
Hari itu dengan perasaan yang sangat bahagia, Morgan membawa Eylina pulang kerumah.
Semua orang menyambut mereka dengan perasaan cemas mengingat keadaan menantu keluarga itu sungguh sangat lemah saat dibawa oleh Morgan tadi.
Morgan menggendong tubuh istrinya ala bridal, ia membawa Eylina masuk kedalam dan membaringkannya di salah satu kamar tamu.
Semua orang ikut masuk kesana, Emily, Luna, dan kedua orang tuanya.
"Apa yang terjadi pada Eylina, Morgan?" tanya Wira.
"Eylina hamil, Pa. Papa dan Mama akan punya cucu sebentar lagi!" seru Morgan yang tak dapat menahan kegembiraannya.
"Benarkah?" tanya Wira antusias.
"Benar, Pa. Dokter Mira sendiri yang mengatakannya,"
"Hahaha ... selamat, Nak." Wira merangkul putranya dan menepuk - nepuk punggung Morgan karena ikut merasa bahagia.
Sementara Emily dan Luna, jangan ditanya. Mereka sudah histeris sejak tadi karena mendengar kakak iparnya hamil.
Mereka sangat bahagia tentunya, karena akan ada malaikat kecil penghuni baru di rumah Wiratmadja.
Hari itu juga keluarga Wira mengadakan makan malam sebagai wujud rasa syukur dan bahagia yang mereka rasakan hari ini.
Bu Santi dan putrinya juga diundang, bersama dengan keluarga Herlambang dan juga teman - teman Morgan yang ada di Indonesia.
Namun untuk teman - teman Morgan, mereka sengaja diundang lebih malam agar tidak merusak suasana khidmad malam hari ini.
Ya, hal itu karena teman - teman Morgan kalau sudah berkumpul bersama, omongannya sudah tidak bisa dikontrol. Seperti saat ini, mereka sedang pesta barbeque di taman belakang.
"Selamat ya Bos! Sebentar lagi jadi ayah nih," Willy mulai buka suara.
"Bagi resep dong!" timpal Aaron yang langsung mendapat bully-an dari yang lain.
"Kau perlu belajar apa? Cewek mu saja nenek - nenek, pengalamannya sudah banyak tuh. Jam terbangnya udah tinggi man," yang ini Alex yang sedang berbicara.
"Hahaha ... nenek - nenek dipacarin," sahut Willy yang tak mau ketinggalan membully sahabatnya.
"Masih mending aku, biar gimanapun wanita - wanitaku sudah dewasa dan cukup umur, dari pada Alex ... masih bau kencur udah dipacarin," balas Aaron.
"Yang benar Lex? Wah hati - hati nih, bisa rusak semua anak gadis kalau pada dipacari sama Alex semua," sahut Gavin.
"Ngaco aja kalau ngomong, siapa yang sebar gosip? Cewek gue udah cukup umur lah," Alex membela diri.
"Berapa emang umurnya?" tanya Martin.
"Delapan belas," jawab Alex yang langsung ditertawakan oleh teman - temannya.
"Nggak pantes kali, Kakek! Dasar lo, masih bocah udah dipacari," celetuk Aaron seraya menoyor kepala sahabatnya.
"Umur segitu pas banget bro, masih wangi - wanginya ha ... hai ...." kata Alex.
"Sinting lo! Jangan bilang kalau lo udah cicipi tuh gadis malang,"
Mendengar segala ocehan - ocehan tak masuk akal dan logika, Morgan hanya menggeleng - gelengkan kepalanya.
Pantas saja dari dulu Emily tidak berani mendekat pada mereka kalau lagi berkumpul.
Setelah acara pesta barbeque, mereka pun berpamitan karena Morgan mengusir mereka.
Jika tidak begitu, sampai pagi pun mereka juga tidak akan membubarkan diri.
Setelah geng rusuh itu bubar, Morgan masuk ke dalam rumah dan langsung menyusup di bawah selimut dengan sangat pelan karena istrinya sudah terlelap.
Dan baru saja Morgan ingin memejamkan matanya, istrinya bergerak dan berlari ke kamar mandi.
__ADS_1
Terdengar di telinga Morgan suara Eylina yang sedang mengeluarkan isi perutnya.
Ia pun ikut ke kamar mandi dan memijat leher belakang istrinya. Bukan malah mereda, Eylina justru semakin parah.
Ia mendorong agar Morgan menjauh darinya.
"Sayang, kenapa? Aku ingin membantumu,"
"Tidak usah, aku sangat mual mencium aroma mu,"
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Morgan.
"Bersihkan tubuhmu dan ganti pakaianmu, bau asap itu membuatku mual," Eylina menutup hidungnya dan menghindari suaminya. Ia bahkan seperti orang yang jijik pada lelaki itu.
"Baiklah," kata Morgan pasrah.
Lelaki itu pun langsung mandi saat itu juga, baru kemudian menemani istrinya tidur.
Sementara di sisi bangunan yang lain, Rey sedang bersama Sista karena Morgan memberikannya tugas untuk ponsel baru yang Eylina belikan untuk sahabatnya itu.
"Ada apa?" tanya Sista saat sampai di ujung lorong.
Tanpa berbicara, Rey menyodorkan sebuah paper bag padanya.
Sista membelalak saat membuka isinya, yang merupakan ponsel keluaran terbaru bulan ini.
Saking terkejutnya sampai membuat dompet yang ia bawa terjatuh dengan posisi terbuka dan membuat isinya berhamburan.
Mata Rey menangkap sebuah potret yang sudah usang terhambur keluar dari dompet. Ia pun berjongkok dan memungut foto tersebut.
Matanya membelalak sempurna saat melihat sosok yang berada di dalam foto itu. Namun ia mencoba bersikap normal dan memberikan foto itu pada Sista yang masih memunguti kartu dan uang yang berhambur.
"Ini punyamu?"
"Iya," jawab gadis itu dengan singkat dan memasukkan kembali foto itu ke dalam dompetnya.
"Tidak,"
"Baiklah kalau begitu aku pergi ke kamarku dulu," kata Sista. Ia kemudian berbalik dan mulai mengayunkan kakinya.
"Amel!"
Deg ...
Jantung Sista terasa dipukul dengan keras, ia menghentikan langkahnya seketika.
Darimana dia tahu nama kecilku?
Gadis itu menoleh dan berjalan mendekati Rey yang menundukkan kepalanya.
Dia memanggilku kan? Tidak ada siapa - siapa lagi disini.
"Barusan kau memanggil nama Amel? Dari mana kau tahu nama kecilku? Hanya orang - orang khusus yang memanggilku dengan nama itu,"
Tubuh Rey terasa lemas bagai tak bertulang, sementara bibir dan lidahnya terasa kaku dan kelu.
Jadi gadis kecilku dulu sudah tumbuh sedewasa ini?
"Apa foto itu benar - benar milikmu?"
"Kenapa kau menanyakan hal itu?"
"Jadi kau adalah Amel?"
"Darimana kau tahu nama kecilku?"
__ADS_1
"Apa kau sudah melupakan temanmu yang kau hibur di tepi danau saat itu? Seorang anak bertubuh gendut yang duduk di bangku saat itu. Kau mengajakku menemui ayah dan ibumu, kalian mengajakku makan bersama dan kalian juga mengantarkan ku menemukan tempat tinggal baru," kata Rey tanpa ekspresi.
Sista mundur satu langkah dan mulutnya menganga mendengar ucapan lelaki dihadapannya. Saat itu ia masih berusia sekitar delapan tahun.
"K-kau? Kak ... kak Reynard?"
"Kau mengingatku?"
"Tidak, ini tidak mungkin. Kau pasti mengerjai ku kan? Aku tahu kau bisa mendapatkan informasi apapun yang kau inginkan, tapi ini sudah keterlaluan!
"Jadi Amel meragukannya?" kata Rey menatap serius pada Sista.
"Aku ... aku, tentu saja tidak percaya. Kau adalah sekertaris Rey yang menyebalkan. Tidak mungkin kau adalah kak Reynard ku yang baik hati. Lagipula tubuhmu terlalu atletis sementara kak Reynard ku tubuhnya gendut,"
"Baiklah, jika kau tidak percaya. Tunggu aku di tempat latihan seperti biasa besok sore."
Tanpa menunggu jawaban persetujuan, Rey pun pergi dari tempat itu.
Meski hatinya terasa sedikit sakit karena Amel kecilnya tidak mempercayainya tapi ia bisa tersenyum dan tidur dengan tenang malam ini.
*****
Keesokan harinya, seperti permintaan Rey semalam. Sista menunggu kedatangan Rey di tempat biasa mereka latihan.
Gadis itu duduk menunggu di bangku taman.
"Kau ... kenapa tidak memakai pakaian olahraga?" tanya Sista saat Rey berada di hadapannya.
"Aku hanya ingin memberikan ini," Rey menyerahkan gelang mainan yang dulu diberikan oleh Amel kecilnya.
Melihat gelang itu, Sista membelalakkan matanya dengan sempurna. Ya, dia ingat betul akan gelang itu. Itu adalah gelang kesayangannya waktu itu, namun karena ia sangat merasa kasihan pada kak Reynard nya akhirnya ia melepaskan gelang itu dan memberikannya pada kak Reynard nya sebagai kenang - kenangan.
"Jadi kau benar - benar kak Reynard?" tanyanya sedikit ragu.
"Tidak masalah jika kau tidak percaya. Yang jelas aku bisa tenang sekarang, karena aku Amel dalam keadaan baik saat ini," katanya tanpa melirik pada Sista.
"Maksudnya?"
"Tidak apa - apa," Rey lalu menghela napasnya, terdengar ada sebuah kelegaan dari hembusannya, "Dimana keberadaan Paman Hasan dan Bibi Lilis?" tanyanya.
"Mereka telah pulang ke pangkuanNya beberapa tahun yang lalu," ucap Sista seraya menundukkan kepalanya.
"Apa?" tanya Rey terkejut.
"Ayah dan ibu meninggal dalam sebuah kecelakaan," lirih Sista.
Mendengar hal itu, Rey pun menundukkan kepalanya. Ia merasa sangat sedih. Selama ini ia mencarinya, namun saat ini setelah semuanya menjadi terang, dua orang baik itu ternyata telah tiada.
Sore itu juga ia meminta Sista untuk menemaninya mengunjungi makam dua orang itu.
Rey dan Sista juga mulai banyak mengobrol semenjak kebenaran itu terungkap.
Hingga beberapa bulan kemudian, setelah Jordan dan Hendrawan ditemukan dalam keadaan tak bernyawa, Rey meminta ijin kepada tuan mudanya untuk melangsungkan pernikahannya dengan Amel kecilnya yang telah tumbuh dewasa dan cantik.
Orang yang paling bahagia saat itu adalah Eylina. Ia senang sekali melihat sahabatnya akhirnya menikah dengan seorang lelaki yang sangat bertanggung jawab seperti Rey.
Setelah mengucapkan janji suci, Rey, Sista beserta semua keluarga Wiratmadja berfoto bersama. Eylina nampak sangat cantik dan anggun dengan gaun panjang berwarna oranye pastel, ditambah lagi dengan perutnya yang mulai terlihat menyembul menambah auranya menjadi lebih kuat.
Begitulah akhir kisah mereka yang telah menemukan cintanya masing - masing. Semua orang bahagia, semua orang tersenyum di hari yang membahagiakan itu.
Bahkan Ayu terlihat menggandeng tangan menantunya dan berbicara akrab.
Waktu telah mengubah segalanya, keluarga Wiratmadja semakin harmonis dari waktu ke waktu. Tembok besar antara Ayu dan Eylina telah roboh karena kesabaran dan ketulusan gadis itu. Bahkan kini, Ayu adalah orang yang paling cerewet dan paling posesif pada kehamilan Eylina.
Semua urusan makanan, kebersihan dan semua yang menyangkut Eylina dan calon bayinya menjadi perhatian utama di istana Wiratmadja. Terlebih lagi bayi yang dikandung Eylina adalah bayi laki - laki, yang menjadi harapan besar bagi Wiratmadja dan Morgan.
__ADS_1
💗💗💗💗💗💗