Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Taman Rumah Sakit (Part 1)


__ADS_3

Morgan keluar dari kamar mandi dengan badannya yang hanya dililit handuk dari pinggang hingga ke lutut. Ia berjalan untuk mengunci pintu kamar sebelum akhirnya berganti pakaian. Lelaki itu mengenakan jeans abu - abu dan kaos putih.


Setelah tadi dirinya cukup lama mengguyur seluruh tubuhnya di bawah pancuran air shower, ia kini merasa lebih segar dan rileks.


Ia pun keluar dari kamar itu dan melihat istrinya yang sedang bermain ponsel.


Morgan menghampirinya dan duduk disebelahnya, di atas brankar.


"Kau lihat apa?" tanyanya seraya menengok apa yang sedang diputar di layar ponsel istrinya, hingga bisa membuat gadis itu tersenyum - senyum. "Drama lagi?"


"Iya sayang, kenapa?" tanya Eylina tanpa memalingkan wajahnya dari ponselnya.


"Tidak apa - apa, kenapa semua orang suka sekali melihat drama? Kau, Emily, Luna ... hhh apa bagusnya?" tanyanya datar.


"Tentu saja karena drama ini memang bagus, dan juga pemerannya gan ...." Eylina menggantung kalimatnya, ia tersadar dan menengok suaminya. Eylina kemudian menggigit lidahnya.


"Ganteng? Jadi kau suka sekali melihat pria lain selain aku, begitu? Seganteng apa memangnya orang itu?" Morgan berusaha mengambil ponsel Eylina dengan kesal dan melihatnya.


Nah kan? Dia jadi emosi ... aduh,


"Ini? Kau menyukainya?" Morgan menunjuk layar ponsel itu.


"Sayang, bukan seperti itu? Aku hanya melihat dramanya, melihat jalan ceritanya. Kenapa kau berlebihan sekali? Lagipula aku juga tidak mengenalnya, kan?" kata Eylina seraya meraih tangan suaminya.


Ayolah, apa - apaan sih?


Namun lelaki itu nampaknya benar - benar cemburu, ia tidak bereaksi sama sekali. Jujur saja, bagi Eylina ekspresi diam seperti ini malah terlihat menakutkan. Ia lebih suka suaminya yang meluapkan perasaannya lewat kata - kata yang terkesan lebay namun menggemaskan dimatanya.


Melihat hal itu Eylina pun menegakkan badannya dan menggeser tubuhnya dengan cepat untuk memeluk suaminya. Namun rupanya ia lupa, jika bagian perutnya masih belum bisa menerima guncangan yang keras. Ia merasakan perutnya begitu berdenyut.


Gadis itupun mengaduh dan melepaskan tangannya dari lengan suaminya. Ia mengurungkan niatnya dan memegangi perutnya.

__ADS_1


Morgan dengan spontan menoleh saat mendengar suara istrinya.


"Sayang, Kenapa? Sakit ya? Jangan terlalu banyak bergerak dulu, kenapa kau susah sekali diberi tahu?" Morgan bertanya dengan mode khawatirnya yang sedikit berlebihan. Ia pun lalu membantu Eylina untuk berbaring, kemudian merendahkan posisi sandaran gadis itu.


"Kau marah padaku, bagaimana aku tidak panik. Aku menjelaskan padamu tapi kau tidak mendengarnya, jadi aku ingin memelukmu," jawab Eylina seraya memasang wajahnya yang seolah sedang sangat merasa diabaikan. Cara ini adalah cara terbaik yang bisa ia lakukan agar Morgan melupakan apa yang telah mereka ributkan tadi.


Dan benar saja, lelaki itu seperti kehilangan kekuatannya saat melihat wajah istrinya yang seperti itu. Ia lalu menangkup wajah mungil Eylina dan menatapnya, sangat hangat.


"Maafkan aku," ucapnya.


Ya, begitulah cara Eylina. Ia bisa dengan gampang sekali menaklukkan suaminya. Bukan apa - apa, Eylina hanya merasa jika dikhawatirkan, dicemburui dan dicurigai secara berlebihan itu tidaklah enak. Ia kadang merasa suaminya ini kelewat posesif padanya. Satu - satunya cara ya dia harus meladeni dan menjaga perasaan Morgan agar lelaki itu merasa selalu dicintai olehnya.


Tak lama setelah drama itu, mereka pun sudah bercanda dan tertawa haha ... hihi lagi.


Morgan kemudian menyantap sarapannya dengan disuapi oleh istrinya. Sikap manjanya mulai kembali kambuh. Yang sakit siapa yang disuapi siapa. Jika sudah seperti ini, Eylina hanya bisa senyum - senyum sendiri.


Dan pagi itu Eylina melewatinya dengan bahagia, Morgan membawanya berjalan - jalan ke taman belakang rumah sakit. Suasana di sana sangat teduh dan rindang karena banyak pepohonan.


Di sana Eylina melihat banyak sekali anak - anak dengan usia yang bervariasi. Ada yang masih balita, ada juga yang usia delapan hingga sepuluh tahun dan juga ada yang terlihat sudah remaja.


"Sayang, kenapa disini banyak sekali anak - anak?" tanyanya setelah lelaki itu duduk di bangku.


"Hemm ... mungkin karena mereka merasa bosan di kamar rawat mereka."


Eylina tersenyum melihat anak - anak itu. Mereka ceria sekali, tidak nampak jika sedang sakit. Anak - anak itu bahkan asik bermain - main dengan rekan sebayanya. Mereka tertawa, bercanda, seperti tidak sedang berada dirumah sakit.


Namun senyum Eylina pudar ketika melihat seseorang diantara mereka yang bahkan tidak memiliki rambut. Topi yang dikenakannya tertiup angin, sehingga terlihatlah kepalanya yang polos.


Eylina mengernyitkan dahinya, "Sayang, apa aku tidak salah lihat? Bukankah yang duduk di kursi roda itu adalah seorang anak perempuan?" Eylina mencoba memastikan.


Mendengar pertanyaan Eylina, Morgan pun menoleh dan melihat sosok yang ditunjuk oleh gadis itu. Ia memicingkan matanya sekilas, "Ya, sepertinya anak itu adalah seorang perempuan."

__ADS_1


Dilihat dari penampilannya yang memakai dress pendek dan juga sweater berwarna merah jambu. Memang anak itu adalah seorang anak perempuan. Kira - kira lebih muda dari pada Dara ataupun Luna.


"Kau tidak melihat ada yang aneh?" tanya Eylina lagi.


"Maksudmu, rambutnya?"


"Ya, kenapa dia tidak memiliki rambut?" tanya Eylina seraya menoleh pada suaminya.


"Kau tahu? Bangunan yang berderet disana itu adalah bangunan khusus untuk merawat para penderita penyakit kanker. Dan kurasa gadis itu adalah salah satu pasien yang sedang dirawat disana. Mungkin dia telah menjalani kemoterapi, sehingga membuat rambutnya rontok. Atau mungkin memang dia sengaja mencukur rambutnya hingga botak karena tidak ingin melihat rambutnya terus berjatuhan." Morgan menjelaskan. Tangannya menunjuk gedung bangunan yang berderet di ujung taman, lalu menunjuk ke arah anak perempuan tadi.


Kanker? Ya Tuhan, mendengarnya saja membuatku merinding. Dan mereka ... mereka sedang menderita penyakit itu. Mereka masih sangat muda bukan? Bahkan banyak dari mereka masih tergolong anak - anak, masih sangat kecil dan harus menderita penyakit itu? Bagaimana bisa anak - anak itu harus berjuang melawan penyakit menyeramkan seperti itu?


Eylina meneteskan air matanya saat membayangkan anak - anak seusia mereka harus menerima kenyataan pahit saat mendengar bahwa mereka mengidap penyakit mematikan itu. Bagaimana perasaan mereka, saat tau jika usia mereka tak akan lama lagi? Bagaimana mereka akan memiliki harapan disaat dunia tak memihak pada mereka?


Ia menyadari jika hidupnya selama ini sangat tidak mudah. Ia dulu pernah mengeluh akan semua itu. Namun hari ini dia menyadari sesuatu yang terasa menampar dirinya. Apa yang dialaminya rasanya tidak cukup berat jika dibandingkan apa yang dialami anak - anak itu. Melihat anak - anak itu masih bisa tersenyum ceria meski maut bisa menjemput mereka kapan saja, justru membuat hati Eylina begitu pilu.


Eylina merasa dirinya terlalu cengeng saat itu, sedangkan di luaran justru masih banyak sekali orang - orang yang lebih menderita dibanding dirinya. Dan mirisnya orang - orang itu justru masih anak - anak.


"Sayang? Ada apa?" tanya Morgan menelisik. Ia berjongkok di depan Eylina yang tengah menundukkan kepalanya seraya terisak. Morgan menggenggam tangan lembut itu.


"Hey, kenapa kau menangis?"


"Aku hanya tidak tega membayangkan anak - anak itu, bolehkah aku menyapa mereka?"


"Tentu saja. Hapus dulu air matamu, baru kita kesana." Morgan meraih wajah Eylina dan menghapus lelehan air mata yang ada di pipi gadis itu. Setelah itu ia berdiri dan berpindah posisi ke belakang Eylina.


Morgan meraih gagang dorongan kursi roda itu kemudian mendorongnya dan berjalan ke arah segerombolan anak - anak yang sedang bermain itu.


Melihat dua orang yang datang menghampiri mereka, anak - anak itupun tersenyum. Beberapa diantara mereka yang telah menginjak usia remaja tentu sangat tau siapa kedua orang tersebut. Tentu saja, Morgan dan istrinya telah menjadi perbincangan hangat selama lebih dari dua bulan ini.


Mulai dari pernikahan mereka hingga saat pengakuan Morgan saat acara peresmian gedung baru tempo hari itu, masih menjadi trending topik di sejumlah media.

__ADS_1


Pasangan ini telah menjadi idola baru di kalangan masyarakat dari berbagai lapisan, bahkan hingga anak - anak. Karena orang tua mereka sangat mengelu - elukan kedua orang tersebut. Sering menceritakan pasangan yang kini sedang berjalan ke arah mereka.


💗💗💗💗💗💗


__ADS_2