Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Mengaku


__ADS_3

"Hai Pa ...," Morgan berusaha tersenyum, ia berharap lelaki paruh baya yang dihormatinya itu tidak mengetahui apa - apa tentang semua yang terjadi pada istrinya.


"Kalian darimana? Sampai tidak sempat sarapan di meja makan?"


Deg ...


Baik Morgan maupun Eylina kini menjadi sedikit gugup dan canggung.


"Kami hanya keluar untuk jalan - jalan saja Pa, " jawab Morgan.


Lelaki yang tengah gugup itu meraba tengkuknya.


"Ada apa Nak? Cerita sama papa, apa kau pikir papa akan percaya begitu saja. Hahaha ..., apa yang coba kau sembunyikan?"


Wira menelisik kedalam mata putranya. Ia tentu hapal dengan sifat Morgan. Lelaki itu tidak akan terlihat gugup ataupun kikuk jika memang tidak ada hal yang sedang ia sembunyikan.


Bagaimana ini? Morgan mencoba berpikir.


Tapi disembunyikan pun juga lama - lama akan terbongkar.


Mungkin memang lebih baik papa tau yang sebenarnya terjadi.


"Morgan?" Wira menepuk bahu putranya setelah lelaki itu terdiam cukup lama.


Eylina pun hanya bisa menggigit bibirnya, ia juga tidak tahu harus bagaimana.


"Ah ..., iya Pa." Lelaki itu nampak menundukkan kepalanya.


"Ada apa sebenarnya? Cerita sama papa, apa ada masalah dengan perusahaan?" Wira, dengan wajahnya yang teduh itu mencoba mencari tahu.


"Bukan Pa, ini tentang istri Morgan." Morgan kembali menundukkan wajahnya.


"Sepertinya serius, ayo, kita duduk dulu." Wira mengajak anak serta menantunya untuk duduk.


"Nah, sekarang ceritakan, ada apa sebenarnya?" tanya Wira seraya menatap anak dan menantunya secara bergantian.

__ADS_1


"Kami baru saja dari rumah sakit Pa," ucapan Morgan terhenti. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya. Hatinya sangat gusar saat ini.


"Ada apa? Apa ada kabar gembira untuk papa?" Lelaki paruh baya itu terlihat tersenyum penuh harap dengan mata berbinar.


Namun hal itu justru membuat hati Eylina terasa sakit sekali. Ia yang berniat sungguh - sungguh ingin berusaha untuk memberikan seorang cucu pada ayah mertuanya itu merasa sangat sedih atas kondisinya saat ini.


"Bukan Pa." Morgan menggelengkan kepalanya dengan berat.


Membuat senyum di wajah Wira menjadi memudar seketika.


Maafkan aku Pa.


Batin Eylina. Gadis itupun menundukkan kepalanya dan meremas - remas tangannya.


"Lalu? Ada apa Nak? Kenapa kalian nampak sedih sekali?"


"Untuk waktu dekat ini Eylina belum boleh hamil dulu Pa," dengan berat hati Morgan mengatakan hal itu.


"Bagaimana maksudnya? Papa sungguh tidak mengerti Nak,"


"Ada miom di rahim Eylina, Dokter Mira bilang harus diangkat dulu. Dan setelah itu kami harus menunggu beberapa bulan sampai rahim Eylina benar - benar siap."


Lelaki paruh baya itu terlihat manggut - manggut mendengar penjelasan dari putranya.


"Tidak masalah Nak, lakukan saja yang terbaik. Melihat kalian bahagia saja papa sudah sangat senang. Tenanglah, semuanya pasti akan baik - baik saja. Untuk urusan cucu papa, kalian bisa berusaha lagi nanti. Eylina ..., jangan bersedih seperti itu." Wira tersenyum menatap menantunya yang tertunduk.


"Apa mama tidak salah dengar? Jadi selain asal usulnya tidak jelas. Wanita ini juga penyakitan?" Ayu datang dari arah belakang Morgan dan Eylina.


Ia lalu turut duduk disana di samping Wira.


Ucapan Ayu membuat Eylina tersentak kaget, dan seketika itu juga ia merasakan hatinya seperti tertusuk duri tajam.


Ia memejamkan matanya. Ya, aku memang tidak pantas! Seharusnya aku tahu diri sejak dulu, dan tidak perlu bermain - main dengan perasaanku, pikir Eylina.


"Mama, coba sedikit lebih tenang dalam menghadapi sesuatu. Tidak perlu berteriak seperti itu Mah." Wira mengusap pundak istrinya.

__ADS_1


"Mana bisa mama tenang Pa? Dari awal saja mama sudah meragukannya. Hingga sekarang saja kita bahkan tidak tau dia ini berasal dari mana, anak siapa dan juga entah dimana rumahnya." Ayu mendengus kesal.


"Cukup Ma! Berhenti untuk melihat seseorang hanya dari penampilan luarnya saja!" Wira yang merasa sikap istrinya terlalu berlebihan itupun memberi peringatan.


Ya Tuhan, kumohon hentikan semua ini. Aku memang sangat sakit hati atas ucapan ibu mertua. Tapi kumohon jangan ada keributan seperti ini hanya gara - gara aku. Mungkin saja aku memang tidak pantas untuk suamiku.


Eylina semakin menundukkan kepalanya.


"Morgan, bawa istrimu ke kamar. Dia pasti butuh banyak istirahat bukan?" Wira yang melihat menantunya mulai bersedih itupun berkata dengan lembut dan meminta putranya agar membawa gadis itu.


Mendengar ucapan ibunya yang sangat menyakitkan, Morgan pun ikut tersulut emosi.


"Morgan harap Mama bisa mengendalikan diri Mama! Apapun yang terjadi, Morgan tidak peduli. Eylina adalah istri Morgan dan Morgan sangat mencintainya! Jadi jangan pernah ungkit apapun tentangnya!" kata Morgan dengan tatapan tidak bersahabat pada ibunya.


Ya Tuhan, kenapa jadi seperti ini?


"Sayang, sudahlah! Tidak baik berbicara dalam kemarahan." Eylina mengusap pundak suaminya untuk meredakan bara amarah yang sedang memanasi hati lelaki tersebut.


"Morgan, sudah ... sudah! Pergilah ke kamarmu, tidak perlu seperti itu, Nak."


Morgan pun beranjak dari tempatnya setelah merasa emosinya sedikit reda berkat bantuan dari istrinya. Lelaki itu merangkul pundak istrinya dan berjalan beriringan.


Wira menatap kepergian anak dan juga menantunya sampai mereka menghilang dari jangkauan pandangannya.


Ia kemudian menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan untuk menetralisir suasana di dalam hatinya. Setelah tenang ia pun menoleh pada istrinya yang masih terlihat kesal.


"Ma, Eylina sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Baik ataupun buruknya sudah semestinya kita menerimanya dengan hati yang lapang. Lagipula, semua ini juga bukan kemauannya. Tidak ada satu orang pun yang ingin terlahir lemah ataupun bisa memilih tempat dimana akan dilahirkan. Begitu juga dengan Eylina, ya ... meski papa juga belum tahu pasti darimana menantu kita berasal, tapi papa bisa melihat sepertinya gadis itu tidak menjalani hidupnya dengan mudah selama ini, namun dibalik ketidakberdayaannya, dia adalah perempuan yang tangguh dan kuat. Papa percaya itu, lihatlah Eylina dari sisi yang lainnya. Dia adalah gadis yang baik, Ma. Tidak penting dari keluarga mana dia berasal. Tidak semua memiliki keberuntungan yang sama. Jika kita saat ini berada diatas, itu semua hanya karena sebuah keberuntungan semata. Semuanya bisa saja menjadi terbalik jika Sang Pemilik kehidupan memutar rodanya. Jadi papa harap, Mama bisa berhenti memojokkan Eylina terus menerus. Ingatlah Ma, seperti halnya Eylina, kita juga punya anak gadis yang suatu saat akan menikah dan juga mempunyai mertua sebagai orang tua kedua bagi mereka. Apa Mama ingin, anak kita juga diperlakukan sama seperti saat Mama memperlakukan menantu kita saat ini? Tidak ada yang perlu disalahkan atas apapun yang terjadi saat ini, kita hanya bisa berusaha untuk yang terbaik kedepannya. Dan sebagai orang tua kita seharusnya membimbing mereka, agar anak dan menantu kita bisa melewati masa ini dengan baik. Papa harap Mama bisa mengerti dan bersikap lebih bijak lagi," Wira berkata dengan penuh kewibawaan, hingga membuat istrinya menundukkan kepala. Lelaki paruh baya yang nampak sangat berwibawa itu meraih dan mengusap punggung tangan istrinya.


Ia tidak merasa heran dengan sikap Ayu, karena ia juga memahami apa yang wanita itu khawatirkan, mengingat putranya juga adalah pria yang nyaris sempurna dan memiliki segalanya. Sebagai seorang wanita yang melahirkan Morgan, ia tentu mengharapkan yang terbaik untuk putranya.


Namun ia juga tak bisa melihat ketidakadilan yang dialami menantunya. Karena baginya semua orang memiliki kesempatan yang sama, seperti halnya Eylina.


Tidak peduli apapun statusnya dan darimana gadis itu berasal.


💗💗💗💗💗💗

__ADS_1


__ADS_2