata?
Morgan tak henti memandangi istrinya yang terlihat terkekeh beberapa kali.
Eylina menoleh, "Sayang? Ada apa? Apa ada sesuatu yang aneh di wajahku?"
Ia meraba pipi, kening dan bagian wajah lainnya untuk memastikan.
Melihat hal itu, Morgan justru tertawa, "Kau ini lucu sekali, tidak ada yang aneh di wajahmu. Meski dari kemarin kau tidak mandi, kau juga tetap cantik. Meski sedikit bau obat, tapi bagiku kau masih cukup wangi."
Morgan mengusap pipi Eylina yang terasa lembut.
"Mmm ... kurang lebih 15 tahun yang lalu, kenapa?"
"Tidak apa - apa, apa perawatan untuk penderita kanker itu mahal?"
"Relatif, tapi Papa memberikan banyak subsidi untuk masyarakat kurang mampu. Bahkan banyak diantara mereka yang bisa mendapatkan perawatan gratis disini." Morgan menjelaskan dengan santai.
"Oya? Papa baik sekali," aku tidak mengira, Papa bahkan lebih baik dari pada apa yang kulihat, lanjut Eylina dalam hatinya.
"Ya, tapi ada syarat dan ketentuan juga pastinya."
"Apapun itu, tapi Papa sangat luar biasa. Aku yakin pasti Papa menjadi sangat disegani, karena kepribadian Papa yang luar biasa. Semoga Papa semakin dicintai oleh banyak orang." Eylina tersenyum, ia menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia kagum sekali pada papa mertuanya.
Tapi kenyataannya, meski Papa telah rela melakukan banyak hal. Tetap saja ada pengkhianat dan juga musuh yang ingin sekali menghancurkannya.
Aku menyesal, kenapa aku tidak ikut terjun langsung ke lapangan sejak dulu. Aku justru terpuruk dan terus menyesali kepergian seseorang yang jelas tidak akan pernah kembali. Padahal Tuhan jelas - jelas akan memberikan pengganti atas setiap apapun yang telah diambil kembali olehnya.
__ADS_1
Morgan menundukkan kepalanya dan memejamkan matanya.
"Sayang, sepertinya kita harus kembali, hari sudah siang. Ibu dan Dara pasti bingung mencari mu nanti." Morgan beranjak berdiri dari tempat duduknya.
"Ah ... ya kau benar, tapi kurasa aku harus berpamitan pada mereka." Eylina menunjuk ke arah anak - anak tadi, mereka sedang duduk melingkar di bawah pohon.
"Baiklah," Morgan mendorong kursi roda istrinya untuk mendekati anak - anak itu.
Eylina pun berpamitan pada mereka, sungguh manis sekali. Anak - anak itu mendoakannya agar cepat sembuh. Padahal justru doa itu harusnya tertuju pada diri mereka sendiri. Eylina hanya butuh istirahat dan minum obat teratur serta menjaga pola makannya agar luka jahitnya bisa segera pulih dengan sempurna. Sementara mereka? Mereka harus menjalani serangkaian perawatan, bahkan termasuk kemoterapi yang kabarnya sangat menyakitkan, yang bisa membuat tubuh penderita itu semakin lemah.
Setelah berpamitan, Morgan membawa Eylina kembali ke ruang perawatannya.
Di sana sudah ada Santi, Dara dan juga Sista. Mereka bertiga menoleh ke arah pintu saat mendengar ada yang membuka pintu putih tersebut.
"Eylin ..." Santi berdiri dari duduknya dan langsung menghampiri putrinya. "Ibu, kira kalian sudah kembali pulang kerumah? Tapi ibu lihat, barang - barang kalian masih ada disini."
Eylina tersenyum dan menyambut tangan ibunya yang terulur padanya. "Eylin hanya pergi mencari udara segar, Buk. Eylin bosan dikamar ini terus."
"Oh iya, ibuk bikinin bubur untukmu. Nanti dimakan ya?"
"Terimakasih, Buk." Gadis itu kembali tersenyum.
Morgan membantu Eylina kembali ke atas ranjangnya dan membaringkannya. Dan tak lama setelah itu, dua orang perawat beserta dokter Mira datang untuk mengecek keadaan Eylina.
"Tuan, Morgan. Besok Nona Eylina sudah boleh pulang," kata dokter Mira setelah memeriksa keadaan Eylina.
"Benarkah?" tanya Morgan antusias.
"Benar Tuan, tapi Nona Eylina harus kembali kontrol setelah satu minggu."
"Kalau begitu datanglah kerumah, tepat saat jadwal kontrol Eylina," jawab Morgan dengan tanpa beban.
Tanpa ada penawaran, dokter Mira hanya bisa mengatakan "Baik Tuan," sebagai jawabannya. Setelah itupun ia dan kedua perawat yang menyertainya pun undur diri dari sana.
💗💗💗💗💗💗
__ADS_1