Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Apa Aku Dikerjai?


__ADS_3

Mobil Morgan memasuki halaman rumah setelah dua orang penjaga membukakan gerbang tersebut untuknya.


Setelah memarkir kembali mobil tersebut pada tempatnya, lelaki itupun bergegas masuk kedalam rumah. Namun betapa terkejutnya dia saat melihat gadis yang tadi membuatnya cemas dan khawatir, kini malah sedang asik tertawa cekikikan melihat acara di televisi bersama kedua adik iparnya.


Ia pun lalu mempercepat langkahnya untuk menghampiri Eylina.


"Sayang, bagaimana kau bisa ada disini?" Tanya Morgan seraya meletakkan belanjaannya di atas sofa ruang tengah.


"Sayang, kau sudah kembali? Mereka tadi mengajakku turun," Eylina mencoba menjelaskan dengan santai.


"Tapi kau bilang kau sedang ... apa tadi namanya?"


"Duduklah dulu sayang, tadi Emily ke kamarku saat aku ada dikamar mandi. Ku suruh saja, dia masuk. Aku memberi sedikit gambaran situasi pada Emily dan setelah tau, dia pun memberi stok barangnya yang tersisa padaku. Kalau tidak, mungkin aku masih mendekam di kamar mandi sampai sekarang," jelas Eylina.


Mendengar hal itu, Morgan pun manggut - manggut.


"Kak Morgan habis belanja?" Celetuk Emily seraya meletakkan cemilan yang ada ditangannya.


Gadis itu lalu melihat isi kantong belanjaan yang tadi dibawa kakaknya.


"Hahaha ... apa ini? Kak Morgan tadi ke supermarket sendiri?"


Emily menatap heran seraya menahan tawanya.


Kakak ipar memang paling best lah, bisa bikin Kak Morgan beli barang kayak gini. Hahaha ...,


Batin Emily.


"Hey, letakkan barang itu! Itu bukan untukmu."


Morgan menunjuk kearah barang belanjaannya dan menatap tajam pada adiknya, karena berani menyentuh barang khusus untuk istrinya. Namun gadis yang bersangkutan itu bukannya takut, ia malah justru tertawa terbahak - bahak. Melihat kekonyolan kakak lelakinya.


Sementara Eylina menggigit bibir bawahnya, ia pun sebenarnya ingin tertawa.


Bagaimana tidak, suaminya yang adalah seorang Presdir dari perusahaan ternama dan terbesar itu rela pergi ke supermarket sendiri hanya untuk membeli pembalut wanita. Dia baru tersadar akan hal itu.


Haduh ... ya ampun. Maafkan aku sayang, aku tidak ingat Emily tadi. Lagipula kenapa kau berangkat membeli ini sendiri sih? Kau kan bisa memerintah salah satu pelayanmu.


Batin Eylina.


"Hahaha ...," Emily sampai memegangi perutnya. Ia membayangkan seperti apa wajah kakaknya saat mencari - cari benda itu di supermarket tadi.


"Hey bocah, berhenti menertawakan ku! Memangnya apa yang lucu?"


"Hahaha ... tidak, tidak ada yang lucu." Jawab Emily, namun ia tidak bisa berhenti tertawa. Ia kembali duduk di samping Luna.


"Sayang sudahlah, dia tidak menertawakan mu." Eylina mencegah tangan Morgan yang akan melempar bantal sofa pada adiknya.


Ia mengedipkan matanya dan berbicara tanpa suara ke arah Emily.


"Oke ...," jawab Emily seraya mengerlingkan matanya.


Hal itu justru membuat Morgan merasa kesal.

__ADS_1


Ia merasa sedang dikerjai oleh adik dan istrinya.


"Apa yang kalian bicarakan? Sayang, apa kau mengerjai ku lagi?" Lelaki itu menuntut penjelasan.


Sementara di ujung sofa, seorang gadis yang berusia belasan tahun bernama Luna hanya menatap tidak mengerti pada ketiga orang yang sedang gaduh diruang keluarga itu.


"Mana ada seperti itu? Kenapa kau selalu menuduhku?"


Eylina ingin tertawa melihat kepolosan suaminya. Ia pun tak menyangka jika hal ini akan jadi lelucon seperti ini. Padahal ia tidak ada sedikitpun niat mengerjai suaminya. Ia juga tidak menyangka lelaki itu akan pergi sendiri ke supermarket demi mencarikan barang yang sedang dibutuhkan olehnya sementara dirumah ini ada banyak sekali pelayan yang bisa disuruh.


"Kau ini nakal sekali sekarang, kau pasti sengaja mengerjai ku lagi kan? Baiklah siap - siap terima hukuman mu." Lelaki yang sudah gemas tingkat dewa itupun mengangkat tubuh istrinya dan membawanya naik keatas.


Emily hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua sejoli itu. Sementara Luna memilih tidak peduli, karena ia tidak mengerti pembicaraan mereka dari tadi.


"Sayang turunkan aku kumohon, lagipula kau tidak akan bisa menghukum ku saat ini."


Eylina mulai menatap memohon. Namun kali ini jurusnya gagal membuat suaminya menghentikan aksinya.


"Aku tidak akan mengampuni mu, dan ku buat kau lembur malam ini."


Morgan tidak memperdulikan perkataan istrinya.


"Sayang, percuma ... kau tidak akan bisa melakukannya."


Aduh ... bagaimana cara menjelaskan padanya?


Eylina terlihat berpikir.


"Buka pintunya!" Perintah Morgan saat sampai di depan pintu.


Ia menurunkan Eylina di ranjang empuk miliknya, kemudian mulai menanggalkan pakaian yang melekat ditubuhnya.


"Sayang jangan lakukan! Aku tidak bisa."


Gadis itu memilih untuk meredam gejolak yang dialami suaminya dengan memeluk tubuh suaminya yang sudah menanggalkan pakaiannya.


"Kenapa? Kau yang memancingku dari tadi."


Lelaki itu menatap istrinya dengan penuh hasrat.


"Mana ada seperti itu?"


Karena tubuhnya yang lebih kecil dari suaminya, gadis itupun mendongakkan wajahnya untuk melihat wajah suaminya.


Morgan yang mendapat pemandangan itupun mengambil kesempatan. Ia meraih dagu Eylina dan menyatukan bibir mereka. Ia ******* bibir mungil Eylina dengan penuh hasrat yang membuat gejolak di dalam dirinya semakin membara.


"Sayang, aku tidak bisa melanjutkannya," kata Eylina seraya menundukkan kepalanya dan menghentikan tangan suaminya yang mulai kehilangan kontrol.


"Kenapa? Apa kau punya lelaki lain?"


Tanya Morgan penuh selidik.


Hhhh ... dikaitkan kesana lagi.

__ADS_1


Eylina menarik nafas panjang dan menghembuskannya.


"Aku sedang dalam masa haid sayang."


Gadis itu mulai menjelaskan dan menarik tangan suaminya untuk duduk di ranjang.


"Wanita yang sedang dalam masa haid tidak boleh berhubungan badan."


Gadis itu menatap lembut pada suaminya.


"Benarkah? Apa akan terasa sakit jika dipakai berhubungan badan?"


Lelaki itu semakin penasaran.


"Tidak, bukan seperti itu. Tapi setau ku ada kaitannya dengan kesehatan."


Eylina tidak bisa menjelaskan secara detail karena keterbatasan pengetahuannya.


"Jadi aku tidak bisa mendapatkan jatahku?"


Kata Morgan mulai gelisah.


"Ya, seperti itulah."


"Harus berapa lama? Apa besok sudah bisa?" Morgan mulai gelisah, ia tidak bisa menahan hasratnya saat didekat Eylina. Terlebih lagi, sekarang hubungan mereka masih hangat - hangatnya. Dan sekarang keinginannya harus tertunda karena tamu bulanan yang dialami istrinya.


"Sayang, biasanya aku haid selama kurang lebih 6 sampai 7 hari tapi terkadang juga bisa lebih dari itu."


Eylina mencoba menjelaskan.


"Apa? Kenapa lama sekali? Sayang apa tidak bisa dipercepat? Aku bisa kehilangan akal jika harus menunggu selama itu."


Morgan berdiri dari duduknya, ia berjalan mondar - mandir di depan istrinya sambil meremas rambutnya dengan tangan satunya berkacak pinggang.


"Tidak bisa sayang, memang sudah begitu dari dulu."


Bagaimana ada masa haid seperti itu. Menyebalkan sekali. Kenapa harus datang sekarang.


Aarrggghh ....


Aku bisa gila jika seperti ini, sehari saja tidak menyentuhnya aku bisa gila. Dan sekarang aku harus menunggu selama seminggu?


Sial!!


Morgan lalu duduk disamping istrinya dan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Sayang, kau tega sekali. Jangan menghukum ku seperti ini." Lelaki itu menatap memohon pada Eylina seraya menggenggam kedua tangan gadis itu.


"Aku tidak bisa berbuat apa - apa sayang, memang sudah seperti itu dari dulu."


Eylina mengusap punggung tangan suaminya dengan lembut.


Lelaki itu nampak sangat frustasi sekali. Terlihat jelas dari raut wajahnya.

__ADS_1


Dan malam itu setelah makan malam ia hanya bisa tidur sambil memeluk tubuh Eylina saja tanpa bisa mendapatkan pelepasannya.


💗💗💗💗💗💗


__ADS_2