
Setelah mengantarkan tuan mudanya, Rey dan Sista berpamitan pulang dengan membawa barang-barang Sista.
Tidak disangka, keluarga itu masih memberikan banyak hadiah pada sepasang pengantin baru itu.
Tuan Wira serta istrinya memberikan sepaket perhiasan mewah untuk istri Rey.
Sementara Eylina memberikan tiket liburan, dan Emily memberikan beberapa gaun hasil rancangannya.
"Terimakasih banyak, Tuan. Tapi Sista rasa ini terlalu berlebihan," kata Sista setelah syok dengan hadiah-hadiah yang mereka terima.
Saat malam pernikahan, mereka sudah mendapatkan hadiah rumah baru, yang kabarnya lebih besar dan lebih mewah dari rumah Rey saat ini.
Dan sekarang ia dan suaminya kembali menerima hadiah yang bahkan lebih bertubi-tubi lagi seperti ini.
"Sista, ini semua tidak sebanding dengan yang sudah kau berikan pada kami. Jika bukan karena mu, aku tidak mungkin akan bersanding dengan salah satu bidadari Tuhan yang secantik ini," jawab Morgan seraya merangkul istrinya.
Semua orang tersenyum, membuat Rey dan Sista sama-sama merasa terharu lantaran mereka sudah sama-sama tidak memiliki keluarga.
"Sekali lagi terimakasih, Tuan. Tuan bersatu dengan Nona adalah karena takdir dari Tuhan, bukan karena saya,"
"Ya, ya ... anggap saja kau adalah perantara-Nya,"
Sista tersenyum dan mengangguk menanggapinya.
"Baiklah jika begitu kami pamit dulu, Tuan," pamit Rey.
"Ya, kau boleh cuti, Rey. Sekertaris Ji masih sanggup untuk mengatasi urusan kantor. Pergilah berlibur bersama istrimu, jangan pernah biarkan wanita kesepian!" bisik Morgan diakhir kalimatnya, yang sukses membuat wajah Rey sedikit merah lantaran dirinya sangat payah dan tidak tahu harus memperlakukan istrinya seperti apa.
Sepasang pengantin baru itu pun pergi dari hadapan keluarga besar tuannya.
Mereka pulang kerumahnya untuk bersiap-siap pindah kerumah yang baru.
__ADS_1
****
Sore itu, Sista sedang berdiri di balkon kamar. Ia menikmati pemandangan langit senja yang cukup indah dengan secangkir teh ditangannya.
Seseorang datang dan ikut berdiri disana. Hening cukup lama, karena merasa bingung akan bicara apa atau memulai apa.
"Kak, Reynard mau minum teh?" tanya Sista berusaha mengusir rasa sepi yang tercipta diantara mereka.
"Ya ... maksudku boleh juga. Aku sudah lama tidak minum teh," jawab Rey kikuk saat menyadari jika gadis yang dipandangnya menolehkan wajahnya kearahnya.
"Baiklah, tunggu sebentar! Aku akan membuatkannya," kata Sista seraya meletakkan minumannya di atas meja kecil disana.
Ia melangkahkan kakinya, namun sebuah tangan kekar menggenggam dan menghentikannya langkahnya.
Deg ....
Jantungnya terasa berhenti berdetak untuk sesaat, kemudian perasaan hangat mulai mengalir ke seluruh tubuhnya saat tangan kekar beralih mendekap tubuhnya dan mengusap rambutnya dengan lembut.
Sista memejamkan matanya menikmati aroma tubuh bercampur wangi yang keluar dari sosok yang sedang mendekapnya.
"Amel ... aku, aku ...."
Susah sekali, entah sejak kapan pria yang sangat berwibawa dan memiliki aura kuat ini menjadi gagap seperti ini. Jantungnya bahkan berdegup tidak sesuai irama yang seharusnya, rasanya ada sebuah genderang yang bertalu-talu di dalam sana.
"Aku menyayangimu, Kak," sahut Sista kemudian mencium pipi suaminya. Terlihat sekertaris Rey mengedipkan matanya dengan cepat. Menggemaskan sekali dimata Sista.
Ya, mungkin dirinyalah yang harus memulai dan banyak berinisiatif.
"Aku ingin kau tetap disamping ku," kata Rey seraya menatap mata istrinya.
Hanya itu, selalu kata-kata itu yang berhasil lolos dari bibir Rey.
__ADS_1
Jika boleh jujur, wanita yang kini masih ada di dalam pelukannya, kini merasa sedikit sebal.
Sejak ia dilamar, bahkan sampai hari ini sudah sah menjadi istrinya pun laki-laki itu belum pernah mengatakan cintanya atau sekedar rasa sayangnya.
Tapi Sista merasa senang juga, jika lelaki ini kesusahan mengatakan cinta, tentulah ia tidak mudah mendekati wanita lain.
Terbukti meski mereka telah menikah, Rey bahkan belum pernah walau hanya sekedar menyenggol area sensitifnya.
"Aku hanya akan berada disamping orang yang mencintaiku. Tapi sampai hari ini, kurasa belum ada yang mengatakannya," pancing Sista.
"Maksudmu?"
"Tentu saja, mana mungkin aku akan bertahan dengan orang yang tidak mencintaiku. Bukankah lebih baik aku pergi saja?"
"Apa yang kau katakan? Tidak ada orang lain yang bisa menjagamu selain aku,"
Kalimat itu lolos begitu saja dari bibir Rey, membuat Sista ingin tersenyum tapi dirinya belum cukup puas mendengar jawaban suaminya.
"Menjaga? Jika hanya menjaga tentu seorang body guard juga bisa. Aku bahkan juga bisa melakukannya sendiri,"
"Jangan bicara lagi! Aku tidak ingin kau hilang lagi,"
"Aku sudah besar, selama ini aku juga hidup sendiri, kan?"
"Jika kau masih banyak bicara, aku akan membungkam bibirmu,"
"Seperti apa?" tantang Sista.
Dalam hitungan detik Rey telah mendaratkan bibirnya pada bibir cerewet istrinya. Tapi sungguh malang, dia tidak tahu apa lagi yang harus dia lakukan. Jadi bibir mereka hanya menempel saja tanpa tindakan yang lebih jauh.
💗💗💗💗💗💗
__ADS_1
Geregetan?
Sama, author juga geregetan melihatnya 🙈