
Siang itu setelah makan bakso di pinggir jalan, Rey mengantarkan mereka pulang. Sementara dirinya harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan urusannya.
Morgan dan Eylina merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk untuk meluruskan punggung mereka yang pegal setelah aktivitas hari ini.
Hingga tak terasa mata keduanya terpejam.
Mereka terhanyut dalam dunia mimpi mereka masing - masing.
Waktu terus bergulir, Morgan mengerjapkan matanya saat sinar jingga yang menembus kisi - kisi jendelanya mulai nampak meredup.
Ia menoleh kesamping dan mendapati istrinya masih tertidur pulas. Matanya terus memandangi wajah cantik Eylina yang begitu polos, tangannya mengusap lembut pipi gadis itu.
Lelaki itu terlihat mengulas senyumnya.
Apa kau sengaja mengerjai ku hari ini? Kau membuat lidahku terasa terbakar. Dasar gadis nakal, beraninya kau ya? Baiklah aku akan memberimu hukuman untuk ulah mu hari ini.
Morgan mulai membuka kancing kemeja istrinya satu persatu hingga nampak lah benda kembar yang masih terbungkus itu.
Namun baru saja ia akan melancarkan aksinya, gadis itu menggeliat dan membuka matanya.
"Sayang, apa yang kau lakukan?" Tanya Eylina yang terkejut saat mendapati pakaiannya terbuka. Ia dengan cekatan menutupi bagian dadanya.
"Memangnya kenapa? Apa kau keberatan? Ini sudah menjadi milikku. Apa aku tidak boleh menikmatinya?" Kata Morgan mulai manja, ia mendekat dan memeluk dada Eylina lalu meletakkan kepalanya diatasnya.
"Bukan begitu, aku hanya terkejut." Gadis itu mengusap lembut kepala Morgan yang berada diatas dadanya.
"Baiklah, berarti kau mengijinkannya?" Dengan bersemangat lelaki itu bangun dan mengambil posisinya.
"Eh ... sayang, maksudku ...." Ucapan Eylina serasa tak akan berarti karena lelaki itu sudah memulai aksinya menyusuri setiap inci bagian tubuhnya. Meninggalkan jejak di sana sini. Nafasnya terdengar semakin memburu.
Hhhh ... ya sudah. Batinnya.
Gadis itu tak bisa menolaknya, karena tubuhnya pun juga menuntut untuk mendapatkan lebih.
"Itu hukuman untukmu." Kata Morgan dengan santai setelah pergulatannya sore ini.
"Apa?" Hukuman apa? Memangnya aku melakukan kesalahan apa? Lanjut Eylina dalam hatinya.
"Kau sengaja mengerjai ku hari ini kan?"
"Tidak! Kapan aku melakukannya?"
Eylina memiringkan badannya dan mencoba menatap suaminya.
"Kau dengan sengaja menyuruhku memakan makanan super pedas itu?" Morgan memonyongkan bibirnya.
"Hey ... itu tidak benar. Aku tidak tau kalau kau tidak bisa makan pedas."
"Benarkah?"
"Tentu saja, sayang kau mau apa?"
Eylina menarik selimutnya hingga menutupi bagian dadanya saat melihat tatapan nakal suaminya.
Gila apa? Masa iya mau memulainya lagi?
"Hahaha ... kau pikir aku mau apa?"
Lelaki itu mencium gemas pada pipi Eylina kenudian bangkit dan turun dari tempat tidurnya lalu masuk ke kamar mandi.
"Aku mau membersihkan badanku." Kata Morgan di ujung pintu kamar mandi.
__ADS_1
Hhh ... syukurlah. Batin Eylina lega.
Hahaha ... jadi dia merasa dikerjai? Apa sekertaris Rey juga tidak bisa makan pedas? Tapi tadi dia terlihat biasa saja.
Mmm ... atau itu karena perintah dari suamiku?
Hahaha ... aku tidak bisa membayangkan betapa tersiksanya dia jika ternyata memang dia sama seperti suamiku.
Eylina tersenyum - senyum sendiri.
Aww ... perutku sakit sekali.
Oh iya tanggal berapa sekarang?
Gadis itu meraih ponsel barunya yang ada diatas nakas. Mengotak - atik benda tersebut dan melihat kalender di dalamnya.
Oh ... pantas saja. Gumamnya kemudian.
Ia bergegas ke kamar mandi saat Morgan keluar dari sana.
"Sayang, ada apa?" Tanya Morgan dengan heran karena gadis itu berlari dan terburu - buru masuk ke kamar mandi.
"Tidak apa - apa sayang. Aku hanya sedikit sakit perut." Teriak Eylina dari dalam kamar mandi.
"Sudah kubilang jangan makan makanan itu, apa sakitnya parah?" Morgan yang ada di depan pintu itu merasa khawatir.
"Bukan karena makanan itu sayang, tapi karena hal lain." Gadis itu menjelaskan dengan setengah berteriak.
"Baiklah." Morgan berjalan ke arah ranjang dengan memakai handuk kimononya.
Matanya membelalak saat melihat bercak darah segar di atas selimut yang tadi dipakai istrinya. Dengan perasaan semakin khawatir ia berjalan ke arah kamar mandi dan menggedor pintunya.
"Sayang, kenapa ada darah disini? Kau kenapa? Cepat buka pintunya."
"Aku baik - baik saja sayang, boleh kah aku meminta tolong?" Gadis itu mengedip - ngedipkan matanya.
"Minta tolong apa? Kenapa ada darah disana?" Morgan menunjuk ke arah tempat tidur mereka. Ia memiliki trauma terhadap darah setelah kecelakaan bersama Alice dan menyaksikan gadis itu bersimbah darah waktu itu.
"Aku sedang haid sekarang, dan itu darah haid sayang. Aku baik - baik saja. Aku hanya butuh pembalut wanita saja. Bisa aku minta tolong?"
"Pembalut wanita, benda apa itu?"
Tanya Morgan tidak mengerti.
"Itu benda khusus untuk wanita sayang. Carilah di internet, ada gambarnya disana."
Tanpa banyak bertanya, Morgan pun mengikuti instruksi dari Eylina. Ia mengambil ponselnya secepat kilat dan mencari apa yang dimaksud oleh istrinya tadi.
"Yang mana?" Tanya Morgan seraya menunjukkan ponselnya pada istrinya.
"Sama saja sayang, itu hanya mereknya saja yang berbeda."
"Tapi aku tidak punya barang seperti ini." Morgan dengan wajah polosnya menatap pada mata istrinya. Hal itu membuat gadis itu tertawa.
"Tentu saja kau tidak punya sayang, ini barang khusus wanita. Mmm ... bisakah kau membelikannya di supermarket sebentar?"
Gadis itu mengeluarkan jurusnya, tatapan mengiba khas dengan mata dan wajahnya yang polos seperti anak kecil.
"Baiklah, aku ganti baju dulu."
Dan dengan secepat kilat lelaki itu berganti pakaian. Ia dengan tergesa - gesa berpamitan pada istrinya.
__ADS_1
"Aku berangkat dulu." Lelaki itu melambaikan tangannya lalu menghilang di balik pintu kamarnya.
Ia menuruni anak tangga dengan cepat.
Pak Gun yang melihat hal itu pun mengernyitkan dahinya.
Ada apa dengan tuan muda? Gumamnya seraya memandangi Morgan yang berjalan tergesa - gesa ke arah luar.
Morgan mulai melajukan mobilnya, membuat dua orang penjaga yang ada di depan gerbang utama saling menatap bingung satu sama lain. Yang mereka tau, tuan muda mereka tidak akan mengendarai mobilnya sendiri jika tidak dalam keadaan darurat.
Mereka memandangi mobil yang semakin menjauh itu dengan rasa heran dan penasaran.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi. Begitulah gumam mereka.
Setelah beberapa saat, Morgan pun membelokkan mobilnya di sebuah supermarket. Ia lalu turun dan dengan tergesa - gesa masuk ke dalam gedung tersebut.
"Hey ... kemarilah." Ia memanggil salah satu pegawai disana.
Astaga ... apa aku tidak salah lihat. Batin pegawai wanita tersebut. Ia masih terbengong melihat sesosok lelaki tampan yang sedang berjalan kearahnya.
"Hey, apa kau tidak mendengar ku?" Morgan menjadi sedikit kesal dibuatnya.
"Maaf Tuan. Ada yang bisa saya bantu." Wanita itu menundukkan wajahnya seketika.
"Ya, cari kan benda ini!" Perintahnya seraya memperlihatkan gambar yang ada di layar ponselnya.
Hah? Wanita itu membulatkan matanya melihat gambar yang ada di dalam ponsel tersebut.
"Hey! Cepatlah!" Kata Morgan sedikit keras.
"B ... baik Tuan." Wanita itupun segera bergegas pergi.
Bagaimana orang seperti itu bisa dipekerjakan disini, siapa yang memilihnya? Pantas saja perusahaan ini tidak berkembang dengan baik.
Batin Morgan.
Setelah beberapa saat kemudian wanita tersebut membawa troli yang berisi beberapa merek pembalut wanita dan menunjukkannya pada Morgan.
"Tuan ini adalah beberapa merek yang kami punya, anda ingin yang merek apa?"
Tanya wanita itu kemudian.
"Yang mana saja, pilihkan yang paling bagus!"
Kata lelaki itu dengan datar.
"Baik Tuan, anda ingin berapa bungkus?"
"Hhh ... ambilkan saja beberapa bungkus yang ukuran besar seperti itu."
"Baik Tuan, anda bisa menunggunya di kasir."
Kata pegawai tersebut dengan ramah.
Morganpun mengikuti kata wanita tersebut, ia berjalan ke kasir untuk menyelesaikan pembayarannya. Beberapa orang yang ada disana terbengong melihat lelaki tampan yang tengah menenteng beberapa kantong belanjaan berisi pembalut semua.
Untuk siapa benda tersebut, mungkinkah untuk istrinya? Mungkin begitulah batin mereka
Mereka jelas tau siapa lelaki tersebut, hanya saja mereka tidak akan menyangka jika lelaki itu akan rela terjun langsung untuk membeli benda seperti itu sementara ia bisa dengan mudah menyuruh orang lain.
Namun sepertinya Morgan tidak menyadari tatapan heran mereka, ia justru tengah tersenyum lebar karena telah berhasil menemukan benda yang sangat dibutuhkan oleh istrinya saat ini.
__ADS_1
💗💗💗💗💗💗