
Eylina semakin bertambah heran karena suaminya bahkan tak mengijinkannya turun sendiri dari mobil. Lelaki itu menggendong tubuh Eylina lalu mendudukkannya di kursi roda.
Hal itu membuat para perawat yang notabene masih gadis - gadis itupun ikut tersipu malu melihat perlakuan Morgan pada istrinya.
Betapa beruntungnya nona Eylina, bisa memiliki suami telaten dan siaga seperti tuan Morgan. Sudah tampan, kaya, dan juga romantis lagi. Idaman setiap wanita pastinya. Batin para perawat itu.
Terlebih lagi Morgan sendirilah yang mendorong kursi roda tersebut, melewati lorong - lorong rumah sakit.
Para perawat yang berjalan dibelakangnya nampak menatap takjub pada pemuda itu. Wajahnya sangat dingin pada orang lain tapi seketika itu juga bisa berubah menjadi sangat hangat dan penuh cinta kala berhadapan dengan Eylina.
Di hari yang sepagi ini biasanya para dokter belum ada yang datang. Namun karena hari ini adalah hari yang tak biasa, maka baik perawat maupun dokter dan semua petugas medis lainnya berdatangan lebih awal dari pada jam kerja yang ditentukan.
Semua harus sempurna saat tuan Morgan datang. Begitu pikir mereka.
Bahkan di ruang pemeriksaan khusus kandungan pun telah ada beberapa perawat dan juga dokter kandungan andalan rumah sakit ini. Konon kabarnya dokter tersebut juga merupakan dokter kandungan terbaik yang ada di kota ini.
Mereka semua telah siap untuk menyambut kedatangan Morgan dan juga istrinya. Dan meski semuanya sudah dipersiapkan dengan baik, tetap saja mereka merasa berdebar - debar karena yang mereka hadapi adalah tuan muda yang dikenal kejam dan berhati keras serta dingin seperti es.
Keringat dingin semakin menyerang mereka dengan gencar saat suara langkah kaki semakin mendekati ruangan tempat mereka berada.
Dokter Mira, yang merupakan dokter kandungan paling senior itupun berdiri dari duduknya bersama dengan dokter kandungan yang lain serta para perawat.
Mereka berbaris di depan ruangan untuk menyambut kedatangan Morgan dan juga istrinya.
Ya ampun, apa suamiku selalu dihormati seperti ini dimana pun dia berada? Keren sekali, apa jika kami adalah sama - sama orang biasa mereka juga akan menyambut kami seperti ini?
Batin Eylina melihat para dokter dan perawat yang berbaris rapi seraya mengulas senyum terbaiknya.
"Selamat pagi Tuan Morgan, selamat pagi Nona Eylina." Dokter Mira tersenyum lalu membungkukkan badannya diikuti oleh semua dokter dan juga para perawat yang ada disitu. Dokter Adam pun juga sudah ada disana.
Eylina tersenyum membalas sapaan mereka.
"Pagi ...," jawab Morgan. Berbeda dari istrinya, ekspresi lelaki itu nampak datar.
Ia masuk ke ruangan pemeriksaan seraya mendorong istrinya yang ada di kursi roda.
Setelah Morgan duduk, dokter Mira dan dokter Adam pun masuk. Sementara dokter yang lain beserta perawat berdiri berbaris di ujung ruangan dengan posisi siaga.
"Dokter Adam sudah menceritakannya?" Morgan mulai berbicara. Ia langsung bertanya pada intinya.
"Sudah Tuan, kalau begitu saya akan langsung memeriksa nona Eylina." Dokter Mira mencoba tersenyum meski jantungnya berdebar - debar.
__ADS_1
"Mari Nona, silahkan berbaring."
Lanjut dokter Mira, ia berniat mengulurkan tangannya untuk membantu Eylina. Namun Morgan menolaknya dan langsung mengangkat tubuh Eylina.
Ia membaringkan gadis itu di ranjang pemeriksaan yang ada disana.
"Rey!" Morgan memanggil sekertarisnya sebelum dokter Mira melakukan tugasnya.
"Ya Tuan?" Sekertaris Rey mendekat.
"Suruh mereka semua keluar!" Morgan merasa risih dengan adanya beberapa perawat dan dokter - dokter lainnya termasuk dokter Adam.
"Baik Tuan." Rey pun melakukan tugasnya. Semua yang kurang berkepentingan itupun akhirnya keluar.
Rey menutup pintu ruangan tersebut setelahnya. Ia lalu menganggukkan kepalanya dengan singkat seolah memastikan pada Morgan bahwa semuanya sudah sesuai yang dinginkan lelaki itu.
"Mulailah pemeriksaannya! Rey, tutup matamu! Jangan sekali - sekali kau berani melirik istriku!" Perintah Morgan.
Ia berdiri tak jauh dari Eylina agar bisa melihat dengan jelas gambar yang nampak pada layar monitor besar yang terpasang didinding.
Lelaki itu melipat kedua tangannya di dadanya.
Astaga ... disaat seperti ini saja tuan muda tidak bisa menyembunyikan rasa posesifnya.
Dokter Mira mulai memberikan gel di permukaan kulit perut Eylina dan mencoba menggerakkan benda yang ada ditangannya menyusuri bagian tersebut.
Hingga nampak lah gambar pada layar monitor, menunjukkan bagian dalam organ reproduksinya.
Dokter Mira nampak mengerutkan dahinya, ia nampak berkonsentrasi melihat apa yang nampak pada layar monitor.
Wanita itu nampak memeriksa dengan seksama inci demi inci bagian tersebut untuk memastikan dengan baik apa yang sebenarnya terjadi.
Namun wajahnya tiba - tiba berubah menjadi lebih pucat dan menghentikan alat yang ia pegang di satu titik.
"Tuan Morgan, maafkan saya. Seperti nampak dilayar monitor. Ada sesuatu yang tidak beres di dalan diri nona Eylina." Dokter Mira terlihat sedikit gugup. Ia berusaha menguasai dirinya, karena bagaimanapun hal ini harus tetap disampaikan.
"Apa yang terjadi? Katakan cepat!" Morgan yang sedari tadi tidak mengerti atas apa yang nampak pada layar monitor itu mendekati Eylina dan berdiri disampingnya.
"Tuan, ada miom yang tumbuh di rahim nona Eylina." Dokter Mira menunjuk layar monitor dan memperlihatkan apa yang nampak disana.
"Jadi bagaimana? Apa itu bisa membahayakan istriku?" Lelaki itu mengusap kasar wajahnya. Ia melihat Eylina dan menggenggam tangan gadis yang terlihat sedang menahan air matanya itu.
__ADS_1
"Sayang, jangan khawatir. Ada aku disini." Morgan membelai wajah gadis itu lalu mencium keningnya.
"Hal itu tidak berbahaya Tuan, selama ditangani dengan benar dan tepat." Dokter Mira memberi penjelasan.
"Jadi hal ini yang membuat saya merasakan nyeri hebat akhir - akhir ini? Apa sakit ini bisa disembuhkan Dokter?" Eylina bertanya dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Yang ada dipikirannya saat ini adalah tuan Wira, yang tak lain adalah mertuanya. Lelaki paruh baya itu sangat mengharapkan cucu, namun kondisi dirinya kini malah seperti ini. Eylina takut ayah mertuanya akan kecewa nanti.
"Benar Nona, saat miom semakin membesar ia akan menekan bagian di sekitarnya. Hal itulah yang menyebabkan rasa nyeri dan terasa penuh di perut. Karena miom ini juga anda mengalami anemia. Jadi saran saya sebaiknya miom ini kita angkat saja," kata dokter Mira.
"Apa kau bilang?" Morgan menoleh seketika.
"Begini Tuan, sebaiknya kita lakukan operasi untuk mengangkat miom tersebut. Operasi ini hanya operasi kecil Tuan, untuk pemulihannya juga tidak akan lama. Nona Eylina akan baik - baik saja setelah ini." Dokter Mira memberi sedikit penjelasan.
"Apa kau yakin?"
"Tentu saja Tuan," jawab wanita itu dengan mantab.
"Sayang, kau dengar itu. Tidak masalah, semua akan baik - baik saja. Oke? Tidak perlu menangis seperti ini." Morgan menyeka air mata yang merembes dari sela - sela mata Eylina. Lelaki itu juga menatap lembut pada gadis yang masih berbaring di ranjang pemeriksaan itu.
Morgan lalu membantunya untuk bangun dan duduk.
"Apa saya bisa hamil Dokter?" tanya Eylina setelah ia duduk.
"Tentu saja Nona, anda tetap bisa hamil setelah ini. Tapi pastinya, harus menunggu sampai kondisi rahim anda benar - benar kondusif Nona." Dokter Mira tersenyum hangat pada Eylina.
"Lalu kapan istriku bisa dioperasi?"
"Secepatnya akan saya buatkan jadwalnya Tuan. Nanti akan saya kabari melalui sekertaris Rey." Wanita itu masih mengulas senyumnya.
"Baiklah, jangan terlalu lama!"
"Tentu saja Tuan."
"Apa kami bisa pulang sekarang?"
"Ya, tuan Morgan tentu saja."
Dokter Mira mengangguk dengan sopan.
Morgan dan Eylina lalu meninggalkan ruangan itu bersama sekertaris Rey.
Seperti sebelumnya, Eylina masih harus duduk di kursi roda karena Morgan tak mengijinkannya untuk berjalan.
__ADS_1
💗💗💗💗💗💗
Sumber informasi tentang miom diambil dari Mitra keluarga dan juga Alodokter