
Eylina terkejut atas teriakan Morgan yang tiba - tiba. Ia lalu berjalan mendekatinya dan memeriksa apa yang terjadi.
Lelaki itu tampak masih memejamkan mata namun wajahnya nampak berkeringat. Seperti terjadi sesuatu yang tidak beres dalam mimpinya. Mimpi buruk.
"Tuan ... Tuan muda." Eylina mengguncangkan bahu Morgan. Berusaha untuk membangunkannya.
"Tidaaaak ... huh ... huh ... huh ...." Morgan membuka matanya. Nafasnya tampak memburu. Keringat dingin menyerangnya tanpa ampun. Dan jantungnya berdegup sangat kencang.
Wajahnya nampak pucat. Ia berusaha mengembalikan kesadarannya dengan mengusap wajahnya secara kasar.
"Anda tidak apa - apa Tuan?" Eylina menyodorkan segelas air setelah Morgan benar - benar sudah sadar dan langsung diminum hingga habis oleh lelaki tersebut.
"Tidak ... tidak apa - apa. Maaf mengejutkanmu. Beristirahatlah!" Morgan melakukan gerakan mengusir dengan tangannya lalu kembali merebahkan tubuhnya tanpa menoleh pada Eylina.
"Ah ... iya. Tidak masalah Tuan." Eylina meletakkan gelas itu diatas nakas lalu berjalan kembali ke sofa dan merebahkan tubuhnya.
Ada apa dengannya? aku tidak salah dengar kan? bukankah tadi dia mengucap maaf? Ah ... sopan sekali. Dia terlihat seperti manusia normal. Apa dia bermimpi tentang monster? Ah entahlah, lebih baik aku tidur. Eylina menggelengkan kepala. Ia tidak tau apa yang terjadi pada Morgan dan tidak mau memikirkannya.
Tak lama setelah itu, gadis itupun sudah terlelap.
Sementara Morgan, dirinya masih berusaha menguasai perasaan dan hatinya. Bayangan masa lalu itu kembali muncul setelah bertahun - tahun ia mencoba menguburnya.
Keringat dingin kembali menyerangnya, mengingat kejadian 10 tahun yang lalu.
Flashback onβ£οΈ
"Makasih ya beib atas hadiahnya." Alice nampak menggelayut manja di lengan Morgan yang sedang fokus mengemudikan sebuah mobil sport dengan kecepatan tinggi di jalanan kota yang sedang lengang malam itu.
"Sama - sama, I love you." Morgan meraih dan mencium tangan Alice lalu menatap gadis itu.
"I love you too." Sebuah ciuman mendarat di pipi Morgan.
Dua orang yang sedang dimabuk cinta itu sudah merencanakan akan melangkah ke pelaminan setelah Alice menyelesaikan pendidikannya.
Morgan dan Alice sama - sama memiliki keyakinan jika cinta yang mereka bina akan mendatangkan kebahagiaan bagi keduanya.
Morgan adalah cinta pertama bagi Alice, begitu juga sebaliknya. Keduanya memiliki harapan besar atas cinta mereka. Ikatan hati yang begitu kuat membuat keyakinan itu semakin besar.
Namun saat mereka sedang asik beradu pandang, dalam sekejap sebuah mobil dengan kecepatan tinggi muncul dari arah berlawanan. Hingga mengagetkan keduanya dan membuat Morgan kesusahan mengendalikan kemudinya.
__ADS_1
Mobil yang mereka tumpangi pun menjadi oleng dan menabrak sebuah tiang listrik dengan sangat keras. Sisi yang ditumpangi Alice ringsek seketika. Membuat gadis yang tak memakai sabuk pengaman itu mengalami benturan keras di bagian kepala dan tulang lehernya.
Darah pun mengalir hebat, keluar dari telinga dan kepalanya.
"Tidak ... tidaaak ... Alice, bangunlah. Buka matamu, sayang jawab aku. Alice ... jawab aku." Morgan dengan segera menghubungi ambulans.
Dan membawa gadis itu ke rumah sakit milik keluarganya.
Namun nyawa Alice tak tertolong lantaran ia terlalu banyak kehabisan darah.
"Tidaaakkkk." Morgan menangis sejadi - jadinya di samping jenazah kekasihnya yang masih bersimbah darah.
Seolah tak rela jika gadis yang sangat ia cintai itu pergi meninggalkannya begitu cepat.
Mengkhianati janji mereka. Menghancurkan mimpi yang mereka bangun dan merusak kepercayaannya akan kekuatan cinta yang selama ini mereka agungkan.
Perasaan sakit itu tergambar jelas di wajah Morgan. Ia menjadi orang yang begitu dingin setelah kepergian satu - satunya gadis yang ia puja dan cintai.
Morgan lebih banyak diam, dan mencoba melupakan rasa cintanya pada mendiang Alice.
Sejak saat itu ia menutup rapat hatinya. Tidak ingin jatuh cinta dan diperdaya oleh perasaan tersebut.
Kehilangan kekasih dengan begitu tragis, membuat Morgan membenci rasa cinta itu. Ia tak ingin merasakan kesakitan yang sama seperti saat ia kehilangan cintanya saat itu.
Semakin lama wanita - wanita itu semakin terlihat menjijikkan dimata Morgan.
Flashback offβ£οΈ
Morgan meraih sebuah foto di dalam laci. Sebuah foto gadis cantik berambut coklat dengan mata bulat dan tahi lalat di dagunya.
" Aku sudah merelakan mu Alice, beristirahatlah dengan tenang disana." Lelaki itu mengusap lembut foto tersebut. Seolah sedang membelai wajah cantik yang sedang tersenyum dan tergambar di dalam foto itu.
"Maafkan aku, aku telah menikah Alice. Tapi asal kau tahu, aku tidak mencintai gadis itu. Aku masih tetap menjaga hatiku. Dan kurasa aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi." Morgan berkata seolah Alice masih berada disampingnya.
Tapi hatinya bergetar saat mengatakan jika ia tidak akan jatuh cinta. Entah kenapa bayangan Eylina justru muncul di pikirannya.
Morgan kemudian meletakkan kembali foto tersebut ke dalam laci.
Ia mencoba memejamkan matanya.
__ADS_1
Tak berselang lama lelaki itu sudah berada di alam mimpi.
Ia melihat Alice tersenyum lebar dan melambaikan tangan.
Gadis itu nampak menggandeng seorang wanita, dan berjalan mendekati Morgan.
Meraih tangan Morgan dan menyatukan tangan itu dengan tangan seorang wanita yang ia bawa. Wajah wanita itu begitu bersinar hingga Morgan tak bisa melihat siapa gerangan dirinya.
Alice lalu melangkahkan kakinya menjauh, dan semakin menjauh. Namun wajahnya masih nampak tersenyum. Seperti sedang bahagia.
*****
Morgan membuka matanya saat matahari masih malu - malu menampakkan dirinya.
Awan - awan hitam nampak bergerombol menghalangi sinarnya.
Lelaki itu berjalan dan membuka jendela kamarnya, dan disambut dengan terpaan angin yang cukup kencang. Membuatnya menutup kembali jendela besar tersebut.
Dan memilih untuk melihat pemandangan luar dari balik kaca.
"Tuan ... apa anda akan mandi sekarang?" Eylina berdiri dibelakangnya.
"Hemm" Lelaki itu berbalik dan melangkahkan kakinya saat Eylina akan melepaskan pakaiannya.
Aneh ... dia kenapa? tumben tidak banyak memerintah. Biasanya dia tidak akan ke kamar mandi sebelum aku melepaskan semua pakaiannya. Ya sudahlah pekerjaanku jadi lebih ringan sekarang.
Eylina lalu berjalan hendak menyusul tuan mudanya sebelum tuan itu memintanya.
Eh ... dikunci? Aneh sekali. Ah ya sudah, aku tunggu disitu saja.
Eylina mencoba membuka pintu kamar mandi namun pintu itu terkunci dari dalam. Ia pun memutuskan untuk menunggu di sofa.
Ada apa dengannya? apa dia bermimpi aneh semalam. Sikapnya tidak seperti biasanya.
Eylina bergumam sendiri.
Ia bangkit berdiri saat Morgan keluar dari ruang ganti. Lelaki itu memakai pakaian serba hitam. Membuat Eylina semakin bertanya - tanya.
"Bersiap - siaplah. Kau harus ikut denganku. Dan pakailah pakaian yang sopan." Morgan menyisir rambutnya di depan cermin.
__ADS_1
"Ba ... baik Tuan." Meski dengan pikiran bertanya - tanya. Namun Eylina tetap melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Morgan.
πππππππ