Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Ini Berlebihan


__ADS_3

Eylina meletakkan kedua paper bag yang ada ditangannya ke atas sofa. Ia lalu duduk disampingnya.


Apa ini?


Gumamnya seraya tangannya mengeluarkan isi dari salah satu tas tersebut.


Gadis itu mengernyitkan dahinya.


Wah ... sweater? Celana jeans? Mmm ... bahannya lembut sekali. Jadi aku disuruh memakai ini? tumben sekali, eh apa lagi ini?


Tangan Eylina merogoh ke dalam tas tersebut dan mengambil topi serta kacamata hitam.


Apa ada acara khusus dengan dress code seperti ini? Hahaha, aneh sekali. Tapi ini lebih baik dari pada aku harus memakai gaun - gaun mewah itu.


Gadis itu tersenyum kemudian membuka tas satunya.


Sepatu kets? Wah bagus sekali.


Batin Eylina. Matanya berbinar melihat sepatu kets yang ada ditangannya.


Ini pasti mahal, pasti enak sekali jadi orang kaya, punya banyak uang. Bisa mendapatkan segalanya dengan mudah. Sedangkan aku, miris ... aku bahkan rela melakukan segalanya demi uang dan demi hidup ibu dan adikku. Mempertaruhkan harga diriku dan juga kehormatan ku.


Tapi ya sudah, selalu ada pengorbanan untuk sesuatu yang lebih baik kan? Dan sekarang, aku bahkan sudah menemukan cintaku.


Terimakasih Tuhan, meski semuanya berawal dengan sangat menyakitkan namun akhirnya ada harapan baru untukku, si gadis bulukan. Eylina tersenyum.


Ia lalu berdiri dan memakai pakaian serta sepatu tersebut. Kemudian berjalan di depan cermin.


"Wah, semua yang kupakai ini terasa sangat nyaman. Berbeda dengan celana yang biasa kupakai." Eylina bermonolog saat melihat pantulan dirinya di cermin. Sesaat, sekelebat bayangan masa lalunya datang. Samar - samar ia melihat bayangan seorang gadis lusuh dengan daster yang bahkan tak terlihat jelas lagi motifnya, juga bayangannya ketika memakai celana kolor dan kaos oblong yang sudah usang serta rumahnya yang sudah hampir roboh.


Ya, takdir memang kadang tak bisa ditebak. Kurang lebih satu bulan yang lalu, ia masih jungkir balik mencari uang dengan segala rintangannya. Menguras tenaganya, pikirannya, serta mengorbankan seluruh waktu yang ia punya hanya untuk mendapatkan beberapa lembar uang.


Dan sekarang ia berdiri disini, di rumah bak istana megah milik keluarga suaminya.


Dengan segala kemewahan di dalamnya, kehormatan dan juga jaminan kesejahteraan yang tak main - main.


Di sayangi oleh ayah mertuanya dan kedua adik iparnya. Bahkan sekarang ia telah mendapatkan cinta dari seorang calon pemilik kekuasaan yang tak lain adalah suaminya.


"Sampai kapan kau akan berdiri disitu?"


Suara yang datang dari arah pintu itu membuyarkan lamunan Eylina.


"Sa ... sayang." Gadis itu menyeka beberapa bulir air mata yang membasahi pipinya dengan cepat.


"Ada apa lagi denganmu? Apa kau memang suka menangis diam - diam seperti ini?"


Morgan menghampiri gadis itu dan membelai rambutnya dengan lembut lalu meraih dagunya dan mendongakkan wajah cantik dihadapannya.


"Tidak, tentu saja tidak." Gadis itu menampakkan senyumnya.


"Apa lagi yang coba kau sembunyikan?"


Morgan menarik tangan Eylina ke sofa. Dan mendudukkan gadis itu di pangkuannya.


Mata hitam lelaki itu menatap hangat pada Eylina.


Apa kau selalu memendam semuanya sendirian? Menyimpan segala masalahmu dan membungkusnya di dalam senyummu? Morgan.


"Aku hanya mengingat kehidupanku yang dulu, sebelum aku masuk ke dalam rumah ini. Hanya itu saja."

__ADS_1


"Semua akan baik - baik saja, oke? ada aku di sampingmu."


Hidupmu dulu pasti sangat susah, tapi tenanglah. Mulai saat ini dan seterusnya, kau akan menjadi ratuku yang tak kan kubiarkan menderita sedikitpun. Semua akan baik - baik saja. Morgan.


Lelaki itu memeluk istrinya yang duduk di pangkuannya dan menghadap padanya.


Terimakasih sudah memberikanku cinta, dan semua berkah ini, Tuan. Eylina memejamkan matanya karena merasa nyaman berada di pelukan Morgan.


"Apa kau sudah siap?"


Morgan berkata dengan tidak melepaskan pelukannya. Ia membelai rambut indah istrinya.


"Kita akan kemana Tuan?" Eylina melepaskan pelukannya.


"Kau?" Lelaki itu mengernyitkan dahinya.


"Sayang, hehehe ... jangan marah. Lidahku masih terlalu kaku." Eylina menunduk.


"Kalau begitu belajarlah! Panggil aku sayang sesering mungkin."


Nah kan, aku kena lagi jadinya.


"Ayo, mulailah."


"Hhhh ...." Eylina menghela nafas panjang.


"Baiklah ... sayang."


"Lagi!"


"Sayang ...."


"Baiklah, sayang ... saayaang ... sayang ... bagaimana? Manis bukan?" Eylina tersenyum cerah.


"Hahahaha ...." tawa Morgan pecah melihat wajah istrinya. Ia lalu menariknya dan mencium keningnya.


"I love you." Lelaki itu tersenyum dan menatap lekat mata Eylina.


"You too ...." Jawab gadis itu secara singkat namun dengan tatapan mata yang penuh makna.


"Hahahaha ...." Keduanya lalu tertawa bersama dan saling memeluk dengan sangat erat untuk beberapa saat.


Morgan lalu melepaskan pelukannya, dan menatap gadis itu dengan dalam. Tak berapa lama bibirnya sudah menempel bibir mungil Eylina yang terlihat merah alami. Lelaki itu menciumnya dengan sangat lembut, menyalurkan rasa yang ada dalam hatinya.


Eylina memejamkan matanya, ia mulai mengikuti naluri yang ada di dalam dirinya dan berusaha membalas ciuman tersebut.


Aku mencintaimu, sangat mencintaimu Eylina. Batin Morgan setelah menyudahi permainannya.


Semoga ini bukanlah sebuah mimpi yang akan segera berakhir ya Tuhan.


Batin Eylina. Ia menatap lekat pada mata Morgan. Meski lelaki itu telah berhasil meyakinkannya, namun tetap saja jauh di dalam hatinya masih ada ketakutan.


Ia takut jika pada akhirnya semua ini hanyalah sebuah permainan baru yang dibuat oleh seorang yang biasa dipanggilnya Tuan Morgan.


Namun tidak bisa dipungkiri, jika hatinya telah tertaut, dia sudah sangat mencintai lelaki tersebut.


"Apa kau suka berada di pangkuanku seperti ini?"


Tanya Morgan, membuyarkan lamunan Eylina.

__ADS_1


"Hah? A ... apa?" gadis itu tergagap.


"Sini kulihat, sepertinya memang ada masalah pada telingamu." Lelaki itu menarik Eylina dan melihat kedalam telinga gadis itu.


"Bukan disini, tapi disini. Jantungku masih berdebar - debar." Tangan Eylina menyentuh dadanya ,pipinya kini bersemu merah.


"Oh ya? Mana kulihat."


"Aaa ... jangan, jangan. Aku hanya bercanda."


Kenapa selalu mengarah kesana sih? Senang sekali dia rupanya.


"Baiklah, ya sudah ayo kita berangkat. Aku ingin membawamu jalan - jalan. Sebut saja ini adalah kencan pertama kita." Sebuah kecupan singkat mendarat dibibir Eylina sebelum ia beranjak dari pangkuan Morgan.


"Baiklah, aku akan merias wajahku sebentar."


"Apa kau bilang?" Morgan menarik tangan Eylina yang baru saja akan melangkahkan kakinya hingga ia terduduk kembali di pangkuan lelaki tersebut.


"Aku akan merias wajahku sayang, sebentar saja." Kata Eylina dengan tidak berdosa.


"Untuk apa? Apa kau ingin menunjukkan kecantikan mu pada semua orang? Kau sudah menjadi milikku, jangan mencoba mencari perhatian pada pria lain."


"Tentu saja tidak sayang."


"Yasudah, ayo berangkat sekarang!"


"Tapi ...."


"Kenapa kau suka sekali membangkang? Apa kau mau ku hukum? Baiklah jika itu mau mu."


Morgan mulai melepaskan kancing kemejanya.


"Sayang, tidak ... baiklah, maafkan aku. Aku tidak akan merias wajahku sama sekali." Eylina tersenyum dan menggenggam tangan Morgan untuk menghentikan aksi gila dari suaminya.


Apa dia pikir aku ini mesin? badanku saja hampir remuk rasanya. Bahkan masih terasa perih dan panas di bagian bawah sana.


Eylina.


"Hanya aku yang boleh melihat kecantikan mu kau tahu? Pakai ini!" Morgan memakaikan topi dan kacamata hitam untuk Eylina serta sebuah masker.


Kini tak akan ada seorangpun yang akan mengenali jika itu adalah Eylina. Gadis itu mengenakan baju lengan panjang dan sangat tertutup hingga ke bagian leher. Celana jeans panjang, juga memakai sarung tangan. Kakinya pun terbungkus sepatu kets.


Seluruh tubuh Eylina sangat tertutup hingga membuat kulit gadis itu tak terlihat sama sekali.


Ya Tuhan, ini keterlaluan.


"Sayang, kurasa ini terlalu berlebihan." Ucapnya seraya memperhatikan dirinya dari bawah hingga ke atas, namun betapa terkejutnya ia saat menoleh ke arah suaminya dan mendapati suaminya juga memakai barang yang sama dengannya.


Eh? dia juga memakai kacamata, topi dan masker?


"Aku tidak ingin kita disorot media, dan aku tidak ingin mereka mengekspos wajahmu. Karena wajah cantik ini hanya milikku."


Kata Morgan dengan enteng seraya meraih dagu Eylina. Ia kemudian merangkul istrinya dan membawanya keluar.


Apa - apaan sih? Eh iya, dia kan memang menjadi pusat perhatian dimana saja.


Apa dari dulu dia juga sering terlihat di TV?


Ah, hanya Sista yang bisa menjawab pertanyaan ini. Tapi dimana dia sekarang?

__ADS_1


💗💗💗💗💗


__ADS_2