
"Sekarang Rony dimana?" Tanya Eylina setelah sahabatnya nampak sedikit tenang.
"Gue nggak tahu, tadi pagi dia datang dan minta maaf sama gue. Dia bilang, dia cinta banget sama gue dan berjanji bakal berubah. Tapi gue usir dia. Gue jijik sama dia." Kata Sista seraya menatap nanar.
"Ya udah, bagus kalau gitu. Dan ini, ngapain lo lakuin hal konyol kayak gini sih?"
Eylina menunjuk pergelangan tangan Sista yang dibalut dengan kain.
"Gue kecewa Lin, hati gue sakit banget setelah tau pengkhianatan Rony. Dan video - video yang ditunjukkan cewek itu, gue nggak bisa terima rasanya."
Gadis itu memejamkan matanya, semua yang terekam dalam video itu seolah terputar kembali di dalam otaknya.
Calon suami yang sangat ia percaya dan sangat ia cintai sedang asik mencumbu mesra wanita lain dengan tanpa sehelai benangpun yang menutupi keduanya.
Suara erangan yang terdengar dari si wanita yang sedang dilanda nikmat itu terdengar jelas dan terngiang kembali ditelinga Sista. Hal yang semakin menambah luka di batinnya. Hati nya terasa tercabik - cabik. Kepercayaannya telah terkoyak.
Bagaimana bisa lelaki yang hampir tiap jam menyatakan cinta dan memberikan perhatian padanya, bisa mengkhianati cintanya dengan setega itu. Melakukan hal diluar batas dengan wanita lain hingga wanita itu hamil.
"Sabar ya Sis, dia emang nggak pantas sama lo. Tuhan lebih tau apa yang terbaik buat lo."
Eylina mengusap punggung tangan sahabatnya dengan lembut.
Semoga lo bisa secepatnya menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Lo adalah orang baik, Tuhan akan pasti akan memberi jodoh dan panutan yang baik juga suatu saat nanti. Eylina. Ia menatap sahabatnya dengan iba.
"Sayang, papa sudah menunggu kita." Morgan berdiri disamping Eylina dan mengusap lembut kepala istrinya. Membuat Eylina mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah suaminya.
"Sayang, tunggu sebentar lagi. Kumohon." Eylina beralih memegang tangan suaminya.
"Bagaimana keadaannya? Apa sudah lebih baik?" Tanya Morgan tanpa melirik sedikitpun ke arah Sista. Matanya hanya fokus pada istrinya.
"Sudah sayang, Sista sudah jauh lebih baik."
"Apa kita bisa pulang sekarang? Orang suruhan Rey sudah sampai. Mereka bisa menjaga temanmu dengan baik."
Tangan Morgan mengusap pipi Eylina dan memainkannya.
"Ah, iya tentu saja. Tapi ijinkan aku berpamitan dulu pada Sista."
"Mmm ...." Morgan mencebik.
"Sayang, maksudku ... ini sedikit privasi hehe, aku ingin berpamitan berdua saja dengannya." Eylina menggenggam tangan suaminya dan memberikan tatapan mengiba.
"Apa ada rahasia di antara kalian?"
"Tidak, tidak ... ini masalah wanita. Baiklah jika kau memaksa ingin mendengarnya tidak masalah." Eylina mengedihkan bahunya dan kembali duduk.
"Baiklah, baiklah ... kau menang, tapi kau harus membayarnya nanti malam." Morgan meraih wajah Eylina hingga gadis itu mendongak dan mencium bibir gadis itu.
Sista yang melihat hal itu di depan matanya hanya bisa menatap mereka dengan mulut menganga karena terkejut. Ia berpikir keras melihat kejadian di depan matanya.
Apa mereka sudah menjadi suami istri sungguhan? Eylin belum cerita apa - apa. Batin Sista.
__ADS_1
Sementara Rey, yang berdiri di depan pintu hanya menggelengkan kepalanya melihat ulah tuan mudanya.
"Sayang, sudahlah ... kita bahas nanti saja." Jantung Eylina menjadi deg - degan akibat perbuatan suaminya. Ia merasa tidak enak pada Sista.
Dimana perasaanmu Tuan? Sista baru saja patah hati dan sangat hancur, dia bahkan hampir kehilangan nyawanya. Dan kau malah menunjukkan kemesraan ini di depan matanya. Hhh maafkan aku Sis. Eylina.
Ia menatap suaminya yang sedang berjalan keluar dari ruangan itu bersama dengan sekertaris Rey.
Setelah memastikan pintu ruangan tertutup, Eylina pun kembali fokus pada sahabatnya.
"Sis, gue pamit dulu ya. Lo jangan macem - macem lagi. Jangan sakiti diri lo lagi. Awas lo ya!" Ancam Eylina seraya mengepalkan tangannya
"Iyaaaa ... kenapa sekarang lo jadi cerewet gini sih?"
"Habisnya lo bikin gue jantungan hari ini!" Jawab Eylina seraya memukul tangan sahabatnya yang terbalut kain perban.
"Aw ... sakit tau!" Sista memelototkan matanya.
"Udah tau sakit ngapain pakai lo lakuin?" Ucap Eylina dengan gemas.
"Udah dong Lin, jangan bikin gue makin stress ah. Ngomel mulu perasaan."
"Ya udah gue pamit."
"Eh tunggu! Itu gimana Tuan Morgan bisa jadi baik sama lo? Perjanjian itu gimana?" Tanya Sista dengan setengah berbisik seraya menggerak - gerakkan alisnya ke atas.
"Sssttt ... udah kapan - kapan aja gue ceritain. Panjang ceritanya. Sekarang lo fokus buat sembuh aja dulu. Udah ah, papa mertua gue udah nungguin."
"Iyaaaa ... ya udah gue pamit. Lo jangan aneh - aneh lagi. Awas lo bikin gue jantungan lagi." Ucap Eylina seraya mencium pipi Sista di kanan dan kiri.
"Iyaaa ... Eylina."
"Daa ... aahh." Eylina lalu berjalan keluar.
Syukurlah Lin, kalau lo udah nemuin kebahagiaan lo. Semoga lo bahagia terus sama Tuan Morgan. Lo pantes dapetinnya, setelah semua badai yang menerpa hidup lo. Sista tersenyum setelah kepergian sahabatnya.
Dan tak lama setelah itu sekertaris Rey dan tiga orang laki - laki dengan setelan jas hitam rapi dan rambut klimis masuk ke dalam ruangannya.
Siapa mereka? kalau yang satu itu aku tahu. Diakan sekertaris kondang itu, yang tadi berdiri di ujung sana kan? Lalu yang tiga itu siapa? Batin Sista.
"Permisi Nona, mereka akan menjaga Nona selama Nona dirawat disini." Kata Rey dengan datar.
"Untuk apa Tuan? Kurasa tidak perlu, aku bisa menjaga diriku sendiri." Sista berusaha tersenyum. Namun senyumnya berubah saat melihat ada noda darah di jas yang dikenakan sekertaris Rey. Ia mengernyitkan dahinya.
Tunggu, apa dia juga yang menolongku? Oh Tuhan, apa dia juga yang menggendongku? Aaa ... jadi tadi aku digendong sama sekertaris kondang ini? Jantung Sista mendadak menjadi deg - degan.
"Ini bukan sebuah penawaran Nona." Jawab sekertaris Rey tanpa ekspresi. Perkataan sekertaris itu membuyarkan lamunan Sista.
"Ah, jadi begitu. Tapi aku benar - benar tidak membutuhkan mereka. Aku bisa mengurus diriku sendiri Tuan."
Aku tidak sakit parah, kenapa harus dijaga kayak gini sih? nyebelin.
__ADS_1
"Siapa yang akan menjamin, kau tidak akan melakukan hal bodoh lagi?"
Kata Rey dengan enteng.
"Maksud Tuan?"
"Hhh ... dasar bodoh." Rey melirik sekejap ke dalam mata Sista.
Mencoba bunuh diri hanya karena seorang pria. Rey.
"Kalian awasi dia, jangan sampai gadis ini melakukan hal konyol lagi!" Perintah Rey pada ketiga orang utusannya.
Hey Tuan aku tau kau ini memang sekertaris tuan Morgan. Tapi apa hakmu? beraninya kau mengataiku bodoh. Untung saja kau tampan, jika tidak aku akan mencabik - cabik wajahmu itu. Batin Sista. Ia kesal sekali pada lelaki tersebut. Ia yang tadinya terpana akan paras rupawan sekertaris Rey, kini justru sangat kesal pada lelaki tersebut.
"Rey!" Panggil Morgan dari depan pintu.
"Baik Tuan." Lelaki itu menoleh cepat pada Morgan.
"Lakukan tugas kalian dengan baik." Lanjutnya seraya menatap satu persatu orang suruhannya.
"Baik." Ketiga orang itu menundukkan kepalanya sebelum sekertaris Rey akhirnya berlalu dari hadapan mereka.
Lelaki itu berjalan cepat dan keluar dari ruangan itu.
"Kenapa lama sekali? Apa kau tertarik pada gadis itu?" Tanya Morgan setelah melihat Rey keluar dari ruangan tempat Sista berada.
"Maaf Tuan, saya hanya memberi sedikit penjelasan pada nona Sista serta para pengawal itu." Jawab Rey dengan menundukkan kepalanya.
"Hahaha, kau pandai sekali beralasan. Kenapa tak kau dekati saja dia."
"Itu tidak mungkin Tuan."
"Kenapa? Kau kan belum punya pasangan."
"Itu, karena saya belum ingin mencarinya Tuan." Rey menjawab pertanyaan Morgan dengan sopan namun sangat datar tanpa ekspresi
"Ya ... ya, baiklah. Cepat bawa mobilnya. Dan segera pulang."
"Baik Tuan." Lelaki itu pun kemudian berlalu.
Sementara Morgan dan Eylina berjalan seraya bergandengan tangan menyusuri lorong pendek yang menghubungkan ruangan UGD dengan halaman samping rumah sakit.
πππππ
Komen spam akan auto block ya.
Harap bijak sebelum komen.
Numpang promo boleh, asal jangan spamming. Oke
Salam literasi
__ADS_1
Terimakasihπ