
Setelah acara tersebut selesai, Morgan dan Rey terlihat pergi bersama dua orang lelaki paruh baya ke sebuah ruangan. Lelaki itu nampak begitu mempesona dengan segala yang dimilikinya. Nampak begitu banyak pasang mata yang memandangnya seolah seperti memuja. Namun kini mereka hanya bisa memandanginya saja tanpa bisa berharap apa - apa. Bahkan Bella sekalipun, perempuan itu nampak memandangi Morgan dari kejauhan. Wanita itu nampak tersenyum, entah apa yang ia rasakan kini.
Eylina beserta kedua adik iparnya kembali ke ruangan dimana mereka menunggu tadi.
"Kak Eylin kok nggak bilang sih kalau Kakak udah hamil." Emily memburu kakak iparnya dengan sebuah serangan pertanyaan.
"Iya nih, Luna juga nggak dikasih tau."
Kedua gadis itu sama - sama menuntut penjelasan dari kakak iparnya. Tangan mereka menarik - narik tubuh Eylina. Membuat kepala dan tubuh gadis yang tengah duduk diantaranya itu bergoyang ke kanan dan ke kiri.
Hhhh ... ya Tuhan. Bagaimana aku bisa terjebak dalam situasi seperti ini?
Eylina berpikir keras.
"Ayo dong Kak, jelasin!" Pinta Emily.
"Iya, iya baiklah. Jadi sebenarnya kakak nggak hamil Emily, Luna." Eylina menatap mata kedua adik iparnya secara bergantian. Ia mencoba menjelaskan melalui sorot matanya.
Ayo, percayalah! batin Eylina.
"Bohong ah." Emily tidak terima.
"Serius Emily, kakak belum hamil." Karena aku dan kakakmu saja tidak pernah bersentuhan. Lanjut Eylina dalam hati. Ia pun tersenyum kecut.
"Masa sih? Terus kapan dong kak Eylin hamilnya?" Luna terlihat memonyongkan bibirnya.
Mana kutahu adik ipar, ya Tuhan bagaimana cara menjelaskan pada Luna? Apa dia pikir kehamilan adalah sesuatu hal yang bisa dengan mudah terjadi dan bisa ditentukan semau kita.
"Kakak juga nggak tahu Luna, itu semua adalah takdir Tuhan." Eylina bingung harus berkata apa.
Cukup lama Eylina terjebak dalam pertanyaan - pertanyaan sulit yang terasa menjebak. Jika ia salah sedikit saja, maka sandiwaranya bersama suami kontraknya bisa saja terbongkar.
Ceklak ....
Seseorang dengan postur tubuh atletis dan tekstur wajah yang tegas memasuki ruangan dimana Eylina dan kedua adiknya sedang menunggu.
Membuat ketiga gadis itu menoleh secara bersamaan.
"Permisi Nona Muda, tuan muda menunggu anda di lobby." Lelaki itu kemudian menundukkan kepalanya.
"Kenapa tidak kesini saja?" Eylina mengernyitkan dahinya.
"Saya harap anda tidak banyak bertanya, Nona." Sekertaris Rey berkata tanpa ekspresi sedikitpun.
"Ah ya, tentu saja. Baiklah aku akan segera kesana." Eylina tersenyum secerah mentari.
Apa lagi memangnya, yang bisa kulakukan selain menuruti semua yang dia katakan. Lanjutnya dalam hati.
"Ah ya sekertaris Rey, boleh kami ikut serta?" tanya Emily seraya tersenyum pada lelaki tersebut.
"Maaf Nona, tapi tuan muda hanya memanggil nona muda saja." Jawab Rey tanpa ekspresi.
"Ah ... yasudah." Emily terlihat kesal.
Bisa nggak sih, nggak kaku gitu kalau menjawab. Dasar sekertaris aneh. Batin Emily.
__ADS_1
"Kalau begitu mari Nona." Sekertaris Rey mempersilahkan Eylina untuk berjalan di depannya.
"Ya, ya baiklah. Emil, Luna, kakak duluan ya." Gadis itu kemudian melambaikan tangan pada kedua adik iparnya.
"Oke, sampai ketemu dirumah ya kak." Kedua gadis itu membalas lambaian tangan kakak iparnya.
*****
Lelaki itu sedang duduk di lobby saat Eylina dan sekertaris Rey datang.
"Permisi Tuan, apakah Tuan mau kita berangkat sekarang?" Tanya sekertaris Rey dengan sopan.
"Ya, tentu saja." Morgan hanya melirik sekilas kearah Eylina lalu berdiri dan melangkahkan kakinya menuju mobil yang berada di depan lobby.
Ia lalu masuk setelah sekertaris Rey membukakan pintu.
"Tuan, kita mau kemana?" Eylina yang penasaran itupun lantas bertanya.
"Bisakah kau tidak terlalu banyak bicara?" Morgan menatap Eylina penuh arti.
"Hehehe ... aku hanya ingin tahu saja Tuan. Baiklah jika Tuan Muda keberatan. Maafkan aku." Eylina lalu menundukkan kepalanya.
Hahaha ... kenapa kau bisa menggemaskan sekali dasar bodoh. Morgan membuang pandangannya ke luar jendela mobil. Ia merasa hatinya sedikit bergetar.
Mobil itu kemudian melaju dengan lembut menyusuri setiap jengkal jalanan Kota yang cukup padat.
Eylina yang tak mengerti arah tujuan itu hanya bisa menunduk dan memainkan jari - jemarinya.
Tidak menyadari jika seseorang yang berada disampingnya telah sejak tadi memperhatikannya.
Morgan nampak merasa iba melihat gadis yang berada disampingnya.
Tangannya meraih tangan Eylina dengan tanpa melihat ke arah gadis itu.
Ia mengusap lembut dan mencium punggung tangan gadis yang kini merasa jantungnya seolah dipompa dengan sangat cepat.
*Y*a Tuhan. Kenapa jadi seperti ini?
Aduuh, jantungku. Kumohon jangan buat hatiku ikut - ikutan bergetar karena irama yang kau buat.
Eylina mencoba menguasai dirinya. Ia berusaha untuk tidak terbawa perasaan. Karena bagaimanapun, yang ia hadapi adalah seorang tuan muda yang sifatnya semena - mena. Yang bisa melakukan apa saja semaunya sendiri. Gadis itu kemudian membuang pandangannya ke samping.
Sementara di depan kemudi, sekertaris Rey nampak tersenyum tipis melihat pemandangan yang ada dikursi belakang.
Semoga anda bisa membuka hati anda kembali, Tuan. Dan menemukan kembali kebahagiaan yang telah lama hilang. Batin Rey.
Semua yang berada dalam mobil tersebut sama - sama hanyut dalam pikiran mereka masing - masing. Hanya Rey yang masih tetap bisa fokus.
Ia membelokkan dan menghentikan mobil tersebut di depan sebuah toko Kue yang nampak sedang ramai pembeli.
Semua orang yang sedang mengantre di depan toko itu secara serentak menoleh ke arah mobil mewah yang baru saja terparkir dihalaman toko tersebut.
"Kita sudah sampai, Tuan." Rey kemudian melepaskan sabuk pengamannya. Lalu turun dan membukakan pintu untuk kedua orang yang duduk di kursi belakang.
Morgan melepaskan genggamannya pada tangan Eylina, kemudian turun dan mendekati gadis yang baru saja keluar dari mobil tersebut. Ia kembali menggenggam erat tangan Eylina dan membawanya menembus gerombolan orang - orang yang sedang berdiri disana.
__ADS_1
Orang - orang yang berada disana pun memberi jalan, saat melihat siapa yang sedang berada di depan mata mereka.
Semua yang ada disitu nampak takjub melihat pemuda berparas tampan dan berkulit putih bersih tersebut.
Ibuk? Dara? apa toko ini milik ibuk?
Eylina mengamati toko kue yang dirasa cukup besar tersebut.
Sementara di dalam toko, Santi, Dara dan beberapa karyawannya menoleh saat Morgan dan Eylina tepat berada dihadapan mereka yang tadinya tengah sibuk melayani pembeli.
"Kak Eylin?"
Dara kemudian melepas afron yang ia kenakan, kemudian berlari keluar untuk menyambut kakaknya.
Sementara Santi, ia tersenyum merekah saat melihat siapa yang sedang berkunjung ke tokonya hari ini. Ia pun lalu berjalan keluar untuk menyambut putrinya dan juga orang yang telah sangat berjasa dalam hidupnya. Morgan Wiratmadja.
"Kak Eylin. Kok nggak ngabarin sih kalau mau datang?" gadis itu memeluk erat kakak yang sangat ia rindukan itu.
"Nak, kenapa nggak bilang dulu kalau mau kesini?" Wanita paruh baya itu kemudian memeluk Eylina dengan erat.
"Maafkan kami Bu." Morgan membuka suara.
"Nggak apa - apa nak Morgan. Ibuk seneng banget melihat kalian datang."
Wah, Tuan Morgan meminta maaf pada ibuk?
Eylina terlihat terkesan dengan Morgan. Karena bagaimanapun dan seperti apapun hubungannya dengan lelaki tersebut. Morgan terlihat nampak menghormati ibunya sejak pertemuan mereka yang pertama.
"Bagaimana perkembangan tokonya Bu?" Morgan nampak tersenyum hangat, sikapnya terlihat sangat natural.
"Ibuk berterimakasih Nak, toko kue ini semakin ramai pembeli dari hari ke hari. Dan juga, terimakasih sekali lagi karena telah mengirimkan beberapa karyawan untuk membantu kami mengelola toko ini." Santi pun tersenyum hangat dan mengusap bahu menantunya.
Syukurlah ya Tuhan, ibuk dan Dara kini semakin baik keadaannya. Terimakasih Tuan, karena telah menepati janjimu dengan baik.
Eylina tersenyum melihat aktivitas para karyawan yang nampak begitu sibuk melayani para pembeli yang datang.
"Ayo, ayo. Mari duduk. Kalian pasti haus. Silahkan nak Morgan, sekertaris Rey." Santi membawa para tamunya ke sebuah tempat duduk dengan meja bundar ditengahnya.
Morgan dan Rey nampak berbincang dengan masing - masing ditemani secangkir kopi dan kue.
Morgan sengaja membiarkan Eylina melepaskan rindu pada adik dan juga ibunya. Gadis itu nampak tertawa riang saat bercengkrama dengan orang yang sangat dicintainya selama ini.
"Eylin, suamimu itu sangat baik Nak. Ibu lihat dia sangat bertanggung jawab dan juga penyayang. Ibu berharap hubungan kalian bisa langgeng seumur hidup. Berbaktilah padanya dan jangan pernah mengecewakannya, ya?" Santi berbicara seraya mengusap punggung tangan putrinya.
Ya Tuhan, bagaimana ini?
Ibu sekarang sangat berharap pada hubungan ini. Sementara kenyataannya, hubungan ini hanyalah sebuah kepalsuan.
Batin Eylina sangat teriris dan terasa sakit sekali rasanya. Semakin hari ia terasa semakin terseret jauh kedalam lembah yang ia buat sendiri.
"Tentu saja Buk, dia kan suaminya Eylin." Gadis itu nampak tersenyum.
Namun hatinya berkata lain.
💗💗💗💗💗💗
__ADS_1