Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Bonus 3


__ADS_3

"Pergilah ke kamar mandi dan bersihkan tubuhmu!" saran Rey.


"Baiklah," jawab Sista singkat lalu bergegas ke kamar mandi.


Beberapa saat setelah masuk ke kamar mandi, Sista pun keluar kembali.


"Ada apa?" tanya Rey.


"Aku belum melepaskan riasan di kepalaku, juga di wajahku."


Sista melangkahkan kakinya dan duduk di meja sofa. Ia bingung karena tidak ada apa - apa disini yang bisa ia pakai untuk membersihkan wajahnya.


Disini juga hanya ada kaca besar, tidak ada meja rias.


Bagaimana aku bisa membersihkan wajahku?


Sista hanya terdiam duduk di sofa, sementara suaminya sibuk dengan ponselnya. Ya, lelaki itu pasti sangat sibuk memeriksa beberapa laporan - laporan dari anak buahnya.


Wajahnya terlihat serius sekali di mata Sista, hingga membuatnya tak enak hati jika harus mengganggunya.


"Kau bilang mau membersihkan wajahmu?"


Suara Rey membuyarkan lamunan istrinya, membuat Sista pun menoleh.


"I-itu, aku ... maksudku, apa kak Reynard punya sesuatu yang bisa ku gunakan untuk membersihkan wajahku?" tanya Sista sedikit ragu dan canggung.


"Apa saja yang kau butuhkan?"


"Aku butuh semacam milk cleanser beserta kapas, atau oil cleanser juga face wash,"


"Ada lagi?"


"Tidak ada ... emm aku masih punya stok, apa kita bisa mengambil barang - barang ku di rumah Tuan Morgan?" tanyanya ragu - ragu.


"Apa barang - barang itu masih berharga?"


Gimana sih? Tentu saja berharga, kenapa harus ditanya.


"Emm ... beberapa masih sangat berharga, ada sebagian dari barang - barang ku adalah peninggalan dari ibu,"


"Baiklah, besok aku akan menyuruh orang untuk mengemasi barang - barang itu. Untuk malam ini, aku hanya punya sabun wajah untukmu. Apa kau bisa menggunakan ini?" Rey memberikan satu tube sabun wajah pada istrinya.

__ADS_1


"Ini ... inikan untuk laki - laki, aku tidak bisa menggunakan ini. Lebih baik aku pakai sabun mandi saja, tidak masalah."


"Baiklah akan ku suruh orang untuk mencari benda itu," kata Rey datar seraya mengotak - atik ponselnya. Lelaki itu mengetik pesan dan mengirimkannya pada seseorang.


Ini mungkin sedikit gila, tengah malam begini memberi tugas pada anak buahnya untuk membeli beberapa benda yang Sista sebutkan tadi.


Beberapa saat kemudian, ia selesai mengirim pesan tersebut.


"Amel, bisa kau ceritakan tentang kekasihmu?"


Beberapa saat terdiam dalam suasana canggung dan sekarang suaminya mengejutkannya dengan pertanyaan yang terasa mengunci tenggorokannya, tentu saja membuat Sista bingung mau menjawab apa.


"Kak, aku sudah melupakannya. Untuk apa kak Reynard menanyakannya kembali?"


"Jika sudah melupakannya tentu tidak masalah bukan jika aku ingin sedikit tahu tentang lelaki itu?" jawab Rey santai, datar namun entah kenapa Sista merasa merinding.


Yang ia khawatirkan cuma satu hal, melihat Rey begitu menjaga keluarga tuannya, dan bisa menyingkirkan siapa saja yang dianggap berbahaya. Bisa saja Rey akan melakukan hal yang sama untuknya, mengingat dirinya adalah Amel kecil dari lelaki itu.


"Ceritakanlah!" pinta Rey setelah beberapa saat memperhatikan ekspresi istrinya.


"Untuk apa, Kak?"


"Aku hanya ingin mengenalnya. Tapi jika kau keberatan, baiklah lupakan saja."


Sebuah senyum tipis terbit dari wajah Rey, ia lalu menoleh ke arah Sista yang menatap takut padanya.


"Baiklah, tidak usah kau ceritakan,"


Astaga ... kak Reynard ku yang gendut kenapa bisa jadi macho dan ganteng banget kayak gini sih?


Jantung Sista berdegup cepat setelah mendapat senyum tipis dari suaminya. Ia ingin berhambur dan memeluk lelaki itu, tapi ia tahan. Rasanya tidak etis jika wanita yang memulainya duluan. Entah sejak kapan perasaan aneh dihatinya itu muncul. Mungkinkah saat ia mengetahui kebenaran ini atau mungkin jauh sebelum itu?


Ia ingat saat latihan sore itu, saat ia berhasil memberikan tendangan mematikan dan mengenai wajah Rey. Saat itu Rey terhuyung ke samping dan terduduk di rerumputan.


"Sekertaris Rey!" serunya saat menyadari ada darah segar mengalir dari sudut bibir Rey.


Sista lalu bergegas menghampiri pria yang duduk diatas rumput dan membersihkan bibirnya itu, namun sialnya ia tersandung kakinya sendiri sehingga membuatnya terhuyung kedepan dan menubruk pria yang ada dihadapannya.


Sista membuat tubuh Rey jatuh kebelakang dan menindihnya. Untuk beberapa saat mata mereka bertemu pandang.


Terasa ada gelenyar aneh mengalir di tubuhnya.

__ADS_1


Menyadari hal itu, dia pun berusaha bangkit dan menjauh dari tubuh pria itu.


"Maafkan aku, aku tidak sengaja sama sekali," ucapnya takut - takut.


"Tidak masalah, lupakan saja!" jawab Rey dengan enteng.


"Rupanya tidak sia - sia latihan mu selama ini,"


Sista ingat sekarang, pada saat itulah ia merasakan ada desiran yang terasa aneh di dadanya. Sejak saat itu juga ia mulai menjadi sedikit malu pada sekertaris Rey.


"Besok aku akan pergi ke makam ayah dan ibumu, apa kau mau ikut?"


Pertanyaan Rey membuyarkan lamunan Sista.


"Tentu saja," jawab Sista.


Keduanya kemudian kembali terdiam. Entah sudah berapa lama. Hingga sebuah suara menyadarkan mereka.


Tok ... tok ... tok


Baik Rey maupun Sista sama - sama terhenyak mendengar ketukan pintu dari luar.


"Aku saja!" kata Rey seraya mencegah dan menyentuh tangan Sista yang berada diatas pangkuan.


Sista mengangguk dan tersenyum dengan canggung. Diperlakukan seperti itu saja membuat jantungnya hendak melompat keluar. Ia sungguh berdebar - debar.


"Ini barang - barang yang kau perlukan," ujar Rey seraya menyerahkan bingkisan kepada istrinya.


"Terimakasih kak,"


Sista pun bergegas ke kamar mandi, menurutnya membersihkan wajah dikamar mandi jauh lebih baik dari pada harus berduaan disini dan memacu adrenalinnya.


Hingga beberapa waktu berlalu, Sista pun keluar dari sana dengan menggunakan handuk kimono.


Ia mendapati suaminya rupanya sudah tidur. Sista mendekat dan benar saja, Rey sepertinya sudah benar - benar terlelap.


Baiklah, aku akan pinjam bajumu saja, batin Sista.


Ia pun berlalu dan membuka lemari pakaian milik Rey, mengambil sepasang piyama milik suaminya dan memakainya dikamar mandi.


Sista sangat merasa beruntung karena lelaki itu sudah terlelap duluan. Jika tidak, mungkin sampai pagi ia akan diliputi rasa canggung dan tidak bisa tidur.

__ADS_1


💗💗💗💗💗💗


__ADS_2