
Sekertaris Rey menggeser layar ponselnya dan mulai berbicara pada bawahannya, "Ada berita apa?"
Lelaki itu mendengarkan dengan seksama atas apa yang dikatakan oleh orang kepercayaannya di telepon.
"Kumpulkan terus informasinya, dan pantau pergerakan mereka. Begitu juga dengan Mathias, temukan keberadaannya secepatnya! Jika perlu, sewa agen dari luar untuk membantu melacak lelaki pengkhianat itu!" perintah Rey beberapa saat kemudian.
Pria berbadan tegap itu kemudian masuk ke dalam dan mematikan laptop yang ia pakai tadi.
Ia juga mematikan lampu ruangan tersebut dan keluar dari sana setelah meneguk minuman hangat yang disajikan oleh pelayannya tadi.
Rey membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya seraya memandangi potret keluarga tuan besarnya yang ia ambil dari laci nakasnya.
Paman, aku akan berusaha dengan sepenuh kemampuanku. Terimakasih atas kebaikanmu selama ini. Jika tidak ada paman aku tidak tahu bagaimana aku akan menjalani kehidupanku.
Rey memandang sosok paruh baya yang tengah tersenyum lebar di dalam sebuah foto.
Lelaki itu kemudian memasukkan kembali foto itu ke dalam lacinya dan mengambil satu foto lagi dari sana.
Cukup lama Rey memandangi potret sepasang suami istri dan juga sosok anak perempuan yang kira - kira berusia 7 tahun. Gadis kecil itu tersenyum sangat manis, rambutnya yang setengah keriting membuat penampilannya sangat menggemaskan. Sangat ceria dan juga manis.
Masih teringat jelas ditelinga Rey, ucapan wanita dalam foto tersebut.
"Nanti saat kamu sudah dewasa, Tante titip anak Tante ya! Jagain anak Tante dengan baik, dia tidak punya saudara sama sekali. Tante percaya sama kamu, kamu suatu saat akan menjadi orang besar dan disegani. Tante ingin kamu yang menjaga putri Tante saat dia dewasa nanti, nak Rey. Tapi maafkan kami, kami tidak bisa membawamu ikut serta bersama kami. Kami saat ini baru saja terkena musibah, kami hanya bisa menitipkan mu disini. Semoga Tuhan memberkatimu, jaga dirimu baik - baik."
Begitulah kenangan yang selalu diingat oleh sekertaris Rey sebelum sepasang suami istri itu melambaikan tangannya dan meninggalkannya di tempat itu. Tempat dimana ia akan menjalani kehidupan barunya.
Entah ucapan orang itu hanya untuk menghiburnya atau bagaimana? Tapi berkat wanita itu, Rey jadi memiliki semangat untuk terus melangkah melanjutkan hidupnya yang masih sangat panjang.
Rey terus memandangi foto tersebut dengan tersenyum. Ia masih ingat bagaimana bocah kecil itu berkata, "Ini untuk kakak, simpan baik - baik ya!"
Bahkan hingga kini, senyum gadis kecil itu masih terukir jelas dalam bayangannya. Senyum saat gadis mungil itu memberikan kenang - kenangan berupa gelang mainan padanya.
Dimana keberadaan kalian saat ini? Kenapa susah sekali menemukan kalian. Maafkan aku, karena kesibukanku, aku tidak mencari kalian dengan maksimal. Dan kau? Sudah sebesar apa kau sekarang? Apa kau sudah tumbuh dewasa? Dan rambutmu, apa juga masih sama seperti ini?
Tanpa sadar Rey menyunggingkan senyumnya membayangkan bocah kecil itu tumbuh dewasa dengan rambutnya yang setengah keriting.
__ADS_1
Sudah 17 tahun berlalu, mungkinkah mereka masih mengingat Rey? Seorang anak berbadan tambun yang pernah mereka tolong saat itu.
Sekertaris Rey terkadang juga memikirkan hal tersebut. Mungkinkah wanita itu masih ingat akan kata - kata dan pesannya pada dirinya? Mungkinkah mereka masih peduli pada surat yang pernah mereka kirimkan ke panti saat itu?
Kemana lagi ia harus mencari, sementara tidak ada petunjuk apapun yang bisa ia gunakan untuk membantu pencariannya.
Lelaki itu kemudian meraih sebuah kotak kecil berisi gelang mainan dari tali warna warni yang dulu pernah ia terima dari bocah kecil itu.
Gelang itu sudah sangat pudar warnanya, namun Rey masih menyimpannya dengan baik.
Malam itu ia tertidur dengan gelang itu di genggamannya, serta foto keluarga kecil itu di atas dadanya.
"Rey, maafkan kami. Kami tidak bisa merawat mu lagi. Bisnis kami mengalami keterpurukan sekarang. Hutang kami sangat banyak, rumah ini juga harus dijual. Kami tidak punya harta benda lagi, jadi maafkan kami. Mama dan Papa tahu ini akan sulit untukmu, tapi Mama percaya kamu akan kuat berjuang. Maafkan kami Rey ...."
Seorang wanita cantik bernama Anita itu melambaikan tangannya dan berjalan menuju mobil bersama dengan seorang anak berusia 5 tahun dan seorang bayi dalam gendongannya. Ia tidak menoleh pada Rey kecil lagi, namun jelas sekali terlihat jika Anita sedang terisak dalam diam.
Rey menatap kepergian mereka dengan tatapan nanar, matanya seperti dilapisi lapisan kaca yang sangat bening.
Sementara seorang pria berusia sekitar 38 tahun menghampiri dan berdiri di hadapannya, pria itu memegang kedua bahu Rey, "Papa minta maaf padamu, saat ini kami benar - benar tidak punya apa - apa, Rey. Kami bahkan harus menumpang hidup di rumah orang tua Mama. Kamu adalah yang paling besar disini, Papa yakin kamu bisa melewati semua ini. Papa pamit, Rey."
"Papa mengerti kamu sedih. Papa dan Mama juga demikian. Suatu saat nanti kami akan menjemputmu kembali. Tapi untuk sekarang, kami terpaksa harus menitipkanmu ke panti asuhan di dekat sini, ayo ...." ajak Riko seraya menggandeng lengan bocah tambun itu.
"Tidak perlu!" tolak Rey kecil dengan lirih. Ia kemudian berlari dengan tubuh tambunnya, membawa luka dan kesedihan di dalam hatinya.
Jika kalian akan meninggalkanku seperti ini, untuk apa kalian membawaku dari tempat tinggal ku, dulu? Setidaknya aku merasa bahagia berada di panti asuhan itu bersama kawan - kawanku. Kami sudah bahagia dengan kehidupan kami yang tidak pernah mendapat sentuhan orang tua. Biarkan kami terbiasa hidup tanpa sosok orang tua sampai kami menjadi dewasa.
Rey kecil terus berlari meski tubuhnya terasa lelah. Ia tidak ingin lagi melihat Papa dan Mama yang sempat mengangkatnya menjadi anak asuh mereka beberapa tahun silam. Hatinya sakit sekali. Mungkin dalam hatinya berkata "Bukankah kita semua bisa berjuang bersama? Bukankah Rey kecil sudah cukup bisa membantu? Usianya sudah 13 tahun, dia punya tubuh yang besar dan kuat. Dia bisa membantu papa angkatnya untuk bangkit kan? Rey kecil mau disuruh apa saja asalkan kita tetap bersama - sama.
Rey kecil duduk di bangku taman sambil memandangi danau di depannya dengan tatapan kosong.
Ia merutuki nasibnya, ia tidak tahu siapa orang tua kandungnya. Yang ia tahu, ia dibesarkan di sebuah panti asuhan Mawar yang ada di kota B. Saat itu, saat usianya menginjak tujuh tahun, sepasang suami istri datang jauh - jauh dari kota J ke panti asuhan tempatnya berada.
Dari sekian banyak anak laki - laki dan perempuan, pilihan mereka jatuh pada Rey. Seorang anak laki - laki tambun yang terlihat paling murung dan dingin dari semua anak - anak yang lain.
Sepasang suami itupun mengurus semua dokumen dan datang kembali setelah beberapa minggu kemudian dan membawa Rey bersama mereka. Rey tidak merasa senang, karena ia terpisah dari kawan - kawannya. Bukan hanya itu, tapi juga karena Rey harus berpindah dari kota B ke kota J.
__ADS_1
Perlahan Rey kecil mulai beradaptasi dan mulai menyatu dalam keluarga itu. Rey sangat disayangi, semua kebutuhannya terjamin.
Satu tahun berlalu, Rey kecil kini memiliki adik dari mama angkatnya. Sepasang suami istri ini sangat baik, meski mereka kini tengah memiliki anak kandung tapi mereka tetap menyayangi Rey seperti saat pertama kali mereka membawa Rey kerumah mereka.
Tahun - tahun berlalu, Rey semakin menyayangi keluarga ini. Namun usaha Papa angkatnya harus gulung tikar saat usia Rey menginjak 13 tahun. Keluarga itu kehilangan segalanya. Bahkan mereka tidak lagi memiliki tempat tinggal.
Rey kecil terisak hingga tubuh gemuknya terguncang saat mengingat semua yang terjadi padanya.
Kini ia benar - benar tinggal sebatang kara, tanpa ibu pengasuh, tanpa papa dan mama angkatnya, tanpa adik - adik angkatnya, bahkan tanpa teman ataupun tempat tinggal. Ya, Rey kecil benar - benar sendirian.
Rey kecil mengusap air matanya dan melihat dari kejauhan, seorang anak perempuan tengah tertawa sangat lepas di kejar oleh ayah dan ibunya.
Rey tersenyum dalam kesedihannya. Andai saja bisnis papa angkatnya tidak sedang gulung tikar, ia pasti masih bisa tertawa bersama keluarga angkatnya.
"Hai ...." sapa anak perempuan yang tadi dilihatnya.
Karena melamun, Rey kecil tidak menyadari jika bocah perempuan yang tadi dilihatnya tengah berdiri dengan memegang sebuah boneka di tangannya.
Rey hanya menundukkan kepalanya.
"Kamu sama siapa disini? Kita main yuk! Ayah sama ibuku ada disana," kata gadis kecil itu seraya menggandeng tangan Rey kecil.
Rey tidak menolak, mereka mendekat ke arah orang tua bocah perempuan yang sedang menggelar tikar dan menyiapkan makanan.
"Ibu aku bawa teman," kata bocah kecil itu.
"Teman? Baiklah, ajak temanmu cuci tangan dan duduk disini. Kita makan siang sama - sama."
Keluarga kecil itu mengobrol banyak bersama Rey. Mereka sangat prihatin pada Rey kecil. Saat kesan pertama ini, orang tua bocah perempuan itu bisa merasakan jika anak laki - laki itu adalah anak yang baik. Mereka sangat kasihan sekali atas apa yang menimpa bocahbitu. Tapi mereka tidak bisa membawa Rey kecil pulang kerumah karena rumah mereka sangat sempit.
Mereka juga baru saja mengalami masalah dalam usahanya, sehingga mereka tidak sepenuhnya menyalahkan orang tua angkat Rey kecil yang ingin menitipkan bocah itu ke panti asuhan untuk sementara waktu.
Hari itu sepasang suami istri itu mengantarkan Rey kecil mencari tempat tinggal baru, dengan naik sepeda motor. Bisa dibayangkan perjuangan mereka membawa Rey dengan tubuh tambun anak itu.
Hingga sampailah mereka pada sebuah panti asuhan Kenanga. Setelah memastikan Rey diterima disana, ibu dari bocah kecil tadi berpesan banyak hal pada Rey. Ia juga berkata, jika Rey kecil adalah anak yang baik. Bahkan orang itu mengatakan jika ia akan mempercayakan anak perempuannya pada Rey saat bocah laki - laki itu dewasa suatu saat nanti.
__ADS_1
💗💗💗💗💗💗