Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Otak Dangkal


__ADS_3

Setelah keluar dari Cafe Cairos sore itu, Sista berjalan menyusuri trotoar dengan pikiran melayang entah kemana.


Ia berhenti dan berdiri di samping tiang lampu dan menyenderkan bahunya disana. Matanya menatap kosong ke depan dengan tangan dilipat di depan dadanya. Sesekali hembusan angin sore menerpa tubuhnya sehingga menimbulkan sensasi rasa sejuk di kulitnya.


Aku harus gimana sekarang? Sumpah, pusing sekali rasanya. Kenapa harus ketemu dia lagi sih? Lelaki menyebalkan! Dan sekarang malah menunjukku menjadi bodyguard, aku tak sehebat itu kali ...


Ia menundukkan kepalanya dan menatap kebawah, kakinya menendang - nendang dedaunan kering yang jatuh di trotoar. Terkadang ia memainkan kakinya yang terbungkus sepatu sneakers berwarna putih, mengayunkannya ke depan dan belakang. Gadis itu telah hanyut dalam pikirannya sendiri, meski disekitarnya banyak orang berlalu lalang dari tadi.


Aku memang butuh pekerjaan, tapi bukan pekerjaan seperti ini juga. Ini terlalu menakutkan, ya Tuhan. Aku belajar bela diri hanya untuk melindungi diriku sendiri, bukan untuk menjadikannya skill dalam mencari pekerjaan. Duh ... bagaimana ini? Kenapa susah sekali mendapatkan pekerjaan baru, aku tidak ingin merepotkan Tante Santi terus. Tapi masa iya aku harus kerja jadi bodyguard? Itu pekerjaan yang terasa sedikit berat ....


Perlahan ia mengeluarkan selembar kertas yang diberikan oleh Rey dan memandanginya. Sista sangat bimbang, ia ingin sekali menghubungi Eylina. Tapi ponselnya hilang entah kemana, ia bahkan tidak ingat dimana terakhir kali ia meletakkan ponsel itu tadi.


Sista mengayunkan kakinya dan melangkah menuju tempat dimana ia menghajar preman itu, berharap menemukan ponselnya disekitar sana. Barangkali saja ia meletakannya di sekitar sana tadi.


Karena terlalu banyak yang ia pikirkan, gadis itu bahkan tak menyadari jika sedari tadi ia sudah berjalan jauh sekali dari tempat ia menghajar preman itu. Entah sudah sudah berapa meter jarak yang tempuh.


Sial banget sih, sejak kapan aku berjalan kesini tadi? Dasar Sista, apa saja kau pikirkan dari tadi. Berjalan sejauh ini tapi tidak terasa.


Ponselku ... dimana kau berada. Bisa gawat jika kau benar - benar hilang. Akun semua medsos ku belum ku log out. Gimana kalau di hack sama orang jahat? Aaa ... tidak, dasar bodoh! Dasar Sista bodoh! Bagaimana aku bisa se-ceroboh ini sih?


Gadis itu kemudian mempercepat laju langkahnya, ia semakin khawatir dan lama kelamaan iapun berlari.


Sista mencari di sekeliling tempat itu bahkan hingga ke semak - semak. Cari dan terus mencari sampai akhirnya ia merasa lelah, namun ponsel tersebut tak ada disana.


Hua ... kalau ponselnya aja sih nggak masalah. Tapi semua akunku gimana? Gimana kalau dipakai orang buat melakukan kejahatan?


Gadis itu mondar mandir di sana dengan wajahnya yang sudah sangat kacau setelah baku hantam dengan preman tadi. Pulasan make up tipis yang menghiasi wajahnya pun sudah mulai luntur.


Bekas pukulan dari preman tadi mulai terasa semakin nyeri. Gadis itu memegangi dagunya yang terasa berdenyut - denyut.


Pengen nangis aja rasanya, di ponsel itu juga banyak sekali catatan penting. Aduh ... sial banget sih!


Hari sudah semakin gelap, ia sudah sangat kelelahan dan juga lapar. Hingga akhirnya mendaratkan tubuhnya dengan kasar di kursi yang ada disana.


Sista menghentak - hentak kakinya dengan cepat karena cemas sambil mencoba mengingat kapan terakhir kali ia memegang benda itu. Namun sialnya ia tak bisa mengingatnya sama sekali.


Aaa ... ya Tuhan, jika aku masih berjodoh dengan ponselku itu, maka biarkanlah benda itu kembali ke tanganku lagi.


Gadis itu menutup seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menunduk kebawah cukup lama.


Kenapa jadi gini sih? Mana perutku juga lapar sekali ....


"ASTAGA!" teriaknya saat membuka mata dan menoleh ke samping. Ia kaget setengah mati melihat seseorang yang entah datang darimana dan tiba - tiba sudah ada disampingnya, duduk dengan santai tanpa dosa.


"Kecilkan suaramu, bodoh!"

__ADS_1


"Salahmu sendiri, kenapa mengagetkanku?"


Seperti hantu saja, tiba - tiba datang dan mengagetkan seperti itu, gumam Sista dengan pelan.


"Apa kau bilang?"


"Tidak! Aku tidak bilang apa - apa."


Gadis aneh! Berteriak kencang sekali, sampai membuat sakit telinga.


"Kenapa kau masih disini? Bukankah aku menyuruhmu membeli pakaian untuk kau gunakan saat bertugas. Apa kau lupa?" tanya Rey dengan datar.


"Aku tidak lupa," jawab Sista dengan ketus.


"Lalu kenapa tak pergi?"


"Ponselku hilang," jawab Sista lirih. Ia menunduk tak bersemangat.


"Gunakan saja sisa uang itu untuk membeli ponsel yang baru, begitu saja tidak bisa berpikir. Dasar otak dangkal!" ucap Rey secara acuh.


Astaga ... iiiih! Kenapa kau selalu menyulut emosi jiwaku, hah? Mengatai ku bodoh dan sekarang otak dangkal? Lalu besok apa lagi? Belum mulai bekerja saja kau sudah se-menjengkelkan ini. Kalau aku bisa berubah jadi monster akan ku telan hidup - hidup kau.


Gadis itu lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan untuk meredakan emosinya.


"Penting?"


Oh ... astaga, ini orang lahir dari apa sih? Kenapa punya sifat menyebalkan yang kelewat batas seperti ini? Kalau tidak penting mana mungkin aku sampai stress begini.


Sista memutar bola matanya, dan menghembuskan nafasnya secara kasar.


"Kenapa tidak menjawab?"


"Bukan urusanmu!" jawabnya dengan ketus.


"Apa isinya masih tentang lelaki itu?" sindir Rey.


"Sudah kubilang bukan urusanmu!"


Kenapa kau kepo sekali, hah?


Lelaki itu sekilas tampak tersenyum tipis, ia lalu merogoh saku jasnya. Mengambil sesuatu dari sana.


"Nah, ambillah!" Rey menyodorkan benda elektronik berbentuk persegi panjang dan pipih ke hadapan wajah Sista yang masih bersungut kesal.


Mata gadis itu terlihat berbinar menatap benda dihadapannya.

__ADS_1


Aaa ... syukurlah aku masih bisa menemukanmu.


"Dari mana kau menemukannya?" tanya Sista, suaranya sudah jauh lebih lunak dari beberapa saat lalu.


"Tidak penting," jawab Rey datar.


Hey, aku ingin berterimakasih padamu, tapi kenapa kau selalu membuatku kesal setengah mati.


"Jika benda itu penting, jangan biasakan meninggalkannya sembarangan!"


"Oh ... baiklah, terimakasih!" jawab Sista dengan jutek.


"Jangan lupakan tugas awal mu!"


Tugas? Tugas yang mana?


"Tugas apa maksudmu?" Sista menoleh dan mengernyitkan dahinya, mengekspresikan wajah yang masih kesal dan bercampur bingung.


"Gunakan otakmu baik - baik! Dari tadi apa kau tidak mendengarkan?"


Sista terlihat berpikir, tugas yang mana yang dimaksud oleh lelaki tersebut? Rasanya ia baru akan mulai bekerja besok. Kapan lelaki itu mengatakan tugas pertama yang harus ia kerjakan?


"Tugas yang mana?" Ia menyerah.


"Hhh ...." Rey menarik napas panjang.


Hey, aku memang tidak mengerti tugas mana yang kau maksud.


"Aku menyuruhmu membeli pakaian kerja! Kau tidak mendengarnya? Jangan membuatku harus mengulanginya terus menerus!" kata Rey sedikit keras.


Sista pun sampai tersentak dan mengedipkan matanya karena terkejut dengan suara Rey.


"Aku tidak lupa masalah itu! Baiklah, aku pergi sekarang!" balas Sista tak kalah keras.


Gadis itu lalu berdiri dan melangkahkan kakinya dengan sedikit di hentak - hentakkan karena menahan kesal pada lelaki yang baru saja ia temui.


Ada juga laki - laki seperti itu. Berbicara keras sekali pada wanita, gerutunya.


Sista semakin menjauh dan menjadi terlihat sangat kecil sekali di mata Rey.


Lelaki itu menggelengkan kepalanya. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.


Lelaki itu kemudian bangkit dari tempat duduknya, ia mengayunkan kakinya menyusuri jalanan. Menuju tempat dimana mobilnya berada. Ia membuka pintu mobil itu dan masuk ke dalamnya, tak lupa memasang sabuk pengaman lalu menjalankan mobil tersebut menembus malam.


💗💗💗💗💗💗

__ADS_1


__ADS_2