
Astaga ... makanan apa ini?
Batin Rey. Keringat dingin serta perasaan tidak enak itu muncul dan menyerangnya saat ia melihat mangkok makanannya yang penuh dengan sambal yang keluar dari belahan bakso besar tadi. Namun ia tetaplah sekertaris Rey, ia berusaha tetap tenang dan bersikap cool.
"Sayang ... apa ini maksudnya? Apa ini namanya bakso beranak?" Tanya Morgan. Berbeda dengan Rey, lelaki itu tak bisa menyembunyikan wajahnya yang bingung.
"Iya sayang, yang besar ini anggap saja sebagai induknya. Dan yang kecil - kecil berjumlah banyak ini adalah anaknya."
Eylina tersenyum menjelaskan. Ia adalah satu - satunya diantara mereka yang merasa sangat menikmati jamuan makanan ini.
"Lalu kenapa ada banyak sekali sambal di dalamnya?Bukankah ini seperti sebuah jebakan? Kurasa makanan ini tidak bisa dimakan." Lelaki itu terlihat memandangi makanan di mangkok itu seraya menelan ludah. Ia tidak bisa membayangkan akan semenakutkan apa rasanya.
"Karena ini level dewa, sayang. Lihatlah! Aku memilih level dewa hehehe ...," kata gadis itu dengan tanpa beban seraya menunjukkan gambar menu yang ia tunjuk tadi. Setelah itu ia menyuapkan suapan pertamanya dan terlihat sangat menikmati makanan tersebut.
"Apa maksudnya? Hey sayang ... jangan dimakan! Kau bisa sakit perut nanti." Morgan terlihat khawatir melihat Eylina melahap bakso super pedas dengan sambal yang begitu banyak.
"Sayang, kau bicara apa? Ayo cobalah! Ini enak sekali, ayolah! Makanan ini sangat nikmat saat masih panas seperti ini." Eylina mencoba menyuapkan makanan itu pada suaminya.
"Tidak ... aku tidak mau. Sayang ini berbahaya, jangan membahayakan dirimu! Letakkan sendok itu dan pesanlah menu lainnya!" Morgan sudah memasang wajah paniknya.
"Ini tidak apa - apa sayang. Sekertaris Rey, ayo makanlah!" Kata Eylina.
"Saya sudah kenyang Nona, maafkan saya." Rey yang terbiasa tanpa ekspresi itupun sampai menelan ludah melihat hidangan di hadapannya yang penuh dengan sambal.
"Sayang, kenapa sekertaris Rey juga tidak mau makan? Apa kalian tidak suka makanan ini? Baiklah ini memang makanan orang miskin sepertiku. Maafkan aku, lain kali aku tidak akan mengajak kalian ke tempat seperti ini lagi. Aku akan menurut saja pada kalian lain kali." Eylina memasang wajah merajuk andalannya.
Haduh ... gawat!! Jika nona muda sudah memasang wajah seperti itu aku bahkan bisa ikut celaka. Satu ... dua ... ti ....
Rey menghitung dalam hatinya, namun hitungannya belum sampai angka tiga. Tuan mudanya sudah angkat bicara duluan.
"Sayang, bukan seperti itu. Baiklah aku akan memakannya. Rey, cepat habiskan makananmu!" Kata Morgan seraya menatap sekertarisnya.
Benar kan dugaan ku? Sekarang aku harus apa? Batin Rey.
__ADS_1
"Tapi Tuan ...." Rey mencoba memberi penjelasan.
"Ini perintah, Rey. Lakukan saja!" Morgan mulai mengaduk - aduk makanan panas di dalam mangkok tersebut. Ia pun tak bisa apa - apa jika sudah melihat wajah gadisnya yang merajuk seperti itu.
Jangan membantah! Karena akupun sama sepertimu. Istriku ini semakin lama kenapa seperti semakin mengerjai ku. Entah bagaimana rasa makanan ini, hhh ini seperti sebuah uji nyali. Batin Morgan.
"Baik Tuan." Rey menatap hidangan dihadapannya seraya menelan ludah.
Astaga ... dosa apa yang pernah kulakukan sampai harus menerima hukuman seperti ini. Hhh ... sepertinya anda memang sengaja Nona. Apa anda masih dendam padaku karena aku pernah merusak ponsel anda dan juga merampas ponsel anda waktu itu? Kuharap anda mengerti bahwa aku hanya melaksanakan perintah dari tuan muda.
Hhh kurasa lebih baik aku diberi tugas menaklukkan mafia dari pada harus makan makanan aneh dengan sambal sebanyak ini.
Batin Rey, ia tidak bisa membayangkan bagaimana pedasnya rasa makanan yang ada di hadapannya. Ia sungguh tidak punya nyali.
Laki - laki itu bahkan memejamkan matanya saat menyuapkan suapan pertamanya. Rey tidak pernah sekalipun makan makanan horor seperti ini.
Haaaa ... pedas sekali. Rey berusaha menguasai keadaan meski lidahnya terasa terbakar di suapan pertamanya.
Ia tetap tenang walau serangan keringat mulai muncul di seluruh tubuhnya. Tenggorokannya terasa panas sekali. Lelaki itu lalu menenggak minuman yang ada di depan matanya setelah makanan itu berhasil ditelannya.
Morgan ganti melirik sekertarisnya yang duduk dihadapannya. Pria yang bersangkutan itupun juga sama, ia masih terlihat tenang menikmati makanan yang ada dihadapannya.
Oh ... berarti makanan ini tak terlalu menakutkan. Baiklah, siapa takut. Batinnya.
Setelah merasa semua aman, iapun mencoba suapan pertamanya.
"Aaa ... huh ... hah ...," Seketika itu juga keringat keluar dari pelipis dan keningnya setelah ia menelan kuah panas dan super pedas dari hidangan tersebut. Suara teriakannya tentu saja mengejutkan pemilik kedai dan semua orang yang ada disitu.
Secara spontan mereka pun menoleh ke arah lelaki tersebut, tak terkecuali Eylina.
"Ada apa sayang?" Tanya Eylina seraya menghentikan aktivitasnya.
"Ah ... tidak apa - apa. Aku baik - baik saja." Jawabnya, lalu menyambar minuman dingin dihadapannya.
__ADS_1
Gila ... makanan apa ini? Pedas sekali. Ada berapa banyak cabai yang dimasukkan dalam bakso ini? Hhh ... jika bukan demi wanita yang kucintai aku tidak akan memakan mu. Morgan mengumpat dalam hatinya.
"Sayang, tidak masalah jika kau tidak ingin makan bakso ini. Apa kau tidak bisa makan pedas? Sebentar, akan kupesankan menu bakso yang lain." Eylina mengusap punggung suaminya.
"Bu, saya minta satu porsi bakso iga ya." Pinta Eylina pada wanita yang melayaninya tadi.
"Baik Nona." Wanita itupun bergegas meracik apa yang diminta oleh Eylina. Dan tak butuh waktu lama, bakso dengan tulang iga yang menonjol itupun tersaji di hadapan Morgan.
"Terimakasih." Ucap Eylina seraya tersenyum dan dibalas anggukan kepala oleh wanita pemilik kedai tersebut.
"Sayang, maafkan aku. Aku tidak tahu kalau kau tidak bisa makan pedas." Eylina menatap wajah Morgan yang nampak memerah karena kepedasan. Ia juga mengeringkan keringat di dahi suaminya.
"Tidak masalah." Lelaki itu tersenyum hangat pada istrinya untuk meyakinkan jika dirinya baik - baik saja.
"Ini, cobalah! Tidak ada rasa pedas sama sekali di bakso yang ini." Eylina menyuapkan bakso itu ke mulut Morgan.
Mereka berdua mulai pandang - pandangan dan menikmati hidangan masing - masing. Sementara dihadapan mereka ada orang yang sangat tersiksa dengan rasa pedas yang terasa membakar kerongkongannya.
Sekertaris Rey nampak beberapa kali memejamkan matanya menahan rasa pedas itu.
"Wah sekertaris Rey ternyata mempunyai selera rasa pedas yang cukup baik juga. Anda terlihat sangat menikmati hidangan ini ya?" Celetuk Eylina yang seketika membuat Rey tersedak. Dan bisa dibayangkan, betapa panasnya kerongkongannya.
Lelaki itu lalu menyambar minuman manis yang tersisa di gelasnya dan meminumnya hingga tandas.
Apa anda memang sengaja mengerjai saya Nona? Apanya yang menikmati? Aku bahkan terasa tersiksa sejak tadi. Apa anda pura - pura tidak melihatnya? Batin sekertaris Rey.
"Eylina benar juga, kau sangat menikmati bakso pedas ini sepertinya. Apa kau ingin tambah satu porsi lagi Rey?"
Tanya Morgan seolah pura - pura tidak tahu jika lelaki dihadapannya itu tengah menahan dirinya setengah mati.
"Terimakasih Tuan, tapi perut saya sudah sangat kenyang sekarang." Jawab Rey dengan sopan.
Bisa berasap kepalaku jika harus tambah satu porsi lagi. Batin Rey
__ADS_1
💗💗💗💗💗💗