Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Melaksanakan Tugas Dari Papa


__ADS_3

Usai makan malam, semua orang berkumpul di ruang keluarga.


Emily dan Luna menonton acara drama di televisi. Sementara yang lainnya mengobrol ringan.


"Nak Eylin ... bagaimana hari - harimu dirumah ini? Apa kau senang tinggal disini?" Tanya Wira membuka percakapan.


"Tentu saja Pa, Eylin bahagia tinggal disini."


Eylina menjawab seraya tersenyum.


Ya, saat ini dia memang sudah merasa bahagia berada di dekat suaminya, dan tanpa perlu bersandiwara lagi.


Hhh ... jelas saja kau bahagia, disini semua kebutuhanmu terjamin. Batin Ayu.


"Bagus lah kalau begitu, apa kedua adik ipar mu ini tidak mengganggumu?" Ucap Wira seraya memeluk kedua putrinya yang berada di sisi kanan dan kirinya.


"Apaan sih Papa, justru Emil sama Luna yang tiap hari meramaikan hari - hari kak Eylin. Ya kan Kak?" Kata Emil tak terima.


"Oh ya? Benar begitu Eylin?"


"Iya Pa, Emily dan Luna sangat baik. Mereka bahkan bersikap sangat manis pada Eylin."


Terimakasih ya Emily, Luna ... karena kalian telah bersikap baik sejak aku berada dirumah ini. Batin Eylina.


"Tuh kan, papa denger sendiri. Kita sering bercerita bareng Pa." Kata Emily.


Kakak ipar menjadi teman curhat yang baik untukku. Lanjut Emily dalam hatinya.


"Kak Eylin juga sering bantuin Luna ngerjain PR lho Pa. Kak Eylin emang paling best pokoknya." Luna pun tak ingin kalah.


"Oh ya, hahaha ... bagus lah kalau begitu." Wira nampak bahagia mendengar cerita dari para putrinya dan juga menantunya.


Morgan juga nampak tersenyum tipis mendengar hal tersebut dari adik - adiknya.


Suasana di dalam ruang keluarga itu nampak begitu hangat. Mereka bercengkrama dan tertawa bersama. Hanya Ayu saja yang merasa tidak nyaman berada disana. Ia terlihat beberapa kali memutar bola matanya karena bosan dan jengah atas canda tawa suaminya beserta putra putri serta menantunya.


"Sayang, ayo ke atas." Bisik Morgan di telinga istrinya. Setelah cukup lama ia menjadi pendengar setia disana.


"Kenapa?" Gadis itu nampak melirik kearah suaminya seraya mengernyitkan dahinya.


"Kau dari tadi mengobrol terus bersama mereka dan tidak mempedulikan ku."


Morgan merajuk, ia bahkan terlihat memonyongkan bibirnya seperti anak kecil.


Astaga ... mereka ini kan keluargamu sendiri. Papa dan juga adik kandungmu. Apa iya kau cemburu juga?


Eylina menggelengkan kepalanya. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya.


"Mana ada seperti itu?"


Eylina berbisik - bisik.


"Kau mengacuhkan ku."


"Sayang, itu tidak benar. Aku hanya mengobrol saja. Semua orang juga mengobrol kan?"


"Ada apa Nak? kenapa kalian berbisik - bisik sendiri?"


Wira bertanya setelah memperhatikan anak dan menantunya berbisik - bisik dari tadi.


"Oh ... tidak apa - apa Pa. Eylina mengajakku naik ke atas." Jawab Morgan.


Apa? Hey, Tuan Muda. Kenapa jadi aku? Hhh ... dasar curang.

__ADS_1


"Bohong kali, paling kak Morgan yang ngajakin naik keatas hahaha ... kak Morgan kan pengen berduaan terus sama kak Eylin. Mentang - mentang pengantin baru." Sahut Emily.


Aaaa ... Emily, i love you. Yang kau katakan memang benar. Mata Eylina berbinar menatap adik iparnya.


"Hey, kau ... kenapa kurang ajar sekali pada kakakmu hah? Mana ada seperti itu?" Balas Morgan tak terima atas ucapan adiknya. Ia lalu merangkul pinggang istrinya yang berada disampingnya.


"Tuh kan ... tuh kan ... Kak Morgan mana bisa jauh - jauhan sama kak Eylin hahaha ... orang kak Eylin ngobrol sama Emil aja dia nggak ikhlas." Emily terus mengejek kakaknya tanpa ampun.


"Hey, dasar anak kecil ... hentikan ocehanmu!" Morgan yang tidak terima itu lalu melemparkan bantal sofa ke arah adik pertamanya.


"Aww ...." teriak Emily saat benda itu mengenai wajahnya.


"Hahaha ... sudah - sudah. Emily, Morgan cukup. Ya sudah, kalian naiklah ke atas. Lakukan tugas kalian dengan baik supaya papa bisa cepat - cepat menimang cucu." Wira tersenyum kearah Morgan dan Eylina dengan penuh arti.


Morgan dan Eylina pun berdiri dan berjalan bergandengan meninggalkan ruang keluarga.


Wira merasa sangat bahagia malam itu melihat putra putrinya serta menantunya bisa bercengkrama dengannya.


Rumah besar ini kembali hidup dan hangat seperti sekarang ini.


Morgan, putranya yang sempat menjadi manusia dingin seperti es itu kini telah kembali ceria seperti dulu.


*****


Sementara di kamar atas Eylina sedang mengganti pakaiannya, ia berada di ruang ganti dan sedang mencari piyama tidurnya.


Ia mengambil salah satu piyama dari dalam lemari kemudian memakainya lalu melangkahkan kakinya keluar dari sana.


"Kemari lah!" Pinta Morgan padanya.


Gadis itupun melangkahkan kakinya ke arah suaminya.


Ia lalu duduk di tepi ranjang, di samping suaminya. Lelaki tampan itu nampak mengamati istrinya.


"Sayang ... ada apa?" Eylina mengernyitkan dahinya melihat suaminya melamun.


"Tidak ... aku hanya memikirkan beberapa pekerjaan saja. Oh ya, aku besok akan ke kantor pagi - pagi sekali. Ada banyak hal yang harus ku selesaikan bersama Rey."


Morgan memulai obrolannya, lelaki yang bersandar di kepala tempat tidur itu meraih tangan Eylina dan mengusapnya dengan lembut.


"Oh ... baiklah, aku akan bangun lebih awal dan menyiapkan pakaianmu besok. Mmm ... sayang, bolehkah aku menjenguk sahabatku besok?" Tanya Eylina sedikit ragu - ragu.


"Tentu ... aku akan mengantarmu besok sebelum berangkat ke kantor. Tapi kita harus berangkat pagi - pagi sekali." Tangan Morgan membelai pipi halus milik Eylina.


"Baiklah ... terimakasih." Gadis itu kemudian tersenyum.


"Berterimakasih lah dengan benar!"


"Sayang, apa aku masih harus berlutut seperti dulu?" Eylina mengernyitkan dahinya.


"Hahaha ... kau ini bicara apa? Aku tidak pernah menyuruhmu seperti itu. Jangan mengada - ada!"


"Lalu?"


Lalu yang dulu itu apa? Batin Eylina.


"Mmm ...." Morgan menunjuk dan memajukan bibirnya seraya memejamkan matanya.


Hhhh ... kenapa dia menggemaskan begitu sih? Aku jadi terpancing kan.


Batin Eylina. Ia tergoda dengan bibir suaminya, tapi ia tak cukup berani untuk memulainya.


"Hey! ... kenapa lama sekali?" Morgan membuka matanya setelah beberapa saat tak mendapat apa yang ia inginkan.

__ADS_1


"Sayang ...." Pipi Eylina memerah, ia menundukkan kepalanya.


Hhhh ... dadaku berdebar - debar kan jadinya.


"Apa kau tidak mencintaiku? Kau tidak mau melakukannya?" Morgan memasang wajah merajuk.


"Sayang ... kau berbicara apa? Tentu saja aku mencintaimu."


"Aku tidak dengar."


"Aku mencintaimu ...." Kata Eylina dengan sedikit keras seraya menatap mata suaminya.


Hahaha ... Yess! Dia mengatatakannya.


"Aku juga sangat mencintaimu" Sebuah ciuman singkat mendarat dibibir Eylina.


Eh ... apa? Aku dijebak?


"Kau menjebak ku?" Eylina mengernyitkan dahinya.


"Tidak, untuk apa? Kau sendiri yang mengatakannya."


Hahaha ... kau sungguh menggemaskan. Jangan salahkan aku jika aku memakan mu lagi malam ini.


Morgan menarik istrinya hingga gadis itu berada di atas tubuhnya.


Eylina yang merasa tidak nyaman dengan posisinya itupun memilih bangun, ia terduduk di atas perut suaminya yang berotot.


Pemandangan yang sexy dimata Morgan.


"Kau mau menggodaku?" Kata Morgan seraya menyeringai licik.


"Eh ... tidak ... tidak. Kenapa kau memfitnahku terus dari tadi?" Eylina turun dan bergeser ke tempat tidurnya.


Ia berbaring menghadap suaminya.


Melihat hal itu Morgan mengambil kesempatan dan menyergap tubuh istrinya.


"Sayang kau mau apa?"


Wajah Eylina sudah sedikit panik.


"Melaksanakan perintah papa, apa kau tidak mendengarnya tadi?"


"Sayang, kita sudah melakukannya tadi ... bukankah besok kau harus bangun pagi? Lebih baik kita istirahat sekarang."


"Tadi hanya satu kali ... kurasa itu tidak cukup, kita harus segera memberi papa hadiah. Jadi harus sering - sering melakukannya. Lagipula kau yang menggodaku kan?"


Hey ... kapan aku menggoda mu? Ada - ada saja alasannya ....


"Sayang, tapi ini sudah malam ...."


"Sssttt ... diam lah!" Morgan berkata dengan lirih.


Lelaki itu kemudian mulai menyusuri setiap inci bagian tubuh Eylina dengan ciuman - ciuman lembut.


Eylina pun tak bisa berbuat apa - apa kecuali menikmati setiap perlakuan dari suaminya.


Malam itu menjadi malam yang panjang dan bergejolak bagi keduanya untuk menumpahkan hasrat yang kian membara dalam diri mereka.


Tidak peduli meski esok mereka harus bangun pagi - pagi sekali untuk memulai aktivitasnya.


💗💗💗💗💗

__ADS_1


__ADS_2