
Morgan dan Eylina menuruni anak tangga dengan tangan saling menggenggam.
"Kak Morgan." Teriak Emily dari ruang tengah setelah melihat dua orang menginjak anak tangga terakhir. Gadis itu kemudian berlarian ke arah mereka.
"Emm, ada apa?"
Tanya Morgan sesaat setelah adiknya berada di hadapannya. Lelaki itu membuka maskernya.
"Kalian mau kemana?" Emily mengernyitkan dahinya seraya melihat penampilan yang tak biasa dari dua orang yang ada dihadapannya dari atas hingga ke bawah.
"Kami sedang menjalankan misi?" Celetuk lelaki itu secara asal.
Sementara Eylina tertawa cekikikan dibalik maskernya. Ia pun lalu membuka kain yang menutupi sebagian wajahnya itu.
"Kak Morgan ih, mau kemana sih? Jangan bikin penasaran dong. Kenapa kalian berpenampilan kayak gini?" Emily meraih tangan kakak iparnya. Ia mengharap penjelasan dari Eylina.
"Kami akan ...."
"Sssttt ... biarkan dia dengan rasa penasarannya." Morgan memotong kalimat Eylina begitu saja. Kemudian menggandeng tangan gadis itu dan berlalu meninggalkan adik perempuannya.
"Kak, kak Morgan ... kak Eylin." Gadis itu terlihat kesal lalu menghentakkan kakinya.
Nyebelin deh, main rahasia - rahasiaan segala.
"Ada apa Emily?" Mendengar suara ribut - ribut, Ayu pun keluar.
"Mama? Nggak ada apa - apa ma."
"Apa kakakmu sudah turun?"
"Sudah, barusan sama kak Eylin."
"Kemana mereka?" tanya Ayu seraya mengernyitkan dahinya.
"Emily nggak tau, mereka mau pergi kayaknya. Barusan aja keluar."
Ayu lalu bergegas keluar dengan langkahnya yang dipercepat. Wanita itu berharap, Morgan masih berada di halaman depan.
Namun ternyata ia kurang cepat, mobil yang dikendarai sekertaris Rey sudah melaju dan menghilang di balik gerbang utama. Hanya ada pak Gunawan disana.
Mau kemana mereka? Morgan bahkan sudah jauh berubah semenjak ada gadis sialan itu.
Telat sarapan, tidak pergi ke kantor. Memangnya apa istimewanya gadis itu hingga putraku mempertahankannya. Padahal masih banyak gadis - gadis lain yang lebih cantik dan berkelas.
Gadis murahan, jangan kau pikir kau sudah menang Eylina.
Ayu mengepalkan tangannya.
"Pak Gun, apa pak Gun tau mereka akan pergi kemana?" tanya Ayu saat kepala pelayan itu membungkukkan badan padanya dan hendak masuk ke dalam rumah.
"Saya kurang tau Nyonya, baik tuan muda maupun sekertaris Rey tidak mengatakan apapun. Sekertaris Rey hanya mengatakan jika hari ini tuan besar akan kembali. Itu saja Nyonya."
"Jika itu aku juga sudah tau, ya sudah pak Gun bisa kembali bekerja." Ucap wanita itu seraya membalikkan badannya dan masuk ke dalam rumah.
*****
Mobil yang dikendarai Rey melaju dengan kecepatan sedang di jalanan kota yang cukup sibuk.
"Sayang, kita mau kemana?" Eylina menengok pada seorang lelaki yang duduk di sebelahnya dan sedang menggenggam tangannya.
"Kemana saja." Jawab Morgan dengan enteng. Ia meraih tubuh Eylina dan menyandarkannya di dadanya.
"Oh, oke." Eylina kemudian tak berbicara lagi.
Ia lalu menyandarkan kepalanya di dada suaminya.
__ADS_1
Dan menikmati belaian tangan Morgan pada rambutnya.
Terimakasih Nona, karena telah mengembalikan senyum tuan muda yang telah lama hilang. Rey.
"Sayang, apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?" tanya Morgan seraya mencium puncak kepala Eylina.
Sista, ya aku ingin sekali kerumahnya. Tapi apa dia akan mengabulkannya jika aku menyebutkannya? Batin Eylina.
"Apa kau tidak mendengar ku?" Lelaki itu meraih wajah Eylina agar menghadap padanya.
"Sayang, tidak ada. Maksudku ...."
Aduh bagaimana mengatakannya?
"Apa? Kenapa kau selalu menggantung kalimat mu? Katakan semua keinginanmu, aku akan mengabulkannya."
"Bukan begitu." Eylina merubah posisinya, ia tak lagi bersandar di dada Morgan. Gadis itu menatap ke dalam mata Morgan.
"Lalu?"
"Sebenarnya, ada seseorang yang ingin sekali ku kunjungi." Kata Eylina ragu - ragu.
"Siapa? Apa dia laki - laki?" lelaki itu sudah memasang wajah tidak suka.
"Bukan, bukan. Tentu saja bukan, dia adalah sahabatku. Namanya Sista. Ah iya, dia yang berada dirumah ibuku saat kita berkunjung kesana waktu itu.
"Apa dia baik padamu?"
"Ya, sangat baik. Dia sangat berjasa dalam hidupku."
Dia bahkan seperti malaikat bagiku.
Eylina menundukkan wajahnya. Ia rindu sekali pada sahabatnya itu, entah bagaimana kabarnya kini. Saat dirumah ibunya pun mereka tak bisa banyak mengobrol.
"Baik Tuan."
Sekertaris Rey menganggukkan kepalanya.
"Sayang, kenapa nama Sista harus dicatat? apa maksudnya?"
Tanya Eylina bingung.
"Semua orang yang pernah berurusan denganmu akan ku catat."
"Untuk apa?" Gadis itu mengernyitkan dahinya.
"Semua orang yang pernah baik padamu akan kuberi hadiah, dan orang yang berbuat jahat padamu akan kuberi perhitungan." Jawab lelaki itu dengan tanpa beban.
"Sayang, mana boleh seperti itu? kurasa itu berlebihan. Bukankah kita memang sering berurusan dengan banyak orang?"
Lagipula aku dulu kan memang bukan siapa - siapa, aku hanya gadis miskin yang terlilit hutang disana sini. Eylina.
"Kurasa tidak. Rey, kau dengar? Catat semua orang yang pernah berurusan dengan istriku!"
"Baik Tuan." Rey menjawab dengan pandangan tetap fokus kedepan, hanya kepalanya saja yang terlihat mengangguk.
Keputusan macam apa itu? dan kau sekertaris sialan. Apa semua yang diucapkan suamiku akan kau laksanakan? Bukankah justru kalian berdua lah yang pernah berbuat jahat padaku? Apalagi sekertaris sialan ini, sudah sejak pertama aku kesal sekali padanya. Lihatlah wajahnya yang seolah tidak berdosa itu, bahkan hingga sekarang pun dia tidak minta maaf padaku.
Eylina.
"Sayang, sudahlah. Lagipula tidak ada orang yang berbuat jahat padaku selama ini."
Mereka hanya mengatai ku saja. Apa itu sebuah kejahatan, aku bahkan tidak merasa mereka jahat.
"Keputusanku sudah bulat."
__ADS_1
"Sayang, ayolah lupakan saja."
Kenapa jadi seperti ini sih?
Eylina menghela nafas lalu menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
Untuk beberapa saat suasana di dalam mobil menjadi hening.
Namun keheningan itu tak bertahan lama, saat tangan Morgan mulai berulah, lelaki itu merangkul dan menyusupkan tangannya di balik baju yang dikenakan Eylina.
Mengusap dengan lembut perut Eylina yang ramping.
"Sayang?" tangan Eylina berusaha menyingkirkan tangan jahil suaminya.
"Emm ... kenapa?" jawabnya dengan wajah tak berdosa.
"Geli ...." Bisik Eylina ditelinga Morgan.
"Rey, kau lihat dia bahkan sudah berani menciumku."
Hah? dasar curang, aku difitnah.
Eylina langsung melirik pada seorang yang sedang mengemudi melalui kaca mobil. Pria itu tengah tersenyum tipis.
"Sekertaris Rey, itu tidak benar. Kau melihatnya sendiri bukan?"
"Saya kurang jelas Nona, tapi saya rasa itu memang sebuah ciuman." Jawab Rey dengan datar, tanpa ekspresi. Matanya terlihat fokus pada jalanan di depannya.
Dasar, kalian berdua ternyata sama saja. Eylina.
Maafkan saya Nona, jika saya mengatakannya, tuan muda pasti akan menendang saya saat ini. Rey.
Hahaha ... lihat wajahnya. Sangat merah, hahaha. Morgan menahan tawanya. Dan tangannya masih asik bermain di dalam baju Eylina.
"Sayang." Eylina menatap seolah memohon pada Morgan untuk menghentikan kegilaannya.
Namun lelaki itu tak menjawab, ia mengetuk pipinya. Memberi isyarat pada Eylina.
"Apa itu?"
Lagi - lagi Morgan tak menjawab, ia mendekatkan pipinya hingga menempel pada bibir Eylina.
"Seperti itu, lakukan sendiri. Lakukan dengan baik! Dan aku akan memaafkan mu."
Apa? hey, aku bahkan tidak bersalah apa - apa. Kenapa harus memaafkan ku? Dimana letak salahnya?
Eylina menggeleng cepat, ia tidak mengerti dengan pikiran suaminya. Ia menoleh pada lelaki tersebut, hendak melakukan apa yang diminta oleh Morgan tapi ia ragu - ragu.
"Tunggu apa lagi?"
"Ah, iya baiklah." Eylina mulai mendekatkan bibirnya dan ....
Cupp ....
Bibir itu menempel pada pipi Morgan, lelaki itu memejamkan matanya. Ia bahkan menahannya dan menekan kepala Eylina agar ciuman itu tak segera terlepas.
"Nah begitu." Morgan pun membalas dengan banyak ciuman di seluruh wajah Eylina.
"Rey, tutup telinga dan matamu. Kau kan tidak punya pasangan." Celetuk Morgan dengan tanpa beban.
"Baik Tuan." Terserah kalian mau melakukan apa, aku bahkan sudah berpura - pura buta dan tuli sejak tadi Tuan. Jika aku benar - benar menutup telinga dan mataku tentu saja kita tidak akan sampai pada tempat tujuan dan malah berakhir dirumah sakit bersama - sama. Lanjut Rey dalam hati.
Lelaki itu tetap fokus pada kemudinya.
💗💗💗💗💗
__ADS_1