Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Proses


__ADS_3

Di dalam kamar, Eylina baru saja selesai membersihkan tubuhnya. Ia kini tengah memilih - milih pakaian di ruang ganti.


"Ya ampun, mana sih?" Gerutunya. Ia membolak balikkan pakaian yang tergantung di lemari.


Mengambil salah satu dan menempelkannya di badannya. Berulang - ulang ia melakukan hal tersebut, berharap menemukan pakaian yang pas dan bisa menutupi tubuhnya hingga ke bagian lehernya. Namun ia tidak menemukan apa yang dia cari. Tidak ada satupun yang pas menurutnya.


Ia lalu membuka lemari satunya. Dan melakukan hal yang sama. Cukup lama ia memeriksa satu persatu pakaian yang ada di lemari besar tersebut.


Hingga akhirnya ia merasa lelah dan berjalan gontai ke arah sofa dengan masih memakai handuk kimononya.


Kenapa baju segini banyaknya nggak ada yang cocok sih. Nggak ada gitu yang bisa menutupi leher ini kayak baju yang tadi siang? Hhhh. Eh omong - omong, siapa yang memilih model gaun - gaun itu ya? Masa iya sih tuan Morgan? Atau sekertaris menjengkelkan itu? Ah tidak mungkin.


Oh iya, Miss Anna. Iya pasti dia yang memilihnya. Batin Eylina.


Eylina kembali berdiri dan mencoba mencari lagi. Ia membuka pintu sampingnya lagi.


Ohh ini dia, dasar bodoh! Kemana saja aku selama ini? Haha ... ternyata ada pakaian seperti ini juga. Kenapa bi Astri dulu tak menunjukkan ini padaku ya?


Eylina meraih salah satu pakaian pendek berbahan kaos tebal dengan model potongan leher yang tinggi. Ia kemudian memadukannya dengan sebuah rok pendek selutut.


Ternyata ada banyak model pakaian disini. Kukira hanya dress saja. Tapi sayang sekali, tidak ada celana jeans untukku disini. Pantas saja dia membeli dadakan tadi. Apa hidup orang kaya semudah itu ya? Tidak sepertiku yang dulu, jangankan memikirkan pakaian baru. Bisa membeli baju - baju second saja aku sudah bersyukur. Batin Eylina.


Ia pun berjalan keluar setelah selesai memakai pakaian. Eylina nampak sangat cantik dengan pakaian yang ia kenakan.


Gadis itu tengah menyisir rambutnya saat suaminya masuk ke dalam kamar.


Lelaki itu langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Mmmmm wangi sekali?" Morgan mendaratkan beberapa ciuman di pipi dan bahu Eylina.


"Sayang, kau bau sekali." Gadis itu memencet hidungnya seraya melirik suaminya.


"Wah ... wah ... beraninya kau mengatai ku seperti itu hah?" Tangan Morgan mulai beraksi.


"Hahaha, tidak sayang aku hanya bercanda."


"Tapi aku sudah terpancing. Dan kau harus bertanggung jawab. Kau punya hutang padaku."


"Hutang apa? Kenapa kau mudah sekali terpancing, aku hanya bercanda hahaha ... bagaimana urusanmu dengan papa? Apa papa marah?"


"Tidak, papa tidak akan marah asalkan kita memberinya hadiah."


"Hadiah? Maksudnya?" Eylina melepaskan pelukan suaminya lalu duduk di kursi yang ada di depan meja rias.


Untuk apa tuan Wira mengharapkan hadiah? Beliau bahkan bisa mendapatkan segalanya hanya dengan kedipan mata. Hartanya sangat banyak, apalagi yang diinginkannya?


Eylina melamun hingga tak sadar jika pakaiannya sudah tersingkap ke atas dan lelaki yang berstatus sebagai suaminya itu tengah duduk berjongkok seraya bermain - main di dadanya.


"Aw ... sayang! Apa yang kau lakukan?" Eylina tersadar dan tersentak saat Morgan menggigit bagian tersebut.


"Kenapa kau suka sekali melamun? Apa kau sedang memikirkan pria lain?" Lelaki itu menghentikan aktivitasnya. Dan membenarkan posisi pakaian istrinya.

__ADS_1


Hhh ... sedikit - sedikit pria lain.


"Maksudku, papa kan sudah punya segalanya? Memangnya papa ingin hadiah apa?"


"Papa ingin hadiah dari sini." Morgan mengusap perut Eylina sembari menatap lekat matanya.


Apa maksudnya? Oh Tuhan, apa tuan Wira benar - benar menginginkan cucu dariku?


"Sayang, tapi hal itu kan butuh proses?"


"Kita mulai saja prosesnya sekarang." Ucap Morgan dengan tanpa beban. Ia lalu mengangkat tubuh Eylina dengan bersemangat dan membaringkannya di ranjang yang empuk.


Morgan memulai aksinya dengan lembut. Lelaki itu mendapatkan kudapan manisnya sebelum acara makan malam dimulai.


Ia dan Eylina terkulai lemas dengan saling berhadapan setelah pergulatan panas mereka.


Morgan lalu membelai pipi Eylina dengan lembut.


"Aku mencintaimu. Aku ingin punya anak yang banyak darimu. Ah ya ... akan seperti apa wajah mereka nanti? Pasti akan tampan sepertiku."


Morgan tersenyum - senyum sendiri membayangkan anak - anak masa depannya.


Hhhh ... ya ampun dia percaya diri sekali,eh tapi iya sih dia memang sangat tampan. Aku saja sekarang mengaguminya. Lalu kenapa laki - laki sesempurna dirimu bisa jatuh cinta pada bubuk kayu seperti ku Tuan? Pantas saja jika mama mertua tidak menyukaiku. Dia tentu menginginkan wanita terbaik untuk mendampingi putranya yang sempurna sepertimu, bukan wanita kelas bawah sepertiku. Memangnya apa yang bisa dibanggakan dari diriku? Batin Eylina. Ia lalu menatap lekat pada suaminya. Mencoba menemukan, barangkali ada keanehan pada diri suaminya. Namun dirinya tidak menemukan cacat sedikitpun di wajah suaminya.


Lelaki yang ada dihadapannya adalah paket yang sempurna. Tampan, putih bersih, tubuh atletis dengan tonjolan otot dimana - mana, dan satu hal lagi yang bisa membuat para wanita tergila - gila adalah kekayaannya. Entah ada berapa banyak harta yang dimilikinya.


Rasanya tidak ada perempuan yang akan menolaknya. Tapi kenapa lelaki itu justru memilih melabuhkan hati padanya? Kenapa tidak pada Bella atau perempuan - perempuan berkelas lainnya? Eylina bertanya - tanya dalam hatinya.


Bagaimana kau bisa tersesat dan mencintaiku Tuan? Eylina.


Gadis itu tertawa dalam hatinya, mengingat semua yang pernah terjadi diantara ia dan Morgan. Jika dibilang aneh, memang benar. Dia adalah perempuan teraneh yang pernah ada. Disaat perempuan lain berusaha mati - matian mendapatkan perhatian dan simpati dari Morgan, ia justru sempat menolak tawaran pernikahan itu.


Tapi kau sangat menyebalkan juga waktu itu, sombong sekali.


Jika mengingat hal itu, Eylina merasa ingin tertawa.


Tok ... tok ... tok ....


Seseorang mengetuk pintu dari luar dan membuyarkan lamunan Eylina.


Ia dengan tubuhnya yang masih polos mencoba bangun.


"Kau mau kemana?" Cegah Morgan dengan memegangi tangan istrinya.


"Aku akan memakai pakaianku sayang. Ada yang mengetuk pintu."


"Biar aku saja." Lelaki itu beranjak dan memakai celananya. Ia lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya, sementara Eylina kembali menutup tubuh polosnya dengan selimut.


"Pak Gun?"


"Makan malam sudah siap Tuan."

__ADS_1


Ucap kepala pelayan tersebut.


"Ah, iya terimakasih. Aku akan segera turun sebentar lagi."


"Baik Tuan, saya permisi." Pak Gun menundukkan kepalanya, kemudian berlalu.


Sementara Morgan masuk kembali ke dalam kamar.


"Sayang, makan malam sudah siap. Pakai pakaianmu dan tunggu aku disitu. Aku akan membersihkan tubuhku dulu." Kata Morgan. Iapun lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Eylina turun dan mencari pakaiannya. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke segala sudut.


Dimana dia melemparkan pakaianku tadi?


Oh itu dia. Kenapa dia harus melempar - lemparkannya sih?


Eylina memunguti satu persatu pakaiannya dan mengenakannya kembali serta menyisir ulang rambutnya juga merias tipis wajahnya.


*****


Sementara dibawah semua orang sudah menunggu, termasuk Wira.


Ayu nampak beberapa kali mendengus kesal.


"Papa lihat sendiri kan? Morgan sekarang sudah berubah Pa. Ini yang kedua kalinya putra kita terlambat dan mengabaikan waktu makan. Semua gara - gara perempuan murahan itu."


"Sudahlah Ma, Mama ini kenapa sih? namanya juga masih pengantin baru. Mungkin saja mereka masih sibuk dengan misi mereka. Mereka butuh lebih banyak waktu berdua." Jawab Wira dengan santai.


"Mama tidak suka Pa, makin kesini Morgan semakin tidak disiplin. Perempuan itu benar - benar membawa pengaruh buruk pada putra kita."


"Mama, tidak baik berbicara seperti itu. Dia adalah menantu kita dan Morgan mencintainya."


"Mama tidak sudi punya menantu seperti dia Pa." Ayu menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Itu Kak Eylin." Seru Luna.


"Kak Eylin ...." Panggil Emily dengan antusias.


"Hai ...." Gadis itu tersenyum pada kedua adik iparnya. " Selamat malam Ma, Pa." Sapanya seraya tersenyum pada kedua mertuanya.


"Selamat malam Nak, duduklah! Ayo kita makan sekarang." Wira tersenyum hangat pada putranya dan juga menantunya.


Wah aromanya makanannya harum sekali. Koki - koki disini memang sangat profesional.


Batin Eylina.


Semua orang mulai menyuapkan makan malam mereka ke mulutnya masing - masing. Begitu juga Eylina, ia nampak sudah luwes memakan makanan sejenis Beef steak dengan Tartar sauce beserta pelengkapnya.


Tidak ada makanan yang tersisa di piringnya, juga di piring semua orang. Semuanya memakan makan malam tersebut hingga tandas.


Pak Gun yang berdiri di belakang tuan Wira pun tersenyum simpul melihat semua orang menikmati hidangan yang disajikan oleh para anak buahnya.

__ADS_1


💗💗💗💗💗


__ADS_2