Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Ungkapan Perasaan


__ADS_3

Pagi sudah menjelang, setelah separuh dari bagian bumi ini diselimuti kegelapan.


Eylina yang dari semalam tidur dengan nyenyak itupun mulai merasa aneh karena ada aroma yang tak asing sedang mengusik indera penciumannya. Dan juga, ia merasakan ada sesuatu yang lumayan berat yang menimpa pinggangnya.


Ia pun membuka matanya, dan betapa terkejutnya dia saat menyadari bahwa yang menimpa pinggangnya adalah tangan kekar milik Morgan.


Tuan Muda? pikirnya.


Ia kemudian mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.


Bagaimana aku bisa tidur disini? Apa aku tidur sambil berjalan? Tapi itu tidak mungkin, aku tidak pernah seperti itu. Lalu ... apa dia yang membawaku kesini?


Eylina pun berusaha menyingkirkan tangan Morgan yang melingkar di pinggangnya. Namun bukannya berhasil, tangan itu justru semakin memeluknya dengan erat.


"Tuan?" Eylina berusaha memutar badannya untuk melihat lelaki yang kini memeluknya dari belakang. Ia ingin memastikan jika laki - laki itu tidak sedang mabuk ataupun semacamnya.


Namun hal itu malah justru dimanfaatkan oleh Morgan.


Lelaki itu justru mendekatkan tubuhnya saat Eylina menghadap ke arahnya. Morgan memeluk tubuh gadis itu dengan sangat rapat.


Sial, sekarang aku malah terjebak disini. Jika dia sudah bangun kenapa tidak membuka matanya dan menjelaskan apa maksud dari perbuatannya ini.


"Tuan, apa Tuan sudah bangun?"


"Eemm." Bukannya menjawab, lelaki itu justru menyusupkan wajahnya di ceruk leher Eylina.


Eylina yang sebelumnya tak pernah mendapat perlakuan seperti itupun menggeliatkan badannya karena merasa geli dan canggung.


Sementara Morgan justru semakin menikmati momen tersebut dengan mata yang masih terpejam. Ia begitu menikmati aroma khas yang keluar dari tubuh Eylina, yang baru kali ini bisa ia rasakan.


Aroma tubuhmu kenapa sangat menggoda di pagi hari seperti ini?


Batin Morgan. Ia merasakan gejolak yang terasa menuntut dan ingin meledak di dalam dirinya.


"Tuan?"


Ayolah buka matamu! Kegilaan apa lagi ini ya Tuhan?


Eylina membuat jarak dengan kedua lengannya yang dilipat agar dadanya tak bersentuhan dengan dada Morgan.


"Singkirkan tanganmu atau aku akan mengikatnya." Kata Morgan dengan pelan, dan tidak merubah posisinya.


"Tuan? Kurasa ada yang salah."


Apa yang kau lakukan? Apa kau sedang mabuk? Tapi tidak ada bau minuman dari tadi.


"Apanya yang salah?" Morgan menjawab dengan enteng dengan tidak merubah posisi tubuhnya. Ia membuka matanya perlahan.


"Yang Tuan lakukan."


Jantung Eylina mulai berdegup kencang merasakan nafas Morgan terus menerus menerpa kulit lehernya.


Ayolah buka matamu, apa lagi rencanamu kali ini Tuan?


"Kenapa memangnya? Apa kau keberatan?"


Eylina dapat merasakan dari suara Morgan, jika lelaki itu mulai merasa kesal.


"Bukan, maksudku ... maksudku ...." Eylina menggigit bibirnya sendiri.


"Apa?"


"Maksudku, bukankah hubungan kita hanya sebatas perjanjian?" Gadis itu mulai gugup. Ia berkata dengan sangat pelan dan hati - hati. Yang ia pikirkan saat ini hanyalah ibu dan juga adiknya. Jika lelaki ini marah, tentu bukan hanya dirinya yang akan menanggung akibatnya. Tapi juga ibu dan adiknya.


Namun gadis itu juga tidak bisa tinggal diam, ini salah. Tidak seharusnya mereka berada diposisi seperti ini bukan?


"Berhenti membahas perjanjian itu!" Morgan mendesah kesal.


Eylina dapat merasakannya, lelaki itu menghembuskan dengan kasar.


"Tapi Tuan ...."

__ADS_1


Eylina tak sempat melanjutkan kalimatnya karena Morgan menarik wajahnya mendekat lalu membungkam Eylina dengan sebuah ciuman panjang yang penuh gairah. Sementara tangan lelaki itu mulai menyusup dan mencari sesuatu yang membusung di dada Eylina.


Ingin rasanya Eylina menangis. Ia merasa harga dirinya sebagai wanita telah begitu hancur saat ini.


Jika dulu ia masih merasa kuat saat Morgan dengan tanpa perasaan memperbudaknya.


Tapi sekarang, lelaki itu bahkan sudah mulai menjamahnya. Menyentuh bagian sensitif dari tubuhnya dengan tanpa permisi.


Meski sekuat apapun ia mencoba menahan, namun air mata itu akhirnya jatuh juga. Meleleh dan membasahi pelipisnya.


Shit, kenapa di malah menangis? Apa dia tidak bisa merasakan perasaanku?


Morgan menghentikan aktivitasnya saat menyadari gadis yang sedang ia cumbu itu mengeluarkan air mata.


"Maafkan aku." Tuan muda itu menenggelamkan wajah Eylina di dalam dekapannya.


Namun bukannya merasa tenang, Eylina malah justru semakin terisak.


"Maafkan aku, Eylina. Aku tidak bisa mengendalikan diriku." Entah kenapa hati Morgan begitu sakit mendengar setiap isakan yang dikeluarkan gadis itu.


Aku terlalu buru - buru, maafkan aku.


Morgan menyadari kesalahannya, ia sadar jika yang ia lakukan terlalu cepat dan tentu saja membuat gadis yang memang masih polos itu merasa ketakutan.


Ia semakin mendekap gadis itu dan menciumi puncak kepalanya berkali kali serta mengusapnya dengan lembut.


"Bisakah kau berhenti menangis?"


Eylina hanya mengangguk. Ia mulai merasa sedikit tenang. Bahkan mulai merasakan kenyamanan berada di dalam dekapan suaminya yang hangat.


Kumohon jangan biarkan perasaan ini muncul ya Tuhan.


Eylina merasakan jantungnya kembali berdebar - debar.


"Tuan? Bukankah tidak seharusnya Tuan melakukan hal ini?" Eylina mulai berbicara saat Morgan melepaskan dekapannya. Mata sembab gadis itu menatap Morgan. Menuntut penjelasan atas apa yang baru saja terjadi.


"Aku tahu, maafkan aku." Lelaki itu menundukkan kepalanya.


Kau tahu dadaku selalu bergemuruh saat berada di dekatmu. Batin Morgan.


Kumohon jangan membuatku berharap Tuan.


Batin Eylina.


"Tapi Tuan, bagaimana dengan perjanjian ...."


"Sssttt,, bisakah kita lupakan tentang perjanjian itu?" Morgan membungkam bibir Eylina dengan satu jari sebelum kalimat itu diselesaikan oleh gadis itu.


"Maksud Tuan?"


"Bisakah kita menjalani pernikahan ini dengan selayaknya? Bukankah pernikahan itu adalah sebuah ikatan yang suci?"


Aku tidak percaya ya Tuhan, apa dia sedang mengigau? Atau sedang mengerjai ku?


"Tuan, anda pasti sedang bercanda kan?"


"Apa kau melihat kebohongan di mataku?"


Morgan menatap lekat mata Eylina.


Dia benar, tidak ada kebohongan dimatanya. Tapi, semua ini? Tidak mungkin, tuan muda tidak mungkin mengharapkanku lebih dari seorang istri kontrak kan?


Pikiran Eylina berkecamuk.


"Lupakan tentang perjanjian itu Eylina, bisakah kita menjaga ikatan suci diantara kita ini?"


"Tuan, aku ... aku ...."


Lidahku kenapa kaku sekali?


"Aku ingin kau tetap disini Eylina." Morgan kembali mendekap tubuh Eylina yang masih berbaring disampingnya.

__ADS_1


"Yang dikatakan Rey mungkin benar, papa mungkin sebentar lagi akan menyerahkan semuanya padaku. Tapi semua itu tidak penting lagi, aku hanya ingin dirimu."


Apa yang dikatakannya itu sungguh - sungguh?


Morgan melepaskan pelukannya, ia menatap gadis itu dengan penuh makna. Untuk sesaat keduanya hanyut dalam perasaan masing - masing. Dan Entah siapa yang memulainya, bibir mereka kini saling terpaut satu sama lain.


Namun Eylina hanya bisa menerima perlakuan itu tanpa bisa membalas. Ia tak tahu harus merespon bagaimana. Morgan adalah lelaki pertama yang menciumnya. Gadis itu bahkan terlihat tengah menahan nafasnya.


"Hahahaha ... apa kau memang benar - benar tidak pernah berpacaran sebelumnya?" Morgan tak bisa menahan tawanya melihat kepolosan istrinya.


Wajah Eylina memerah seketika, ia lalu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Hal itu justru membuat Morgan menjadi semakin gemas melihatnya.


"Tidak masalah, biarkan aku yang mengajarimu." Lelaki itu tersenyum dan menyingkirkan tangan yang menutupi wajah Eylina.


"Maksud Tuan?"


"Bisakah kau ubah panggilan mu itu? Telingaku rasanya sakit mendengarnya."


"Bukankah memang itu memang panggilan untuk Tuan Muda?" gadis itu mengernyitkan dahinya dengan tatapan mata yang polos.


Cup ....


Bibir Morgan mendarat dengan singkat di bibir Eylina.


"Itu hukuman karena kau masih memanggilku dengan kata Tuan."


"Lalu aku harus memanggil apa?"


"Panggil aku, sayang!"


Apa? Dia habis makan apa sih? Kenapa jadi aneh seperti ini?


Dia sedang bermain - main kan?


"Hehehe, anda pasti bercanda kan?"


"Baiklah, jika kau memilih untuk dihukum."


Bibir Morgan sudah hampir menyentuh bibir Eylina, namun gadis itu menahannya dengan telapak tangannya.


"Baiklah, baiklah ... sa ... sayang." Eylina lalu tersenyum. Namun jantungnya terasa berdegup sangat kencang.


"Bagus." Morgan kembali menciumi bibir gadis itu.


Membuat Eylina membelalakkan matanya.


Aku sudah menuruti kemauannya kan? Kenapa masih dihukum? pikirnya.


"Itu hadiah karena kau sudah patuh padaku."


"Apa?"


"Apa telingamu benar - benar bermasalah?"


Morgan mencubit hidung gadis itu.


"Tidak, hehe ... tentu saja tidak." Eylina menggeleng dengan cepat.


Morgan merasa gemas sekali dengan gadis yang berada di dalam pelukannya itu, ia lalu menghujani gadis itu dengan ribuan ciuman. Ciuman yang semakin lama terasa semakin membuat darah mereka mendidih, hingga keduanya hanyut dalam sebuah perasaan yang kian menuntut dan semakin bergejolak di dalam darah mereka.


Baik Morgan maupun Eylina, keduanya sudah sangat membara dan tak bisa lagi menahan kobaran hasrat yang membakar di dalam diri mereka.


Hingga akhirnya sebuah penyatuan pun terjadi tanpa ada paksaan sedikitpun.


Bukan hanya tubuh mereka, namun juga hati dan perasaan yang sama - sama membuncah itupun kini telah melebur bersama.


Pagi itu menjadi sebuah awal yang baru bagi Morgan dan Eylina. Keduanya saling menumpahkan hasrat yang telah lama menyesakkan dada mereka.


💗💗💗💗💗💗

__ADS_1


__ADS_2