Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Meja Operasi


__ADS_3

Sesampainya disana, Eylina pun berpindah ke ranjang yang telah disiapkan. Ruangan itu sangat bersih, rapi dan juga harum. Benar - benar bukan seperti ruangan perawatan jika saja ranjangnya bukan ranjang khusus pasien. Kamar perawatan ini lebih menyerupai sebuah apartemen. Ada beberapa sofa diujung ruangan, minibar, televisi besar, meja makan mini, dan bahkan ada sebuah ruangan lain yang tak lain adalah sebuah kamar. Kamar yang mewah, bahkan sama mewahnya seperti kamar - kamar di rumah utama keluarga Wiratmadja. Hanya saja dengan ukuran ruangan yang lebih kecil. Mungkin memang disiapkan seperti ini, demi kenyamanan orang yang berada di ruangan ini.


Eylina turun dari ranjangnya dan melihat - lihat isi dalam ruangan itu. Ia dibuat melongo saat membuka kamar tersebut.


Wah ... ruang perawatan untuk orang kaya memang berbeda ya? Aku sangat beruntung, bisa merasakan semua fasilitas ini. Setelah sekian lama mengalami berbagai cobaan dan kesulitan. Kini Tuhan sangat memudahkan hidupku.


Eylina duduk di tepi ranjang yang ada di kamar itu. Ia menatap pemandangan luar dengan tersenyum. Kamar perawatan ini berada dilantai dasar dari rumah sakit ini.


Eylina menatap hamparan rumput hijau di depan kamar itu, ada bunga - bunga yang sedang bermekaran indah sekali. Ya, depan kamar itu adalah sebuah taman minimalis yang sengaja dibuat untuk memberi kesan sejuk dan indah.


"Sayang, apa yang kau lakukan?" Morgan masuk ke dalam ruangan itu dan ikut duduk disamping Eylina serta merangkul bahu gadis itu.


"Taman itu indah sekali, kau tahu? Aku merasa bersyukur dengan kehidupanku sekarang, sayang." Eylina membenamkan dirinya di pelukan Morgan. Tangannya memeluk erat badan suaminya. Ia merasa sangat bersyukur, semakin hari semakin bersyukur. Entah kebaikan apa yang pernah ia lakukan hingga akhirnya ia mendapatkan berkah luar biasa seperti saat ini.


"Aku mengerti, mulai sekarang hingga seumur hidupmu, nikmatilah apa yang ingin kau nikmati. Bukan begitu? Jangan pernah pikirkan apapun lagi. Ibu dan Dara juga sudah bahagia, kan?" Morgan meraih dagu Eylina, dan mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibir gadis itu.


Tentu saja, tapi aku sepertinya punya rencana lain.


Selang beberapa saat seorang perawat lain datang ke ruangan tempat Eylina berada. Dan menyampaikan kabar pada sekertaris Rey yang sedang duduk di sofa.


"Permisi Tuan, dokter Mira mengatakan jika ruangan operasi sudah siap." Rey menyampaikan seperti apa yang dikatakan oleh perawat tadi.


"Baiklah," Morgan mengangguk. "Sayang, kau siap?" tanyanya pada Eylina.


"Tentu saja," Eylina dan Morgan lalu keluar dari kamar itu dengan bergandengan tangan.


Di depan sudah ada suster yang siaga dengan membawa kursi roda tadi.


"Permisi Tuan Morgan, kami akan membawa Nona Eylina ke ruang operasi," kata seorang perawat.


"Aku yang akan membawanya sendiri," Morgan melirik sekilas ke arah perawat tadi.


"Baiklah Tuan," perawat itu kemudian membiarkan Morgan mendorong kursi roda Eylina ke ruangan yang dimaksud.


Eylina dibawa melewati lorong rumah sakit yang panjang hingga tibalah mereka di sebuah ruangan yang tertutup rapat. Morgan berhenti di depan pintu tersebut. Ia mengusap bahu Eylina dengan lembut.


Untuk sesaat jantung Eylina terpacu lebih cepat. Ya, tentu saja dia sedikit takut dan gugup.

__ADS_1


"Tuan Muda, ijinkan saya membawa Nona Eylina masuk ke dalam," kata perawat itu dengan sopan.


"Aku ingin menemani istriku di dalam!" kata Morgan. Ia merasa kesal sekali pada perawat tersebut. Dari tadi perawat itu seolah ingin merebut istrinya, pikirnya.


"Tapi Tuan ...."


"Jangan membantahku!"


Bukan begitu, ya Tuhan selamatkan aku. Para dokter itu jelas tidak akan bisa bekerja maksimal jika Tuan Morgan ikut masuk kedalam, batin perawat itu.


"Tuan Muda, maafkan saya. Tapi sebaiknya kita menunggu disini saja sampai operasinya selesai, Tuan." Rey mencoba membujuk.


"Kau juga! Kenapa menghalangiku? Kau pikir aku suami macam apa? Membiarkan istriku menahan penderitaannya sendirian!"


Ya Tuhan, aku yang akan di operasi tapi kenapa malah dia yang heboh sendiri? Lihatlah! Orang - orang sampai menoleh kesini.


Eylina memijat pelipisnya.


"Sayang, kemari lah!" pinta gadis itu seraya meraih tangan suaminya.


Morgan pun menoleh lalu berlutut dihadapan Eylina dengan wajah yang khawatir dan sedih seolah istrinya akan pergi meninggalkannya.


"Mereka akan melukai perut indah mu, bagaimana aku bisa tinggal diam dan membiarkan mu di dalam sendirian?"


Morgan sudah seperti seorang anak kecil yang hendak ditinggal ibunya. Ya, terkadang cinta yang berlebihan akan mengalahkan logika. Morgan bukan tidak tau mengenai proses dan prosedur operasi yang akan di jalani Eylina. Ia sangat tahu, bahkan dokter yang akan menangani Eylina pun bisa dipastikan adalah dokter terbaik dan akan sangat berhati - hati menangani istrinya itu. Tapi ketakutan Morgan terlampau besar. Terlebih lagi ia memiliki trauma karena pernah ditinggalkan oleh seseorang yang pernah dicintainya saat itu.


"Tuan Morgan, maafkan saya ... tapi ini hanyalah operasi kecil saja, Tuan. Tidak akan berbahaya untuk Nona Eylina." Dokter Mira mencoba menjelaskan.


"Sayang, kau dengar itu? Aku akan baik - baik saja, oke?" Eylina meraih wajah Morgan dan membelainya.


"Baiklah, silahkan bawa istriku. Ingat baik - baik! Jangan sampai kalian membuat kesalahan! Atau aku akan buat kalian membayar mahal nanti, paham?!"


"Bb ... baik Tuan," dokter Mira meraih gagang dorongan kursi roda Eylina dan membawanya masuk ke dalam ruang operasi.


Sementara Morgan dan Rey duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruang operasi.


Di dalam ruangan operasi, Eylina diminta untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian khusus yang telah disediakan. Setelah itu dia pun diminta untuk berbaring di atas ranjang operasi dengan kedua tangannya direntangkan ke kanan dan ke kiri.

__ADS_1


Seorang perawat kemudian mulai mencari pembuluh darah Eylina untuk memasang selang infus. Mereka cukup kesusahan karena pembuluh darah Eylina sangatlah kecil.


Dan setelah beberapa saat mencari, akhirnya perawat itu pun berhasil menemukannya. Salah satu dari mereka, yang merupakan perawat senior membersihkan tangan Eylina dengan cairan khusus yang diteteskan pada kapas berbentuk bulat. Perawat itu kemudian memasangkan jarum infus ditangan Eylina.


Gadis itu meringis saat ujung jarum itu menyentuh dan menembus kulitnya yang mulus. Terasa sedikit perih dan nyeri.


Tak berselang lama setelah itu, beberapa dokter mendekat ke arah Eylina. Sepertinya mereka adalah dokter yang akan menangani operasi ini.


"Selamat pagi Nona Eylina," sapa seorang dokter. Eylina tidak bisa melihat detail wajahnya, apakah dokter itu sedang tersenyum atau tidak, karena dokter tersebut memakai penutup wajah.


"Pagi Dokter," jawabnya ramah seraya menyunggingkan senyum.


Cantik sekali, serasi dengan Tuan Morgan yang tampan, batin dokter itu.


"Apakah Nona sudah pernah menjalani operasi sebelumnya?"


"Belum pernah Dokter,"


"Baiklah, kalau begitu saya akan berikan bius lokal saja," lanjut pria tersebut, yang merupakan dokter anastesi.


Tak lama kemudian seorang dokter yang lain pun datang dan membantu Eylina untuk duduk. Dokter itu meminta Eylina untuk sedikit membungkuk lalu kemudian suntikan bius pun dilakukan.


Eylina kembali berbaring dengan dibantu oleh dokter tersebut. Beberapa saat kemudian Eylina merasakan kakinya seperti kesemutan.


"Nona, coba anda angkat kedua kaki anda secara bergantian," pinta dokter itu.


Eylina pun menurut, ia berusaha mengangkat salah satu kakinya. Namun jangankan sampai mengangkat kaki, ia bahkan tidak bisa merasakan keberadaan kakinya.


"Tidak bisa Dokter," jawab Eylina.


"Baguslah, itu menandakan obat biusnya sudah bekerja, Nona." Dokter itu memberi sedikit penjelasan.


Selanjutnya dokter itu mencoba mengetes di bagian lain, untuk memastikan obat bius yang diberikan memang bekerja dengan baik.


Dan setelah semuanya sudah dipastikan dengan baik, seorang dokter yang lain pun memberikan cairan khusus di bagian perut Eylina.


Dalam keadaan setengah badan yang dibius, Eylina secara sadar mengetahui apa saja yang dikerjakan oleh dokter - dokter itu. Ia tidak merasakan apapun, hanya bagian perut yang seperti digoyang - goyang. Tapi ia tidak bisa melihat bagian perutnya karena diatas dadanya diberi tirai yang membentang sebagai penutup. Di dalam hatinya ia tak berhenti berdoa, agar operasi ini lancar dan ia bisa segera pulih. Satu - satunya orang yang ada di dalam pikirannya saat ini hanyalah Tuan Wira, yang merupakan Ayah mertuanya. Ia ingin segera bisa mewujudkan apa yang diharapkan oleh mertuanya itu. Eylina ingin bisa segera memberinya seorang cucu yang akan menjadi penerus keluarga Wiratmadja selanjutnya.

__ADS_1


Pembedahan yang dijalani Eylina adalah Miomektomi Abdominal, yang merupakan pilihan terbaik diantara jenis operasi miom yang lain. Karena dengan operasi ini Eylina dapat mempertahankan rahimnya. Dan diharapkan tidak mengganggu kesuburannya.


💗💗💗💗💗💗


__ADS_2