Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Titik Terang


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu, Mathias sudah sangat baik keadaannya. Ia juga sudah dipindahkan di rumah sakit milik tuan Wira.


Hari ini Morgan bukan hanya datang bersama Rey, tapi ia juga mengajak ayahnya untuk menemui salah satu pegawai kantornya yang rela membiarkan dirinya sendiri dalam bahaya hanya untuk mempertahankan kesetiaannya pada tuannya.


Wira membuka pintu ruangan yang dijaga ketat oleh para bawahan Rey.


"Tuan besar?"


Mathias bangun dan berdiri melihat siapa orang yang baru saja membuka pintu ruangan tadi.


"Sudah ... sudah, kembalilah beristirahat!"


Wira dengan senyum ramahnya menghampiri ranjang Mathias.


"Maafkan saya, Tuan."


"Hahaha ... untuk apa? Semua sudah jelas bukan?" Wira menepuk bahu Mathias.


"Tapi saya tetap bersalah, Tuan. Saya berjanji akan memperbaiki semuanya setelah saya pulih nanti."


"Ya, ya ... untuk itu kau harus fokus pada kesembuhan mu. Dan satu lagi, lain kali jangan pernah bertindak bodoh seperti ini. Bukankah Rey punya banyak kaki tangan yang bisa diandalkan? Kenapa kau tak memilih memberitahunya dengan jujur jika istri dan anakmu diculik?"


"Saya tidak ingin merepotkan siapapun, Tuan."


"Lain kali jangan ulangi lagi. Rey, ini berlaku untuk semua karyawan ku. Semua keamanan mereka wajib dijamin. Terutama staf - staf penting. Jangan sampai kejadian yang menimpa Mathias akan kembali terulang dan menimpa yang lain." Wira berganti menatap Rey.


"Baik Tuan."


"Menghadapi musuh tidak bisa dengan cara yang gegabah. Ya, walaupun mereka menggunakan cara keras. Tapi kita punya otak, strategi itu sangat penting. Bukankah kau juga sangat hapal tentang itu, Mathias?"


"Benar, Tuan. Saya sangat menyesal telah melakukan ini semua. Sementara anak dan istri saya juga masih berada di tangan mereka."


Di saat tuan Wira dan Mathias serang mengobrol, Rey menerima telepon dari Robin.


Ia pun keluar dan mengangkat telepon dari anak buahnya tersebut.


Dari balik jendela kaca, Morgan dapat melihat jika Rey sedang membahas masalah serius meskipun ia tidak dapat mendengarkan pembicaraannya.


Selang beberapa saat kemudian, sekertaris berwajah datar dan dingin itu masuk kembali.


"Tuan muda, beberapa orang anggota The Lion telah berhasil menemukan titik terang keberadaan istri dan anak dari Mathias." Rey mengatakannya dengan berbisik karena Mathias sendiri masih sibuk berbincang dengan tuan Wira.


"Dimana mereka?"


"Ada di sebuah kampung kecil yang terpencil, Tuan. Tim yang lain sedang menuju kesana."


"Pastikan mereka bekerja dengan baik!"


"Tentu saja, Tuan."

__ADS_1


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Wira setelah selesai berbincang dengan Mathias.


"Ada kabar baik, Tuan. Tim telah berhasil menemukan titik terang keberadaan anak dan istri dari Mathias."


"Benarkah?" sahut Mathias dengan mata berbinar antusias.


"Ya, doakan saja yang terbaik. Tim yang lain sedang menuju kesana. Semoga hari ini juga mereka bisa membawa kedua orang yang kau cintai itu kemari." Rey berkata dengan mantap.


"Terimakasih, Tuhan. Terimakasih ...." Mathias meneteskan air matanya dan menangis hingga tergugu.


Akhirnya setelah hampir tiga minggu, ia akhirnya memiliki harapan untuk bertemu kembali dengan anak dan istrinya.


Wira yang melihat hal itu pun akhirnya berjalan mendekatinya dan duduk di samping lelaki yang sedang tergugu diatas ranjang pasien.


"Tenanglah! Percayalah, semuanya akan baik - baik saja." Wira berkata seraya menepuk bahu Mathias.


"Terimakasih banyak, Tuan. Terimakasih Tuan muda, sekertaris Rey."


Siang itu setelah Mathias lebih tenang, Wira, Morgan dan Rey kemudian pamit dari sana.


Mereka pulang kerumah utama untuk makan siang. Sepanjang perjalanan mereka membahas tentang strategi perusahaan, juga tentang kembalinya Jordan dan Hendrawan beserta putranya.


Namun sepanjang Rey mencari informasi, perusahaan Phanom tidaklah semenakutkan yang ia khawatirkan. Sekalipun mereka berhasil bangkit, namun Phanom bukanlah seperti dulu. Apalagi setelah kedua pentolannya pernah mendekam di dalam penjara.


Tidak akan mudah bagi Phanom untuk bekerjasama dengan perusahaan lain. Apalagi untuk meruntuhkan perusahaan sebesar Globalindo, sangat jauh sekali.


Keselamatan seluruh keluarga besar Wiratmadja saat ini sangat menjadi beban pikirannya.


Lebih dari empat puluh menit berlalu, akhirnya mereka sampai di kediaman paling diimpikan oleh banyak orang. Dimana lagi jika bukan di rumah megah milik Wiratmadja.


Rey membukakan pintu untuk kedua tuannya. Morgan dan Wira kemudian turun dan mereka masuk ke dalam rumah bersama - sama.


Eylina dengan senyum merekah berhambur ke arah suami dan mertuanya.


"Siang, Pa," sapanya seraya tersenyum kemudian menggandeng tangan suaminya.


"Siang juga Eylin. Oh ya bagaimana bekas luka operasi mu? Apa sudah lebih baik?" tanya Wira kemudian.


"Sudah, Pa. Bahkan sudah terasa lebih nyaman digunakan beraktifitas."


"Syukurlah, jaga pola makan mu supaya lukanya pulih dengan sempurna."


"Tentu, Pa. Terimakasih," jawab Eylina seraya tersenyum."


"Ya sudah, Papa duluan. Papa ada perlu sama Mama kalian."


"Baik, Pa. Silahkan."


Setelah itu Wira mengayunkan kakinya dan menjauh dari menantu dan putranya.

__ADS_1


"Bagaimana harimu?" tanya Morgan seraya mengusap pipi istrinya.


"Sangat menyenangkan. Emily mengajariku banyak hal. Dia juga mengajakku melihat hasil rancangannya di ruang sebelah kamarnya. Aku tidak menyangka jika Emily sangat berbakat seperti itu."


"Oya?"


"Ya ... kau tidak percaya?"


"Sebelumnya aku ragu, tapi karena kau yang mengatakannya ... sekarang aku percaya."


Morgan meraih kedua sisi wajah Eylina dengan kedua tangannya. Ia memajukan bibirnya hingga tersisa jarak sekitar dua senti saja.


Namun Eylina memundurkan kepalanya, ia tersenyum dan memberi kode dengan mata dan alisnya.


"Apa?" tanya Morgan bingung.


"Ada sekertaris Rey," bisiknya ditelinga Morgan.


Lelaki itu lalu mendesah, "Hei, dasar jomblo tidak tahu malu! Apa kau ingin sekali melihat adegan mesra kami?"


"Tidak Tuan," jawab Rey dengan sopan.


"Lalu kenapa kau masih berdiri disini? Pergilah ke ruang kerja!"


"Baik Tuan," dia yang tidak tahu malu, kenapa aku yang disalahkan? lanjut Rey dalam hati.


Sepeninggal Rey dari sana, Morgan tidak melanjutkan adegan apapun. Mereka melangkah bersama menuju meja makan.


Sebenarnya tidak ada gunanya bukan? Lalu untuk apa dia mengusir Rey tadi? Entah sudah menjadi hobi baru atau bagaimana, Morgan suka sekali melihat wajah Rey yang seperti orang bodoh sedang tertangkap basah mengintai kemesraan antara dirinya dan Eylina.


Setelah ia mencintai Eylina, ia tidak punya mainan baru. Tapi mengerjai Rey sepertinya tidak kalah menyenangkan.


"Kak Eylin, kak Morgan lama banget sih? Kebiasaan!" ujar Luna dengan wajah yang cemberut.


"Benarkah? Apa kau sangat lapar sekali?" tanya Morgan seraya mengusap kepala adiknya.


"Tentu saja, hari ini Luna banyak kegiatan di sekolah. Luna sengaja pulang dengan buru - buru biar bisa makan bareng, tapi kalian malah lama sekali."


"Ya sudah, sebagai permintaan maaf dari kakak, bagaimana kalau kak Eylin yang ambilin makanan buat Luna?" bujuk Eylina dengan tersenyum.


"Baiklah ... karena kak Eylin baik, Luna maafin deh."


Wira tertawa melihat ulah putrinya, ia lalu menatap Morgan yang secara bersamaan yang bersangkutan pun juga sedang melihat kearahnya.


Ayah dan anak ini, mungkinkah yang ada dipikirannya adalah hal yang sama?


Luna sudah sangat menikmati masa - masa sekolahnya saat ini, haruskah ia kembali menempuh pendidikan privat lagi dengan suasana yang mungkin akan mempengaruhi kondisi psikisnya seperti dulu?


💗💗💗💗💗💗

__ADS_1


__ADS_2