Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Peringatan


__ADS_3

Dua orang sahabat itu jika sudah bercerita bisa lupa waktu, selalu seperti itu dari dulu. Tapi sayangnya dirumah ini sekarang status mereka berbeda. Jika dulu, mereka bisa bercerita sambil perang bantal jika dirasa salah satu dari mereka merasa terpojok.


Tapi sekarang jangankan perang bantal, mentowel tangan Eylina saja Sista tidak berani karena urusannya akan menjadi panjang jika salah satu orang kepercayaan Tuan Morgan di dalam rumah ini salah mengartikannya. Ya, ia harus menjaga sikapnya dengan baik.


"Eh omong - omong, gimana kabar ibuk sama Dara?"


"Baik kok, Tante Santi bugar banget sekarang. Dara sekarang juga cantik banget lho Lin, makanya sering - sering main kesana dong. Ibuk lo kangen banget."


"Pengennya juga gitu, eh gimana kalau sekarang aja? Ibuk ada di toko kan? Bentar gue telepon suami gue dulu tapi." Eylina menyambar ponselnya dengan bersemangat.


"Eh ... eh, nggak bisa Lin. Gue belum tau cara bawa mobil yang kayak mobil baru lo itu. Hehehe ... gue masih dalam masa training, belum boleh bawa lo kemana - mana."


"Ya ... nggak asik dong," jawab Eylina kecewa. Ia lalu meletakkan kembali ponselnya. "Emang mobilnya beda ya dalamnya?" tambahnya.


"Beda banget lah, tadi gue lihat sih cuma kayak tombol - tombol doang gitu, tapi gue belum tau kegunaan - kegunaanya buat apa aja. Tapi kayaknya sih ini lebih mudah dari mobil - mobil yang pernah gue bawa."


"Oya? Apa kayak mobil sekertaris Rey? Atau kayak mobilnya suami gue?"


"Mmm ... kayaknya bagian dalamnya lebih mirip punya suami lo. Tapi gue juga nggak yakin sih. Eh ... gue merinding tau, ntar kalau mobilnya lecet gimana? Benerinnya pasti mahal banget. Gaji gue mana cukup buat gantiin?"


"Udah lo tenang aja, urusan gue itu ... gampang pokoknya."


"Kak Eylin ..." panggil seseorang dari arah belakangnya.


"Hai Luna ... udah pulang," Eylina menoleh dan mengulurkan tangannya, menyambut kedatangan adik iparnya.


Gadis kecil itu menyambut uluran tangan kakak iparnya seraya menganggukkan kepalanya.


"Dia siapa, Kak?" tanya Luna, gadis itu duduk di samping Eylina. Ia menatap Sista yang tengah tersenyum kearahnya.


"Ini namanya Kak Sista, sahabat terbaik kak Eylin dan juga bodyguard kakak. Sis, ini Luna, adik ipar gue yang paling cantik, paling imut, paling segalanya pokoknya." Eylina saling memperkenalkan mereka. Keduanya pun berjabat tangan dan saling tersenyum.


"Kak Sista tinggal disini juga?"


"Iya, Nona ..." Sista tersenyum. Lidahnya masih sangat kaku untuk menyebut kata Nona dan Tuan. Tapi ia harus mulai membiasakannya kan?


"Oh ... mmm Kak Eylin kita makan yuk, Luna lapar banget," ajak Luna.

__ADS_1


"Baiklah, mmm ... Luna, karena kita hanya berdua saja bagaimana kalau kita makan disini sama Kak Sista?" usul Eylina.


"Mmm ... oke, Luna ganti baju dulu kalau gitu."


"Ya udah kakak tunggu ya?"


Luna berlari kecil, ia masuk ke dalam rumah dan menghilang dari pandangannya. Eylina menyapu pandangannya namun tak ada pelayan yang melintas, ia akhirnya memanggil tukang kebun yang tengah membersihkan dan merapikan taman.


"Pak ..." panggilnya. Tukang kebun itu pun langsung menoleh dan segera menghampiri Nona Muda nya.


"Iya Nona, ada yang bisa saya bantu?"


"Bisa minta tolong? Aku dan Luna ingin makan siang disini, tolong sampaikan ke Pak Gunawan agar menyiapkannya ya?" pintanya ramah.


"Baik Nona," tukang kebun itupun berlalu dan melaksanakan apa yang diminta oleh Eylina.


Tak lama kemudian, Pak Gun datang padanya bersama dua orang pelayan lainnya.


"Permisi Nona, apa Nona yakin ingin makan disini bersamanya?" tanya Pak Gun seraya melirik tajam ke arah Sista.


"Maksud Pak Gun, Sista? Pak Gun, sebelum Sista menjadi bodyguard saya, Sista adalah sahabat baik saya. Tuan Morgan sudah tahu kok, saya rasa suami saya juga tidak akan keberatan jika saya sekedar makan dan duduk bersamanya." Eylina menjelaskan dengan ramah. Ia menyunggingkan senyumnya setelah itu.


"Baiklah Nona, maafkan saya. Kalau begitu saya akan menyiapkan makan siangnya, permisi." Pak Gun menundukkan kepalanya.


Waaahh ... Eylin hebat, Tuan Morgan benar - benar mengubah Eylin menjadi wanita yang berkelas. Cara berbicaranya pada para pelayan sungguh baik. Sudah seperti orang kaya sungguhan.


Sista nampak kagum.


Tidak berselang lama setelah itu dua orang pelayan pun datang dengan mendorong sebuah meja troli berisi makanan. Mereka dengan cekatan menghidangkan makanan tersebut ke atas meja.


"Terimakasih," kata Eylina setelah mereka selesai dengan tugasnya.


"Sama - sama Nona," mereka menundukkan kepalanya. Seorang diantaranya berlalu dan mendorong meja troli tadi masuk ke dalam dan yang satunya masih standby tak jauh dari Eylina.


"Wah ... sudah siap ya? Ayo makan Kak," Luna datang dengan berlari kecil menghampiri Eylina dan Sista. Ia lalu duduk dan langsung menyambar piring makannya.


"Sini Kak Eylin ambilin,"

__ADS_1


"Nggak usah Kak, Luna ambil sendiri aja," tolaknya seraya tersenyum.


"Baiklah ... Sista ayo ambil,"


"Lo duluan dong Lin,"


Gue disini kan posisinya sama kayak para pelayan itu. Nggak etis kalau gue main sambar makanan.


"Ya udah, sini piringnya!" Eylina mengambil piring makan Sista dan mengambilkan banyak makanan untuknya.


"Banyak banget?" Sista sampai membelalakkan matanya.


"Lo kan sekarang jadi bodyguard gue, jadi lo harus makan banyak biar kuat hajar orang jahat," kata Eylina dengan enteng.


Sista menggelengkan kepalanya, sementara Luna tertawa cekikikan.


Setelah itu mereka pun makan dengan khidmad. Sista juga menghabiskan makanannya meski di piringnya tadi sangat penuh dengan makanan. Ia sendiri tidak menyangka bisa menghabiskannya. Makanan yang disajikan sungguh enak dan lezat. Memang kabar media tidak salah selama ini, kabarnya keluarga Wiratmadja memiliki koki yang sangat handal. Yang bisa menciptakan menu baru dan menghidangkan makanan lezat setiap harinya.


Siang itu setelah makan siang, Eylina dan adik iparnya masuk ke dalam rumah untuk menemani Luna belajar. Sementara Sista memilih ke kamarnya untuk membereskan dan menata pakaiannya di lemari yang telah disediakan.


Setelah menatanya dengan rapi, Sista mengintip ke luar jendela kamarnya. Rupanya saat siang seperti ini, semua pelayan sedang beristirahat. Mereka terlihat bersenda gurau di taman yang ada di belakang bangunan khusus pelayan itu. Taman itu memang dikhususkan untuk para pelayan agar mereka tidak bosan di dalam kamarnya. Mereka terlihat sangat ceria bercengkrama dan terlihat saling melempar candaan. Sista sampai ikut tersenyum melihat tingkah mereka. Banyak diantara mereka sudah berumur, mungkin rata - rata 40 tahunan. Namun ada juga beberapa diantara mereka yang masih muda seperti Sista.


Keluarga ini sepertinya memang cukup memperhatikan para pegawainya, di dalam masing - masing kamar disediakan televisi dan juga pendingin ruangan. Kamar yang mereka tempati pun bahkan hampir sama dengan kamar hotel reguler, matras tempat tidurnya nyaman, dan sangat bersih. Disediakan juga selimut tebal disana. Di kamar mandinya tersedia bathub, shower, dan juga air hangat. Benar - benar fasilitas yang sangat baik untuk ukuran pelayan.


Namun hal itu jelas sebanding dengan tugas dan tanggung jawab mereka, waktu mereka diikat, pekerjaan mereka dituntut harus sempurna. Stamina mereka harus kuat, tahan banting dan bermental baja. Jam kerja mereka pun cukup panjang. Tidak boleh ijin lebih dari 2 hari, kecuali ijin pernikahan, ijin kabar duka, dan ijin sakit. Namun meski begitu, rata - rata dari mereka sangat mencintai pekerjaannya dan sangat betah tinggal di bangunan ini. Karena menurut mereka, hanya keluarga ini yang dirasa mampu menyediakan fasilitas serta gaji yang sangat bagus untuk mereka.


Sista mengambil ponselnya, ada beberapa pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Ia pun membukanya.


"Jangan memfoto apapun yang ada di dalam rumah Tuan Muda, baik itu foto selfie atau apapun.


Jangan menyebarkan informasi apapun tentang keluarga Tuan dan Nona Muda. Terlebih lagi di media sosial."


Sista mencebik dan melemparkan ponsel itu ke atas tempat tidurnya.


Dia lagi ... dia lagi, hhh ... tapi dia kan memang atasanku. Jadi memang seperti ini ya kehidupan keluarga Tuan Wiratmadja. Informasinya benar - benar dijaga, pantas saja selama ini tidak pernah ada foto atau postingan seseorang yang mengulas tentang isi dari rumah ini. Rupanya mereka telah lebih dulu mendapat peringatan dari sekertaris setengah astral itu. Mengerikan ....


Tak lama setelah itu, gadis itupun terlelap.

__ADS_1


💗💗💗💗💗💗


__ADS_2