Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Keputusan Wira


__ADS_3

Tak butuh waktu lama untuk menunggu, mobil yang dibawa Rey berhenti tepat di depan Morgan dan Eylina.


Lelaki itu sangat cekatan membukakan pintu untuk keduanya seraya membungkukkan badannya.


Ia lalu mengemudikan mobil itu dengan kecepatan sedang menuju istana Wiratmadja.


"Sayang, apa papa akan marah karena kita telat sampai dirumah?" Tanya Eylina seraya menghadap suaminya dengan kepala yang sedikit dimiringkan.


"Seharusnya. Papa sangat tidak suka pada orang yang bermain - main dengan waktu." Jawab Morgan dengan enteng sembari mengedihkan bahunya.


"Oya? Lalu kenapa kau bisa sesantai ini?"


"Apa lagi memangnya yang bisa ku perbuat? Kau yang mengulur - ulur waktu. Kau juga yang harus bertanggung jawab kan?"


"Hah? sayang jangan menakuti ku. Ini bukan sepenuhnya kemauanku kan?" Eylina mulai gelisah.


"Aku tidak menakuti mu, tapi hal itu memang benar. Papa tidak suka orang yang terlambat." Morgan berkata dengan berpura - pura tidak peduli.


"Sayang, bagaimana aku mengatakannya."


Gadis itu sudah mulai memucat. Membayangkan bagaimana jadinya jika tuan Wira benar - benar marah. Morgan terlambat karena dirinya. Tapi bagaimana dia bisa menjelaskannya. Ia pun tidak ingin semua ini terjadi. Ia yang tadinya berencana mengunjungi Sista dan hanya ingin sedikit mengobrol untuk melepas kangen dengan sahabatnya itu. Namun ternyata keadaan yang terjadi malah justru seperti ini.


Eylina terlihat semakin gelisah, ia meremas - remas tangannya.


Sementara Lelaki di sampingnya sedang berusaha keras menahan tawanya melihat raut wajah istrinya yang pucat.


Ia beberapa kali membuang muka ke arah kaca jendela untuk menyembunyikan senyumnya.


Namun tanpa sengaja Eylina melihatnya, ia mengernyitkan dahinya.


Apa dia tertawa? *K*enapa?


"Sayang? Apa kau tertawa? Ada apa?" Gadis yang kebingungan melihat suaminya itu pun meraih wajah tampan suaminya yang menghadap ke jendela.


"Hahaha ...." Morgan tak bisa lagi menahan tawanya.


"Ada apa?"


"Kenapa wajahmu pucat sekali? Hahaha ... apa kau begitu takut kalau papa marah?"


"Tentu saja. Jantungku bahkan sudah berdebar - debar dari tadi."


"Hahaha ...." Morgan semakin tertawa kencang.


"Sayang, kenapa sih?" Gadis itu nampak kesal melihat tingkah suaminya yang terus menertawakannya.


"Papa tidak marah, dasar bodoh! Aku sudah menjelaskan pada papa. Kenapa kau takut sekali?" Morgan memencet hidung Eylina.


Apa kau tidak bisa merasakannya, papa sangat menyayangimu. Morgan.


"Ihh, kenapa tidak bilang dari tadi? Apa kau sengaja?" Eylina memukul bahu suaminya. Ia kesal sekali, setelah tadi dibuat jantungan oleh sahabatnya dan sekarang suaminya mengerjainya hingga ia kembali berdebar - debar karena takut dan bingung bagaimana akan menghadapi kemarahan papa mertuanya.


"Hahaha, aku suka melihat wajah panik mu seperti itu." Lelaki itu kemudian merangkul dan memberondong Eylina dengan ciuman singkat di pipinya.


"Tunggu, kenapa kau masih memanggilku bodoh? Apa aku sebodoh itu?" Eylina menghentikan bibir Morgan yang hendak menciuminya lagi. Ia menatap lekat mata suaminya.


"Karena kau sangat polos dan menggemaskan." Morgan mendaratkan ciumannya di kening Eylina.

__ADS_1


"Tapi kenapa harus kata 'bodoh'?"


Dari awal dia selalu memanggilku bodoh, hey bodoh ... dasar bodoh, tidak ada panggilan lain apa? Eylina memonyongkan bibirnya.


"Baiklah, maafkan aku." Entah kenapa memanggilmu bodoh terasa sangat menggemaskan. Lanjut Morgan dalam hati seraya mengusap - usapkan hidung mancungnya pada pipi istrinya.


"Sayang ... aw, jangan! hahaha ...." Eylina menggeliat dan tergelak saat Morgan mulai nakal dan mengendus - ngendus leher jenjangnya. Serta tangannya yang menggelitik pinggang ramping miliknya.


Apa saja yang mereka lakukan. Huufff ....


Sekertaris Rey menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya.


"Ini milikku." Lelaki itu tak berhenti, ia justru semakin menenggelamkan wajahnya di leher Eylina.


"Sayang, sudah .... hahaha ... Cukup sayang!"


"Aw ... kau berani mencubit pinggangg ku?"


"Tidak, tidak ... jangan disini." Tangan Eylina menahan bibir suaminya yang hendak menyerangnya.


Sepasang suami istri yang baru saja menemukan kebahagiaannya itu asik bercanda sendiri tanpa menghiraukan seorang lelaki yang sedang fokus mengemudi di kursi depan.


Mereka tertawa terbahak - bahak dan saling menggoda satu sama lain, bahkan keduanya sempat berpagutan mesra dibelakang sang pengemudi.


Hingga tak terasa mobil yang membawa mereka telah sampai di halaman kediaman keluarga Wiratmadja.


Para pelayan beserta kepala pelayan pun sudah berbaris di depan pintu, sesuai protokol.


Morgan dan Eylina merapikan rambut dan pakaian mereka yang acak - acakan, kemudian turun setelah sekertaris Rey membukakan pintu untuk keduanya. Mereka pun segera bergegas masuk ke dalam rumah.


"Selamat sore Tuan Muda, Nona Muda." Ucap kepala pelayan seraya membungkukkan badannya, diikuti oleh para pelayan lain.


"Ada di ruang kerjanya Tuan."


"Sayang, kau naiklah ke kamar. aku akan menemui papa dulu bersama Rey."


Ucap Morgan pada Eylina seraya mengusap punggung gadis itu dengan lembut serta mencium keningnya.


"Baiklah." Eylina pun secara reflek mencium pipi suaminya. Kemudian berlalu menuju ke kamarnya.


Hal itu membuat Morgan tersentuh, ia pun tersenyum tipis setelah mendapat perlakuan itu dari Eylina. Ia memandangi gadis yang tengah berlari - lari kecil menuju kamarnya tersebut hingga menghilang dari pandangannya.


"Mari Tuan." Kata Pak Gun, lelaki itu kemudian berjalan mendahului Morgan dan sekertarisnya. Ketiga lelaki yang bertubuh tinggi besar itu melangkah dengan langkah yang lebar dan sedikit tergesa - gesa, mereka berhenti di sebuah ruangan yang merupakan ruang kerja tuan Wira.


Tok ... tok ... tok ....


Kepala pelayan itu mulai mengetuk pintu. Dan membukanya setelah mendapat jawaban dari sang pemilik ruangan.


"Permisi Tuan, Tuan Muda sudah datang." Ucap pak Gun dengan sopan sembari menundukkan kepalanya. Kemudian Morgan dan sekertarisnya pun menyusul masuk.


"Morgan! Putra papa, kemari lah." Wira berkata disertai senyum di bibirnya.


"Papa, bagaimana kabar Papa?" Morgan memeluk papanya. Entah sudah berapa lama ia tidak melakukannya. Sejak kepergian Alice, ia berubah menjadi lelaki yang sangat dingin. Dan kini kehadiran Eylina mampu membuat lelaki itu bisa tersenyum hangat kembali.


"Papa sangat baik, papa bangga sekali padamu. Duduklah!" Wira melepaskannya pelukannya.


"Rey, kerjamu juga sangat bagus." Puji Wira seraya tersenyum ke arah sekertaris Rey.

__ADS_1


"Terimakasih Tuan, hal itu sudah menjadi kewajiban saya." Rey pun menundukkan kepalanya.


"Pak Gun tolong buatkan minuman untuk kami." Perintah Wira pada kepala pelayan kepercayaannya.


"Baik Tuan." Pak Gun menundukkan kepalanya kemudian berlalu. Ia menutup pintu ruangan itu dengan tanpa suara.


"Papa tidak menyangka acara peresmian itu akan sesukses itu. Papa bangga sekali melihatmu sangat luwes memberikan sambutan panjang lebar pada para tamu itu. Kau melakukannya jauh diatas ekspektasi papa. Papa merasa kau memang sudah pantas untuk menggantikan papa Nak. Kau tahu? Sejak hari itu, nilai saham kita semakin meningkat. Papa senang sekali."


Wira memulai percakapannya yang panjang. Senyumnya terus mengembang karena rasa bangganya pada putranya.


"Morgan hanya berusaha melakukan yang terbaik Pa."


Lelaki tampan itu nampak tersenyum. Dia sudah bertekad dalam hatinya, ia berjanji akan mengembangkan Globalindo menjadi lebih besar lagi agar bisa menguasai seluruh daratan Asia suatu saat.


"Papa sudah cukup melihat kesungguhan mu Nak. Dan hari ini papa akan serahkan semuanya padamu. Papa sudah tua Morgan, papa ingin menikmati masa tua papa dengan tenang. Tanpa memikirkan urusan perusahaan yang membuat kepala papa panas."


"Terimakasih Pa, Papa telah mempercayakan semuanya pada Morgan. Morgan akan berusaha menjaga amanah Papa dengan baik. Dan Papa bisa menikmati masa tua Papa sesuai yang Papa mau." Morgan menatap lekat ke dalam mata papanya. Melalui tatapan itu ia berusaha meyakinkan ucapannya.


Kau benar - benar gadis yang hebat, Eylina. Kau telah berhasil membuat putraku kembali menjadi Morgan yang dulu. Morgan yang penuh dengan ambisi dan bergairah dalam menjalani hidupnya. Setelah sepuluh tahun aku kehilangan putraku, dan kini dia kembali dengan semangatnya yang baru berkat dukungan mu. Batin Wira. Ia tersenyum simpul.


Aku akan bekerja keras untuk mempertahankan semua ini. Dan juga untukmu Eylina, serta untuk anak - anak kita kelak. Morgan tersenyum, bayangan Eylina menari - nari di dalam kepalanya. Ia merasa lega hari ini. Cinta gadis itu sudah ia dapatkan, begitu juga kepercayaan dari papanya.


Kini ia telah siap untuk mengepakkan sayapnya lebih lebar dan membawa perusahaan yang ia pimpin untuk merajai seluruh daratan Asia.


"Rey, aku percayakan padamu. Aku yakin kau dan Morgan mampu membawa perusahaan ini menjadi lebih besar lagi." Wira berkata dengan mantap.


"Terimakasih Tuan, saya akan berusaha sebaik mungkin."


"Sekertaris Ji akan mengurus semua dokumennya. Ia akan menyerahkannya padamu besok. Dan untuk kedepannya, Sekertaris Ji akan menjadi penasehat bagi kalian berdua. Dia juga sudah tua, sama sepertiku. Ia harus banyak beristirahat agar bisa menikmati hari tuanya."


"Baik Tuan." Rey menundukkan kepalanya.


Tak berapa lama pak Gun datang membawa nampan berisi minuman untuk semua orang yang ada di ruangan itu. Ia menyajikannya dengan sangat hati - hati.


"Terimakasih pak Gun." Ucap Wira pada lelaki yang berdiri tak jauh dari tempatnya.


"Sama - sama Tuan." Lelaki itu mengangguk dengan sopan.


"Oh ya Morgan, apa yang kau katakan saat acara peresmian itu adalah sebuah kode? apa benar istrimu tengah mengandung? Apa ini artinya papa bisa segera menimang cucu?"


Tanya Wira dengan antusias.


"Tidak Pa, Morgan hanya asal bicara saja untuk memuaskan mereka. Eylina belum hamil, papa tau usia pernikahan kami baru satu bulan lebih. Kami masih mencoba untuk mengenal satu sama lain. Tapi Morgan tetap berharap hal itu bisa terkabul secepatnya." Lelaki itu kemudian tersenyum.


"Hahaha ... papa senang melihatmu begitu antusias. Ayo minumlah." Wira mengangkat cangkir minumannya. Diikuti oleh Morgan dan Rey, mereka menyesap minuman yang ada di tangan mereka masing - masing.


Diantara semua orang yang berada di ruangan itu, Rey adalah orang yang paling merasa lega. Karena tepat sebelum keputusan tuan besarnya diumumkan, Morgan dan Eylina telah lebih dulu bersatu dan menyatakan perasaannya. Sehingga tidak akan ada perpisahan diantara keduanya. Ia tidak bisa membayangkan jika keadaannya masih kacau seperti awal mula kontrak perjanjian itu dibuat.


Eylina mungkin akan menuntut untuk dilepaskan setelah tau jika tuan Wira telah menyerahkan hak dan kuasanya pada suaminya. Dan jika hal itu terjadi, dirinya pun tidak akan bisa berbuat apa - apa.


Lelaki itu mungkin bukan hanya akan kehilangan pekerjaannya, tapi ia bahkan bisa kehilangan nyawanya karena telah berani bekerjasama dengan putranya dan membuat perjanjian kotor tersebut.


💗💗💗💗💗💗


No spam di kolom komentar ya 😘


Mohon pengertiannya.

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2