Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Ada Apa Dengannya?


__ADS_3

Malam itu setelah berpamitan dengan anak dan menantunya, Wira beserta istri dan kedua putrinya pun pulang.


Begitu juga dengan Rey. Morgan menyuruhnya pulang agar sekertarisnya itu bisa beristirahat. Ya, meski Rey sebenarnya menolak. Namun kembali lagi, penguasanya disini adalah Morgan. Jika dia tidak bisa meminta Rey secara baik - baik, maka selanjutnya dia akan menaikkan status permintaannya itu sebagai perintah agar sekertarisnya mau menurutinya. Rey memang pekerja keras dan sangat tanggung jawab. Lelaki itu juga sangat setia. Dia sanggup mengerjakan apapun yang diperintahkan oleh Tuannya. Rey sangat gila, sebab itu lah Morgan memaksanya dengan cara memerintahnya untuk pulang dan memanfaatkan waktunya untuk beristirahat.


Dan benar saja, ketika Morgan mengeraskan suaranya, lelaki tampan yang berstatus sebagai sekertaris itu pun langsung mengatakan "Baik Tuan," dan langsung pergi begitu saja setelah berpamitan. Selalu seperti itu sejak dulu. Bukan karena ia takut pada tuan mudanya itu. Tapi ada hal lain yang membuatnya tidak bisa membantah perkataan Morgan ataupun Wira. Lebih dari sekedar rasa takut, tuntutan ataupun rasa hormatnya.


Malam itu setelah memastikan Eylina tertidur, Morgan pun melangkahkan kakinya ke arah sofa panjang di sudut ruangan, ia lalu menjatuhkan dan meluruskan tubuhnya disana. Yah, meskipun tidak bisa lurus sempurna, karena sofa itu tidak cukup panjang untuknya. Kaki Morgan terlihat panjang menjuntai, dengan tinggi tubuhnya yang lebih dari 180cm, tentu sofa itu terlalu kecil untuknya. Ujung kakinya bahkan bisa menyentuh lantai.


Namun karena ia merasa lelah dan mengantuk, ia pun tak membutuhkan waktu yang lama untuk bisa memejamkan matanya. Hanya dalam hitungan beberapa menit setelah ia berbaring, Morgan sudah berhasil menembus alam mimpinya.


Sementara di dalam kamar, Santi, Dara dan Sista juga sudah beristirahat. Morgan meminta ketiga wanita itu pergi beristirahat lebih dulu darinya.


Ini adalah malam pertama, dimana Eylina beserta Morgan melewatkannya dirumah sakit dengan posisi tidur yang terpisah.


Hari ini Eylina menjalani perawatannya dengan baik, ia meminum obat yang diberikan oleh dokter itu dengan tepat waktu. Tanpa banyak drama ataupun penolakan. Karena dirinya juga ingin segera pulih dan bisa beraktifitas lagi.


*****


Eylina mengerjapkan matanya. Ia membuka matanya perlahan, berbarengan dengan cahaya matahari yang menyelinap masuk ke dalam kamar perawatannya.


Seseorang yang membuka tirai itu menoleh dan tersenyum ke arahnya.


Dialah lelaki tampan, sang pemilik hati Eylina.


"Pagi sayang, kau sudah bangun?" sapa Morgan.


"Pagi juga sayang." Eylina mengucek matanya, nampaknya ia masih mengantuk. Hal itu terlihat jelas karena gadis itu baru saja menguap lebar.

__ADS_1


"Bagaimana kabarmu hari ini? Apa sakitnya sudah berkurang?" tanya Morgan setelah dirinya duduk disamping ranjang.


Eylina terdiam sejenak dan mencoba merasai tubuhnya. "Emm ... masih sakit, tapi tidak seperti kemarin," katanya kemudian.


Pandangan Morgan dan Eylina kemudian tertuju ke arah pintu saat seseorang membuka pintu tersebut.


Dua orang berseragam putih bersih, tengah tersenyum pada mereka. "Selamat pagi, Tuan, Nona," sapa mereka saat masuk. Kemudian salah satu dari mereka menutup pintu itu kembali.


"Pagi," jawab Eylina dengan suaranya yang masih sedikit serak. Ia belum meminum apapun setelah membuka matanya tadi.


Seperti sebelumnya, dua orang perawat itu memeriksa keadaan Eylina. Dan bersamaan dengan perawat yang telah selesai mengecek keadaan Eylina, dokter Mira pun datang.


Wanita itu melangkah mendekat dengan senyumnya yang terkembang. Ia pun juga sama, memeriksa Eylina dengan lebih detail dan juga memberi sedikit penjelasan.


"Jadi hari ini Nona Eylina harus latihan duduk dan berdiri ya, Nona?" kata dokter Mira. "Suster, lepaskan kateternya!" perintah dokter Mira kemudian.


Perawat itupun dengan patuh melaksanakan apa yang dikatakan oleh dokter Mira. Mereka dengan pelan melepaskan selang kateter itu dari tubuh bagian bawah Eylina. Lalu membawa benda itu keluar dari ruangan.


Morgan pun juga tak lupa untuk memberi apresiasi pada istrinya dengan memberikan pelukan dan juga beberapa ciuman di puncak kepala Eylina.


Justru dialah yang bereaksi berlebihan, ia bersorak dan tak hentinya tertawa gembira saat Eylina berhasil duduk tadi. Hingga membuat ketiga wanita yang masih ada di dalam kamar itupun keluar.


Mereka membuka pintu dan terheran melihat kedua orang yang sedang berpelukan itu.


Malu sendiri, begitulah yang mereka rasakan.


"Eylina sudah bisa duduk, Nak?" tanya Santi untuk mencairkan suasana.

__ADS_1


"Sudah Buk," jawab Eylina ceria.


"Syukurlah, oh iya ... ibuk pagi ini mau pulang kerumah dulu ya, Lin. Ibuk mau ambil baju ganti lagi."


"Iya Buk,"


"Ibu dan Dara biar diantar sama Sista saja," kata Morgan ikut menimpali.


"Iya nak Morgan, terimakasih ya,"


"Hahaha ... untuk apa mengucapkan terimakasih seperti ini, Bu? Sudah kewajiban Morgan untuk menjamin kenyamanan dan keselamatan kalian berdua," kata Morgan seraya menatap hangat pada ibu mertuanya.


Begitupun Santi, ia juga menatap hangat dan tersenyum pada anak dan menantunya. Wanita itupun kemudian mengambil tas yang ia bawa kemarin lalu keluar dari ruangan itu bersama Dara dan Sista.


Dan tak lama kemudian setelah kepergian ketiga wanita itu, sekertaris Rey pun datang. Ia membawakan makanan serta pakaian ganti untuk Tuan dan Nona mudanya. Ia kemudian memberikannya pada Morgan agar Eylina bisa segera makan dan bisa meminum obatnya pagi ini.


Setelah menyuapi Eylina, Morgan juga membersihkan tubuh gadis itu serta mengganti pakaian Eylina dengan piyama yang dibawakan oleh Rey. Sementara Rey berada diluar ruangan.


"Sayang, ku tinggal dulu sebentar, aku ada urusan yang harus ku bicarakan dengan Rey. Kalau kau memerlukan sesuatu, kau telepon aku saja, oke?" kata Morgan seraya menyerahkan ponsel milik Eylina. Ia lalu mencium kilas kening Eylina dan tersenyum. Lelaki itu kemudian berlalu dari hadapan gadis itu.


Dilihat dari wajahnya, Morgan nampak sedang menahan kemarahannya. Beberapa saat lalu setelah menyuapi Eylina, ia menerima beberapa pesan gambar dari sekertarisnya dan juga beberapa pesan yang menyertainya kemudian. Sejak saat itu raut mukanya perlahan menjadi berubah.


Meski lelaki itu masih bersikap tenang dan juga lembut pada pada dirinya, namun Eylina jelas bisa merasakan ada sebuah amarah yang membara dalam diri Morgan.


Pria itu berjalan menjauh, melempar pakaian kotor Eylina ke dalam keranjang lalu membuka pintu dengan kasar.


Apa yang terjadi padanya?

__ADS_1


Eylina menatap kepergian suaminya yang menghilang dibalik pintu dengan penuh tanda tanya dihatinya.


💗💗💗💗💗💗


__ADS_2