Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Waktunya Kontrol


__ADS_3

Seminggu setelah kepulangan Eylina telah berlalu, gadis itu kini sudah mulai bisa bergerak leluasa. Selama seminggu ini ia benar - benar seperti dikarantina. Tidak dibolehkan untuk naik turun tangga selain untuk makan. Bahkan tak jarang Pak Gun justru yang membawa makanannya ke kamar saat siang hari, karena Morgan jarang bisa menemaninya makan siang dirumah.


Eylina tentu saja merasa sangat bosan, tapi beruntung Sista dan Emily selalu menemaninya. Meskipun tidak sepanjang waktu, karena Emily harus fokus menyelesaikan pekerjaannya. Sedangkan Sista harus menjalani latihan bersama Anton dan Tomy. Ya, selama Eylina masih dalam masa pemulihan, tugas Sista hanya mengikuti latihan - latihan. Pagi hari bersama Anton dan Tomy, serta sore hingga malam hari bersama sekertaris Rey.


Hari ini adalah hari dimana Eylina waktunya kontrol. Tapi Morgan hari ini justru ada pertemuan penting, pagi - pagi sekali lelaki itu sudah berangkat ke kantor bersama Rey.


"Aku janji akan pulang lebih awal untuk menemanimu, nanti." Begitulah kata Morgan sebelum berangkat tadi.


Eylina tersenyum mengingat perkataan suaminya dan memandang keluar jendela kamarnya. Hari sudah siang tapi langit masih nampak sedikit berawan, seperti akan turun hujan. Udaranya juga sudah berubah menjadi lebih dingin.


Eylina menutup jendelanya, karena terpaan angin menjadi sedikit lebih kencang.


Ia menengok jam dinding, sudah hampir tengah hari.


"Dokter Mira bilang akan datang setelah makan siang, tapi tuan mudaku bahkan belum memberi kabar." Eylina bermonolog, kemudian melangkahkan kakinya ke arah tempat tidur dan duduk disana. Ia mengambil ponselnya di atas nakas dan menulis pesan untuk suaminya.


Ketika ia sedang asik mengetik pesan, terdengar seseorang mengetuk pintu dari luar. Eylina menoleh dan menyuruh orang tersebut untuk masuk kedalam. Tapi orang tersebut tak juga masuk dan malah terus mengetuk pintu kamar itu.


Siapa sih? Eylina mengernyitkan dahinya, kemudian meletakkan ponselnya dan pergi membuka pintu.


"Kau? Kenapa tidak langsung masuk?" tanya Eylina saat mendapati orang tersebut adalah suaminya. Lelaki itu sedang tersenyum padanya. Senyum yang seperti sebuah mantra yang bisa menghipnotis siapa saja yang melihatnya, termasuk Eylina.


Gadis itu selalu merasa gemas saat melihat senyum suaminya yang manja menggoda.


Morgan berjalan masuk seraya merangkul bahu istrinya. Dibelakangnya ada Rey yang masih berdiri di depan pintu.


"Hey kau, hama pengganggu. Tutup pintunya, dan pergilah bekerja di ruanganku. Jangan sampai kau menjadi asma saat melihat kemesraan kami, nanti." Morgan berbicara sambil melirik penuh ejekan.


"Baik Tuan, setidaknya saya masih cukup waras." Rey mengatakan hal tersebut dengan terang - terangan tapi sangat sopan dihadapan Morgan.


Mendengar itu, Morgan dengan secepat kilat membalikkan badannya, "Apa? Kau pikir aku gila?"


"Saya tidak mengatakannya, Tuan," jawab Rey tanpa berdosa. Ia lalu menundukkan kepalanya dan berlalu begitu saja.


"Hey! Kurang ajar sekali kau, Rey!" umpat Morgan dengan kesal. "Beraninya dia mengatai ku seperti itu," lanjutnya mengadu pada istrinya.


Eylina bukannya menunjukkan sebuah keprihatinan tapi justru tertawa cekikikan.


Melihat hal itu, Morgan pun juga menjadi semakin jengkel. "Kau menertawai ku juga? Apa yang salah dengan diriku?"

__ADS_1


"Tidak sayang, tidak ada yang salah. Sekertaris Rey hanya iri padamu. Ya, kau tentu tau dia tidak punya pasangan, kan? Apa dia tidak pernah menjalin hubungan dengan seseorang sama sekali?"


Morgan mengedihkan bahunya dan mencebik menanggapi pertanyaan dari Eylina. "Dia itu cukup aneh, dia masih mencari dan menunggu seseorang yang entah ada dimana keberadaannya saat ini. Aku sendiri bahkan tidak tahu siapa namanya atau seperti apa orangnya, kurasa Rey hanya berhalusinasi saja. Mungkin dia menyukai sesama ...." Morgan menghentikan kalimatnya, ia membulatkan matanya seolah bertanya pada istrinya, mungkinkah Rey adalah seorang ....


"Hey sayang, aku merasa takut sekarang," kata Morgan dengan panik.


"Kau ini berbicara apa, sayang? Kenapa imajinasi mu selalu jauh sekali? Mungkin dia belum siap saja untuk jatuh cinta. Apa kau lupa? Aku juga bahkan tidak pernah memiliki kekasih selama ini, aku bahkan tidak pernah berpikiran untuk memilikinya saat itu, tapi apa aku punya kelainan? Nyatanya tidak, kan? Aku normal, sama halnya dengan perempuan - perempuan lainnya. Hanya saja aku tidak punya waktu untuk mengenal seseorang. Terkadang sebuah keadaan lah yang membuat kita menjadi berbeda. Kau sendiri pun sama, bukan? Walaupun ada banyak wanita di sekelilingmu, tapi nyatanya kau sendiri bahkan kesusahan untuk membuka hati. Bukan begitu?" tanya Eylina dengan sorot matanya yang lembut.


"Kau benar juga, terkadang aku merasa kasihan padanya. Dia tinggal seorang diri dirumahnya, hanya ada satu orang asisten rumah tangga disana. Itu juga karena Papa yang memaksanya." Morgan sedikit menceritakan kehidupan sekertarisnya, ia duduk di sofa dan menarik Eylina untuk duduk diatas pangkuannya.


"Oh ya? Memangnya dimana orangtuanya? Sekertaris Rey masih punya orang tua kan?" tanya Eylina antusias.


"Entahlah. Hey ... kenapa kau jadi antusias sekali mendengarnya? Apa kau diam - diam menyukainya?" tanya Morgan penuh selidik.


"Hahaha ... apa yang kau katakan. Tidak akan ada yang akan menyukaiku, aku sudah tidak gadis lagi, kan?"


"Tapi kau sangat menggoda."


Baru saja Morgan meraih dagu Eylina dan mendekatkan bibirnya, sebuah ketukan pintu terdengar di telinga mereka.


Tok ... tok ... tok


Menyebalkan! umpat Morgan. Lelaki itu mendesah kesal, kenapa disaat seperti ini ada orang yang mengganggu.


"Pak Gun?" Eylina mengernyitkan dahinya setelah mendapati siapa yang telah mengetuk pintu kamarnya tadi.


"Maaf mengganggu Nona, dokter Mira sudah datang."


"Oh, baiklah ... suruh langsung kesini saja," jawab Eylina seraya tersenyum


"Baik Nona."


Pak Gunawan pun kembali ke bawah untuk memanggil dokter Mira. Wanita itu datang lebih awal dari waktu yang telah mereka sepakati. Benar - benar disiplin.


Eylina kembali masuk ke dalam kamarnya, ia duduk di sofa disamping suaminya.


"Sayang, apa pemulihanmu tidak bisa dipercepat?" tanya Morgan. Lelaki itu meraih tubuh Eylina agar bersandar di dadanya.


"Maksudmu?"

__ADS_1


"Aku bisa mati berdiri jika harus menunggu beberapa minggu lagi, kau tahu? Rasanya seperti ingin meledak, lihat ini!" kata Morgan dengan manja seraya menunjuk juniornya.


Aku harus menjawab apa? batin Eylina.


"Mmm ... aku tidak tahu, tanyakan saja pada dokter Mira, nanti." Eylina melepaskan dirinya saat Pak Gun kembali bersama dokter Mira.


"Selamat siang, Tuan, Nona," sapa wanita itu.


"Siang," jawab Eylina. Ia pun mempersilahkan dokter Mira untuk masuk. Sementara Pak Gun undur diri dari sana.


Dokter Mira meminta Eylina untuk berbaring, ia kemudian melepaskan plester transparan yang melekat di perut Eylina, memeriksa dan membersihkan lukanya. Wanita itu tersenyum puas.


"Bagus sekali, Nona. Luka jahitnya menutup dengan sempurna. Tinggal menunggu waktu saja, lapisan kulit bagian luar akan kembali seperti sedia kala." Dokter Mira menjelaskannya.


"Benarkah?"


"Benar, Nona. Kami sudah memberikan suntikan anti keloid sebelum operasi dilakukan. Sehingga luka operasinya tidak akan meninggalkan bekas, nantinya."


Mendengar hal itu, Eylina tersenyum. Begitu juga Morgan. Lelaki itu memandang Eylina seraya memainkan alisnya untuk menggoda istrinya.


Kenapa dia? batin Eylina.


"Apa istriku akan pulih lebih cepat?" tanya Morgan.


"Jika Nona Eylina mengikuti anjuran yang saya berikan, Nona Eylina pasti akan pulih dengan cepat, Tuan. Nona Eylina juga harus banyak bergerak agar tidak kaku."


Mendengar penjelasan dokter Mira, Eylina pun tersenyum lega. Selama satu minggu ini ia berusaha menjelaskan pada suaminya dan ternyata sia - sia, dan sekarang ia merasa puas karena dokter Mira juga menjelaskan hal tersebut.


"Apa kami bisa segera melakukan program hamil setelah Eylina pulih?" tanya Morgan antusias.


"Saya merasa tidak enak untuk mengatakannya, Tuan. Dalam hal ini sebenarnya Nona Eylina harus menunggu empat sampai enam bulan setelah operasi, baru boleh memulai menjalani program hamil." Dokter Mira tersenyum kecut.


"Lama sekali," jawab Morgan dengan gelisah.


"Karena untuk menampung janin hasil pembuahan, rahim Nona Eylina harus benar - benar kondusif, Tuan. Jika tidak, bisa membahayakan janinnya."


Eylina merasa kasihan melihat suaminya, semoga saja nasib baik masih terus berpihak pada mereka. Dirinya juga ingin sekali bisa segera mengandung dan melahirkan keturunan Morgan. Tapi jika dipaksakan tentunya akan berakibat buruk juga.


"Nona, pemeriksaannya sudah selesai. Saya pamit undur diri dulu. Jika Nona ada keluhan, Nona bisa menelepon saya untuk berkonsultasi."

__ADS_1


Dokter Mira membereskan peralatannya, ia kemudian keluar dari kamar tersebut.


💗💗💗💗💗💗


__ADS_2