
Perawat itu lalu memeriksa Eylina dengan seksama. Mengukur tekanan darahnya, suhu badan dan menanyakan beberapa pertanyaan padanya.
Setelah itu mereka pun berpamitan dan keluar dari ruangan itu, tak lupa juga mereka menutup pintu dengan sangat pelan sampai hampir tak menimbulkan suara.
Waktu terus berputar, Rey dan yang lainnya juga sudah kembali. Rey membawakan makanan untuk Morgan, karena tuan mudanya juga belum makan siang.
"Tuan, silahkan jika anda ingin istirahat. Biarkan saya yang bersiaga disini, ada Bu Santi dan juga Sista disana," kata Rey yang tengah duduk di sofa bersama Morgan.
"Tidak, aku ingin tetap menemaninya." Morgan menatap istrinya yang tengah tersenyum karena terhibur oleh kehadiran ketiga wanita yang sangat dekat dengannya.
"Kalau begitu, anda makanlah dulu, Tuan." Sudah beberapa saat berlalu. Namun Morgan tidak menyentuh ataupun melirik makanan yang tadi dibawakan oleh Rey.
"Wanitaku itu belum makan dari semalam Rey. Kau pikir aku se-egois itu? Bisa menikmati makananku sedangkan aku tidak tahu apa yang tengah dirasakannya. Dia pasti sangat kelaparan. Kau tau dia itu tidak tahan terhadap lapar."
"Mohon maaf Tuan, tapi anda juga harus menjaga kesehatan anda sendiri."
"Ck ... diamlah, Rey! Sejak kapan kau menjadi sangat cerewet? Apa gadis itu yang mengajarimu?" Morgan menunjuk Sista dengan ekor matanya dengan senyum meledek.
"Apa yang anda katakan, Tuan? Saya hanya mengkhawatirkan anda, anda juga belum makan dari tadi pagi," jawab Rey, seraya melirik sekilas ke arah gadis yang tengah bertingkah konyol untuk menghibur sahabatnya yang tengah terbaring di atas brankar.
Apa saja yang dilakukannya? Ada - ada saja!
Rey tersenyum tipis melihat kekonyolan bawahannya itu.
Rey dan Morgan lalu sama - sama terdiam. Tak berselang lama, dokter Mira dan dua orang perawat pun datang ke ruangan itu. Salah seorang dari mereka membuka pintu ruangan itu dengan perlahan.
"Permisi Tuan,"
"Duduklah!" perintah Morgan pada wanita yang sedikit tambun itu, yang tak lain adalah dokter Mira. "Kapan istriku boleh makan?" tanyanya tanpa basa basi setelah dokter itu menempati posisinya.
"Apakah Nona Eylina sudah ... maaf Tuan, buang angin?" dokter Mira merendahkan suaranya di akhir kalimatnya.
"Aku tidak menanyakan hal itu padanya, coba periksa dan tanyakan pada Eylina!" perintah Morgan.
"Baik Tuan." Dokter Mira pun berdiri, kemudian mengayunkan kakinya menuju ranjang Eylina.
"Selamat sore Nona," sapanya ramah seraya tersenyum lebar. Nampak sebuah ketulusan terpancar dari raut wajah dokter wanita itu. Kedatangan dokter Mira, membuat Santi dan yang lainnya pun mengambil posisi sedikit menjauh dari Eylina. Mereka memberi ruang untuk dokter Mira dan dua orang perawat itu.
__ADS_1
"Sore Dokter," Eylina pun membalas senyum padanya.
"Bagaimana? Apa ada keluhan?"
"Ya, luka bekas operasinya terasa sedikit panas dan perih," jawab Eylina seraya sedikit meringis.
"Itu hal yang wajar, Nona. Karena pengaruh obat biusnya mulai menghilang sedikit demi sedikit." Dokter Mira memberi sedikit penjelasan. "Apa Nona Eylina sudah berhasil buang angin?" lanjutnya lagi.
"Sudah," jawab Eylina disertai anggukan kepala. Eylina sedikit malu mengatakannya. Ini hal yang sedikit privasi kan? Ini juga pengalaman pertama bagi Eylina.
"Bagus kalau begitu, Nona bisa mulai makan dan minum. Tapi bertahap ya, Nona. Anda bisa mulai dengan minum sedikit air."
Akhirnya ... aku sudah lapar sekali sekarang, seharusnya semalam aku makan yang banyak.
"Bagaimana?" tanya Morgan yang berdiri di belakang dua orang perawat. Mereka yang ada disitu pun langsung menoleh bersamaan. Kedua perawat itu sedikit terpaku karena terpana akan sesosok makhluk yang sangat tampan, yang tengah berdiri di depan matanya. Aroma maskulin yang khas menyeruak dari dalam dirinya. Sungguh sosok yang sempurna dimata dua orang perawat itu.
"Ehem ..." Morgan memberi isyarat agar mereka bergeser dari tempatnya. Dan karena suara deheman itu, kedua perawat itu pun langsung terjaga dari lamunannya. Mereka menepi dan mundur beberapa langkah.
"Jadi bagaimana?" tanya Morgan seraya mengambil posisi duduk di samping istrinya. Ia memegangi tangan Eylina dan mengusapnya dengan lembut. Bahkan tanpa rasa sungkan, Morgan juga menciumi tangan itu.
Pemandangan tersebut membuat beberapa wanita yang ada disitu ikut tersipu malu. Termasuk Sista dan dua orang perawat yang masih muda, seumuran Eylina. Dalam hati mereka jelas meronta - ronta melihat pemandangan di depan mata mereka. Sungguh beruntung menjadi Eylina, diperlakukan sangat manis oleh seorang lelaki tampan dan berkuasa yang merupakan incaran setiap kaum hawa itu.
"Rey!" panggil Morgan seraya memberikan isyarat agar sekertarisnya mendekat padanya.
"Ya, Tuan Muda. Ada yang bisa saya bantu?"
"Belikan makanan untuk istriku!"
"Baik Tuan."
"Maaf Tuan, tapi Nona Eylina baru boleh makan bubur." Dokter Mira menyela obrolan mereka.
"Hemm, kau dengar itu, Rey?"
"Tentu, Tuan. Saya akan mencarikan bubur untuk Nona Eylina." Rey menundukkan kepalanya dan berbalik.
Namun belum sampai langkahnya terlalu jauh, ia membalikkan kembali badannya. Ia menoleh ke arah Sista yang juga tak sengaja menghadap ke arahnya.
__ADS_1
"Kemari!" perintah Rey.
Sista membulatkan matanya untuk memastikan. Dia kemudian dengan segera menghampiri pria itu setelah mendapat tatapan tajam dari sekertaris Rey. "Ada apa?" tanyanya.
"Ikut aku!" jawabnya singkat seraya menarik lengan Sista. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan baru bagi Rey untuk menarik - narik lengan gadis itu sesukanya. Tanpa meminta persetujuan, tanpa permisi, pria itu menarik gadis itu begitu saja.
Sista pun mengikuti saja apa yang dilakukan oleh sekertaris itu. Lagipula dia juga tidak mungkin menolak perintah dari Rey.
Kedua orang itu menghilang di balik pintu. Namun jelas terdengar ditelinga Eylina dan yang lain. Ada suara seperti benturan sebelum pintu ruangan itu benar - benar tertutup. Entah itu suara Sista yang terbentur pintu atau justru sekertaris Rey.
"Bu ... Dara, beristirahatlah dikamar itu! Aku tidak ingin kalian kelelahan," kata Morgan dengan lembut.
"Iya, Nak ... ya sudah, ibu tinggal istirahat dulu ya? Nak Morgan juga jangan lupa makan, biar nak Morgan tidak sakit." Santi tersenyum pada menantunya. Ia kemudian menggandeng Dara dan berlalu pergi meninggalkan Morgan, Eylina dan Dokter Mira. Santi Masuk ke dalam kamar itu dan menutup kembali pintunya.
"Aww ..." pekik Eylina.
"Kenapa, sayang?"
"Sakit sekali," Eylina kembali merasakan nyeri bercampur panas di bagian perutnya.
"Apa tidak ada obat atau apa pun yang bisa meringankan rasa sakitnya?" tanya Morgan.
"Tentu saja ada, Tuan. Tapi kami tetap memberikannya sesuai dosis dan tepat pada waktunya," jelas dokter Mira. Dokter itu masih siaga disini, meski jam kerjanya sudah berakhir sejak tadi. Sebenarnya masih ada beberapa dokter lainnya, tapi semuanya laki - laki. Oleh karena itu Morgan memilihnya untuk menangani istri tercintanya.
"Lalu sampai kapan istriku harus menderita dan kesakitan seperti ini?" Morgan menunjukkan ekspresi khawatir. Ia jelas tidak tega melihat istrinya meringis kesakitan seperti itu. Tergores sedikit saja sakitnya bukan main. Apalagi Eylina? Entah sesakit apa rasanya, Morgan stress sendiri memikirkannya.
"Memang seperti itu, Tuan. Terlebih lagi, luka ini memang masih sangat baru. Tapi rasa sakitnya akan berangsur - angsur menghilang dari hari ke hari. Kami akan memberikan perawatan terbaik untuk Nona Eylina."
"Lalu kapan istriku bisa kubawa pulang?"
"Dua atau tiga hari lagi dari hari ini, Tuan."
"Lama sekali! Aku ingin segera membawanya pulang!"
"Ini semua untuk kebaikan Nona Eylina, Tuan. Karena Nona Eylina masih harus menerima obat yang harus disuntikkan. Jadi Nona Eylina masih harus dirawat disini dulu, untuk memaksimalkan perawatannya."
Setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari dokter Mira, Morgan akhirnya bisa mengerti. Ia tidak boleh egois dan memikirkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Setelah itu dokter Mira pun juga diijinkan pulang karena memang jam kerjanya sudah berakhir.
💗💗💗💗💗💗