Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Bonus 5


__ADS_3

"Pagi, Kak," sapa Sista yang sedang sibuk di dapur bersama bi Ani.


"Pagi," jawab Rey seraya tersenyum.


Ia sebenarnya merasa sedikit tidak enak hati pada istri barunya, lantaran tidak menunaikan kewajibannya semalam.


Tapi apa mau dikata, ia sendiri bingung mulainya dari mana.


"Kak Reynard mau sarapan apa?" tanya Sista lagi. Gadis ini terlihat santai sekali.


"Aku ... buatkan saja roti panggang dengan selai kacang!" pinta Rey.


"Baiklah, mau minum apa?" tanya Sista lagi dihiasi senyum di bibirnya.


Astaga ... sejak kapan Amel jadi cantik seperti ini, batin Rey. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Itu ... em ... kopi panas saja dengan krimer sedikit saja," pintanya kemudian.


"Baiklah tunggu sebentar!"


Sista lalu bergegas mengambil dan menyiapkan apa yang diminta oleh suaminya tadi.


Jika boleh jujur, ia sebenarnya juga sangat gugup menjalani peran pertamanya sebagai seorang istri.


Tapi di sela-sela ketegangan dan kecanggungan mereka, ada seseorang yang tengah tersenyum-senyum melihat tingkah keduanya.


Ya, dialah bi Ani. Seorang yang sedang memasak nasi goreng di ujung dapur.


Ia teringat masa mudanya dulu saat baru saja menikah dengan suaminya.


Persis seperti yang ia saksikan saat ini. Hanya saja tempatnya yang berbeda. Jika dulu ia menjalaninya di kampung dengan segala keterbatasan yang ada, kini Sista dan Rey menjalaninya di rumah mewah dan nyaman seperti ini.


"Ini, Kak. Silahkan sarapan," kata Sista seraya menyajikan roti panggang isi selai nanas serta kopi panas sesuai permintaan suaminya tadi.

__ADS_1


"Terimakasih, lalu mana untukmu? Apa kau tidak ingin menemaniku makan?"


Huaa keberanian apa yang membuat Rey seperti ini. Sista rasanya ingin melompat dari tempatnya. Ia tersenyum malu dan canggung.


"Ah ... makananku masih disana, kita tunggu bi Ani sekalian," jawab Sista kemudian melipir dari sana.


Wajahnya merah sekali. Sungguh, jika boleh dibilang ia tentu lebih nyaman perang argumen dengan sekertaris Rey seperti dulu.


Tapi, sejak perasaan aneh itu mulai muncul. Ia dan Rey terasa seperti orang aneh, terlebih lagi saat mengetahui semua ini.


Sista menuangkan air panas sembari melamunkan hubungannya dengan sekertaris Rey yang dulu, sampai tidak sadar jika cangkirnya telah penuh terisi dan meluber.


"Aw ..." pekiknya saat terkena cipratan air panas.


"Apa yang terjadi," tanya Rey yang tadi spontan berlari kearahnya.


"I-ini aku tidak sengaja,"


"Sudah, nak Rey. Sini biar Bibi saja yang bersihkan. Nanti baju nak Rey kotor."


"Tidak apa, Bi. Ini hanya basah sedikit," jawab Rey seraya terus melanjutkan aktifitasnya tadi.


Sementara bi Ani mengelap meja yang basah karena tumpahan air tadi.


"Maafkan Sista, gara-gara Sista jadi kacau begini," pinta Sista dengan tulus.


"Sudahlah! Apa yang kau katakan. Duduklah dimeja makan, aku cuci tangan dulu!" pinta Rey.


"Baiklah,"


Tanpa banyak bicara, Sista mengikuti apa yang diminta oleh suaminya. Ia mengayunkan kakinya dan duduk di kursinya.


Tak lama kemudian Rey datang dan duduk disebelahnya.

__ADS_1


Aroma maskulin dari tubuh Rey menyebar disekitarnya, mengusik indera penciuman Sista.


Lagi, dadanya berdegup saat mencium aroma ini. Dia yang dulu diam-diam menyukai aroma parfum Rey, kini setiap hari bergelut dengan aroma itu.


"Nak Rey, bibi juga bikin nasi goreng. Nak Rey mau? Nak Sista?"


"Boleh, Bi," jawab Sista.


Perut Sista bisa dibilang perut karet, ia mana cukup jika harus sarapan sepotong atau dua potong kue. Jadi ia memilih nasi goreng sebagai santapannya pagi ini.


"Kau jadi ikut ke makan ayah dan ibu?" tanya Rey di sela-sela acara makan mereka.


"Tentu saja," jawab Sista singkat.


"Baiklah, apa kau ingin membeli sesuatu hari ini?" tanya Rey sengaja. Mengingat pakaian yang dipakai istrinya sungguh lucu. Sista masih memakai piyama milik suaminya hingga saat ini.


Gadis itu tersenyum, "Jika boleh, aku akan mengemasi pakaian dan barang-barang ku yang ada di rumah belakang Tuan Wira.


"Tentu saja, jika kau masih menginginkan barang-barang itu, aku akan mengantarmu kesana,"


"Terimakasih, Kak,"


Mereka lalu melanjutkan sarapan mereka sambil menunggu pakaian pesanan Rey datang. Lelaki itu memesan pakaian untuk istrinya pagi ini.


Sebenarnya ia ingin memesan banyak, tapi karena takut Sista tidak suka jadi ia hanya memesan dua atau tiga setel saja.


Usai sarapan Sista kembali ke kamar untuk mandi. Ia memakai pakaian yang dipesankan suaminya tadi.


Ia lalu bersiap-siap. Karena ia hanya membawa lipstik di dalam tas kecilnya, jadi ia hanya memulaskan benda tersebut tanpa tambahan yang lainnya.


Ia juga memakai sepatu yang ia pakai saat acara pernikahannya semalam.


Hari ini, ia berencana ke makam orang tuanya, kemudian ke rumah Tuan Wira untuk mengambil barang, lalu menyusunnya di kamarnya. Lebih tepatnya di kamar pengantinnya.

__ADS_1


__ADS_2