
Gadis itu menatap kepergian Rey dengan penuh tanda tanya.
"Sis ...." Eylina menggerakkan tangannya di depan wajah sahabatnya.
"Eh ... iya?"
"Kenapa lo? Lo lihatin sekertaris itu? Ciee ... ada yang terpesona nih ...." Goda Eylina.
"Apaan sih lo, lo nggak lihat tadi? Dia giniin gue. Ck ...." Gadis itu menirukan gaya sekertaris Rey.
"Hahaha ... mungkin dia nggak habis pikir sama kenekatan lo." Ucap Eylina asal.
"Nyebelin tau nggak."
"Ya udah biasa aja kali ... jangan benci - benci amat, ntar kena batunya baru tau rasa lo."
"Apaan coba? Gue nggak benci, gue cuma kesel aja sama dia. Tatapannya tuh ... ngeselin banget kayak ngajakin berantem, emang dia nggak bisa tersenyum apa?"
"Lo merhatiin sekertaris itu?"
"Yee ... apaan. Ogah gue ...." Eh tapi dia ganteng juga sih. Lanjut Sista dalam hati.
"Yah ngelamun lo ya. Cie ... udah move on nih kayaknya?"
"Eylin ah ... lo nyebelin ya lama - lama." Jawab Sista sewot seraya memukul bahu sahabatnya.
Hal itu membuat dua pengawal yang ada di dalam ruangan itupun berdehem dan menatap tajam pada gadis itu sehingga membuat wajah Sista menjadi pias.
Eylina yang menyadari itupun langsung menoleh ke arah dua pengawal itu.
"Hey, tenang lah. Kami sudah biasa seperti ini, ini bukan masalah. Dia sahabat karibku, jadi tidak mungkin membahayakan ku." Eylina mencoba menjelaskan.
"Sssttt ... suruh mereka keluar dong Lin." Sista yang merasa sudah muak melihat kehadiran para pengawal itupun memohon pada sahabatnya dengan berbisik.
"Hey, ah ... maksudku siapa nama kalian?" Tanya Eylina pada keduanya.
"Saya Tomy dan ini adalah Anton, kawan saya Nona." Mereka berdua kemudian menundukkan kepalanya.
"Baiklah, Tomy ... Anton. Bisakah kalian menunggu kami diluar saja?" Kata Eylina.
"Maaf Nona, kami tidak bisa. Ini sudah perintah dari tuan muda. Kami tidak boleh berada jauh dari Nona."
Ucap Tomy dengan sopan.
__ADS_1
"Oh baiklah ... kami akan membahas banyak hal tentang wanita. Jika kalian mau mendengarnya tidak masalah." Ucap gadis itu dengan enteng.
"Tidak masalah Nona."
Apa? Oke ... oke ... jadi kalian tidak bisa diusir secara halus ya?
"Dan ... ya, aku merasa tidak nyaman dengan kalian. Baiklah nanti saat suamiku datang kesini akan ku minta untuk mengganti posisi kalian dengan orang lain. Karena kalian tidak mau mendengar ku. Oh ya ... kalian tahu? suamiku itu sangat mencintaiku, dia akan mengabulkan segala permintaanku." Eylina berkata dengan gaya sok angkuh.
Kedua pengawal itupun saling pandang satu sama lain, mereka tentu tidak ingin kehilangan pekerjaannya. Apalagi gaji yang diberikan oleh keluarga Wiratmadja juga tidak main - main.
"Jadi bagaimana?" Tanya Eylina beberapa saat kemudian. Gadis itu ingin tertawa melihat kedua pengawal berwajah sangar itu tiba - tiba wajahnya berubah menjadi bimbang dan gelisah dengan saling menatap satu sama lain.
"Baiklah Nona, kami akan menunggu diluar." Kata salah satu dari mereka.
Hahaha ... rupanya kalian takut juga. Maafkan aku ya, aku tidak bermaksud mengancam kalian. Lagipula aku juga tidak akan tega membuat kalian kehilangan pekerjaan. Kalian pasti punya keluarga yang harus diperjuangkan bukan? Aku tahu bagaimana susahnya mencari uang.
Batin Eylina.
"Terimakasih." Jawab Eylina seraya tersenyum.
Kedua pengawal itupun keluar dan bergabung dengan satu kawan mereka yang ada diluar pintu.
"Wah gila ... hebat lo ya, bisa bikin mereka tunduk sama lo." Kata Sista yang takjub pada sahabatnya.
"Apaan sih?" Eylina mengernyitkan dahinya.
"Panjang banget ceritanya Sis." Eylina nampak menghela nafas.
"Iya, makanya ceritain sekarang." Sista tidak berani berbicara keras. Ia juga beberapa kali menengok ke arah pintu.
"Mulai dari mana ya ...." Eylina nampak berpikir.
"Ya mulai sejak lo nikah lah ...."
"Ke intinya aja ya?"
"Iya terserah deh." Kata Sista mulai tak sabar.
"Hhhh ... ya lo tau sendiri kan awalnya semuanya tuh nggak mudah buat gue. Apalagi lo juga tau siapa orang yang nikah sama gue, latar belakangnya dan segala yang menyertainya semua di luar batas ekspektasi gue. Lo tau kan bagaimana dia memaksa gue waktu itu. Jujur kebencian gue sama dia tuh kayak udah di puncaknya gitu. Gak ada puas - puasnya rasanya gue ngumpatin dia waktu itu. Dia kayak sengaja gitu ngerjain gue. Gue dulu rasanya pengen kabur aja. Tapi gue inget ibuk sama Dara. Gue mungkin bisa nyelametin diri gue sendiri. Tapi ibuk sama Dara gimana? Masa depan Dara masih panjang Sis. Lagian kalau gue lari, gue juga nggak bisa ngapa - ngapain karena nama gue bakal masuk dalam daftar hitam. Lo tau kan, perusahaan tuan Wira itu udah merajai negri ini bahkan sampai ke Asia. Gue nggak akan bisa cari pekerjaan di manapun, tau nggak. Akhirnya gue mutusin untuk bertahan dan berusaha nggak peduli atas apapun yang terjadi.
Dan lama - lama gue mulai terbiasa ... bla ... bla ...bla."
Eylina bercerita panjang sekali, ia menceritakan segalanya pada sahabatnya. Karena ia tahu, Sista adalah orang yang sangat bisa dipercaya.
__ADS_1
"Syukurlah Lin kalau gitu ... gue seneng banget dengar ini dari lo. Semoga lo selalu bahagia sama tuan Morgan." Gadis itu nampak tersenyum lebar.
"Makasih ya Sis, lo emang satu - satunya sahabat gue yang terbaik." Untuk beberapa saat mereka terdiam.
"Oh ya, terus sekarang gimana dengan lo?" Eylina bertanya dengan sangat hati - hati.
"Gue juga bingung Lin, kayaknya gue nggak bakal balik kerumah gue lagi ...." Sista menundukkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Mau taruh dimana muka gue Lin? Semua orang disana udah pada tau kalau gue mau nikah dalam waktu dekat ini. Sebagian dari mereka juga udah terima undangan dari gue. Kayaknya gue akan jual rumah itu."
"Ya jangan terburu - buru dong Sis, itu kan rumah peninggalan orang tua lo. Ya udah kalau gitu untuk sementara lo pulang ke rumah ibuk dulu gimana?"
"Makasih Lin, tapi gue nggak pengen ngerepotin tante Santi."
"Apaan sih lo? Kayak sama siapa aja sih? Lo bisa tinggal disana sampai kapanpun lo mau Sis. Ibuk sama Dara juga pasti seneng kalau lo mau tinggal disana. Kan jadi makin rame kalau ada lo."
Dua orang bersahabat itupun saling pandang.
Sista terlihat sedang menimbang tawaran dari sahabatnya.
"Gimana?" Tanya Eylina lagi.
"Baiklah kalau gitu."
"Nah gitu dong, nggak usah pakai nggak enak segala. Lo tuh udah kayak keluarga buat gue. Ibuk juga udah sayang banget sama lo."
Mereka berdua pun tersenyum. Eylina merasa sangat iba pada sahabat baiknya.
Rony benar - benar keterlaluan menurutnya. Bagaimana lelaki itu bisa tega menyakiti hati sahabatnya seperti ini. Padahal Sista sudah banyak berkorban untuk lelaki itu.
"Oya ... terus anak - anak cafe udah pada tau hal ini belum?" Eylina bertanya terdiam beberapa saat.
"Gue nggak tau Lin, mungkin aja mereka udah tau. Bukankah kabar buruk itu lebih cepat menyebar?"
"Iya lo bener juga. Terus sekarang rencana lo apa?"
"Gue juga bingung, gue nggak mungkin balik kerja di cafe itu lagi. Di sana banyak banget kenangan antara gue sama Rony. Lo tau sendiri, cafe itu letaknya nggak jauh dari tempat kerjanya dia."
Sista tersenyum kecut dan menunduk.
"Sabar ya Sis, udah jangan diinget terus."
__ADS_1
Eylina mengusap bahu sahabatnya dengan lembut.
💗💗💗💗💗💗