Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Apa Kau Menggodaku?


__ADS_3

Eylina meletakkan selimut tebal itu ke dalam keranjang tempat pakaian kotor. Ia lalu melangkah menuju bak mandinya dan mengisi bak tersebut hingga penuh serta menuangkan sabun.


Setelah dirasa cukup ia pun membuat busa di dalam bak tersebut lalu merendam tubuhnya disana.


Nyaman sekali rasanya. Batin Eylina.


Gadis itu memejamkan matanya. Menikmati sensasi air hangat yang terasa memijit seluruh tubuhnya.


Serta aroma wangi dari sabun yang menenangkan.


Aku tidak sedang bermimpi kan? Yang baru saja terjadi bukanlah mimpi, dia telah mengambil harta terbesarku. Dia bilang dia mencintaiku, tapi rasanya tidak bisa dipercaya. Apa yang menarik dari diriku?


Eylina kemudian membuka matanya, lalu berdiri dan melangkah ke arah cermin besar yang juga merupakan sebuah pintu tersebut. Gadis itu berdiri disana dan menatap cermin yang ada di sana.


Ia mencoba melihat, hal menarik apa yang ada dalam dirinya. Namun matanya membelalak saat melihat ada banyak sekali jejak perbuatan Morgan di leher dan dadanya.


Ya Tuhan, kenapa bisa ada jejak seperti ini? apa ini memar?


Gadis itu memastikan dengan menyentuh salah satu bagian yang terdapat tanda merah tersebut.


Eh, ini tidak sakit. Apa yang dia lakukan sampai bisa seperti ini?


Ah ya, apa aku bertanya saja pada Emily? Oh tidak, dasar bodoh apa yang kupikirkan.


Aaa, aku tahu. Sista pasti bisa menjelaskan tentang ini. Tapi bagaimana aku bisa menghubunginya?


Eylina yang terlihat sedang melamun di depan cermin itu tersentak saat Morgan membuka pintu kamar mandinya. Wajahnya berubah menjadi panik seketika.


Hah? Apa yang dia lakukan? Bagaimana dia bisa masuk? Bukankah aku sudah mengunci pintunya? Atau aku lupa tidak menguncinya?


Gadis itu berbalik dan berusaha menutupi tubuh polosnya dengan kedua tangannya saat lelaki itu semakin mendekat ke arahnya.


"Hahaha ... apa saja yang kau lakukan dasar bodoh. Untuk apa menutupinya? Aku bahkan sudah merasakannya tadi."


Morgan tergelak lalu menyingkirkan tangan Eylina yang berusaha menutupi bagian tubuhnya yang sensitif.


"Apa? apa yang akan Tuan lakukan?"


Eylina berusaha menghindar.


"Apa kau bilang?"


"Hehehe, bukan begitu maksudku. Sayang, apa yang kau lakukan? Aku belum selesai membersihkan badanku."


Eylina menghalangi bibir Morgan yang hendak memberinya hukuman.


Kau memang sangat menggemaskan. Jika saja badanku tidak terasa letih dan lapar, aku akan memakan mu seharian ini.


Batin Morgan. Ia sangat menyukai tatapan Eylina yang begitu polos.


"Baiklah, aku akan membantumu membersihkan dirimu."


"Ah, tidak ... tidak ... tidak perlu sayang, aku bisa membersihkannya sendiri."


Ayo pergilah, hal gila apa lagi ini?


Namun bukan Morgan namanya jika ia menyerah dan membiarkan gadis itu lolos begitu saja. Semakin Eylina menghindar, lelaki itu semakin mengejar. Ia memojokkan Eylina hingga tak bisa kemana - mana lalu mengangkat tubuh polos itu dan membawanya.


Hahaha ... apalagi yang dilakukannya?


Morgan menggelengkan kepalanya melihat gadis yang ada di gendongannya, menyembunyikan wajahnya di dada bidang miliknya.


Kegilaan apa lagi ini, apa dia tidak tahu kalau dadaku berdebar - debar dari tadi.


Eh, apa dia juga merasa berdebar - debar? Suara detak jantungnya jelas sekali terdengar.


Batin Eylina.


Morgan menurunkan tubuh Eylina di bak mandi, dan iapun ikut masuk ke dalamnya.


"Sayang, apa ... apa yang akan kau lakukan?" Eylina tiba - tiba menjadi gugup dan gelisah.


"Tentu saja membantumu, aku ingin berterimakasih karena kau telah melaksanakan tugasmu dengan baik selama ini. Sebagai balasannya aku akan membantumu membersihkan tubuhmu setiap hari."


Apa? Keputusan macam apa itu?

__ADS_1


Eylina.


"Tidak usah sayang, tidak seharusnya seperti itu kan? Hehehe ... bukankah itu sudah tugasku? Jadi kau tidak perlu membalasnya."


Eylina tersenyum.


"Jadi kau tidak mau?"


"Ya. Ah ... tidak maksudku, aku bisa membersihkannya sendiri. Aku malu ...." Gadis itu berkata lirih di akhir kalimatnya. Ia lalu menutupi bagian dadanya.


"Apa? Malu? Hahaha kau ini kenapa? Hey, aku sudah melihatnya dan sudah menikmatinya tadi." Morgan menyingkirkan tangan Eylina. Ia lalu mulai menggosok tangan gadis itu, lalu punggung serta bagian yang lainnya. Ia lalu membalikkan badan Eylina hingga gadis itu membelakanginya. Lelaki itu masih terus menggosok bagian tubuh Eylina.


Namun tak berselang lama, tangannya berhenti pada bagian yang terlihat menggodanya. Ia lalu mengusapnya dengan pelan.


"Sayang, bagaimana kau bisa memiliki barang seindah ini?" Morgan berbisik di telinga Eylina. Nafasnya yang hangat menerpa telinga gadis itu, berpadu dengan sensasi yang ditimbulkan oleh perbuatan tangan Morgan. Membuat gadis itu merasakan gejolak di dalam dadanya.


Ya Tuhan, tolong aku. Aku tidak sanggup jika ia memintanya lagi. Tulang ku terasa lemas dan bagian bawah tubuhku masih terasa perih.


"Sayang, kurasa tubuhku sudah bersih. Bisakah aku keluar dari bak ini dan membilasnya?"


Eylina mencoba menyingkirkan tangan Morgan yang masih asik bermain di bagian dadanya. Ia tidak mau terjebak lagi. Tubuhnya sudah sangat letih, ia ingin segera mengisi kembali tenaganya.


"Kau belum menjawab pertanyaan ku."


"Sayang, semua wanita memilikinya hehehe ... itu sudah menjadi bagian dari kami, para wanita."


Ayolah, dadaku bisa meledak jika tanganmu terus berada disitu. Eylina mulai gelisah.


"Apakah sama seperti ini?"


Lelaki yang menopangkan dagunya di bahu Eylina itu terlihat mengagumi barang yang sedang ia mainkan.


"Aku tidak tahu. Sayang, bukankah katamu pelayan akan mengantarkan makanan ke kamar kita sebentar lagi?"


"Hhhh ... ya sudah bilas badanmu dan tunggulah di kamar. Jangan keluar dari kamar!"


Yes, akhirnya. Eylina.


"Tunggu sebentar!" Morgan menahan gadis itu.


"Aw, sayang apa yang kau lakukan?"


Eylina meraba lehernya.


"Itu bonus untukmu, dan ini ekstra bonusnya." Lelaki itu memberondong gadis itu dengan ciuman - ciuman singkat di seluruh bagian wajahnya. Membuat Eylina memejamkan matanya.


"Hey, buka matamu! Apa yang barusan itu kurang?"


Morgan sudah bersiap - siap dengan memajukan bibirnya. Namun tangan Eylina menghentikannya.


"Tidak sayang, sudah cukup. Apa aku bisa pergi?"


"Emm." Lelaki itu hanya mencebik.


Kemudian tergelak menatap gadis yang berjalan dengan tubuh polos tersebut.


Eylina lalu berjalan dengan cepat ke arah shower dan membilas badannya disana kemudian menyambar handuk kimono.


"Sayang." Seru Morgan saat Eylina hendak membuka pintu menuju ruang ganti.


"Ya?"


"Dada mu semakin terlihat seksi karena ada banyak jejak merah disana."


"Apa? Ah ya, jejak apa ini?"


Eylina dengan reflek membuka sedikit handuk kimono nya hingga nampak lah sebagian dadanya yang menonjol.


"Wah, apa kau bermaksud menggodaku?"


Celetuk Morgan seraya menyeringai licik.


"Haha ... tentu saja tidak. Baiklah aku akan berganti pakaian." Eylina menutup kembali dadanya dengan secepat kilat. Kemudian berlalu dan menghilang di balik pintu ruang ganti.


Sementara Morgan tergelak melihat tingkah gadis itu.

__ADS_1


Jejak apa ini? Hahaha, dia bahkan tidak tahu itu jejak apa?


Lelaki itu lalu tersenyum, ia senang karena ternyata gadis yang ia cintai memang masih suci. Baik tubuhnya maupun pikirannya.


*****


Setelah beberapa saat berlalu, Eylina dan Morgan pun bisa menyantap sarapan mereka setelah dua orang pelayan mengantarkan makanan untuk mereka.


Eylina memakan makanannya dengan sangat lahap. Tentu saja, karena tenaga dan emosinya terasa terkuras setelah acara drama pagi ini.


"Apa kau begitu lapar?" Morgan yang sedari tadi memperhatikan Eylina pun membuka percakapan.


"Hehehe, iya. Tenagaku habis rasanya, dan perutku sangat susah untuk di ajak kompromi."


Dengan wajah tanpa dosa, Eylina melanjutkan kembali makannya. Ia melahap habis semua makanan yang ada di piringnya.


Nikmatilah, aku akan memberikanmu kebahagiaan dan memberimu segala yang ku punya. Kupastikan kau tidak akan pernah kekurangan apapun.


Morgan tersenyum, ia merasa iba pada gadis yang kini menyandang status sebagai istrinya itu.


"Tuan tidak makan? Ah maksudku, sayang kenapa tidak makan?" Eylina dengan segera merubah panggilannya sesaat setelah mendapat tatapan tajam dari suaminya.


Sensitif sekali sih? Lidahku kan masih kaku.


Eylina. Ia kemudian tersenyum secerah mentari.


"Aku ingin makan dari tanganmu ."


"Maksudnya?"


"Seperti ini." Morgan menarik tangan Eylina dan memakan makanan yang dipegang oleh gadis itu.


Untuk beberapa saat mereka saling bertatap mata.


Cantik sekali.


Morgan membelai pipi Eylina dengan lembut.


Aaaa ... ganteng sekali. Mimpi apa aku ya Tuhan, apa benar dia masih orang yang sama? Si Tuan Muda menjengkelkan itu? Bagaimana dia bisa berubah semanis ini sekarang?


Eylina lalu menundukkan kepalanya. Ia tidak kuat menatap mata Morgan terlalu lama.


Gadis itu lalu menyuapkan kembali makanan pada suaminya seraya tersenyum.


Tok ... tok ... tok ....


Eylina dan Morgan menoleh ke arah pintu secara bersamaan.


"Masuk!" Jawab Morgan.


"Permisi Tuan, ini baju pesanan Tuan Muda."


Rey datang membawa dua buah paper bag besar ditangannya.


Morgan lalu menerimanya dan memberikannya pada istrinya.


"Sini makanannya, bersiap - siaplah! Pakailah pakaian yang dibawakan oleh Rey."


Lelaki itu mencium dan mengusap kepala Eylina dengan lembut.


Gadis itupun hanya menurut saja meski ia tidak tahu ada acara apa dan pakaian apa yang ada di dalam paper bag itu. Ia berlalu dan masuk ke dalam ruang ganti.


Apa yang terjadi? Apa semua telah berubah?


Batin Rey bertanya - tanya saat melihat kemesraan diantara tuan dan nona mudanya.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Author berterimakasih untuk kalian yang selalu setia menanti setiap episode dari novel ini.


Author juga berterimakasih pada kalian yang telah mendukung novel ini dengan memberi like maupun vote serta komentar yang membuat author bersemangat.


Terimakasih banyakπŸ™ berapapun vote yang kalian beri untuk author, author sangat berterimakasih.


Salam

__ADS_1


Author


__ADS_2