Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Jalan - Jalan (Part 2)


__ADS_3

Mobil hitam mewah yang membawa Morgan dan Eylina berbelok ke arah gedung besar dan megah, yang tak lain adalah sebuah pusat perbelanjaan terlengkap dan termegah di kota ini.


Sekertaris Rey menghentikan mobilnya tepat di depan pintu utama gedung tersebut.


Ia lalu membukakan pintu untuk dua orang yang duduk di kursi penumpang.


Morgan dan Eylina pun turun, sementara sekertaris Rey terlihat menelepon seseorang yang ia perintahkan untuk mengurus mobil yang ia kendarai tadi.


Eylina terbelalak saat matanya menangkap tulisan besar yang merupakan nama dari mall tersebut "Global Mall" begitulah yang tertera disana.


Apa gedung ini juga milik keluarga tuan Wira.


Jika iya, aku tidak bisa membayangkan. Sebanyak apa kekayaan keluarga itu.


Gadis itu bahkan merinding walau hanya membayangkannya.


Pantas saja, banyak wanita mendambakan dan memperebutkan posisi sebagai istri tuan muda. Oh ya Tuhan, aku harus banyak bersyukur padaMu. Aku yang dulu tak berminat menjadi istrinya, dan menolaknya mentah - mentah namun kini justru akulah yang berada disamping tuan Morgan. Menjadi istrinya, dan dicintainya. Menempati posisi yang paling diinginkan oleh hampir seluruh gadis di negri ini.


Eylina menatap haru pada lelaki yang telah memberinya cinta dan rasa nyaman saat ini.


"Sayang, gedung ini megah dan indah sekali. Apa kau tahu siapa pemiliknya?" tanya Eylina dengan mata penuh harap.


"Hahaha ... aku bisa memberimu seratus gedung seperti ini jika kau mau." Kata Morgan dengan enteng seraya memakaikan masker pada dan kacamata pada gadis itu.


"Hehehe ... tidak, tidak perlu. Untuk apa gedung sebanyak itu." Eylina membenarkan posisi kacamata serta topinya.


"Jangan banyak bicara, ayo masuk."


Lelaki itu menggandeng tangan Eylina dan melangkahkan kakinya bersama - sama menuju bagian dalam gedung tersebut.


Sementara sekertaris Rey mengikuti dari kejauhan, lelaki itupun sama seperti tuan dan ona nya. Ia juga memakai topi, kacamata hitam serta masker.


"Apa kau pernah kemari sebelumnya?"


Tanya Morgan.


"Tidak, gedung - gedung seperti ini terlalu mewah untuk ku injak hehehe ...."


Aku bahkan tidak pernah berpikir untuk bermain atau berjalan - jalan ke tempat - tempat seperti ini sebelumnya. Waktu dan pikiranku hanya berkutat pada uang, uang dan uang. Untuk kebutuhan kami semua. Meski begitu, entah kenapa uang yang ku hasilkan tak pernah cukup dan malah punya banyak hutang pada Sista. Eylina.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Tidak apa - apa, bukankah semua barang yang dijual disini sangat mahal? kami tidak punya cukup uang untuk berbelanja barang - barang seperti itu."


"Oya?"


"Hahaha ... sayang bukan hanya aku saja. Kurasa orang satu kampung ku juga banyak yang belum pernah berjalan - jalan di gedung seperti ini."


"Apa kau yakin?"


"Tentu saja, aku hafal kehidupan mereka. Karena kami bertetangga dan hubungan diantara kami juga dekat."


"Kalau begitu nikmatilah, ambil apapun yang kau inginkan." Morgan mengusap bahu gadis yang berada di rangkulannya. Kemudian mengajak gadis itu berbelok di sebuah toko perhiasan yang mewah. Toko itu lebih nampak seperti sebuah galeri karena tempatnya yang luas.


Lelaki itu meminta design perhiasan terbaru dan termewah yang ada ditoko itu.


Dan pilihannya jatuh pada sebuah cincin dengan permata ditengahnya.


Ia kemudian memakaikannya di jari manis Eylina.


Morgan lalu mengusap lembut tangan gadis itu, dan menciumnya.


"Ini tagihannya Pak." Seseorang menyerahkan selembar kertas yang bertuliskan nominal yang membuat mata Eylina membelalak.


Ia menutup mulutnya yang terlapisi masker karena kaget melihat kertas tagihan tersebut walau sedari tadi ia tidak mengeluarkan suara.


Dan pegawai itupun melakukan hal yang sama dengan yang baru saja Eylina lakukan.


Pegawai wanita itu menutup mulutnya saat tau siapa yang tengah berada di hadapannya itu.


"Maafkan saya Tuan Muda." Wanita tersebut lalu membungkukkan badannya setelah melihat nama yang tertera pada tanda pengenal yang ditunjukkan oleh Morgan. Sontak saja ucapan wanita itu membuat pegawai lainnya beserta manager toko tersebut menoleh kepadanya secara bersamaan kemudian mendekatinya.


"Ada masalah apa?" Tanya manager toko tersebut dengan raut wajah yang sedikit khawatir.


"Tidak ada masalah apa - apa pak, saya hanya tidak tahu jika beliau adalah tuan Morgan." Jawab wanita itu dengan wajah pias.


Bagaimana aku bisa mengenalinya, tuan Morgan dan istrinya berpakaian sangat tertutup dan juga menutupi wajahnya dengan masker. Apa aku akan kehilangan pekerjaanku setelah ini?


Batin wanita itu dengan jantungnya yang masih berdebar - debar karena takut.


"Sudahlah, lanjutkan saja pekerjaan kalian." Kata Morgan dengan santai, ia lalu mengambil beberapa lembar uang sebagai tip atas kerja keras mereka.


"Kau, pertahankan sikap ramah mu pada setiap orang yang datang kesini. Tak peduli siapa pun mereka, apakah mereka akan membeli atau hanya melihat saja." Lanjut Morgan, ia berkata pada wanita yang tadi melayaninya.

__ADS_1


"Baik Tuan Muda, terimakasih atas kemurahan hati Tuan." Ucap manager toko itu, ia lalu membungkukkan badannya begitu pula anak buahnya. Semua pegawai itu membungkukkan badan mereka sebelum Morgan dan Eylina pergi.


Morgan merangkul pinggang istrinya dengan mesra dan melangkahkan kakinya keluar dari toko tersebut.


Semua pegawai wanita yang ada di toko itu memandang kepergian sepasang suami istri itu dengan tatapan memuja.


Uuuhhh ... andai aku yang jadi nona muda nya. Pasti aku akan jadi wanita paling bahagia. Tuan Muda so sweet banget. Batin salah satu diantara mereka sambil memegangi pipi dan menatap pasangan tersebut.


"Jaga sikap kalian! Masih untung tuan muda sedang baik suasana hatinya. Cepat kembali bekerja!" Perintah Rey yang saat ini berdiri di samping salah satu pegawai toko seraya membuka masker dan kacamatanya. Ucapannya membuyarkan lamunan pegawai wanita yang tengah tersenyum - senyum sambil memandangi Morgan dan Eylina yang sudah nampak jauh dari toko.


"Ba ... baik Tuan." Wanita itu menjadi pucat seketika, ia lalu membungkukkan badannya dan kembali masuk ke dalam toko. Para pegawai lain juga tak kalah pucatnya, begitu pula manager toko itu. Sendi - sendinya terasa lemas karena keringat dingin menyerangnya tanpa ampun setelah mendapat tatapan tajam dari sekertaris tersebut.


Sekertaris Rey memakai kembali masker dan kacamatanya, kemudian berlalu dari toko itu.


Pria tampan menawan dengan aura kuat itu terlihat sangat menakutkan dimata para pegawai toko tadi. Begitu kuat auranya, ia bahkan bisa membuat lawan bicaranya sesak nafas walau hanya dengan bertatap mata saja.


Sementara dua orang yang sedang dimabuk asmara itu tengah asik memilih pakaian di salah satu butik ternama yang ada di dalam mall tersebut.


"Sayang, untuk apa membeli pakaian lagi? bukankah pakaianku sudah banyak?" Aku bahkan belum memakai semuanya, mungkin baru seperlimanya saja yang kupakai. Lanjut Eylina dalam hati.


"Tapi aku sedang ingin membelikan mu pakaian baru." Jawab Morgan dengan tanpa beban seraya membolak balikkan pakaian - pakaian yang tergantung rapi dihadapannya.


"Apakah harus sekarang?"


"Jadi kau tidak mau? Baiklah, lalu apa yang kau mau?" Morgan menghentikan aktivitasnya, ia melepaskan kacamata Eylina untuk melihat mata indah gadis itu.


Dia ini bagaimana sih? melepaskan kacamataku tapi kacamatanya sendiri tidak dilepas, bagaimana aku bisa melihatnya.


"Mmm, sayang bisakah kita mengunjungi Sista? Entah kenapa aku teringat terus padanya." Gadis itu menyatukan kedua tangannya, seolah memohon.


"Baiklah, tapi kurasa kita perlu mengisi tenaga dulu. Oke?"


Lelaki itu memakaikan kembali kacamata Eylina.


"Baiklah." Kata gadis itu dengan ceria.


Wajahmu pasti sangat menggemaskan jika tidak tertutup benda sialan ini. Hhh ... tapi jika dilepaskan bisa - bisa mata para lelaki disini memandangi mu tanpa berkedip.


Lelaki itu terlihat kesal sendiri karena tak bisa melihat wajah istrinya.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—

__ADS_1


Selamat menikmati Double up gais😘😘


__ADS_2