
Pagi yang datang menjelang, biasanya selalu membawa semangat baru bagi setiap orang. Tapi nyatanya berbeda dengan dua orang yang berada di dalam kamar mewah dan nyaman ini.
Sepasang suami istri ini masih terlelap di bawah selimut dengan tubuh yang dibiarkan polos tanpa sehelai benang pun.
Pakaian mereka masih berserakan dimana - mana, bahkan aroma sisa percintaan mereka semalam pun terasa masih ada.
Eylina mengerjapkan matanya, pinggang dan punggungnya terasa sedikit pegal setelah pertempuran panjang semalam. Ia menggeliatkan badannya dan menyingkirkan tangan kekar suaminya yang menimpanya.
Lelaki itu nampaknya juga masih kelelahan setelah beberapa kali memimpin permainan panasnya.
Eylina menurunkan kakinya dan memakai sendalnya. Ia lalu memunguti semua pakaiannya yang di lemparkan ke sembarang tempat oleh suaminya semalam. Entahlah, kenapa suaminya selalu seperti itu.
Morgan juga rasanya semakin hari semakin bar - bar setiap kali berhubungan badan.
Lelaki itu seolah tak pernah puas jika hanya bermain satu atau dua kali saja. Sebenarnya bagi Eylina tidak masalah, yang jadi masalahnya sekarang Morgan harus memakai pengaman agar Eylina tidak hamil. Namun justru pengaman itulah yang membuat Eylina merasa tersiksa. Pengaman itu membuat suaminya menjadi lebih tahan lama dan justru menjadi tak pernah puas.
Eylina harus menahan rasa panas di bagian bawah tubuhnya setiap kali berhubungan, dan itu hampir setiap hari. Ingin rasanya ia segera mengakhiri ini semua. Ia ingin hari itu segera datang, hari dimana ia akan dioperasi.
Semoga besok semuanya lancar, gumamnya seraya memungut satu pakaian terakhir.
Ia lalu melangkahkan kakinya ke kamar mandi, meletakkan pakaian kotor itu ke dalam keranjang. Eylina lalu mengisi bak mandinya dengan air hangat dan menuangkan sabun serta membuat busa.
Gadis itu kemudian masuk dan menenggelamkan tubuhnya hingga ke dadanya. Ia memejamkan matanya, menikmati sensasi aroma harum dari sabun yang ia tuangkan tadi. Tubuhnya terasa rileks berada dalam rendaman air hangat.
Ia tersentak kaget dan langsung membuka matanya saat merasakan ada sesuatu yang sedang bermain di dadanya.
"Sayang? Kau sudah bangun?" tanyanya saat mendapati makhluk tampan dengan rambut acak - acakan tengah berjongkok di samping bak mandinya dan mengusap lembut dadanya.
"Ya ..." Morgan mendaratkan ciuman di kening Eylina. "Jangan terlalu lama berendam," tambahnya. Ia lalu berdiri dan berjalan ke arah shower. Lelaki itu membasahi tubuhnya dibawah pancuran air shower.
Tubuh tinggi putih dan berotot itu terlihat sexy dimata Eylina. Gadis itu tertegun memandangi suaminya, sosok yang ada dihadapannya benar - benar sempurna. Ditambah lagi pahatan wajahnya yang begitu indah. Menambah pesona Morgan menjadi semakin kuat, pantas saja jika banyak sekali wanita yang menginginkannya. Ingin mendapatkan hatinya, ingin di jamah oleh tangannya, ingin merasakan manis bibirnya, ingin ikut menikmati hartanya. Ah ... terlalu banyak rasanya jika diungkapkan semuanya.
Ia lalu mengalihkan pandangannya saat lelaki itu telah selesai dengan acara mandinya. Eylina pun keluar dari bak mandinya, ia membilas tubuhnya di bawah shower. Kemudian mengambil handuk untuk membungkus rambutnya yang basah, serta jubah handuk untuk menutupi tubuh polosnya.
Ia keluar dari ruang ganti dengan kepala masih terbungkus handuk, matanya menangkap bayangan suaminya tengah duduk di sofa. Lelaki itu sedang sibuk dengan ponselnya. Eylina mengeringkan rambutnya dan memoles wajahnya dengan make up tipis. Rambutnya yang sedikit memanjang tergerai semakin indah dari hari ke hari.
"Sayang, apa kau sibuk?" Eylina mencium pipi suaminya.
"Emm ... tidak, aku hanya memeriksa beberapa email dari Rey." Morgan meletakkan ponselnya dan menarik Eylina ke atas pangkuannya.
"Kalau begitu ayo turun, Papa dan yang lainnya pasti sudah menunggu kita."
"Sebentar lagi." Morgan menciumi bahu istrinya. Menikmati aroma harum yang keluar dari tubuh itu.
__ADS_1
"Sayang, geli ah ... udah!" Tangan Eylina menghalangi bibir Morgan yang menyusuri leher jenjangnya.
"Siapa suruh kau semakin cantik, semakin hari kecantikan mu semakin bertambah. Kulitmu semakin lembut, rambutmu semakin indah dan tubuhmu semakin sexy, rasanya semakin membuatku ketagihan," bisik Morgan ditelinga Eylina, yang seketika itu juga membuat gadis itu menjadi merinding.
Tidak bertambah cantik bagaimana? Morgan membelikan perawatan tubuh terbaik kelas dunia untuk istri tercintanya itu. Kulit Eylina menjadi sangat halus dan bercahaya berkat perawatan itu. Rambutnya juga semakin berkilauan.
Eylina menggigit bibirnya dan menggeliat karena geli yang dirasakannya. Ia melepaskan pelukannya dari tubuh suaminya.
"Sayang, ayolah jangan bermain - main terus!" Eylina bangkit dan menarik tangan suaminya.
Morgan pun berdiri, ia meraih tubuh istrinya dan merangkulnya. "Kau yang membuat rencana bulan madu kita menjadi gagal, jadi jangan salahkan aku jika aku tidak membiarkanmu lepas."
"Masih bisa direncanakan lagi bukan?"
"Tentu saja, tapi itu masih lama sekali. Apa kau lupa dengan yang dokter Mira katakan?"
"Mmm ... aku hanya perlu menunda kehamilan kan? Bukan menunda berhubungan denganmu." Eylina melirik suaminya. Langkah mereka pun terhenti, Morgan merenggangkan rangkulannya.
"Maksudmu?"
"Bukankah kita bisa meminta dokter Mira memberikanku pil kontrasepsi atau semacamnya?"
"Oh ... iya, kau benar juga," kata Morgan, ia pun merapatkan rangkulannya dan kembali berjalan.
"Selamat pagi Pa, Ma ..." sapa Eylina. Hari - hari di rumah ini semakin terasa hangat. Tidak ada lagi sindiran, tidak ada lagi hinaan dan tatapan perang dari ibu mertuanya. Namun bukan berarti hubungan diantara keduanya sudah seperti mertua dan menantu yang harmonis. Tidak ... tidak seperti itu, masih ada jurang tak kasat mata diantara keduanya.
"Morgan, Eylina ... ayo duduk dan sarapan," ucap Wira.
"Iya Pa," jawab Eylina seraya tersenyum.
"Besok adalah jadwal operasi mu, Nak. Semoga semuanya lancar dan kau bisa cepat pulih. Sayang sekali Papa dan Mama tidak bisa ikut menemani kalian besok."
"Tidak masalah, Pa. Kata dokter Mira ini hanya operasi kecil saja."
Lalu tanpa basa - basi lagi, semua orang menyantap hidangannya masing - masing. Eylina sedikit merasa heran, karena hari ini semua orang berpakaian rapi. Bahkan Emily pun sama, ia nampak rapi dan sedikit memoles wajahnya hingga nampak cantik sekali. Rambutnya pun tertata rapi.
Pada mau pergi kemana mereka semua? gumamnya.
Setelah sarapan selesai Wira dan Istrinya menuju ke depan, sedangkan Luna bersiap untuk pergi sekolah.
Morgan berpamitan untuk membicarakan beberapa hal dengan Pak Gunawan di ruang kerjanya. Di meja makan satu - satunya yang tersisa hanyalah Emily, gadis itu sibuk dengan ponselnya. Wajahnya terlihat serius.
"Emil ..." panggil Eylina.
__ADS_1
"Iya Kak?" Emily menoleh ke arah kakak iparnya.
"Kenapa kalian semua rapi sekali, mau ada acara ya?"
"Mama sana Papa mau menghadiri acara sama koleganya, dan aku mau menghadiri undangan,"
"Undangan?"
"Iya Kak, gaun - gaun rancangan Emily diterima untuk diperagakan di panggung Top Model tahun ini," kata gadis itu dengan antusias.
Sementara Eylina, justru berekspresi bingung. Ia benar - benar tidak mengerti. Otaknya masih berusaha mencerna ucapan adik iparnya. Namun belum sempat ia menanyakan hal itu lebih lanjut, adik iparnya telah lebih dulu pergi meninggalkannya.
Akhirnya ia hanya bisa terdiam sambil mengira - ngira. Sampai suaminya datang menghampirinya, gadis itu masih terdiam disana.
"Sayang, ayo ikut aku!" Morgan menarik tangannya. Eylina pun mengekor di belakang suaminya. Mereka berjalan ke arah depan.
"Kemari lah!" Lelaki tampan itu meraih istrinya, menutup matanya dan menuntunnya.
"Sayang? Ada apa sih?"
"Ssssttt ... diam lah!"
"Sayang, jangan mengerjai ku!"
"Siapa yang akan mengerjai mu? Aku punya kejutan untukmu," bisik Morgan.
Lelaki itu terus membawa istrinya ke halaman. Setelah semuanya siap, Morgan pun membuka mata Eylina.
"Semoga kau suka," bisiknya.
"Mobil? Untukku? Untuk apa? Di rumah kan sudah ada banyak mobil?" tanya Eylina heran saat melihat apa yang ada di depan matanya. Sekertaris Rey nampak berdiri di samping mobil itu. Mobil baru yang Morgan hadiahkan untuk Eylina.
"Ya, itu untukmu. Ini kuncinya," kata Morgan seraya menyerahkan kunci mobil itu pada istrinya.
"Tapi sayang, aku kan tidak bisa membawa mobil?"
"Hahaha ... siapa yang menyuruhmu membawa mobil sendiri? Rey, suruh dia keluar!" perintah Morgan.
Mendengar itu, Rey pun membuka pintu mobil tersebut dan menyuruh orang yang berada dalam mobil itu keluar.
Eylina membelalakkan matanya saat melihat seseorang keluar dari dalam mobil tersebut.
"SISTA?" teriaknya dengan mata membulat sempurna.
__ADS_1
💗💗💗💗💗💗