
Keesokan harinya Eylina dan Morgan memutuskan untuk berkonsultasi pada dokter Mira.
Morgan memutuskan untuk mengambil libur hari ini.
"Sayang, bangun!" panggil Eylina dengan lembut.
"Eemmhh ... kau sudah rapi?" Morgan mengerjapkan dan mengucek matanya yang masih terasa berat.
Tidak berat bagaimana, dia menghabiskan waktu semalaman untuk bermain kuda sinting dengan istrinya.
"Sayang," panggil Morgan dengan manja.
"Hemm?" Eylina menoleh dan menaikkan alisnya.
"Kemarilah sebentar!"
"Tidak mau! Ayo cepat bangun dan bersiap - siap!"
Apa - apaan? Dia mau mengurungku dan tidak mengijinkan ku kemana - mana lagi?
Namun bukannya menurut, lelaki itu justru semakin masuk dan menenggelamkan tubuhnya di bawah selimut.
Kelakuannya ini benar - benar ...
Eylina menghela napas panjang melihat tingkah suaminya. Entah kenapa laki - laki yang sudah berumur ini manja sekali.
"Hhhh ... ayolah sayang! Kenapa kau manja sekali? Apa ... aaaa!" pekik Eylina saat lelaki itu menariknya ke dalam selimutnya.
"Sayang, aku sudah rapi. Ayolah, jangan mengulur waktu terus! Bukankah kau meminta sekertaris Rey datang tepat waktu? Kenapa kau sendiri malah suka sekali mengulur waktu seperti ini?" protes Eylina yang suaranya tenggelam di dalam selimut. Dan bisa dibayangkan, Eylina yang berusaha membebaskan dirinya dari suaminya terlihat sangat ambigu dibawah selimut sana.
"Aaaaa ...." pekik Emily yang sedang berdiri di depan pintu, gadis itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Namun tidak tertutup rapat juga, ia mengintip melalui celah - celah jarinya. Siapa tahu ada hal menarik yang bisa ia lihat.
Lengkingan suara Emily membuat dua orang dibawah selimut mematung sekejap kemudian memunculkan wajahnya. Eylina terlihat berantakan sekali.
"Lain kali kunci dulu pintunya!" protes Emily dengan wajah yang masih ditutupi.
Bug ....
Sebuah bantal besar mengenai kepalanya.
"Aw ... kak Morgan!"
"Lain kali ketuk pintunya dulu! Mengganggu kesenangan orang saja!" sindir Morgan. Lelaki itu tidak bisa kemana - mana karena tubuhnya masih dalam keadaan polos di bawah selimut. Sementara Eylina turun dari ranjang dan merapikan kembali pakaiannya serta rambutnya.
"Emily, buka wajahmu! Kami tidak melakukan apapun kau tahu? Kakakmu memang suka bercanda dan menjahili ku setiap waktu. Ayolah ini hanya salah paham." Eylina mencoba menjelaskan situasi pagi ini. Namun ia justru canggung sendiri karena tatapan aneh adik iparnya.
"Hey, apa yang kau pikirkan? Jangan berpikir yang tidak - tidak!" ujar Eylina dengan gugup.
"Bercandanya sampai merah - merah gitu ya? Hihihi ... pikiranku jadi traveling kemana - mana,"
Merah? Astaga, Emily melihatnya!
Ucapan Emily membuat wajah Eylina bersemu merah seketika. Ia meraba lehernya sendiri lalu berlari ke arah cermin.
"Mana ada? Tidak ada apa - apa di leherku,"
"Hahaha ... aku menipumu Kak, maafkan aku. Cepatlah turun, yang lain sudah menunggu!" teriak Emily seraya berlari keluar dan tertawa terbahak - bahak.
Sementara Eylina masih mematung ditempatnya, ia tidak sadar jika ditertawakan juga oleh suaminya.
"Kenapa tertawa, sayang?" tanyanya saat melihat Morgan.
__ADS_1
"Hahaha ... kenapa kau panik sekali saat Emily mengatakan ada bekas merah?"
Mendengar hal itu Eylina pun bergegas ke arah suaminya dan mencubit pinggang Morgan.
"Tentu saja, kau selalu meninggalkan jejak dimana - mana. Sudah kubilang jangan menibggalkan jejak ditempat terbuka. Untung saja yang datang adalah Emily. Kalau Luna yang datang bagaimana? Jangan membuatku berada dalam situasi sulit!"
"Kau marah? Hahaha ... imut sekali, muah. Lain kali aku akan cari tempat tertutup dan meninggalkan jejak disana."
Morgan kemudian beranjak dari tempat tidur dan meninggalkan istrinya yang mematung disana.
Hahaha ... menyenangkan sekali punya istri sangat polos dan penurut sepertimu, Eylina. Menjahili dirimu seperti ini saja membuatku sangat bahagia, gumam Morgan di dalam kamar mandi seraya tersenyum - senyum.
Setelah selesai bersiap - siap, Morgan menggandeng istrinya turun ke bawah.
"Selamat pagi, Pa, Ma," sapa Eylina.
"Pagi, Nak. Kalian rapi sekali? Apa ada acara?" tanya Wira.
"Kami mau konsultasi ke rumah sakit, Pa. Eylina sudah tidak punya keluhan, siklus menstruasinya juga lancar. Jadi kami berpikir untuk berkonsultasi pada dokter Mira mengenai program hamil," jelas Morgan.
"Wah, ini kabar bagus. Ya sudah, cepat sarapan! Semoga kalian segera diberi kepercayaan untuk melahirkan generasi penerus keluarga kita, bukan begitu Ma?"
Wira menoleh antusias pada istrinya untuk meminta pendapat. Namun Ayu hanya tersenyum terpaksa menanggapi pertanyaan suaminya.
Mama ini, apalagi yang masih diragukannya? Dari awal Eylina datang kesini, sampai hari ini pun juga gadis itu tidak berubah. Masih tetap Eylina yang sopan dan menyenangkan. Lalu alasan apalagi yang masih membebaninya?
Wira menggelengkan kepalanya samar - samar setelah mendapat reaksi dari istrinya.
Selepas sarapan pagi, Eylina dan Morgan pun bergegas keluar. Di sana sudah ada sekertaris Rey dan Sista yang nampak berbicara serius.
Mereka sudah nampak akrab sekali, batin Eylina.
"Selamat pagi, Tuan muda," sapa Rey seraya membungkukkan badannya, begitu juga Sista.
Morgan dan Eylina mengangguk dan tersenyum ke arah keduanya.
"Hai, Sis. Lo udah rapi? Mau latihan lagi? Sama siapa latihannya? Robin, Anton, Tomy atau dia?" tanya Eylina dengan tersenyum menggoda dan mencolek dagu sahabatnya. Ia menggandeng lengan Sista menjauh dari Morgan dan Rey.
"Sama Robin, Lo mau pergi?"
"Mau kerumah sakit."
"Lo sakit? Kenapa?" tanya Sista dengan panik.
"Nggak ada yang sakit, Sista. Gue mau konsultasi buat program hamil, hehe ...."
"Serius? Aaa ... gue mau punya ponakan dong bentar lagi?"
Mendengar jawaban Eylina, Sista pun kegirangan sampai melompat - lompat. Hal itu membuat Rey melirik kearahnya dan mengernyitkan dahinya.
"Baru mau program, Sista. Heboh amat, ampun. Eh, tapi doain ya! Gue udah nggak sabar pengen punya bayi," pinta Eylina seraya mengatupkan kedua tangannya.
"Pasti dong, gue selalu doain sahabat gue yang ter ... ter ... terbaik pokoknya. Oh iya, makasih ya udah kasih gue banyak baju olahraga sama sepatu. Bagus - bagus banget tau?"
"Apaan sih, pakai terimakasih segala. Lagian gue juga bingung, gimana cara ngabisin duit yang dikasih suami gue. Lain kali bantuin mikir ya!" bisik Eylina.
"Sip lah, ntar gue bantuin mikir."
"Emm ... oh iya, udah berbulan - bulan lo jomblo. Nggak pengen gitu membuka hati buat yang baru. Sama Robin misalnya, atau Anton? Mereka ganteng juga lho, atau sama itu aja? Kasian umurnya udah tua," Eylina menunjuk kearah sekertaris Rey.
"Apaan sih Lin! Gue sama dia? Ogah! Dia ngeselin, kaku banget jadi orang," jawab Sista dengan berbisik. Tapi tanpa ia sadari matanya melirik sekertaris Rey secara singkat.
__ADS_1
Jantungnya berdebar! Oh tidak ... sesuatu sepertinya telah meracuni Sista.
"Jangan gitu lo! Coba deh deketin dikit - dikit gitu!"
"Iihh ... Eylin, males banget gue bahas ginian," bisik Sista, ia gemas sekali pada Eylina. Sayangnya ia tidak bisa memukul atau menendang sahabatnya itu.
"Ya udah kalau gitu gue berangkat dulu," pamit Eylina kemudian.
"Oke, hati - hati!"
Eylina lalu berjalan dengan anggun ke arah suaminya yang berdiri di samping mobil.
"Sudah puas ngobrolnya?" tanya Morgan seraya menyambut tangan istrinya.
"Belum sih, hehe ...." jawab Eylina seraya menyeringai.
Melihat hal itu membuat Morgan tak bisa menahan untuk tidak mengusap kepalanya dengan gemas dan tersenyum.
Mereka pun kemudian masuk ke dalam mobil dan memasang sabuk pengamannya sebelum Rey melajukan mobil tersebut.
Sudah pukul 09.00 tapi jalanan hari ini tidak sepadat biasanya sehingga mereka tidak terjebak macet.
Sesampainya dirumah sakit mereka disambut dengan sangat hangat seperti biasanya.
"Silahkan duduk Tuan, Nona," ujar dokter Mira.
"Bagaimana Nona? Apa ada keluhan?" lanjutnya.
"Tidak ada, Dokter. Kami kesini untuk konsultasi tentang program kehamilan," jawab Eylina malu - malu.
"Istriku sudah ingin sekali punya bayi, jadi kapan kami bisa memulai programnya?" tanya Morgan seraya melirik istrinya yang sedikit melotot karena tidak terima di kambing hitamkan. Bukankah lelaki itu yang selama ini tidak sabaran?
"Jika memang sudah tidak ada keluhan, saya akan membuatkan jadwal konsultasi lagi. Karena saya juga harus mencatat kapan Nona Eylina menstruasi, agar saya bisa meresepkan vitamin dan juga obat penyubur kandungan untuk Nona Eylina."
"Jadi tidak bisa langsung sekarang ya, Dok?" tanya Eylina.
"Benar Nona, begini saja, kita tunggu saja menstruasi Nona selanjutnya. Nanti saat hari pertama atau hari kedua menstruasi, Nona bisa kembali lagi kesini. Pada saat itu nanti saya akan berikan obat penyubur untuk Nona."
"Jadi lagi - lagi kami harus menunggu?" tanya Morgan dengan desahan kecewa diakhir kalimatnya.
"Hanya menunggu sampai menstruasinya datang, Tuan."
Eylina sedikit tersenyum kecut, karena menstruasinya masih lumayan lama. Mungkin sekitar dua minggu lagi.
Lelaki disampingnya tidak sengaja menangkap ekspresi wajah Eylina, ia pun merasa iba, "Sayang, tidak masalah. Sampai kapanpun aku harus menunggu juga tidak masalah," ujar Morgan berusaha menghibur istrinya. Ia meraih tangan Eylina dan mengusapnya.
"Hey, bukankah masih banyak hal yang harus kita lakukan juga? Kita belum bulan madu, aku juga belum banyak mengajakmu jalan - jalan. Tidak masalah bukan, jika kita harus menunggu sebentar lagi?"
"Yang tuan Morgan katakan ada benarnya juga, Nona. Justru hal yang paling penting saat merencanakan kehamilan yang sehat, salah satunya adalah Nona harus bahagia," terang dokter Mira seraya tersenyum.
"Kau dengan sendiri, kan? Ayolah, jangan pikirkan hal ini!"
Morgan tersenyum, begitu juga dokter Mira.
Melihat dan mendengar penjelasan dari dokter Mira serta perkataan suaminya, ia pun merasa sedikit terhibur.
Setelah konsultasi selesai, dua orang itupun keluar ruangan dengan diantar oleh dokter Mira.
Diluar ruangan itu mereka bertemu tatap dengan sepasang suami istri yang sedang mengobrol dengan sekertaris Rey.
💗💗💗💗💗💗
__ADS_1