Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Mathias (Part 3)


__ADS_3

Rey menyempatkan dirinya untuk beristirahat sebentar di kamarnya setelah menyantap sup hangat buatan bi Ani.


Karena sangat mengantuk, tak terasa matanya mudah sekali terpejam.


Hingga sekitar satu setengah jam kemudian bi Ani membuka perlahan pintu kamarnya. Wanita itu berniat untuk membangunkannya, namun saat mendapati Rey sedang tidur sangat pulas ia pun merasa tidak tega untuk membangunkannya.


Kasihan sekali nak Rey, tapi kalau tidak dibangunkan nanti nak Rey bisa telat.


Bi Ani masih berdiri di depan pintu. Ia merasa gelisah antara masuk dan membangunkannya atau keluar dan membiarkan majikannya menikmati tidurnya?


Setelah mempertimbangkannya, akhirnya bi Ani pun masuk.


"Nak Rey," panggilnya lembut seraya menepuk tangan lelaki muda yang sedang terbaring di ranjangnya.


Rey mengerjapkan matanya dan melihat sesosok wanita yang berwajah sangat lembut dan keibuan.


"Bibi?"


"Maaf nak Rey, bibi mengganggu. Bibi hanya khawatir jika nak Rey terlambat, nanti."


"Tidak masalah, Bi. Terimakasih sudah membangunkan Rey. Ya sudah, Rey siap - siap dulu."


Setelah itu bi Ani pun keluar dan melanjutkan pekerjaannya kembali.


Rey berangkat ke rumah utama setelah selesai bersiap - siap. Sesampainya disana ia langsung masuk dan mencari tuan mudanya.


Beruntung acara sarapan pagi saat itu sudah selesai. Morgan mengajak Rey mengobrol di ruang kerjanya.


"Ada perkembangan apa, Rey?" tanya Morgan seraya menjatuhkan tubuhnya diatas kursi kekuasaannya.


"Saya telah menemukan Mathias, Tuan."


"Apa?"


Mendengar ucapan dari sekertarisnya, wajah Morgan pun berubah seketika.


"Tenanglah dulu, Tuan." Rey mendekat ke arah Morgan dan memintanya untuk kembali duduk di singgasananya.


"Kau sudah gila, hah? Dimana pengkhianat itu? Aku ingin memberinya pelajaran sekarang juga!" ujar Morgan dengan penuh emosi.


"Tuan muda, saya akan menjelaskannya."


"Apa yang bisa kau jelaskan? Apa kau melepaskannya lagi? Dimana kau menemukan lelaki menjijikkan itu?"

__ADS_1


Rey menarik nafas panjang dan menghembuskannya untuk mengurangi beban pikirannya. Dijelaskan juga tuan mudanya itu tidak akan bisa tenang. Rey akhirnya merogoh ponselnya dan menunjukkan rekaman suara yang ia ambil semalam.


Morgan dengan seksama mendengarkan suara tersebut. Dahinya terlihat berkerut karena konsentrasi.


Jadi Mathias melakukan hal ini bukan atas kemauannya sendiri?


"Jadi dimana Mathias sekarang?" tanya Morgan setelah menyerahkan kembali ponsel milik sekertarisnya.


"Mathias ada dirumah sakit, Tuan. Semalam Jordan menembaknya dua kali di bagian perutnya. Sekarang dia masih dalam keadaan yang sangat lemah dan belum sadarkan diri."


Mendengar penjelasan itu, Morgan mengepalkan tangannya dan mengeratkan giginya karena geram.


"Jordan!" Morgan menyebut namanya dengan penekanan. "Urus manusia sampah itu, dan bawa dia kehadapan ku secepatnya, Rey."


Morgan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia lalu duduk kembali ditempatnya.


"Apa Jordan kembali mengusik perusahaan kita?"


Deg ...


Jantung Morgan dan Rey serasa berhenti seketika saat melihat orang yang berbicara tadi.


"Papa? Tentu saja tidak, Pa. Perusahaan baik - baik saja. Bukankah Jordan juga masih dipenjara? Bukan begitu, Rey?" ujar Morgan mencoba menutupi keadaan.


Namun nampaknya Wiratmadja terlalu hapal dengan sikap Morgan. Dari mimik wajah putranya saja, ia dengan mudah mengetahui jika lelaki itu tengah berbohong dan sedang berusaha menyembunyikan sesuatu.


"Kau harap Papa percaya?"


"Emm ... tentu, tentu saja." Morgan tersenyum gugup.


"Katakan sejujurnya pada Papa, atau Papa akan mencari tahu sendiri tentang hal ini."


"Pa, tentang hal itu memang benar. Tapi Morgan harap Papa tenang dan biarkan Morgan sendiri yang mengurusnya. Bukankah Papa ingin menikmati masa tua Papa dengan bahagia?" rayu Morgan. Ia tentu tidak ingin lelaki yang sangat dihormatinya itu memikirkan hal ini dan berakibat buruk pada kesehatannya.


Wira menghela napasnya sebelum berbicara, "Morgan, Jordan itu sangat licik. Begitu juga Hendrawan. Papa ...." Wira tidak dapat melanjutkan kalimatnya karena putranya memotongnya dengan cepat.


"Papa, Morgan mohon. Morgan bisa mengatasi hal ini bersama dengan Rey. Bukankah kita punya The Lion yang bisa diandalkan? Percayalah, Pa ... jika dulu sekertaris Ji dan timnya saja bisa melumpuhkannya, apalagi sekarang? The Lion itu bukan geng mafia receh, Pa."


"Baiklah kalau begitu, Papa percayakan semua urusan ini pada kalian. Papa hanya ingin berpesan, jangan pernah gegabah Morgan. Sadar atau tidak, itu adalah sebuah kelemahan dari dirimu. Tapi Papa yakin, putra Papa sangat bisa diandalkan." Wira kemudian menepuk bahu putranya.


Morgan pun tersenyum, begitu juga dengan Rey.


Papa memang benar, satu - satunya kelemahan ku adalah itu.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu Papa ke bawah duluan. Ingat baik - baik Morgan, cara terbaik memadamkan api adalah dengan menyiramnya menggunakan air."


Setelah Wira meninggalkan ruangan itu, Morgan nampak mencerna kalimat ayahnya. Ia pun melirik kearah Rey yang sedang duduk dihadapannya.


Kenapa melihatku? Jika tidak mengerti, seharusnya menanyakannya pada tuan besar kan?


Rey berpura - pura tidak melihatnya. Itu adalah pilihan terbaik menurutnya.


"Apa maksud papa? Emm ... Rey, antar aku ketempat Mathias dirawat!"


"Baik Tuan."


Kedua orang itu pun beranjak dari tempat duduknya masing - masing dan keluar dari ruangan itu.


"Sayang? Kau belum berangkat ke kantor?" tanya Eylina yang datang dari arah kamar.


"Sayang, aku ... aku tadi masih mengobrol bersama Rey di ruangan ku. Kau mau kemana?"


"Aku ingin kebawah, menemui Emily. Aku ingin melihat bagimana adik ipar ku mendesain pakaian - pakaian dengan sangat cantik." Eylina tersenyum antusias.


"Baiklah, lakukan apapun yang kau suka dan pastikan dirimu selalu bahagia, aku berangkat dulu. I love you." Morgan lalu memeluk dan menciumi kening Eylina beberapa kali.


"Hati - hati, sayang." Gadis itu melambaikan tangannya seraya tersenyum ceria.


Ia kemudian kembali ke kamarnya untuk mengambil ponselnya yang tertinggal.


Sementara Morgan dan Rey bergegas turun kebawah berjalan ke halaman rumah. Kedua lelaki itu kemudian masuk dan memasang sabuk pengaman masing - masing sebelum mobil tersebut melaju ke tempat tujuan.


Sesampainya di rumah sakit, Morgan dan Rey lalu turun dan menuju ke ruang perawatan yang tadi diinformasikan oleh salah satu anak buah Rey.


"Selamat pagi, Tuan muda," sapa keempat anak buah Rey secara bersamaan, mereka menundukkan kepalanya secara hormat.


Morgan masuk ke dalam ruangan tempat Mathias dirawat. Ia memandang iba pada lelaki yang tengah berbaring tak berdaya diatas brankar.


Ternyata kau lebih setia dari yang kutahu. Bahkan di saat nyawamu di ujung tanduk pun, kau tetap memilih setia pada papa.


"Rey, pastikan dia mendapatkan perawatan terbaik di sini. Setelah dia stabil, pindahkan dia ke rumah sakit milik papa."


"Baik Tuan."


"Pastikan juga anak dan istrinya bisa ditemukan dalam keadaan selamat."


"Tim sedang berusaha, Tuan. Anton dan Tomy juga mengerahkan sebagian pasukan The Lion untuk menyisir segala tempat guna menemukan mereka berdua. Kita doakan saja yang terbaik."

__ADS_1


"Baguslah. Jika Jordan dan Hendrawan ditemukan, bawa mereka ke pulau pribadi milik papa. Aku ingin memberinya pelajaran disana."


💗💗💗💗💗💗


__ADS_2