
"Kakak?" Emily mencoba mendekati Morgan. Jantungnya berdegup kencang, ia tahu Morgan begitu menyayanginya sebagai adik. Namun ia juga tahu, jika Morgan sangat tidak suka jika peraturan yang ia buat itu dilanggar.
"Apa kau sudah banyak mengobrol dengan kakak ipar mu?" Morgan mengusap lembut puncak kepala adik perempuannya. Ia bahkan tersenyum lembut.
Kakak tidak marah?
Jantung Emily pun perlahan - lahan kembali pada ritme yang semestinya.
"Emily hanya ngobrol sedikit aja kok kak. Cuma bertanya kabar doang. Iya kan kak Eylin?" Gadis itu mengedipkan sebelah matanya pada Eylina. Seolah memberi kode untuk sebuah konspirasi.
"Ah ... iya benar. Kami hanya saling bertanya kabar." Wajah pucat itu mencoba tersenyum manis.
"Baiklah ... Emily, bawalah kakak ipar mu berjalan - jalan. Tunjukkan padanya seluruh bagian rumah ini agar suatu saat ia tak tersesat."
"Benarkah? Emily boleh ajak kakak ipar keluar?" Gadis itu kemudian memeluk kakak lelaki tercintanya.
"Hemm, jadi cepatlah. Sebelum kakak berubah pikiran." Morgan mengedihkan bahunya.
"Aaaa ... jangan, jangan! Kak Eylin ayo kita keluar." Emily menggamit tangan kakak iparnya dan menariknya.
Aku tidak sedang bermimpi kan? Aaaa ... akhirnya aku bisa keluar dari kamar penjara ini. Terimakasih Emily. Eylina bersorak dalam hatinya. Ia tak mau menunjukkan perasaan senangnya.
Morgan berjalan gontai ke arah tempat tidurnya lalu menjatuhkan tubuhnya dan terduduk disana. Tangannya meraih laci di samping tempat tidur itu. Mengambil foto Alice yang sedang tersenyum. Seolah menyapanya.
Seorang gadis yang sangat beruntung karena memiliki cinta Morgan. Lelaki yang tidak mudah takluk pada wanita dan sangat setia pada sebuah hubungan. Namun sayangnya, takdir membuat mereka terpisah saat bunga cinta itu sedang mekar - mekarnya. Dan berganti menjadi lautan duka yang begitu mendalam.
Morgan memandangi foto tersebut, mengingat masa - masa indah mereka. Mengingat cinta monyet yang terjadi diantara mereka. Hingga bibit cinta tersebut tumbuh menjadi pohon cinta yang begitu hebat dan mengikat keduanya.
Flashback on β£οΈ
Sore itu suasana nampak begitu tenang, Morgan dan Alice berjalan menyusuri pantai. Keduanya ingin melihat matahari terbenam di pantai yang sangat indah di Kota X ini.
Lelaki berparas tampan itu menggenggam tangan kekasihnya dengan sangat mesra.
"Beib aku ingin punya rumah dengan suasana pantai seperti ini, agar kita bisa berjalan - jalan seperti ini setiap hari." Alice memandang laut yang menyuguhkan pemandangan tarian ombak yang bergulung - gulung dan pecah menghantam batu karang.
__ADS_1
"Tentu saja, apapun yang kau mau aku akan mengabulkannya asal kau mau terus disamping ku." Morgan menangkup wajah manis kekasihnya, menatap ke dalam bola matanya. Seolah menyalurkan sebuah rasa yang teramat mendalam.
"Tentu saja, aku tak akan meninggalkanmu. Kecuali maut yang menjemput ku dan memisahkan kita." Alice tersenyum lembut.
"Sssttt ... apa yang kau bicarakan." Keduanya lalu tertawa bersama. Saling menggenggam tangan sambil menikmati buaian angin pantai dan sinar jingga sang mentari yang tersisa.
Itu adalah kenangan seminggu sebelum kecelakaan tragis itu terjadi dan merenggut nyawa kekasihnya. Karena sebuah keteledorannya sendiri.
Flashback offβ£οΈ
"Alice, apa kau tak merindukanku? Aku sangat merindukanmu kau tahu? Ah ya ... aku merasa ada yang aneh dalam diriku. Kau tahu aku menikahinya bukan karena mencintainya kan? Tapi kenapa aku merasakan sebuah kehangatan di matanya, meski mata itu selalu menatapku dengan kesal.
Kau tahu? Aku seperti menemukan sesuatu yang telah lama hilang di dalam diriku. Tapi aku juga tidak begitu yakin.
Yah ... lebih tepatnya aku tidak menginginkannya. Aku tidak ingin mengganti namamu dengan siapapun". Morgan bermonolog, ia kemudian tersenyum getir.
****
"Kita mau kemana?" Eylina mengernyitkan dahinya setelah sampai diruang tengah.
Wuaaa ... ternyata rumah ini sangat luas. Lebih luas dari yang kubayangkan. Bagaimana bisa ada rumah dengan design unik seperti ini. Pantas saja dia tidak mengijinkan ku berjalan - jalan sendiri. Banyak sekali lorong - lorong, apa lorong itu saling menghubungkan antara ruangan satu dengan ruangan yang lainnya? Untuk apa ruangan - ruangan sebanyak itu? Aa ... mungkin untuk kamar cucu - cucu tuan Wira. Eylina mengedarkan pandangannya ke segala penjuru.
"Dimana kamarmu?" Sudah melewati beberapa lorong dan ruangan namun belum sampai juga.
"Nah ini dia, yuk masuk." Emily membuka pintu kamar berwarna putih yang bertuliskan namanya.
Wuaaa ... betapa bahagianya hidupmu Emily. Kamarmu bak kamar seorang putri. Mata Eylina membulat sempurna saat melihat bagian dalam kamar adik iparnya.
"Ini kamarmu?"
"Iya kak, duduk sini!" Emily menepuk sofa kosong disampingnya.
Gila sih ini. Mewah sekali, sebenarnya sekaya apa sih keluarga ini?
Ahh iya kamar tuan tidak waras saja semewah itu. Pasti kamar - kamar yang lain juga sama. Eylina menatap sekelilingnya.
__ADS_1
"Kak Eylin? kok malah ngelamun sih?" Emily heran dengan tingkah Eylina.
"Ah ... iya maafkan aku. Aku takjub dengan seisi kamar ini. Bagaimana kau bisa punya kamar seindah ini, tidurmu pasti sangat nyenyak." Eylina antusias.
"Nggak juga sih kak, aku dan Luna justru sering kesepian. Papa dan kak Morgan tidak membebaskan kami bergaul dengan sembarang orang." Emily menunduk.
Harta yang berlimpah kadang membuat orang berpikir jika sang pemilik harta selalu hidup bahagia dengan dunianya dan apa yang mereka miliki. Hal itu tidak salah tapi juga tidak selamanya benar.
Seperti yang Emily rasakan, sebagai anak seorang konglomerat kondang yang hidup laksana seorang putri kadang membuat teman - temannya iri. Tak ayal banyak teman - temannya mendekatinya hanya karena ingin ikut terkenal atau bahkan menjadikan Emily sebagai dompet berjalan bagi mereka.
Tak banyak yang tulus berteman dengannya, oleh karena itulah Wira dan Morgan membatasi pergaulannya dan juga adiknya.
"Masa sih?" Eylina jelas tak percaya.
"Iya kak, Papa dan Mama sering keluar negeri menghadiri berbagai peresmian dan juga undangan dari rekan bisnisnya. Sedangkan kak Morgan, dulu sebelum menikah dengan kak Eylin jarang sekali berada dirumah. Jadi aku dan Luna sering tinggal berdua saja, bersama para pelayan dan penjaga tentunya. Baru beberapa bulan terakhir ini Papa dan Mama sering berada dirumah. Dan kak Morgan, semenjak ada kak Eylin. Dia jadi pulang kerumah setiap hari. Rumah ini jadi terasa lebih hidup." Emily tersenyum hangat lalu meraih tangan Eylina.
"Makasih ya kak, udah mencintai kak Morgan dengan tulus."
Apa? ya Tuhan jadi mereka mengira jika kami benar - benar menikah karena saling mencintai? Kenapa aku harus berada di situasi seperti ini? Tuan Wira dan Emily sepertinya memang begitu tulus dan menyukaiku. Bagaimana jika pada akhirnya semuanya terungkap? Apa mereka masih bersikap seperti ini? Orang - orang seperti Emily terlalu baik untuk dikecewakan. Eylina membalas senyum adik iparnya meski perasaannya sedang campur aduk.
"Tentu, tentu saja. Jangan berterimakasih seperti itu, bukankah sudah tugasku untuk selalu mencintai suamiku."
Maafkan aku Emily. Semoga suatu saat kau tidak membenciku setelah tau semuanya. Eylina.
πππππππ
**Haiπ
Terimakasih untuk kalian yang setia menanti setiap episodenya.
Dan selalu mendukung novel ini.
Jempol kalian, komen kalian dan juga vote dari kalian adalah semangat bagi author.
Big Hug untuk kalianπ€**
__ADS_1