
Hari sudah tengah malam namun pria bernama Reynard Prayogo belum bisa memejamkan matanya.
Ia berguling ke kanan dan ke kiri, mengangkat tangannya dan kembali memasukkannya ke dalam selimut.
Cahaya lampu kamarnya begitu temaram, tapi lekukan tubuh Sista sangat jelas karena selimutnya hanya dipakai sebatas pinggang.
Gadis itu entah sudah tidur atau belum, tapi ia tidak bergeming meski kasurnya sejak tadi bergoyang-goyang karena suaminya yang terus bergerak.
Rey mulai berpikir, mungkinkah semalam Sista juga seperti ini? Tidak bisa tidur karena semalam adalah malam pertamanya?
Dan sekarang ia sendiri yang justru gelisah karena teringat bibir mungil istrinya yang bersentuhan dengan bibirnya tadi sore.
Rey menggeser tubuhnya dan mendekati Sista, namun tak lama kemudian ia menjauh kembali.
Entah berapa kali ia melakukan hal itu, hingga akhirnya Sista pun menoleh padanya.
"Kak Reynard kenapa?" tanyanya seraya bangun dan bersandar di kepala ranjang.
"Aku ... aku tidak bisa tidur, banyak sekali nyamuknya," jawabnya asal.
Padahal satupun nyamuk tidak ada disana. Sista mengernyitkan dahinya dan mencoba melihat sekitarnya.
Ia akhirnya bisa menyimpulkan jika suaminya tengah salah tingkah karena mendapati ternyata istrinya belum benar-benar tidur.
"Kak," panggilnya seraya mencoba menatap suaminya yang sudah sama-sama duduk dan bersandar disebelahnya.
"Kau ... kenapa belum tidur?" tanya Rey.
"Kak Reynard dari tadi bergerak terus,"
"Oh ... maafkan aku, aku bisa tidur di sofa kalau begitu. Aku memang belum mengantuk, maafkan aku membuatmu jadi tidak bisa tidur,"
Rey sudah akan beranjak dari tempatnya tapi Sista menahannya dengan memegang tangannya.
"Apa kak Reynard menginginkan sesuatu?"
"Sesuatu? Ah ... em tidak ada, memangnya kenapa?"
__ADS_1
"Bukankah kita sudah sah menjadi suami istri?"
"Ya, tentu saja. Kita sudah menikah kemarin,"
Rey cukup tau arah pembicaraan istrinya. Tapi untuknya yang tidak pernah bersentuhan dengan wanita, tentu saja hal ini sangat sulit untuknya.
Lebih dari itu, ia takut jika dirinya akan payah saat melakukannya nanti.
"Kak, apa aku tidak cukup menarik di matamu?" tanya Sista disela kesedihannya. Baginya tingkah suaminya sungguh aneh.
Ia bahkan sempat berpikir jika suaminya memiliki kelainan, lantaran terlalu kaku saat bersikap dengannya.
Tapi jika memang seperti itu, untuk apa juga dia menikahinya dan selalu mengatakan jika tidak ingin kehilangannya.
"Apa yang kau bicarakan?" Rey menatap wajah istrinya yang mengguratkan kesedihan.
Aku sangat ingin menyentuhmu dan menempelkan kembali bibirku diatas bibirmu lagi. Aku bahkan mulai membayangkan berbuat mes*m denganmu. Tapi tanganku sungguh kaku sekali.
"Lalu kenapa kau tidak melakukannya?"
Tangannya meraih tubuh Sista dan mendekapnya, "Aku sama sekali tidak punya pengalaman apapun," ujarnya lirih.
Sista pun sama, tapi mau sampai kapan seperti ini terus?
"Kita bisa belajar bersama, bukan? Aku pun juga demikian. Tapi mengingat kita sudah menikah, bukankah sudah seharusnya kita memulainya?"
Setelah itu mereka sama-sama terdiam, hanya saling mengeratkan pelukan satu sama lain.
Rey meraih wajah istrinya, lalu mulai menempelkan bibirnya pada bibir Sista.
Dia akhirnya mencobanya, membiarkan nalurinya menuntunnya. Satu-satunya modal yang dia punya hanyalah sisi otak mes*m yang entah berapa kadarnya.
Rey mulai memejamkan matanya dan membuka mulutnya, mencoba merasai bibir istrinya yang sejak tadi berada di dalam angan-angannya.
Sementara Sista pun sama, ia hanya mengikuti nalurinya dan mencoba mengimbangi apa yang diperbuat suaminya.
Ia pun memang tidak pernah berciuman bibir, bahkan dengan Rony sekalipun. Tapi Sista bukanlah orang yang se-polos Eylina mengenai hal-hal seperti ini. Ia sering membaca banyak artikel serta edukasi tentang hal-hal seperti ini.
__ADS_1
Gadis itu melingkarkan tangannya dileher suaminya.
Tak berselang lama, suara hening dikamar itu berubah menjadi suara decapan-decapan yang cukup erotis dan menggoda.
Saat ini yang bekerja di dalam otak Rey hanyalah pikiran kotor yang selama ini selalu ia singkirkan.
Entah sejak kapan ia begitu menginginkan dan tergoda pada leher bersih milik Sista. Ia mulai menyusurinya dan mengecupnya di semua tempat.
Naluri lelakinya mulai tak terkendali lantaran benda bak tongkat sihir miliknya semakin menegang dan mulai menuntutnya.
Keheningan malam ini menjadi saksi bagaimana seorang sekertaris Rey berubah menjadi sosok yang begitu erotis dalam batasnya.
Sambil mengecup leher istrinya, ia mulai menyusupkan tangannya dan mencari sesuatu untuk dimainkan oleh tangannya dibalik piyama yang dikenakan Sista.
Ia juga melepaskan semua atribut yang dikenakannya dan melanjutkan kembali aktifitasnya.
"Aku menginginkanmu," bisiknya yang sudah berada dibatas gairahnya.
Sista hanya mengangguk dan menatap sayu pada suaminya yang sudah berada di posisi siap, diatas tubuhnya.
Rey mengikuti nalurinya dan mencobanya sekali, namun terasa susah sekali. Hingga pada percobaan ketiganya baru berhasil.
"Kak sakit," ujar Sista seraya meringis.
"Apa aku harus menyudahinya?" tanya Rey tapi istrinya menggeleng, tanda permainan tidak akan berhenti begitu saja.
Rey mulai mengikuti apa yang ia rasakan dan hal lebih apa yang ia inginkan.
Hingga rasa sakit yang tadi Sista rasakan berubah menjadi lain.
Malam ini mereka berdua tengah dilanda perasaan yang tidak bisa dilukiskan oleh kata-kata.
Hingga sebuah erangan lolos bersamaan begitu saja antara Rey dan istrinya.
Nafas keduanya saling memburu satu sama lain meski Rey telah terkulai lemas diatas tubuh Sista.
Rey sungguh bahagia sekali, ada perasaan lega dan perasaan lain yang terasa tercabut dari dirinya. Perasaan yang sejak tadi mengganggunya pun kini telah hilang entah kemana. Tidak ada perasaan bersalah lagi dalam dirinya. Ia juga sangat bahagia karena melihat istrinya juga sangat menikmati momen ini.
__ADS_1