
"Selamat malam, wah ramai sekali disini." Wira tersenyum lebar dan berjalan ke arah menantunya. Hingga membuat Eylina semakin bertambah deg - degan.
Papa nampak biasa saja, sama seperti biasanya, batinnya.
"Bagaimana keadaanmu, Nak?" tanya Wira dengan lembut seraya tersenyum hangat pada Eylina. Sama halnya seperti biasanya.
"Baik, Pa." Eylina sangat gugup saat ini. Entah sudah seberapa pucat wajahnya. Ia ingin sekali bangun dari ranjang itu dan berlari ke arah suaminya lalu meminta penjelasan pada lelaki itu. Ia menoleh pada suaminya dengan penuh tanda tanya. Namun nampaknya Morgan memang sengaja tidak menoleh padanya. Bahkan sekertaris Rey pun juga sama saja. Ia tidak menoleh padanya sama sekali.
Dia ini ... kenapa justru disaat seperti ini, dia malah tidak menoleh padaku, batin Eylina.
"Ibu Santi? Dan ini pasti mmm ... Dara, ya? Cantik sekali, tidak kalah cantik dari Eylina." Wira mengusap lembut kepala Dara, kemudian mengulurkan tangannya kepada Santi.
"Benar Tuan Wira," jawab Santi.Wanita itupun langsung menyambutnya dengan ramah dan penuh hormat. Begitupun Dara, gadis kecil itu menyalami dan mencium tangan Wira.
"Bu Santi ini bagaimana? Kita ini adalah besan. Tidak sepantasnya Bu Santi memanggil saya dengan sebutan Tuan." Wira tersenyum dengan senyum khasnya.
"Baiklah kalau begitu, Pak Wira."
"Ma, ayo salaman dengan besan kita!" pinta Wira pada istrinya.
Ayu pun mengulurkan tangannya dan tersenyum dengan terpaksa, senyumnya sangat tipis sekali, bahkan nyaris tak terlihat. Mereka kemudian saling memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama mereka masing - masing.
"Saya senang sekali, akhirnya saya punya kesempatan untuk bertatap muka dengan keluarga nak Morgan." Santi tersenyum ramah.
"Hahaha ... kami juga senang Bu Santi. Semoga kita menjadi keluarga yang erat kedepannya," kata Wira. " Oh iya, ini adalah kedua putri kami. Yang ini namanya Emily dan yang ini Luna." Wira memperkenalkan satu persatu putrinya pada Santi. Kedua gadis itupun mengulurkan tangannya dengan ramah dan tersenyum.
Begitulah mereka saling berbasa - basi satu sama lain. Mereka semua kemudian pergi duduk di sofa yang ada disana. Sementara Rey dan Sista berdiri berdampingan di dekat mereka. Tidak ... tidak, jangan pikir mereka berdekatan. Tidak sama sekali. Masih ada jarak diantara mereka berdua.
Sementara Morgan, ia mengambil posisi duduk disamping Eylina yang sejak tadi memasang wajah bingung dan ingin segera meminta penjelasan pada suaminya itu.
Namun lelaki itu hanya tersenyum - senyum sendiri dari tadi. Ia semakin tak bisa menahan tawanya saat melihat istrinya semakin terlihat bingung.
"Sayang!" panggil Eylina dengan suara yang tertahan.
"Hemm ... ada apa?" jawabnya dengan gaya sok cuek.
"Jelaskan padaku!"
"Tentang apa? Mereka?" Morgan menunjuk dengan ekor matanya.
"Tentu saja!"
__ADS_1
"Tadi aku pulang kerumah ...." Morgan mulai menceritakan pada Eylina.
Di Kediamannya
Mobil Morgan sampai di halaman rumahnya. Lelaki itu lalu turun setelah Rey membuka pintu untuknya. Ia memasuki rumah besar itu, dan pada saat itu pula, Papa, Mama dan kedua adiknya tengah berjalan bersamaan menuju ke luar. Mereka semua berpakaian rapi, jelas sekali mereka akan pergi malam ini.
"Papa? Mama? Mau kemana?" tanya Morgan saat di ruang tamu.
"Kau sudah pulang, Morgan? Papa baru saja mau berangkat menengok menantu Papa, bagaimana keadaannya?" tanya Wira antusias.
"Operasinya lancar, Pa. Eylina sedang istirahat di ruangan perawatan VVIP sekarang."
Mendengar hal itu, Emily dan Luna pun tersenyum dan saling berpandangan. "Syukurlah," kata Emily.
"Syukurlah, Papa senang mendengarnya. Ya sudah kalau begitu Papa mau kesana dulu. Kau istirahatlah, Morgan. Kau pasti lelah, kan? Rey, kau juga jangan lupa istirahat." Wira menoleh pada sekertaris setelah berbicara pada Morgan.
"Tentu saja, Tuan. Terimakasih."
"Pa ... bolehkah Morgan berbicara sebentar?"
"Tentang apa? Kalau tentang perusahaan, kita bahas besok saja, Papa sekarang ingin melihat menantu Papa, kasihan jika dia berjuang sendirian."
"Bukan, Pa. Tapi ini tentang Eylina."
"Baik, Pa," jawab kedua gadis itu secara bersamaan.
"Ada apa dengan menantu Papa?" tanya Wira setelah memastikan kedua putrinya berjalan ke ruang keluarga.
"Ini tentang identitas Eylina, Pa. Saat ini ibunya Eylina ada disana, sedang menunggu Eylina. Morgan hanya ingin mengatakan yang sebenarnya tentang identitas Eylina yang Morgan tutupi selama ini, tapi Morgan harap, Papa dan Mama bisa menerimanya. Eylina adalah gadis yang sangat baik dan sempurna dimata Morgan. Meskipun Eylina memang bukanlah gadis yang berasal dari kalangan yang berada. Dia ...." Morgan menghentikan sejenak penjelasannya. Ada sedikit keraguan dihatinya, tapi hal ini tetaplah harus disampaikan.
"Hahaha ..." Wira justru tertawa mendengar penjelasan putranya. Lelaki paruh baya itu menepuk pundak putranya berkali - kali seraya menggelengkan kepalanya.
Hal itu membuat Morgan menjadi heran, ia mengerutkan alisnya melihat ekspresi Papanya.
"Morgan sedang tidak bercanda, Pa. Eylina dan keluarganya memang bukan berasal dari kalangan elit seperti kita, dia memang tidak seperti Alice yang berasal dari keluarga kaya raya. Tapi Eylina benar - benar gadis yang sangat layak untuk Morgan cintai. Eylina ...."
"Cukup Morgan ... hahaha ...." Wira masih saja tertawa. Kini bukan hanya Morgan yang merasa tidak mengerti, namun juga istrinya.
"Papa?" Morgan menatap penuh tanda tanya pada lelaki paruh baya itu.
"Papa sudah tau sejak lama, Morgan." Ucapan Wira sukses membuat Ayu dan Morgan terheran - heran.
__ADS_1
"Jadi selama ini Papa sudah tahu?" sahut Ayu. "Dan ternyata benar, ketakutan Mama selama ini? Gadis itu berasal dari masyarakat yang miskin dan kumuh? Begitu maksudnya? Apa kata orang - orang nanti, Pa?" Ayu mendengus dengan kasar.
"Mama! Kendalikan diri Mama! Tidak seperti itu, Ma. Papa kan sudah bilang pada Mama, untuk tidak menilai orang hanya dari harta dan kedudukannya saja. Sudahlah! Darimanapun Eylina berasal, apapun masa lalunya, dan seberapa kaya atau miskinnya dia, itu semua tidak penting buat Papa. Papa sudah tau sejak awal Morgan membawanya kerumah ini, dan Papa tidak masalah dengan hal itu." Wira menjelaskan seraya memegang kedua bahu istrinya dan menatap ke dalam matanya.
Ayu menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.
Fyuh ... syukurlah kalau Papa sudah tau semuanya, batin Morgan.
Ia bisa bernapas lega sekarang. Apa yang selama ini menjadi sebuah beban antara dirinya dan Eylina, kini telah terlepas.
Melihat hal itu, Rey pun ikut tersenyum tipis. Ia kemudian menundukkan kepalanya.
"Ya sudah, bagaimana kalau kita semua pergi ke rumah sakit sama - sama?" tanya Wira.
"Baiklah, Morgan mau mandi dan ganti baju dulu sebentar, Pa." Morgan menjawab dengan antusias.
"Ya, pergilah! Kalau begitu kita makan dirumah saja ya, Ma? Ayo Rey, kau ikut makan juga. Kau harus menjaga pola makan mu," ajak Wira seraya melangkahkan kakinya dan menggandeng istrinya yang masih cemberut.
"Mama, sudahlah Ma! Mau sampai kapan Mama akan menutup hati Mama? Eylina sudah menjadi bagian dari keluarga kita, dan sampai kapanpun akan menjadi bagian dari keluarga ini. Bukankah lebih baik Mama berdamai dengan ego Mama dan menerima Eylina? Mama juga bisa hidup berdampingan dan saling mengasihi satu sama lain, kan?" kata Wira seraya merangkul bahu istrinya. Mereka pun duduk dimeja makan dan menyantap makan malam bersama - sama.
Setelah itu mereka pun berangkat ke rumah sakit bersama - sama. Emily dan Luna berada satu mobil dengan Rey dan Morgan. Sementara Wira dan Ayu berada di mobil yang lain dengan diantar seorang sopir. Tak lupa Morgan juga membawakan bubur yang ia pesan pada Pak Gunawan tadi. Ia sengaja menyuruh Pak Gun membuatkan bubur khusus untuk istrinya, dengan alasan yang jelas lebih higienis jika makanan itu dimasak dirumah, dan bahan bakunya juga lebih jelas dan berkualitas.
.....
Mendengar penjelasan dari Morgan, Eylina pun manggut - manggut.
Syukurlah jika Papa dan Mama sudah tau kebenarannya.
Eylina menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan sangat lega. Beban yang selama ini terasa menghimpitnya, kini rasanya sudah diambil darinya. Ia pun kemudian tersenyum menatap Morgan.
"Kau sudah lega sekarang?" Morgan tersenyum dan memandangi istrinya dengan bertopang dagu.
Gadis itu pun mengangguk dengan cepat seraya tersenyum lebar. Ia gemas sekali melihat suaminya. Tangannya kemudian menarik hidung Morgan dengan gemas.
💗💗💗💗💗💗
Nah lho, gimana kalau jadi Eylina yang dipandangi sama suaminya kayak begini?
Hahaha ... meleleh, gumush kan? kan? kan?
__ADS_1
Awas!! Kebawa mimpi loh! Hahaha ...