
Setelah beberapa saat kemudian, Eylina mulai sadar. Ia merasakan pusing yang luar biasa serta penglihatan yang masih kabur.
"Sayang, jangan banyak bergerak dulu," larang Morgan seraya mencegah istrinya yang hendak bangun.
"Kapan dokter akan tiba?" tanya Morgan pada Rey yang berdiri dengan posisi siaga tak jauh dari Morgan.
"Sekitar 30 menit lagi, Tuan."
"Kenapa lama sekali?!" bentak Morgan.
"Mereka perlu naik mobil untuk kesini, Tuan. Belum lagi kalau jalanan padat dan macet," kata Rey menjelaskan.
Memangnya dia kira mendatangkan dokter itu seperti sulap?
Anggota keluarga yang lain ikut masuk ke dalam kamar Morgan setelah acara selesai dengan sempurna. Sementara keluarga Herlambang beserta teman - teman Morgan masih berada di bawah.
Tak berselang lama setelah itu dokter Adam dan dokter Mira beserta dua orang perawat pun datang.
Dokter Mira juga didatangkan untuk mengantisipasi jikalau hal ini disebabkan karena bekas operasi yang pernah dijalani Eylina. Meski hal itu dirasa kurang mendasar, tapi dokter Mira tetap datang juga.
"Cepat periksa istriku!" kata Morgan dengan tidak sabar.
"Baik Tuan," jawab dokter Adam. Ia pun lalu mengeluarkan alatnya dan memeriksa Eylina dengan seksama.
"Nona Eylina hanya kelelahan, Tuan. Dan juga tensinya cukup rendah," kata dokter Adam menjelaskan.
"Saya akan resepkan suplemen penambah darah untuk beberapa hari kedepan," lanjutnya lagi.
"Ya, berikan yang terbaik!"
Semua orang bernapas lega, karena tidak terjadi hal serius pada Eylina.
Setelah tim medis itu meninggalkan kamar itu, semua orang pun juga pergi dari sana agar Eylina bisa beristirahat.
Eylina mencoba bangun dengan dibantu oleh suaminya, namun kepalanya lagi - lagi terasa sangat berat bercampur perasaan penuh didadanya yang terasa menggelitik kerongkongannya.
"Mau kemana, sayang?" tanya Morgan saat istrinya mencoba berdiri.
__ADS_1
"Kamar mandi," lirihnya.
"Baiklah, biar ku antar," jawab Morgan seraya memapah tubuh istrinya ke kamar mandi.
Morgan membuka pintu dan membawa istrinya masuk. Eylina lalu berhenti dan membungkukkan badannya di depan wastafel kamar mandi. Perutnya seperti diaduk, semua yang ia makan pagi ini keluar tanpa sisa.
Melihat hal itu, Morgan sangat merasa prihatin dan cemas. Ia kembali memapah tubuh istrinya dan membawanya kembali ke tempat tidur.
"Kau sepertinya butuh istirahat, sayang. Bagaimana bisa separah ini?" Morgan lalu menelepon ke dapur dan meminta Pak Gun datang ke kamarnya.
Setelah meletakkan teleponnya, ia kembali memusatkan perhatiannya kepada istrinya. Eylina nampak menggigil, bahkan sampai gigi - giginya saling beradu.
"Sayang? Kita kerumah sakit saja kalau begitu!"
Morgan menjadi panik melihat keadaan istrinya seperti ini. Ia pun menelepon Rey yang berada dibawah untuk menyiapkan mobil.
"Pak Gun, siapkan keperluan istriku! Aku akan membawanya kerumah sakit," perintahnya saat kepala pelayan itu datang.
"Baik Tuan," jawab Pak Gun. Lelaki itu dengan sigap memasukkan benda - benda penting milik Eylina ke dalam tasnya. Ia juga membawakan sepatu dan baju hangat.
Setelah memastikan semua beres, Pak Gun pun menyusul tuan mudanya turun ke bawah.
Namun sayang, Morgan dan istrinya dengan cepat masuk ke dalam mobil. Sementara Rey langsung melajukan mobil tersebut dan menghilang di balik gerbang utama.
Sesampainya dirumah sakit, kedatangan mereka disambut oleh para suster yang membawa sebuah ranjang pasien untuk membawa Eylina.
Sebagai pemilik dari rumah sakit ini, Morgan bisa memberikan yang terbaik untuk istrinya.
Eylina kembali diperiksa oleh dokter Adam, dokter itu menyarankan agar Eylina diinfus karena sudah mulai lemas.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Morgan.
"Saya akan menyarankan pemeriksaan USG untuk Nona Eylina, Tuan. Dilihat dari keterangan Nona Eylina, sepertinya hal ini adalah karena Nona telah telat datang bulan," terang dokter Adam.
"Apa maksudmu?" tanya Morgan belum mengerti.
"Saya rasa, Nona Eylina sedang mengalami gejala hamil, Tuan. Tapi saya belum bisa memastikan karena Nona baru telat datang bulan selama sepuluh hari,"
__ADS_1
"Istriku hamil?" tanya Morgan dengan mata berbinar.
"Saya rasa seperti itu, tapi untuk lebih jelasnya kita harus lakukan pemeriksaan USG dan juga test darah untuk lebih memastikannya,"
"Sayang, kau dengar itu? Kau hamil, kita berhasil!" seru Morgan seraya tersenyum kegirangan begitu juga Eylina. Yah, meski mereka dengan jelas mendengar jika hal ini juga belum jelas kebenarannya. Tapi entah kenapa mereka merasa bahagia.
"Selamat siang, Nona Eylina," sapa dokter Mira dengan ramah.
"Siang Dokter,"
"Baiklah, kita lakukan pemeriksaannya sekarang ya!"
Eylina mengangguk, setelah itu Morgan memindahkan istrinya ke kursi roda yang dibawakan oleh perawat.
Ia mendorong Eylina menuju ruangan pemeriksaan. Jujur saja, baik Morgan dan Eylina merasa sangat gugup dan deg - degan saat ini.
Mereka sangat berharap apa yang dikatakan oleh dokter Adam adalah sebuah kebenaran dari hari ini.
Sesampainya di ruangan itu, Morgan membaringkan istrinya di atas ranjang pemeriksaan.
Tak lama kemudian dokter Mira memberikan gel di atas perut Eylina, terasa dingin di kulit perutnya.
Dokter itu lalu menempelkan dan menggerakkan sebuah alat di atas perut Eylina. Ia mencari posisi yang tepat untuk memperoleh gambar yang jelas.
Wanita itu nampak tersenyum lebar dan menatap Eylina.
"Selamat ya Nona, Nona benar - benar hamil. Tuan, anda bisa lihat ini? Ini adalah janin kalian, masih sangat kecil sekali," Dokter Mira menunjuk ke arah layar monitor cukup besar yang terpampang disana.
"Dalam kondisi seperti janin Nona masih sangat lemah, jadi saya sarankan agar Nona mengurangi aktivitasnya. Yang paling penting adalah, jangan sampai Nona merasa stress juga kelelahan. Kalau boleh saya sarankan untuk saat ini kamar Nona sebaiknya dipindahkan di lantai bawah, Tuan."
"Baiklah, aku akan lakukan apapun untuk kebaikan istriku. Sayang, kita akan punya bayi!" seru Morgan dengan gembira. Eylina pun tersenyum dan terharu.
Melihat dua orang di hadapannya sangat bahagia, dokter Mira juga turut merasa senang.
"Aku mencintaimu," ucap Morgan lalu menciumi seluruh bagian wajah istrinya.
Ini adalah kabar paling membahagiakan baginya, ia sungguh tidak menyangka jika ia akan menjadi seorang ayah dalam waktu dekat ini. Sebentar lagi ia akan bisa melihat buah cintanya bersama istrinya.
__ADS_1
💗💗💗💗💗💗