Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Cobalah!


__ADS_3

Kedua sejoli itu kemudian melangkahkan kakinya dan keluar dari butik tersebut. Morgan membawa Eylina masuk di sebuah restoran bernuansa khas Jepang.


"Sayang, bisakah kita pilih restoran lain?"


*Y*a Tuhan, perutku yang tadinya lapar kini malah menjadi mual karena aroma restoran ini. Maafkan aku yang terlalu kampungan ini Tuan. Eylina.


"Kenapa? Kau tahu sushi disini sangat enak, berbeda dari tempat lainnya. Kau harus mencobanya" Wajah Morgan nampak antusias.


Oh tidak, tidak ... makanan apa itu?


"Aku belum bisa makan sushi sayang." Membayangkannya saja membuatku mual. Entah bagaimana orang - orang itu bisa sangat menikmatinya. Lanjut Eylina dalam hatinya. Ia lalu menunduk.


"Kau bisa memilih menu lainnya jika tak suka. Disini ada banyak menu lezat yang harus kau coba."


"Aroma restoran ini sangat aneh, kurasa perutku tidak bisa bersahabat sayang."


Gadis itu menunduk.


"Baiklah, karena hari ini kau adalah ratunya. Jadi aku akan ikut kemanapun kau mau." Morgan membungkukkan badannya dan membentangkan salah satu tangannya.


Hihihi ... apa yang dia lakukan? Entah apa yang merasuki mu Tuan, kenapa kau jadi sepeti ini sekarang?


Eylina tersenyum di balik masker yang menutupi wajahnya. Ia lalu menggamit lengan suaminya yang kekar dengan tonjolan ototnya yang nampak jelas.


Setelah berjalan kesana kemari dengan melewati banyak restoran - restoran disana akhirnya Eylina berhenti di sebuah restoran bernuansa Nusantara yang sangat jauh sekali dari kata mewah.


Sepertinya disini hidangannya enak. Batin Eylina. Gadis itu bahkan sudah menelan ludah saat membaca menu best seller dari restoran tersebut.


"Sayang, kita makan disini saja ya?" Ajak gadis itu dengan antusias.


"Apa?"


Morgan yang terkejut itu pun membuka kacamata dan maskernya.


Membuat beberapa orang yang berada di dekatnya menoleh padanya. Mereka terkejut saat melihat wajah tampan rupawan tengah menatap gadis di depannya.


"Bukankah itu tuan Morgan? Ganteng sekali ya?" Begitulah bisik mereka pada orang - orang disampingnya.


Menyadari hal itu, Morgan kembali memakai penutup wajahnya.


"Sayang, aku tidak yakin makanan disini enak. Pilihlah tempat yang lain. Kau lihat restorannya terlalu biasa, makanannya juga pasti biasa. Lihatlah yang tertulis disana, nasi pecel spesial, sayur asam, ikan asin, pepes ikan, nasi bakar, apa kau yakin akan makan makanan seperti itu?" Morgan berkata setengah berbisik pada istrinya. Ia yang memang tidak familiar dengan makanan tersebut mulai terlihat cemas.


"Sayang, memangnya apa yang salah?" Eylina melepaskan kacamatanya, matanya menatap Morgan dengan wajah polos yang menggemaskan. Wajah yang membuat Morgan merasa tidak tega.


Lidahku sudah sangat kaku karena tak pernah makan makanan seperti ini lagi. Makanan yang disajikan di rumahmu memang tidak ada yang tidak enak, tapi tetap saja lidahku seperti merasakan ada sesuatu yang hilang.


Aku rindu sekali makanan - makanan itu, kau tau? Batin Eylina


"Sayang, bukan begitu. Hey, aku tidak pernah makan makanan itu. Maksudku ...."


Morgan menggaruk kepalanya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya makanan - makanan seperti itu. Ia bahkan sudah merasa geli walau hanya membayangkannya. Tapi ia tidak ingin gadis yang baru saja ia dapatkan hatinya itu kecewa begitu saja.


Bagaimana restoran seperti ini bisa masuk dan mendapat tempat di mall milik keluargaku yang mewah seperti ini. Morgan mengumpat dalam hatinya.


"Ya sudah jika kau tidak mau, kita bisa pergi dan mencari restoran lain." Ucap Eylina yang terdengar seperti sedang sangat kecewa. Ia lalu menundukkan kepalanya.


"Baiklah, baiklah. Ayo masuk."

__ADS_1


Morgan merangkul gadis itu dan membawanya masuk ke dalam restoran yang sangat ramai pengunjung itu.


Yess!!


Gadis itu bersorak dalam hatinya.


Mereka memilih tempat paling pojok, yang terlihat tidak terlalu banyak orang disana.


Apa yang nona muda katakan hingga tuan muda mau menurutinya begitu saja. Batin Rey.


Lelaki itu nampak duduk di sebuah cafe yang tak jauh dari lokasi Morgan dan Eylina. Ia terlihat tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya melihat tuan mudanya tak berkutik dihadapan gadis yang bahkan sempat menjadi tawanan dan mainannya.


Eylina nampak tengah antusias melihat - lihat menu yang ada di dalam buku yang baru saja ia terima dari seorang waitress yang bekerja di restoran itu.


Sementara suaminya beberapa kali terlihat menggaruk kepalanya karena gelisah.


Dia yang memang sudah terbiasa memesan ruangan VIP di tempat manapun itu merasa tidak nyaman dengan posisinya sekarang yang harus membaur dengan banyak orang dari berbagai kalangan.


Wah ternyata banyak juga menunya. Batin Eylina.


Ia lalu menunjuk beberapa menu makanan dan minuman untuk dirinya dan juga suaminya.


Ingin rasanya ia tertawa melihat gelagat suaminya yang nampak tidak nyaman berada di dalam restoran yang sedang ramai ini.


"Sayang, jadi kau terpaksa menuruti ku kesini? Jadi ini semua hanya karena aku?" Eylina melepas kacamatanya. Ia mencoba menatap lelaki yang ada dihadapannya.


"Tidak, tentu saja tidak. Ya, ini semua terlihat enak." Morgan melepas kacamata dan penutup wajahnya. Ia mencoba tersenyum untuk meyakinkan gadis yang ada dihadapannya.


Persis seperti saat Eylina yang dulu tertekan namun harus tetap menampakkan senyumnya. Lelaki itu bak mendapat karma dari kesalahannya yang pernah mempermainkan gadis itu.


Tak berapa lama setelah itu, seorang pelayan restoran datang mengantarkan pesanan mereka dan menghidangkan makanan tersebut keatas meja.


"Terimakasih." Ucap Eylina.


Pelayan itu tersenyum lalu menundukkan kepalanya.


Eylina membuka penutup wajahnya, ia tersenyum melihat hidangan yang ada dihadapannya. Ikan kakap dan udang yang digoreng krispi, cumi - cumi pedas, sayur asam, sup iga yang mengeluarkan aroma harum, serta beberapa sambal pelengkap seolah melambaikan tangan dengan sangat menggoda kepadanya.


"Wah, ini terlihat enak sekali. Aromanya saja sudah seharum ini." Gadis itu nampak antusias.


Aromanya lezat sekali, tapi apa ini benar - benar aman dimakan? Apa restoran ini memilih bahan yang berkualitas?


Morgan terlihat ragu - ragu.


"Sayang, ayo cobalah!" Eylina mencoba menyuapkan makanan itu pada suaminya. Namun lelaki itu nampak mengunci rapat mulutnya dan menggelengkan kepalanya seperti seorang anak balita yang sedang mogok makan.


"Sayang, makanlah. Aku bisa makan nanti saja." Ucap lelaki itu seraya menahan tangan Eylina.


"Ayolah!" Entah kenapa Eylina justru terhibur melihat suaminya yang nampak tidak nyaman dengan semua ini.


"Sa ...." Baru saja Morgan ingin berbicara, namun Eylina mengambil kesempatan itu dengan baik. Ia menyuapkan makanan itu ke dalam mulut suaminya.


Mmmm ... tidak terlalu buruk juga.


Batin Morgan seraya mengangguk - anggukkan kepalanya.


"Bagaimana? Enak kan? Sudah kubilang makanan ini pasti enak." Gadis itu nampak sangat senang sekali.

__ADS_1


"Ya, lumayan. Tidak terlalu buruk juga."


Wajah Morgan sudah nampak lebih rileks dari sebelumnya.


Ia mengusap pipi Eylina.


"Baiklah, kalau begitu ayo lanjutkan makan."


"Aku ingin tetap makan dari tanganmu."


"Sayang, disini banyak orang. Kau bilang tidak ingin terekspos?"


"Oh sial ... aku lupa, karena yang kuingat dari duniaku hanyalah dirimu."


"Basi." Eylina lalu menjulurkan lidahnya.


"Apa kau bilang?" Pria itu mengernyitkan dahinya.


"Kau pasti sering merayu wanita dengan kata - kata seperti itu kan?"


"Hey, mana ada seperti itu? Aku tidak pernah bermain wanita."


"Hahaha, iya Tuan. Aku percaya. Sekarang cepatlah makan, jangan buang waktu lagi. Bukankah kita harus sudah dirumah saat papamu pulang nanti?" Gadis itu menyodorkan piring berisi makanan pada suaminya.


"Baiklah, kau benar."


Beruntung Jessica datang tepat pada waktunya. Jika tidak, mungkin aku masih berada dalam kebimbangan. Batin Morgan. Ia memandangi wajah Eylina seraya tersenyum untuk beberapa saat sebelum menyantap makanannya.


Lelaki itu menyantap makanannya dan terlihat sangat menikmati.


Morgan tidak menyangka jika sayur asam, makanan yang terlihat kampungan yang ia kira rasanya tidak akan enak itu justru membuat lidahnya bergoyang - goyang karena nikmat.


Ia dan Eylina sesekali terlihat saling menyuapi satu sama lain. Mereka tertawa, bercanda dan saling menunjukkan perhatian masing - masing. Pemandangan yang tentu akan membuat iri bagi siapa saja yang melihatnya.


"Aku tidak menyangka makanan ini rasanya enak." Ucap Morgan setelah ia selesai. Lelaki itu kemudian menyambar minuman yang ada di hadapannya.


Sementara Eylina hanya tersenyum, karena di dalam mulutnya masih penuh dengan makanan.


Morgan menunggu hingga gadis itu selesai, kemudian memanggil salah satu waitress untuk meminta bill yang harus dia bayar.


Tak berapa lama waitress tersebut mendatangi meja tempat Morgan dan Eylina duduk.


"Permisi." Pelayan restoran itu menyerahkan apa yang tadi diminta oleh lelaki itu. Namun saat Morgan menoleh dan tersenyum, pelayan itu membelalakkan matanya dan menutup mulutnya. Sendi - sendinya terasa lemas melihat sesosok pria paling digandrungi di negeri ini berada di depan matanya. Gadis itu tentu tidak akan menyangka jika dirinya akan bertatap muka langsung dan mendapat senyuman dari lelaki tampan kaya raya yang dipuja - puja oleh banyak wanita itu.


"Ambil ini, dan simpan kembaliannya." Kata Morgan dengan santai.


Dengan tangan bergetar dan jantung berdebar - debar pelayan restoran itu menerima uang dari tangan Morgan.


"Te ... te ... terimakasih Tuan." Ucapnya terbata - bata kemudian pergi.


"Ada apa dengan pelayan itu? Apa aku terlihat menakutkan?" Tanya Morgan setelah kepergian pelayan itu.


"Mungkin saja ...." Eylina mencebik.


Apa kau ini pura - pura tidak tahu atau bagaimana? Dirimu itu sangat terkenal di kalangan wanita. Ketampanan mu itu bahkan bisa membuat seorang wanita terasa terhipnotis. Oh ya Tuhan, kenapa aku tiba - tiba menjadi takut.


💗💗💗💗💗💗

__ADS_1


__ADS_2