
Hari telah berganti. Morgan harus menerima nasibnya sejak Eylina datang bulan. Rencana bulan madu singkat yang sudah ia susun dalam angan - angan menjadi buyar seketika.
Ia yang tadinya ingin mengajak gadis itu berlibur ke pantai di Kota J harus rela impiannya terkubur gara - gara tamu tak diundang.
Sampai dengan hari ini, setelah genap satu minggu. Ia masih belum bisa tersenyum.
Di ruangan kerjanya di gedung utama Globalindo yang bersih dan rapi, lelaki itu memandang keluar jendela. Menatap pemandangan kota yang begitu sibuk.
"Tuan Muda, sebentar lagi meeting akan dimulai." Ucap Rey yang berdiri dibelakang pemuda itu.
"Mmm ... ya, siapkan semuanya." Perintah Morgan dengan tidak merubah posisinya.
Hari - hari Morgan sangat sibuk sejak ia resmi menjabat sebagai Presdir perusahaan raksasa itu.
Ia merogoh ke dalam kantong jasnya dan mengambil ponsel miliknya. Lalu mengotak - atik ponsel tersebut, melihat foto seorang gadis cantik yang kini telah menempati ruang terdalam di hatinya. Eylina Rianti.
Ia mengingat semua kejadian diantara keduanya.
Mulai sejak kesan pertama saat makan malam waktu itu.
Sebuah senyum terkembang di wajahnya, ya ... Eylina adalah sosok gadis yang tak biasa. Ia sangat istimewa dimata Morgan. Kehadirannya bahkan mampu menutup luka serta trauma yang dialami Morgan sejak kepergian Alice.
Meski keduanya bersatu dengan awal yang tidak baik, namun akhirnya ia dan Eylina mampu menumbuhkan rasa cinta di hati masing - masing.
Dan begitulah dua hati yang saling terikat dan terhubung dengan kuat.
Saat lelaki itu memandangi foto Eylina di dalam ponselnya, di saat bersamaan gadis itu mengirimkan pesan suara.
"I love you." Begitulah isinya.
Seketika itu juga Morgan tersenyum - senyum layaknya pemuda yang sedang kasmaran.
"Kau dengar itu tadi Rey?"
Ucap Morgan dengan sombongnya.
"Tentu saja Tuan." Suaranya keras sekali, bagaimana aku tidak mendengarnya. Mungkin dia sengaja memamerkannya. Lanjut Rey dalan hatinya.
"Dia juga mencintaiku Rey, hahaha ...," mood Morgan berubah menjadi sangat baik saat ini.
"Aku akan membalas pesannya dulu, jam berapa ini?" Lelaki itu mencoba memastikan.
"Masih ada waktu 15 menit lagi Tuan."
Masih cukup lama untuk saling melemparkan kata - kata gombal menjijikkan. Batin Rey.
"Kau siapkan saja semuanya."
"Baik Tuan."
Ya Tuhan, jangan sampai aku mati muda. Sudah berapa kali ia memerintah seperti itu. Aku mendengarnya Tuan, dan sudah ku siapkan dari tadi semuanya.
Rey.
"I love you too."
Balas Morgan melalui pesan, ia tak lupa memberikan emoticon berbentuk hati.
"Semoga lancar." Balas Eylina.
"Terimakasih, aku merindukanmu." Lelaki itu mulai asik dengan ponselnya sambil tersenyum - senyum.
"Miss you too." Balas Eylina disertai emoticon ciuman.
Pesan itu semakin berlanjut dan mengarah pada hubungan yang lebih intim diantara keduanya. Hingga akhirnya sekertaris Rey menjadi wasit yang mengakhiri obrolan pesan gila antara dua sejoli itu.
Mereka pun menghadiri meeting yang telah disepakati tersebut.
*****
Sementara di tempat lain, Eylina tengah tersenyum melihat pesan - pesan yang dikirim oleh suaminya.
Setelah membaca pesan terakhir Eylina meletakkan ponselnya ke atas nakas.
Laci ini isinya apa ya? Hhh ... selama aku menjadi istrinya, aku tidak pernah membukanya.
Dengan rasa penasaran, Eylina membuka laci tersebut. Ia mengernyitkan dahinya melihat sebuah bingkai foto dengan posisi terbalik.
Foto apa ini? Batinnya seraya mengambil foto tersebut.
Namun hatinya terasa tergores saat melihat gambar yang ada di bingkai tersebut.
Siapa wanita ini? Kenapa bisa ada disini?
Hati Eylina terasa sakit sekali, melihat foto sesosok gadis yang sangat cantik dan anggun dengan senyum lebar.
Air matanya perlahan mulai menetes.
Siapa dia? Mungkinkah suamiku memiliki hubungan dengan wanita ini? Kenapa dia menyembunyikan ini dariku? Apa dia menganggap aku sebagai mainannya selama ini?
Dasar bodoh, memang seharusnya aku tidak jatuh di pelukannya. Hiks ... hiks ...
Tangis Eylina semakin menjadi - jadi. Ia merasa telah dibodohi oleh suaminya.
Gadis itu terus mengurung dirinya hingga malam. Pikirannya kacau, ia tiba - tiba teringat pada Sista. Mungkin seperti inilah yang dirasakan sahabatnya waktu itu.
Ia lalu mengambil ponselnya dan mencoba menelepon sahabatnya itu. Namun belum sempat tersambung, Eylina mematikan kembali panggilannya.
Ceklak ...
Morgan membuka pintu kamarnya dengan tergesa - gesa setelah mendengar cerita dari Emily yang mengatakan jika kakak iparnya tidak keluar kamar dari tadi.
__ADS_1
Eylina pun menoleh langsung ke arahnya dengan matanya yang masih bengkak.
"Sayang, ada apa denganmu? Kenapa tidak membaca dan membalas pesanku? Aku sangat khawatir padamu. Apa kau menangis? Apa yang terjadi? Apa mama menyerang mu lagi?"
Morgan bergerak semakin mendekat pada istrinya yang duduk di tepi ranjang. Ia ingin memeluk gadis itu.
Namun tangan Eylina menepisnya. Membuat Morgan bertanya - tanya dalam pikirannya. Apa sebenarnya terjadi, tadi siang mereka masih baik - baik saja. Bahkan mereka saling berkirim pesan mesra dan sedikit intim.
Tapi kini gadis itu tak ingin berdekatan dengannya, Eylina bahkan menolak untuk menatap mata Morgan.
"Sayang, katakan padaku! Apa yang terjadi? Kenapa kau berubah seperti ini? Apa yang kau sembunyikan itu?"
Morgan berusaha mengambil sesuatu yang disembunyikan Eylina di bawah bantal.
Astaga ... bagaimana dia bisa mendapatkan foto ini? Oh sial ... aku lupa, aku masih menyimpan foto Alice di laci ini. Dia pasti berpikir macam - macam.
Batin Morgan.
"Sayang, katakan padaku! Apa kau merasa cemburu?" Tanya Morgan.
"Hey, lihat aku ... jangan seperti ini. Apa yang kau pikirkan tentang foto ini?" Morgan meraih wajah Eylina dan menghadapkannya padanya.
"Kau cemburu?" Lelaki itu justru tersenyum. Membuat Eylina menjadi bingung sekarang.
"Siapa dia?" Tanya Eylina lirih.
"Kau masih ingat, aku pernah membawamu ke pemakaman waktu itu?"
Morgan menatap hangat pada gadis yang ada di hadapannya.
Sementara gadis itu hanya mengangguk pelan.
"Makam itu adalah makam Alice, gadis yang ada difoto ini."
Perkataan Morgan membuat Eylina menoleh dan menatap ke arahnya dengan penuh rasa ingin tahu.
"Benarkah?" Dengan ragu - ragu ia mencoba mencari tahu.
"Ya, namanya Alice. Dia dulu adalah tunangan ku," jawab Morgan dengan santai.
Tidak ada lagi beban tentang Alice lagi saat ini.
"Dia meninggal dalam sebuah kecelakaan." Wajah Morgan tertunduk.
Benarkah yang kau katakan? Eylina sedikit ragu.
"Oya?" tanya Eylina penuh selidik.
"Ya, dia meninggal sepuluh tahun yang lalu."
"Lalu kenapa kau masih menyimpan fotonya?"
Benarkah ucapan mu bisa dipercaya?
Batin Eylina.
*****
Keesokan paginya Morgan bangun lebih awal dan terlihat tidak bersemangat karena semalam ia tidak bisa tidur dengan nyenyak dan beberapa kali terbangun karena hasratnya yang tidak bisa dituntaskan.
Ia menoleh ke arah istrinya yang masih terlelap.
Kapan penderitaan ini akan segera berakhir? Aku sudah tidak tahan rasanya, hanya bisa melihatmu tanpa bisa menikmati.
Lelaki itu mengusap bahu Eylina yang sedang memunggunginya.
Kemudian memeluk erat tubuh gadis itu seraya memainkan jemarinya di perut Eylina.
"Sayang bangunlah!" Morgan berkata dengan berbisik, ia mengendus dan mengusap - usapkan hidungnya di tengkuk istrinya.
Semua yang ada ditubuh Eylina sudah seperti candu baginya.
"Mmmm ...," gadis itu menggeliatkan dan membalikkan tubuhnya menghadap suaminya.
Ia mengerjapkan matanya, melihat sesosok wajah tampan yang ada dihadapannya.
Astaga ... tampan sekali sih.
Tangan gadis itu membelai wajah Morgan dengan lembut.
"Sayang, kau pucat sekali?" Morgan mengernyitkan dahinya melihat wajah cantik Eylina yang tak seperti biasanya. Gadis itu nampak pucat pagi ini.
"Tidak masalah, aku sudah biasa sayang. Setiap kali mengalami masa haid pasti seperti ini." Eylina tersenyum. Ia tentu tak ingin membuat lelaki yang dicintainya khawatir.
"Kau yakin?"
"Tentu, aw ...," gadis itu nampak sedikit meringis dan memegangi perutnya.
"Ada apa?" Lelaki itu nampak sangat khawatir melihat istrinya.
"Tidak, tidak apa - apa. Ini hanya nyeri biasa, semua wanita mengalaminya. Tidak masalah sayang." Eylina bangun dari tidurnya. Ia menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Sementara Morgan menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidur sambil memeriksa agenda kerja yang baru saja dikirimkan oleh sekertarisnya.
Namun setelah cukup lama, Eylina tak kunjung menampakkan dirinya. Hal itu membuat Morgan semakin khawatir.
Ia lalu menyusul istrinya ke kamar mandi sambil memanggil nama Eylina, namun gadis itu sudah tidak berada disana dan juga tidak menyahuti panggilannya.
Dengan perasaan yang semakin khawatir, lelaki itupun kemudian membuka pintu ruang ganti. Dan betapa terkejutnya saat ia mendapati istrinya tengah terbaring tak berdaya di sofa.
Dengan tergesa - gesa, Morgan pun menghampiri gadis itu.
__ADS_1
"Sayang ...," panggil Morgan seraya menggoyangkan punggung Eylina.
"Mmm ...." Gadis itu tak menjawab dan hanya menatap sayu pada suaminya, bibirnya sangat pucat sekali.
"Ada apa? Tubuhmu dingin sekali?" Tanpa menunggu jawaban dari Eylina, Morgan mengangkat tubuh gadis itu dan memindahkannya di tempat tidur.
"Sayang, kau bisa mendengar ku?" Morgan menggenggam tangan Eylina, ia berusaha menjaga agar Eylina tetap sadar.
Lelaki yang tengah panik itu berusaha untuk tetap berpikir jernih, ia menyambar ponselnya yang tergeletak di atas nakas dan menghubungi sekertarisnya.
Ia meminta Rey untuk membawa dokter kerumahnya.
Kemudian ia menghubungi pak Gunawan agar naik ke atas.
Meski mencoba mengontrol diri, namun Morgan tetap saja tidak bisa terlihat tenang melihat Eylina terbaring dengan lemah dan mata tertutup. Gadis itu sudah tidak menyahuti panggilan dari Morgan.
Ya, Eylina pingsan.
Tok ... tok ... tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Masuk ...,"
"Permisi Tuan, ada yang bisa saya bantu!" tanya pak Gun dengan sopan.
Lelaki itu masuk setelah mendapat ijin dari Morgan.
"Istriku pingsan, aku sudah menelepon Rey untuk membawa dokter. Tapi kurasa akan butuh waktu. Apa pak Gun bisa melakukan sesuatu untuk membuatnya sadar?" Morgan bertanya dengan penuh rasa khawatir.
"Baik Tuan, saya akan panggil beberapa pelayan wanita kemari." Dengan sangat tanggap, pak Gun berlalu dari hadapan Morgan dan turun kebawah untuk memanggil anak buahnya.
Morgan duduk disamping istrinya yang masih belum sadar.
"Bangunlah sayang, jangan membuatku takut. Aku tidak ingin kehilanganmu Eylina."
Morgan di dera rasa takut yang teramat sangat, terakhir kali ia menggenggam tangan Alice adalah saat gadis itu telah terbaring tak bernyawa sepuluh tahun yang lalu. Hal itu menimbulkan rasa trauma dalam diri Morgan.
Ia menatap Eylina dengan penuh rasa khawatir karena gadis itu belum juga membuka matanya sejak beberapa menit yang lalu. Ya, baru beberapa menit yang lalu gadis itu benar - benar pingsan. Namun bagi Morgan waktu beberapa menit itu terasa sangat lama sekali.
Ia tidak bisa melihat gadis yang dicintainya tergolek tidak berdaya seperti ini.
Ia terus menggenggam tangan Eylina yang terasa sedikit dingin, dan sesekali menciuminya.
Bangunlah, jangan membuatku takut seperti ini sayang. Mata Morgan terus memandangi Eylina yang tak kunjung menunjukkan reaksi.
Tak berapa lama, pak gun datang bersama bi Sani dan bi Astri.
"Permisi Tuan."
"Bagaimana? Apa yang bisa kalian lakukan? Apa kalian bisa membuatnya sadar?"
Morgan memburu ketiga orang tersebut dengan pertanyaan.
"Permisi Tuan saya akan mencobanya." Kata bi Sani.
Wanita tersebut kemudian duduk di tepi ranjang dan mulai menggosok kaki Eylina dengan minyak kayu putih.
Sementara bi Astri mencoba memberikan aroma minyak kayu putih di hidung nona mudanya.
Kedua wanita itu mengerjakan pekerjaannya dengan jantung yang dipompa dengan kecepatan penuh.
Mereka berusaha sebaik mungkin, agar nona muda mereka segera merespon tindakan mereka.
"Apa ini akan berhasil?" tanya Morgan pada kepala pelayan yang berdiri di sampingnya.
"Semoga saja Tuan." Dengan dada berdebar - debar pak Gun mengatakannya.
"Jadi ini hanya coba - coba?" Morgan menoleh dengan cepat.
"Tidak Tuan, mereka sudah sering melakukan hal ini pada rekan kerja mereka saat ada yang pingsan di rumah dibelakang." Pak Gun mengatakan sesuai dengan keterangan yang diberikan oleh bi Sani.
Setelah beberapa menit, akhirnya usaha bi Sani dan bi Astri membuahkan hasil.
Tubuh Eylina mulai merespon, gadis itu mengerjapkan matanya.
Bi Sani dan bi Astri pun bisa bernafas dengan lega, begitu pula pak Gunawan.
"Sayang, kau sudah sadar?" Morgan segera berhambur ke arah istrinya saat melihat Eylina membuka matanya. Ia duduk berlutut di tepi ranjang.
Hatinya terasa lega saat melihat gadis yang sangat dicintainya itu tersenyum padanya.
"Kenapa kau pingsan? Kau membuatku khawatir." Istrinya belum sepenuhnya sadar, namun ia sudah mulai menunjukkan sikap manjanya.
"Tidak apa - apa sayang." Jawab Eylina dengan lirih seraya mengulas senyum di bibirnya yang pucat.
"Pak Gun, apa ada sesuatu yang bisa menghangatkan badannya? Minuman atau sup dan semacamnya? Cepat bawakan kemari!" Perintah Morgan.
"Baik Tuan." Lelaki paruh baya itu pun pergi bersama dua orang anak buahnya untuk menyiapkan apa yang diminta oleh tuan muda mereka.
"Kenapa kau suka sekali membuatku khawatir hah?" Morgan mencubit pipi Eylina yang sedikit lebih tembam saat ini jika dibandingkan dengan dulu saat pertama ia masuk rumah ini.
"Aku tidak bermaksud begitu."
"Apa kau selalu seperti ini?"
"Tidak sayang, biasanya aku hanya merasa sedikit pusing dan kram perut biasa. Tidak pernah sampai pingsan seperti ini."
"Aku memanggil dokter untukmu, dia masih dalam perjalanan sekarang." Morgan duduk di sebelah Eylina dan mengusap lembut puncak kepala gadis itu.
💗💗💗💗💗💗
__ADS_1