
Sore itu setelah semua orang beranjak dari ruang tengah, Sista berjalan menuju ke kamarnya. Ia melewati lorong belakang rumah yang menghubungkan antara rumah utama dan bangunan khusus pelayan yang ada di bagian belakang.
"Hey! Berhenti!"
Suara seseorang yang terdengar dari arah belakang berhasil menghentikan langkahnya. Dalam suasana yang sangat hening seperti ini suara itu terdengar jelas sekali.
Sista lalu menoleh dan membalikkan badannya. "Kau? Ada apa?" tanyanya malas.
Gadis ini! Tidak ada hormatnya sama sekali pada atasannya.
Wajah dingin itu menatap datar pada Sista. "Saatnya latihan!" katanya dengan tanpa beban.
"Apa?" Sista mengernyitkan dahinya, "Hey sekertaris Rey, aku masih lelah sekali, apa tidak bisa besok atau lusa saja? Aku juga butuh istirahat kan?" tawarnya kemudian.
Aku tidak bisa tidur nyenyak beberapa hari ini, dan sekarang aku harus latihan? gerutunya dalam hati.
"Siapa atasannya disini? Cepat pergi ke kamarmu dan ganti pakaianmu!" sorot mata tajam sekertaris Rey terasa menusuk dan mengulitinya.
" Hohoho ... ya, baiklah! Kau adalah atasannya. Aku juga heran, kenapa aku selalu lupa jika kau adalah atasanku disini. Masalahnya dari dulu aku tidak pernah mempunyai atasan yang ... ck," Sista tak melanjutkan kalimatnya, ia hanya berdecak dan mengedihkan bahunya di akhir kalimatnya.
"Yang apa?" Rey mengernyitkan dahinya.
"Hhh ... lupakan saja! Itu tidak penting. Baiklah tunggulah di depan, aku akan mengganti pakaianku!" Sista berkata dengan enteng kemudian berlalu begitu saja. Tanpa permisi dan tanpa ucapan formal layaknya atasan dan bawahan.
"Kau memerintah ku? Beraninya kau!" jawab Rey dengan sedikit kesal. Ia pun kemudian pergi dari sana.
Benar - benar gadis yang menjengkelkan**!
Rey kemudian berbalik dan menggelengkan kepalanya sebelum melangkahkan kakinya. Ia tidak habis pikir dengan bawahannya yang satu ini. Di saat semua bawahan yang lain rela berlutut di bawah kakinya, agar posisinya aman. Sista justru bersikap layaknya musuh, padanya.
Sementara di sebuah bilik, Sista membaringkan tubuhnya setelah menutup pintu. Angan - angannya untuk bisa merebahkan tubuhnya dengan nyaman serta merajut mimpi di atas tempat tidur yang nyaman ini pun sirna seketika. Ia lalu bangun dan berjalan gontai ke arah lemarinya.
"Dasar manusia kejam! Baru juga pulang dari rumah sakit, sekarang disuruh latihan. Jangan bilang nanti dia akan menyuruhku lari lagi, berlari sepuluh putaran, sit up, push up. Hhh ... aku lelah sekali."
Sista terus bermonolog mengumpati atasannya seraya mengganti pakaiannya. Ia memakai pakaian olahraga yang hanya satu - satunya, seperti yang dipakainya tempo hari. Ia kemudian memakai sepatu olahraga andalannya, sepatu yang dulu ia beli dengan cara menyicilnya bahkan hingga enam kali cicilan.
Namun sepatu itu kini sudah terlihat sedikit usang, karena sejak bekerja di cafe ia sudah jarang menggunakan ataupun merawatnya. Sepatu - sepatu lain jangan ditanya, karena yang ia punya hanyalah sneakers - sneakers biasa, yang harganya relatif murah. Sepatu yang ia beli hanya untuk koleksi dan juga untuk menunjang penampilannya saat berkencan dengan Rony, dulu. Yang jika dipakai untuk berolahraga, tentu saja akan mengelupas bagian sol bawahnya.
Ia kemudian keluar dari kamarnya, setelah memastikan perlengkapannya telah beres dan dimasukkan ke dalam tas.
Ia tidak tahu, Rey akan memberi latihan apa untuk hari ini. Dia hanya membawa air minum, ponsel dan handuk kecil. Tidak ada benda khusus lainnya yang ia bawa.
Dengan setengah berlari Sista menyusuri lorong samping, karena Rey baru saja memperingatkannya melalui pesan. Jika dirinya tidak sampai dalam hitungan satu menit lagi, maka dia harus berlari dari sini hingga ke taman.
Orang gila juga ada batasannya kali! Si gila ini bisanya hanya mengancam dan menyusahkan ku saja. Jika tidak puas dengan kerjaku, kenapa tidak mencari bodyguard yang lain saja. Jika bukan Eylina orang yang harus ku jaga, aku mungkin sudah melarikan diri dari sini.
Sepanjang langkahnya, Sista terus merutuki atasannya tersebut.
"Terlambat dua detik!" kata Rey seraya melirik tajam ke arah Sista.
"Aku tidak sedang berlomba!" jawab Sista kesal.
"Aku tidak menyuruhmu membantahnya! Silahkan berjalan kaki atau gunakan kakimu untuk berlari!" Rey berlalu begitu saja menuju mobilnya.
Apa dia tersinggung? Aaa ... tidak, tidak! Bisa - bisa aku beneran jalan kaki kesana.
"Tunggu, hey! Aku hanya terlambat dua detik saja. Terlalu kejam jika aku harus menebusnya dengan berlari sepanjang jalan menuju taman." Sista kemudian berlari kecil mengikuti langkah sekertaris Rey dan masuk ke mobil lelaki itu.
"Siapa yang menyuruhmu masuk?!" tanya Rey tanpa menoleh.
"Tidak ada, aku tidak mau berjalan kesana sendirian. Taman itu terlalu jauh jika ditempuh dengan jalan kaki. Yang ada nanti aku malah pingsan di jalan, tidak bisa latihan dan ...." belum selesai Sista bicara, Rey sudah memotong kalimatnya.
"Diam dan hentikan omong kosong ini!" Rey memejamkan matanya menahan kesalnya. Telinganya terasa sakit mendengar segala ocehan Sista.
Kenapa gadis ini banyak omong sekali? Jika saja ada kandidat lainnya, aku akan menukarkannya.
__ADS_1
Sekertaris Rey kemudian melajukan mobilnya keluar dari lingkungan kediaman Wiratmadja.
Tidak ada obrolan apapun, Rey fokus pada kemudinya sedangkan Sista hanya menatap lurus kedepan dengan bibirnya yang mengerucut. Setelah mendapat peringatan dari Rey, ia tidak lagi membuka suara untuk menanyakan apapun.
Jalanan menuju taman ini sebenarnya sangat indah, mungkin pihak pengelola sengaja membuatnya seperti ini. Ada pohon cemara di sepanjang jalan, juga beberapa pohon lain yang membuat jalanan ini begitu rindang dan asri. Di bawah pohon - pohon ada tanaman bunga - bunga yang ditata rapi dan berwarna - warni, menambah kesan segar bagi setiap mata yang memandang. Tapi sayangnya tidak ada momen indah yang tercipta diantara kedua orang yang sedang menyusuri jalanan ini. Dua orang ini justru saling diam satu sama lain.
Memasuki area taman, ada padang rumput yang terhampar luas di sisi kiri dan kanan. Rey memarkir mobilnya tak jauh dari area olahraga.
Mereka kemudian turun dan berjalan ke arah sebuah bangunan besar yang letaknya cukup jauh dari tempat parkirnya tadi.
"Sekertaris Rey, kita mau latihan apa?" tanya Sista yang berjalan dengan setengah berlari karena mencoba mensejajarkan dirinya dengan lelaki yang bersamanya. Gadis itu penasaran, seharusnya kan mereka berlatih di area olahraga tadi. Tapi kenapa justru berjalan kemari? Jika pada akhirnya akan menuju tempat ini, kenapa tidak memarkir mobilnya disini saja? Sista bertanya - tanya dalam hatinya.
Tidak mendapat respon dari Rey membuat Sista harus merasakan kekesalan dalam hatinya. Lelaki itu bahkan terlihat tak menggubris keberadaannya, sangat cuek, dingin, datar, dan terkesan terlalu profesional.
Dasar! Tinggal menjawab saja, apa susahnya?
Keren sih, sepanjang melangkahkan kakinya, Rey nampak mengangkat dagunya dan berjalan dengan gagah. Kesan yang ditampilkan sungguh terlihat sempurna. Meski lelaki itu hanya mengenakan celana dan kaos olahraga, tapi tak mengurangi auranya yang kuat.
Rey masuk ke dalam gelanggang olah raga. Ia berhenti di depan pintu masuk dan menyapukan pandangan ke setiap sudut bangunan tersebut untuk beberapa saat, kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
Sista tercengang saat masuk ke dalam sana.
Kenapa arena panahan? Apa dia akan mengajariku memanah? Untuk apa?
Gadis itu dibuat bertanya - tanya dalam hatinya, namun belum sampai terjawab ia malah lebih dibuat bingung lagi karena Rey ternyata tidak menyentuh atau mengambil anak panah.
Melihat itu Sista hanya mengikutinya saja dari belakang. Ia melihat Rey mengambil matras.
"Panaskan dulu badanmu!" ucapnya lirih, namun masih cukup terdengar jelas ditelinga Sista.
Gadis itu pun kemudian meletakkan barang bawaannya tak jauh dari sana dan memulai aktifitasnya. Ia memulai peregangan kemudian mulai berlari mengelilingi area dalam bangunan tersebut. Begitu juga dengan sekertaris Rey. Lelaki itu juga meletakkan barang bawaannya dan menyusul Sista yang tengah berlari.
Mereka berlari bersama, namun tidak saling mengobrol antara satu sama lainnya.
Tidak terlalu banyak putaran, Sista dan Rey pun berhenti dan merilekskan otot - ototnya.
Mendengar itu, Sista pun hanya mengikuti saja. Ia berjalan ke arah sekertaris Rey.
Mereka mulai saling mengambil posisi kuda - kuda, disini Rey yang lebih dulu menyerang Sista. Ia ingin menguji seberapa peka gadis itu terhadap serangan.
Dengan kemampuan yang ia miliki, Sista pun berusaha menangkisnya, dan berhasil. Sesekali ia yang balik memberikan serangan pada Rey. Namun dengan sangat mudah Rey bisa menangkisnya, mengunci gerakannya dan mengembalikan serangannya.
Selanjutnya serangan demi serangan pun dilancarkan oleh Rey.
Beberapa kali Sista bisa menangkisnya, namun rupanya kemampuannya masih sangat jauh di bawah sekertaris Rey. Hingga membuatnya dengan mudah dijatuhkan oleh lawannya.
Sista meringis saat tubuhnya dijatuhkan dengan sedikit keras oleh Rey. Gadis itu memang tidak maksimal hari ini. Ia pun tidak ingin bangun ataupun menyerang lagi.
Melihat itu, Rey mengulurkan tangannya untuk membantunya bangkit.
"Tidak bertenaga, sangat lemah dan tidak fokus," ucap Rey setelah gadis itu berdiri.
"Sudah kubilang kalau tubuhku lelah! Aku kurang tidur dan tidak bisa tidur nyenyak beberapa hari ini," jawab Sista seraya berjalan terseok - seok mencari tempat duduk.
"Tidak ada alasan! Kau adalah orang yang dipilih langsung oleh Tuan muda, jadi pantaskan dirimu! Bukankah Nona muda adalah sahabatmu? Seharusnya itu menjadi motivasi untukmu." Rey berkata tanpa melihat ataupun melirik lawan bicaranya.
Sista menunduk, ada benarnya juga yang dikatakan oleh Rey. Seorang seperti Tuan muda tidak akan sembarangan memilih seseorang untuk menjaga istrinya. Terlebih saat itu kan memang tidak direncanakan. Ia menghajar preman, dan ternyata aksinya terekam oleh mata Morgan, yang jelas tidak mengira jika itu adalah dirinya.
"Baiklah, aku akan berlatih lagi," kata Sista kemudian.
"Seharusnya seperti itu," jawab Rey acuh tak acuh.
Entah kenapa aku gelisah sekali, rasanya kepergian Mathias akan membawa dampak buruk kedepannya, batin Rey.
Ia menundukkan wajahnya, terlihat sedang berpikir.
__ADS_1
Cukup lama keheningan diantara keduanya tercipta. Sista sibuk dengan pikirannya sedangkan Rey masih gelisah dengan kekhawatirannya.
"Sekertaris Rey, sepertinya hari sudah petang. Bukankah di rumah utama akan ada perjamuan makan malam?" tanya Sista dengan nada yang bersahabat.
"Lalu apa hubungannya denganmu?"
"Ti ... tidak ada, lalu sampai kapan kita akan disini?"
"Sampai selesai latihannya!"
Ck ... memang tidak bisa diajak berdamai manusia satu ini, nada bicaranya selalu menjengkelkan! gerutu Sista.
"Ikuti aku!" perintah Rey seraya berdiri dan mulai mengayunkan kakinya. Ia menaiki tangga menuju lantai atas gedung ini.
Mendengar perintah dari atasannya, Sista pun ikut bangkit dan mengekor dibelakang Rey. Gadis itu mengikuti kemanapun kaki Rey melangkah.
Lagi - lagi ia dibuat tercengang dengan apa yang tertangkap oleh matanya. Ini adalah arena menembak. Ada layar besar yang tertempel didinding, sementara bagian sisi kanan ada berbagai pilihan jenis senjata api khusus latihan yang telah disediakan oleh pihak pengelola.
"Kita mau apa?" tanya Sista gugup.
"Tentu saja berlatih! Kau pikir apa?" ucap Rey seraya meletakkan tasnya di lantai dan berjalan ke arah senjata palsu yang tergantung rapi di dinding.
Tak lama kemudian lelaki itu pun kembali dan menyerahkan sebuah senjata laras pendek palsu pada Sista. Dengan tangan sedikit gemetar, Sista menerimanya. Senjata ini memang palsu, dan tidak ada isinya karena hanya dibuat untuk latihan saja.
Rey kemudian mulai mengatur layar yang ada didinding, sehingga nampak objek disana yang siap untuk dibidik dengan senjata palsu tadi. Ia lalu memberikan contoh cara menembak pada Sista. Lelaki itu nampak sangat mahir, dengan tempo sasaran yang di atur kecepatannya sedemikian rupa pun dia bisa membidiknya tepat sasaran.
Sista yang melihat hal itupun dibuat tercengang hingga mulutnya menganga. Ia benar - benar terpana dengan keahlian yang dimiliki oleh lelaki itu.
"Sekarang cobalah!" kata Rey setelah menyudahi aksinya.
"A ... apa? Aku tidak pernah memegang senjata sama sekali, bagaimana aku akan menggunakannya?"
Tanpa basa basi, Rey meraih tangan Sista dan menariknya ke tempat dia berdiri dan memperagakan cara menembaknya tadi.
"Angkat senjatanya!" perintahnya.
Mendengar perintah dari Rey, Sista pun mengangkat senjata tersebut. Tanpa keahlian apapun, dan tidak pernah sama sekali memegang senjata, bisa dibayangkan posisi yang diambil oleh Sista.
Rey bahkan sampai menggelengkan kepalanya melihat gaya Sista.
"Kau mau menembak musuh atau bermain senapan air?" tanya Rey datar. Ia pun lalu mengambil posisi di belakang Sista dan membenarkan posisi gadis itu.
Berada sangat dekat seperti ini jelas membuat Sista berdebar - debar. Mau sejengkel apapun, tapi kalau orang yang menjengkelkan itu berada sedekat ini dan mengambil tarikan nafas dan udara yang sama dengannya jelas akan membuatnya menjadi deg - degan. Hembusan nafas Rey bahkan terasa hangat dibelakang tengkuknya.
"Bidik sasarannya!" perintah Rey, tepat di belakang telinganya.
Tak ingin kehilangan fokus, Sista pun mulai menarik pelatuk dan membidik sasaran pertama.
Setelah beberapa bidikan tepat pada sasaran, Rey melepaskan tangan Sista dan menjauh dari gadis itu.
Sista melanjutkan latihannya hingga tiga puluh menit kemudian. Tidak perlu ditanya, gadis yang tidak pernah memegang senjata itu jelas tidak membuat Rey bertepuk tangan. Dari sekian kali mengulang, Sista masih banyak sekali membidik tidak tepat sasaran.
Mereka pun kemudian kembali ke kediaman Wiratmadja.
"Besok sore, bersiap - siaplah! Kau harus kembali berlatih!" kata Rey dengan tetap fokus pada kemudinya.
"Baiklah," jawab Sista sedikit malas.
Setelah itu tidak ada yang bersuara lagi, hingga mobil memasuki area halaman rumah. Sista turun, dan bergegas melangkahkan kakinya.
"Hey," panggil Rey sebelum Sista lebih jauh.
Gadis itupun menoleh dan mengernyitkan dahinya, " Ada apa lagi?"
"Berganti pakaian! Jangan pakai pakaian ini lagi! Aku bosan melihatnya!" kata Rey acuh tak acuh.
__ADS_1
Hal itu jelas membuat Sista malu setengah mati, mana pakaian olahraganya hanya ini satu - satunya. Ia pun hanya mengangguk dan berlalu begitu saja.
💗💗💗💗💗💗