
"Sayang jangan menangis, semua akan baik - baik saja. Lihat aku! Aku akan selalu ada di sampingmu, jadi jangan takut. Oke?"
Morgan masih berusaha menenangkan istrinya yang masih terisak. Ia meraih dagu Eylina dan menengadahkan wajah gadis itu untuk melihat sorot matanya yang sembab.
"Bagaimana jika semuanya tidak baik - baik saja? Papa pasti sangat kecewa karena aku gagal mengabulkan permintaannya."
"Sssttt ... jangan berbicara seperti itu. Semua akan berjalan dengan baik. Aku berjanji setelah semuanya membaik aku akan menanamkan banyak sekali benih di dalam rahimmu agar kau bisa segera mengandung anakku." Morgan mengusap - usap perut Eylina seraya tersenyum menggoda.
"Kau?" Eylina memukul suaminya dengan kesal.
Entah kenapa, apapun yang mereka bicarakan, Morgan selalu mengaitkannya ke arah sana.
"Memangnya kenapa? Aku hanya menggoda istriku sendiri."
"Sstt ... diam lah! ada yang mendengar kita!" Ia sungguh merasa tidak enak pada sekertaris Rey. Karena suaminya tidak pernah mengenal sensor saat berbicara tentang hubungan mereka.
"Biarkan saja, siapa suruh dia tidak segera mencari jodoh." Morgan malah berkata dengan lantang dengan nada menyindir.
Kedua orang yang ada di kursi penumpang itu pun tertawa bersama.
Sementara Rey hanya menggeleng - gelengkan kepalanya.
Ia sudah biasa mendapat sindiran seperti itu, baik dari Morgan, Willy maupun Alex dan Alan, sahabat dari Morgan.
"Rey, dengarkan aku! Sebelum wajahmu berubah menjadi berkeriput, sebaiknya kau mencari wanita untuk dijadikan istri," kata Morgan dengan tanpa beban.
"Baik Tuan, tapi tidak untuk saat ini."
"Kenapa?"
"Tidak apa - apa Tuan," jawab Rey, lelaki itu masih tetap fokus pada kemudinya.
Apa - apaan ini, hah ....
"Apa kau masih berharap wanita itu kembali?"
Tanya Morgan mulai menyelidik.
Namun Rey tak menanggapi pertanyaan dari tuan mudanya tersebut.
Wanita? Memangnya sekertaris Rey pernah dekat dengan wanita? Wow, kira - kira wanita seperti apa ya yang berani berhubungan dengannya. Mungkinkah dia cantik? Aku jadi penasaran, selama ini sekertaris Rey sangatlah profesional. Kapanpun suamiku menghubunginya, ia pasti akan datang. Lalu kapan dia punya waktu untuk bersenang - senang bersama wanitanya?
Bagaimana dengan kehidupan pribadinya ya? Apa dia masih punya orang tua? Atau bahkan dia pernah menikah atau pernah memiliki kekasih? Lalu wanita seperti apa yang mampu membuat sekertaris menakutkan ini bisa jatuh hati?Ini menarik ....
Batin Eylina.
Gadis itu sudah nampak sedikit ceria dari sebelumnya. Ia menjadi penasaran akan kehidupan Rey dibalik kesibukannya menjalani tugas menjadi sekertaris.
"Rey? Beraninya kau tak menjawab pertanyaan ku!"
__ADS_1
"Maafkan saya Tuan, saya sedang fokus mengemudi."
Rey berusaha menghindari obrolan.
"Apa kau pikir kau bisa membodohi ku hah? Kau bahkan bisa menembak tepat sasaran meski sedang mengemudi ataupun menutup mata. Hanya menjawab pertanyaan saja tidak akan mempengaruhimu bukan? Jawab aku! Apa kau masih mengharapkannya?"
Tanya Morgan sedikit memaksa.
"Tidak Tuan."
"Bagus, sebaiknya kau lupakan saja. Tidak ada gunanya kau membuang waktumu untuk memikirkannya. Pikirkan dirimu sendiri Rey, kau harus menata hidupmu."
Kata Morgan sok bijak.
Ya ... ya ... baru jatuh cinta kemarin sore, anda rupanya sudah bisa menjadi guru ya Tuan? Lalu yang selama sepuluh tahun terkurung dalam kemurungan dan tidak bisa move on itu siapa ya? Setiap hari menghabiskan waktu di klub malam hanya untuk minum - minum. Hahaha ...
Rey terlihat tersenyum tipis mendengar ocehan Morgan.
"Hey, Rey ... apa kau tidak tertarik pada gadis itu? Siapa namanya sayang?" Morgan menoleh pada istrinya.
"Gadis? Yang mana?" Eylina mengernyitkan dahinya.
"Kau juga ya? Sepertinya satu minggu tidak mendapat jatah dariku kau jadi suka melamun." Lelaki itu lalu menyambar pipi Eylina dengan gemas.
Ia lalu tertawa melihat wajah gadis itu yang mulai memerah.
Bisa - bisanya dikaitkan kesana lagi. Hhh ... dasar menyebalkan.
"Aku hanya bercanda, kau serius sekali. Apa memang lama tidak mendapat jatah juga membuatmu menjadi lebih sensitif?"
Astaga ... sabar Eylin, ya Tuhan ... bagaimana ada tuan muda yang kelakuannya absurd seperti ini.
Eylina menatap tajam pada suaminya.
"Hahaha ... sudahlah, jangan seperti itu. Kau tenang saja, aku akan memberikan jatah berlipat - lipat saat kau selesai dengan haid mu itu."
Morgan mengatakan hal itu tanpa sungkan meski ada Rey di antara mereka.
"Sayang," gadis itu menatap kesal pada suaminya.
"Sekertaris Rey, jangan dengarkan ini."
Eylina mencoba memberi klarifikasi, walaupun hal itu sebenarnya tidak berguna namun Eylina tentu saja merasa malu.
"Kau tidak perlu memperdulikannya sayang, justru ini adalah terapi untuknya. Mungkin jika dia sering mendengar kata - kata cinta, dia akan berubah menjadi manusia normal."
Morgan berkata tanpa beban, ia lalu melingkarkan tangannya di pinggang Eylina.
Memangnya anda menganggap saya ini manusia apa Tuan? Dari dulu saya juga manusia normal. Hhh ... hanya karena anda sudah lebih dulu mendapatkan pasangan lantas mengatai ku dengan sadis seperti ini.
__ADS_1
Rey menggelengkan kepalanya.
"Ah ya, siapa nama temanmu yang mencoba mengakhiri hidupnya waktu itu?" tanya Morgan.
"Sista? Kenapa?"
Eylina mengernyitkan dahinya. Tumben - tumbenan suaminya ingin tahu kehidupan orang lain. Batinnya.
"Nah itu dia Rey, kurasa dia lumayan dan cocok untukmu ... apa kau tidak tertarik padanya?"
"Hahaha ... anda berbicara apa Tuan, saya tidak mengenalnya." Jadi gadis keras kepala dan bodoh itu yang anda maksud. Lanjutnya dalam hati.
Eh? Apa tadi dia tertawa? Sayang sekali aku tidak melihatnya tadi.
Eylina menoleh seketika saat mendengar sedikit suara tawa yang berasal dari seseorang yang berada dibelakang kemudi.
"Jika begitu cobalah untuk mengenalnya," kata Morgan dengan enteng.
"Maaf Tuan, tapi saya tidak memiliki urusan dengannya. Mana mungkin saya mendekatinya." Jawab Rey datar.
Tak terasa perjalanan begitu terasa singkat, mobil yang ditumpangi Eylina memasuki halaman rumah milik keluarga suaminya.
Nampak Emily sedang duduk berdua dengan Gavin di kursi taman yang ada di halaman depan.
Eylina yang melihat hal itupun tersenyum. Ia kagum melihat keserasian adik iparnya bersama dengan kekasihnya itu.
"Sayang, ada Emily dan Gavin disana." Eylina menunjuk ke arah dua sejoli yang sedang asik bercanda di bangku taman.
"Jangan bilang kau mau kesana? Aku tidak mengijinkan mu sayang!"
Wajah Morgan mulai nampak tak bersahabat.
"Kenapa?"
"Ya, aku hanya tidak suka saja. Lebih baik masuklah kedalam! Ayo cepat ...," Morgan merangkul dan membawa Eylina masuk.
Gadis itu tiba - tiba menutup mulutnya, ia teringat sesuatu.
Astaga ... apa waktu itu dia merasa cemburu dengan Gavin, sampai menuduhku menggoda lelaki itu waktu itu? Aku bahkan pernah dituduh ingin menggoda para pelayan.
Eylina menggelengkan kepalanya dan melirik suaminya.
Namun sebenarnya di dalam hatinya pun merasa senang. Ia tidak menyangka jika lelaki dingin dan menakutkan yang ia kenal dulu akan menjadi se-posesif ini padanya.
"Morgan ... Eylina ...," panggil Wira saat dua orang itu sampai di ruang tengah.
Seketika wajah mereka menjadi pias, dan menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya tadi.
Apa papa mengetahui sesuatu? Apa yang harus kukatakan?
__ADS_1
Batin Morgan.
💗💗💗💗💗💗