Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Bodyguard Untuk Eylina


__ADS_3

Untuk beberapa saat mata mereka saling berpandangan karena heran.


"Kurasa mataku bermasalah, aku tidak percaya atas apa yang kulihat ini," kata Rey, ia masih tidak yakin gadis yang baru saja menghajar dan mengalahkan seorang preman itu adalah gadis yang ia kira lemah itu.


"Kenapa?" tanya Gadis itu. Ia mendudukkan wanita paruh baya yang ditolongnya tadi ke kursi yang ada di pinggiran trotoar dengan dibantu Rey. Mereka berdua lalu berjalan sedikit menjauh dari sana.


"Hanya ragu saja, bersihkan noda darah di bibirmu!" Rey menyodorkan sapu tangan pada gadis itu, dan langsung diterima.


"Terimakasih." Gadis itu menyeka darah yang ada disudut bibirnya sambil sedikit meringis merasakan perih disana.


"Apa kau benar - benar melakukannya tadi?" Rey mencoba memastikan sekali lagi. Ia masih ragu atas apa yang terlihat dengan mata kepalanya barusan. Ia memang tidak melihat banyak adegan perkelahian tadi, tapi tendangan terakhir yang di lakukan oleh gadis itu benar - benar terlihat jelas oleh matanya.


"Apa perlu aku mencolok kornea mu?" ucap gadis itu seraya menoleh dan memberi tatapan tajam pada Rey.


"Jaga bicaramu! Aku hanya tidak percaya, orang yang peduli pada keselamatan orang lain itu justru pernah tidak peduli pada dirinya sendiri. Dan bahkan dengan bodohnya melakukan percobaan bunuh diri, dengan memotong urat nadinya hanya karena ditinggal kekasihnya, hah ... dasar bodoh," kata Rey dengan nada setengah meledek. Ia melipat tangannya di depan dadanya dan menatap lurus ke arah jalanan.


"Kau! Itu bukan urusanmu, tidak usah ikut campur! Dan jangan sekali - kali menghakimi ku karena kau bahkan tidak merasakan bagaimana rasanya berada di posisiku saat itu."


"Tidak sudi," ucap Rey dengan lirih.


"Apa kau bilang?" sahut gadis yang berdiri disamping Rey, meski lirih namun ucapan lelaki itu masih bisa terdengar jelas ditelinga gadis itu. Ia menoleh dan kembali menatap tajam.


"Lupakan saja! Ikut aku," lalu dengan cepat Rey menarik lengan gadis itu.


"Kemana? Hey, lepaskan aku! Kau mau menculik ku ya?" Gadis itu mengibaskan genggaman tangan Rey, namun karena tenaganya yang sudah terkuras setelah perkelahiannya dengan preman tadi, ia gagal melakukan perlawanannya. Badannya terasa sakit semua, dan akhirnya dengan sedikit terpaksa iapun mengikuti langkah kaki Rey.


"Tuan Morgan menginginkanmu."


"Apa? Kau sudah tidak waras ya? Dia adalah suami dari sahabatku, bagaimana masih menginginkan ku?"


Ucapan Sista membuat lelaki itu menghentikan langkahnya. Ia lalu membalikkan badan dan menatap tajam pada gadis itu dan menyentil daun telinga Sista.


"Auw ... sakit!" pekik Sista. Ia lalu dengan reflek menggosok telinganya agar rasa sakitnya mereda.


Dia ini, benar - benar ya! Seenaknya menyentil telingaku, dia kira dia ini siapa? Mentang - mentang sekertarisnya Tuan Morgan, lantas bisa seenaknya saja memperlakukan orang lain.


Sista menatap Rey dengan tidak bersahabat. Lagi, pandangan mata mereka bertaut.


"Apa kau pikir Tuan Morgan akan berselera padamu? Buang pikiran kotor mu itu!" Lelaki itu lalu menarik lengan Sista dan kembali berjalan menyeberangi jalan.


"Lepaskan tanganku! Aku bisa berjalan sendiri!"


Benar - benar lelaki tidak waras! Dia ini makan apa sih? Tangannya kuat sekali ....


"Diam dan menurut lah!" Rey tidak memperdulikan perlawanan gadis itu.


"Ini gadis yang anda maksud, Tuan." Rey menghentikan langkah kakinya tepat dihadapan Morgan.

__ADS_1


Sista mendongakkan wajahnya dan menatap Morgan.


"Dia? Apa kau tidak salah bawa orang?" Morgan mengernyitkan dahinya saat mengetahui siapa gadis bertopi yang tadi membuatnya terkesan.


"Bukankah dia adalah sahabat Eylina yang hampir saja kehilangan nyawanya waktu itu?" tambahnya.


"Benar, Tuan."


Ada apa sih sebenarnya? Kenapa aku dibawa kesini?


Sista menoleh pada lelaki yang berdiri di sampingnya sambil mengusap pergelangan tangannya yang sedikit memerah karena cengkeraman tangan Rey.


Namun lelaki itu tak sedikitpun melirik padanya.


Eh ... dia ganteng juga, gumam Sista yang melihat wajah Rey dari samping. Ia bahkan menyunggingkan senyum.


"Baiklah, bawa dia masuk dan jelaskan padanya!" Morgan lalu berjalan mendahului mereka dan masuk ke dalam cafe yang ada dihadapannya.


Rey menggenggam lengan Sista lagi dan menarik gadis yang masih melamun itu.


Astaga ... aku menyesal karena sempat mengaguminya tadi. Dia ini kenapa kasar sekali. Lenganku sampai sakit rasanya.


Seorang pelayan menyambut kedatangan mereka dengan antusias, ia langsung memandu Morgan ke ruangan VIP yang biasa dipesannya.


"Tuan, apa anda yakin akan memilih gadis ini?" tanya Rey sebelum ia mulai menjelaskan.


"Ya, terlebih lagi dia adalah sahabat istriku, dia pasti bisa melakukannya dengan baik," jawab Morgan dengan santai. Ia menyesap minuman panas yang mengeluarkan aroma nikmat di tangannya.


Rey menarik nafas panjang sebelum memulai menjelaskan pada gadis yang duduk dihadapannya.


"Nona Sista," panggil Rey.


"Tuan, bisakah panggil dengan namaku saja? Sista, begitu lebih baik ... hehehe ..."


Nona Sista? Aneh sekali rasanya.


"Baiklah, Sista ... Tuan Muda sedang membutuhkan seorang bodyguard yang juga akan merangkap sebagai seorang sopir pribadi untuk menjaga dan mengantarkan kemanapun Nona Eylina pergi. Dan Tuan Morgan menginginkan anda yang memegang tanggung jawab tersebut," kata Rey tanpa basa basi hingga membuat gadis yang tengah meminum minumannya itu tersedak.


"Uhuk ... uhuk,"


"Anda baik - baik saja?" tanya Rey seraya menyerahkan tisu padanya.


"Mmm ... tidak, aku tidak apa - apa." Sista lalu menyeka bibirnya dengan tisu, ia menatap Morgan dan Rey bergantian seraya mengatur napasnya.


"T ... Tuan, apa aku tidak salah mendengarnya? Hahaha ... kurasa aku bukan orang yang tepat, Tuan. Aku tidak mahir bela diri dan juga tidak mahir mengendarai mobil," jelas Sista.


Ide tentang sopir inikan dariku, aku hanya bercanda ... kenapa Eylin malah menanggapi ide ku itu dengan serius. Pakai mengatakannya pada Tuan Morgan lagi. Dan sekarang malah aku yang ditunjuk sebagai penerima tugas itu. Hhh ... mati aku, jika seperti ini aku seperti mendorong tubuhku sendiri ke kandang harimau.

__ADS_1


Sista meremas - remas tangannya dibawah meja.


"Masalah itu, Rey yang akan mengajarimu secara langsung," jawab Morgan dengan tanpa beban.


Hah? Aku lagi, semakin bertambah banyak saja tugas - tugasku, batin Rey.


"Tapi, Tuan ... " lidah Sista terasa kelu, ia tidak bisa mengeluarkan kata - katanya.


Aduh ... bagaimana mengatakannya, gumam Sista.


"Bukankah yang akan kau jaga juga merupakan sahabat baikmu? Atau jangan - jangan kau tidak benar - benar bersahabat dengan istriku?" Morgan menelisik ke dalam mata gadis itu.


"Bukan ... bukan begitu, Tuan. Tapi saya memang tidak ahli bela diri dan juga kurang pandai membawa mobil."


Mobil yang ada dirumah anda pasti adalah mobil mewah, bagaimana jika aku membuatnya rusak? Bagaimana aku akan menggantinya? lanjutnya dalam hati.


"Aku sudah melihat aksimu tadi, dan itu sudah cukup. Jadi jangan coba membantahnya! Aku akan memberikan imbalan yang setimpal jika kau bisa menjalankan tugas dengan baik."


Aduh ... gimana ini?


"Tapi saya benar - benar kurang pandai membawa mobil, Tuan," ucap Sista, ia menundukkan kepalanya.


"Aku akan memberikanmu waktu, kau akan berlatih dulu selama tiga bulan bersama Rey," jawab Morgan singkat.


"Rey, ajari dia! Dan juga bersikap baiklah padanya!"


"Baik Tuan."


Menghindar pun juga akan percuma, gara - gara ide ku sendiri sekarang aku pun terjebak di dalamnya.


"Ini, ambillah!" Rey menyerahkan selembar cek yang bertuliskan sejumlah nominal di dalamnya.


Sista membulatkan matanya menatap selembar kertas yang ada ditangannya. Ia merasa tergiur melihat nominal yang tertera disana. Bahkan secara refleks ia menelan salivanya.


"Hehe ... Tuan, aku belum melakukan tugasku. Kurasa aku belum berhak menerima ini."


Belum apa - apa, masa iya imbalannya sebanyak itu?


"Siapa yang bilang itu untukmu! Gunakan uang ini untuk membeli pakaian yang layak, tugasmu adalah bodyguard, jangan sampai penampilanmu mempermalukan Nona Muda. Jadi sesuaikan pakaianmu!"


Aduh ... sial, malu banget rasanya....


"Oh ... seperti itu? Hehe ... baiklah, terimakasih Tuan."


Setelah itu, Sista pamit pada keduanya. Entah ia harus senang atau bagaimana, ia sendiri tidak tahu. Ia akan bertemu Eylina, dan bisa dekat dengan sahabatnya lagi, tapi entah kenapa justru ada rasa takut yang menyertainya. Hal itu karena Eylina yang akan ia temui nanti bukanlah Eylina sebagai sahabat gesreknya yang seperti dulu, tapi Eylina sebagai istri dari Morgan Wiratmadja. Seorang Nona Muda yang harus ia jaga keselamatannya.


Memikirkannya saja, membuat Sista sedikit merasa stress. Ditambah lagi ia pasti akan sering bertemu lelaki menyebalkan bernama Rey. Menjalani masa pelatihan bersama lelaki tersebut, entah bagaimana ia akan melewatinya nanti.

__ADS_1


💗💗💗💗💗💗


Yang kangen sama Rey dan Sista mana nih suaranya??


__ADS_2