Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Aku Merindukanmu


__ADS_3

Eylina dan Sista mengobrol banyak hal hingga tak terasa waktu semakin terus bergulir dan menunjukkan pukul 10.00 pagi.


"Permisi Nona ...." seorang pengawal membuka sedikit pintu ruangan itu.


"Ya ... Tomy? Ada apa?" Tanya Eylina seraya menoleh pada pengawal tersebut.


"Saya hanya mau mengantarkan ini Nona, tuan muda yang mengirimkannya." Lelaki bertubuh kekar itu kemudian masuk dan menyerahkan sebuah box berisi makanan serta bertuliskan nama sebuah restoran.


"Oh iya ... terimakasih." Eylina menerima box tersebut dari tangan Tomy.


"Sama - sama Nona." Tomy menundukkan kepalanya kemudian kembali keluar.


"Ya ampun ... tuan Morgan perhatian banget sama Lo." Kata Sista.


Sementara Eylina hanya mengedihkan bahunya menanggapi ucapan sahabatnya. Ia pun juga tak bisa menjelaskannya. Bahkan dirinya pun juga


tidak habis pikir, kenapa suaminya bisa seperhatian itu padanya.


"Ya udah sarapan dulu yuk ...." Eylina mengambilkan makanan untuk sahabatnya.


"Lo aja yang makan, gue udah sarapan tadi."


"Yah ... nggak asik ah. Temenin gue makan dong. Masa makanan sebanyak ini gue makan sendiri sih?"


Akhirnya Sista pun mau tak mau harus mengikuti permintaan sahabatnya. Mereka berdua terlihat menikmati makanan tersebut.


*****


Sementara di Tempat Lain


"Sekertaris Rey, ini semua dokumen yang harus ditandatangani oleh tuan muda. Pastikan semuanya tertanda tangani dengan benar. Maaf aku tidak bisa menemani, aku ada urusan panjang hari ini dan harus berangkat lagi ke Singapore." Sekertaris Ji menyerahkan semua dokumen penting yang harus ditandatangani hari ini pada Rey.


"Terimakasih sekertaris Ji. Jangan khawatir, aku akan mengurus semuanya." Kata sekertaris Rey seraya mengulas senyum ramahnya pada sekertaris seniornya.


"Aku percayakan semuanya padamu. Sampaikan salam ku dan permintaan maaf ku pada tuan muda." Sekertaris Ji menepuk pundak sekertaris Rey.


"Tentu saja, nanti akan ku sampaikan." Rey mengantar lelaki paruh baya itu hingga ke depan gedung utama perusahaan.


"Baiklah, aku pamit." Sekertaris Ji menjabat tangan sekertaris Rey.


"Hati - hati di jalan." Sekertaris muda itu terlihat masih mengulas senyum seraya memandangi kepergian sekertaris seniornya.


Rey memang mengagumi sosok sekertaris Ji sejak dulu. Baik kinerjanya maupun staminanya yang prima. Bahkan diusianya yang lebih dari setengah abad, lelaki itu masih terlihat sangat lincah dan cekatan.


Setelah mobil yang dikemudikan sekertaris Ji menghilang dari pandangannya, Rey pun melangkahkan kakinya kembali ke ruangan meeting.


Semua orang yang ada di ruangan itu masih antusias mendengarkan kata demi kata yang terucap dari bibir Morgan.


Sekertaris Rey kembali duduk di kursinya dan meletakkan dokumen - dokumen yang ia bawa ke atas meja.


Setelah dua jam berlalu akhirnya meeting panjang yang dimulai sejak pukul 08.00 itupun selesai tepat pada pukul 12.00.


Morgan dan sekertarisnya pun keluar dari ruangan tersebut dan memilih mengobrol di cafe yang ada di dalam gedung tersebut.


"Tuan Muda, berikut ini adalah dokumen yang harus Tuan tanda tangani." Lelaki itu menyerahkan benda yang ada ditangannya pada Morgan.

__ADS_1


"Simpanlah dulu! Aku akan mengurusnya dirumah saja." Morgan menyesap kopi panasnya.


"Baik Tuan." Rey lalu membereskan dokumen tersebut dan memasukkannya ke dalam tas kerjanya.


Ia pun lalu meraih cangkir yang ada di hadapannya dan menikmati minuman panas yang baru saja disajikan itu.


Morgan nampak tersenyum, ia seperti mendapatkan sebuah ide.


"Rey, selama satu bulan kedepan ada jadwal apa saja?" Tanyanya kemudian.


"Sebentar Tuan." Rey meletakkan cangkir minumannya dan merogoh ponsel di sakunya dan terlihat sedang serius menatap benda tersebut.


"Ada banyak sekali jadwal penting, Tuan. Bulan ini sangat padat." Kata Rey kemudian.


Raut wajah Morgan pun berubah seketika. Ia yang tadinya tersenyum membayangkan sesuatu, kini berubah menjadi kesal.


"Apa tidak ada yang bisa dikosongkan atau dimundurkan jadwalnya?"


"Semua jadwal ini sudah dibuat sesuai janji yang telah disepakati oleh tuan besar sebelumnya, Tuan."


Morgan menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Ia sekarang adalah seorang Presdir baru, dengan kekuasaannya ia bisa saja melakukan apapun. Tapi karena kekuasaan itu pula ia bisa menghancurkan segalanya termasuk apa yang dimilikinya saat ini jika hanya menuruti egonya.


Lelaki itu terlihat tengah berpikir dan menimbang sesuatu.


"Apa ada hari kosong selain akhir pekan?" Tanyanya kemudian setelah menyesap minumannya.


"Ada Tuan, hari Jum'at depan." Rey menunjukkan layar ponselnya.


"Bagus, berarti aku bisa bersama istriku selama tiga hari. Atur persiapan untukku dan Eylina. Aku ingin mengajaknya bulan madu singkat."


Batin Rey.


"Baik Tuan." Hanya itulah kata yang boleh diucapkan oleh sekertaris Rey setiap mendapat perintah dari Morgan.


Meski dia sendiri sulit mengkondisikannya.


Setelah percakapan itu, Morgan dan Rey meninggalkan gedung tersebut dan menuju ke rumah sakit.


Morgan nampak beberapa kali menengok arloji yang melingkar ditangannya. Ia tak sabar rasanya ingin segera bertemu gadis yang menjadi pujaannya.


Lelaki itu berkali - kali berdecak kesal pada lampu lalu lintas yang menghentikan laju mobilnya.


Setelah cukup lama menahan kesabaran, akhirnya gedung rumah sakit itupun terlihat. Lelaki dewasa yang baru saja menemukan cintanya kembali itu terlihat tersenyum lebar saat mobil itu mulai memasuki halaman luas rumah sakit tersebut.


Ia yang sejak tadi gundah gulana lantaran merindukan gadis manisnya itupun langsung membuka pintu mobil tersebut tanpa menunggu tangan sekertarisnya.


Apa sebegitu cintanya anda pada nona muda Tuan?


Rey menggelengkan kepalanya seraya menatap tuan mudanya yang berjalan setengah berlari meninggalkannya.


Apa orang yang jatuh cinta akan semenjijikkan itu?


Batin Rey. Ia bergidik karena geli walau hanya membayangkannya.


Ketiga pengawal yang melihat kedatangan tuan muda bersama sekertarisnya itu menjadi pias. Mereka pasti akan terkena amarah dari kedua orang itu karena akan dianggap lalai bertugas dan bisa membahayakan Eylina, tapi disisi lain nona muda mereka juga memberi ancaman yang tak main - main yang bisa mengancam posisi mereka.

__ADS_1


"Selamat siang Tuan Muda." Sapa ketiga pengawal tadi dengan jantung yang berdegup tak beraturan.


"Ya, dimana Eylina?" Tanya Morgan tanpa basa - basi.


"Ada di dalam Tuan." Jawab Tomy seraya menundukkan kepalanya.


Morgan langsung masuk setelah Anton membukakan pintu ruangan tersebut.


Lelaki itu tersenyum lebar saat melihat pujaan hatinya tengah asik bercanda bersama sahabatnya.


Eylina yang menyadari kehadiran suaminya itupun juga tersenyum ke arah Morgan yang tengah berjalan ke arahnya.


Gadis itu terkejut, karena Morgan tiba - tiba memeluknya dengan erat saat dirinya baru saja berdiri untuk menyambut lelaki tersebut.


Dia kenapa?


Batin Eylina seraya menatap Rey yang berada di belakang punggung suaminya.


Namun ia tak mendapatkan jawaban karena Rey hanya mengedihkan bahunya.


"Aku sangat merindukanmu."


Kata Morgan dengan posisi tak berubah. Ia justru semakin erat memeluk gadis yang berdiri dihadapannya dan mengusap punggung Eylina dengan lembut.


Aku hampir gila karena menahan rinduku padamu.


Batin Morgan.


"Sayang ... dadaku terasa sesak." Kata Eylina.


"Aku sangat merindukanmu."


Morgan melepaskan pelukannya lalu menghujani Eylina dengan ciuman.


Ucapan Morgan semakin membuat Eylina bertanya - tanya.


Rindu apaan sih? Kayak pernah berpisah aja!


Batinnya.


Sementara Sista hanya bisa melongo melihat drama yang ada didepan matanya.


Ia tak menyangka jika lelaki yang selalu terlihat sangat dingin di televisi itu akan bertingkah seperti itu.


Astaga, apa ada yang bisa menamparku? Apa itu benar - benar tuan muda?


Batin Tomy. Lelaki itu nampak membulatkan matanya. Melihat lelaki yang biasanya tegas, berwibawa dan sangat dingin itu bertingkah demikian.


Tak beda jauh dari Tomy, Anton dan kawannya satu lagi pun sama terkejutnya. Mereka terlihat saling menatap satu sama lain. Seolah meminta penjelasan atas apa yang mereka lihat.


Astaga ... dia yang melakukan hal itu tapi justru aku yang merasa malu. Batin Rey.


Sekertaris itu nampak memijit keningnya.


💗💗💗💗💗💗

__ADS_1


__ADS_2