Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Taman (Part 1)


__ADS_3

Tok ... tok ... tok


Sista mengerjapkan matanya saat mendengar suara pintu kamarnya diketuk dari luar.


Jam berapa ini?


Sista meraih ponselnya yang tergeletak tak jauh darinya. Matanya membulat saat melihat layar ponselnya. Ada beberapa panggilan tak terjawab dan juga beberapa pesan yang semuanya dari sekertaris Rey. Seketika itu juga Sista menelan salivanya yang terasa pahit.


Astaga ... bagaimana aku bisa se-ceroboh ini? Aku tidur lama sekali! Mati aku!


Sista bangun dan segera merapikan pakaiannya, ia lalu menyisir rambutnya dan memakai sepatunya. Dengan kasar ia membuka pintu kamarnya.


Seseorang dengan pakaian pelayan berdiri disana.


"Mbak Sista ya?" tanya seorang pelayan wanita yang terlihat seumuran dengannya.


"Iy ... iya, ada apa ya?" tanya Sista dengan wajah yang masih sedikit kusut dan pucat karena gugup.


"Sekertaris Rey memanggil mbak Sista,"


"Oh ... iya, dimana ya?"


"Di taman belakang rumah utama mbak, cepatlah kesana!"


"Iya baiklah ... terimakasih ya," Sista lalu bergegas pergi. Ia setengah berlari menuju ketempat yang dimaksud.


Aduh ... dia pasti mau menghakimiku sekarang.


Sista menghampiri lelaki yang berdiri di dekat kolam renang dengan kedua tangannya di lipat di depan dadanya. Aura lelaki itu sangat kuat, Sista bahkan merasa terintimidasi walau belum berbicara apapun dengannya.


"Se ... sekertaris Rey, apa kau memanggilku?"


Sekertaris Rey menoleh, ia lalu menengok arlojinya. "Kenapa lama sekali?"


"Itu ... uhmm ... aku tertidur, hehehe ...."


Jangan menatapku seperti itu! Aku merinding tau?


"Kenapa kau masih berpakaian seperti itu? Apa kau tidak membaca pesanku?"


Sista lalu memeriksa penampilannya dari ujung kaki hingga keatas.


Inikan memang pakaian kerja ku, lalu memangnya disuruh pakai pakaian apa?


"Cepat ganti pakaianmu! Waktu kita tidak banyak!"


"Pakaian apa ya maksudnya?" dengan polosnya Sista bertanya. Ia lalu memejamkan matanya dan menutupi kedua telinganya saat sekertaris Rey berjalan mendekatinya dengan tatapan mata yang tak bersahabat.


Aku bisa kehilangan kewarasan ku menghadapi gadis bodoh seperti ini. Hhh ... dari sekian banyak kandidat yang ku tawarkan, Tuan Muda justru memilih dia. Benar - benar tidak masuk akal.


Rey menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar, hembusannya bahkan sampai mengenai kening Sista. Hal itu membuat gadis itu merasakan bulu kuduknya berdiri.


Dia ini manusia apa bukan sih, benar - benar membuat nyaliku ciut.


Sista membuka matanya dengan perlahan.


"Cepat pergilah! Baca kembali pesan yang ku kirimkan tadi dengan baik!"

__ADS_1


"Baiklah!" Sista lalu bergegas pergi. Ia berlari - lari kecil menuju ke kamarnya. Membuka pintunya dengan tergesa - gesa dan melihat ponselnya.


Bersiaplah dalam 15 menit! Pakai pakaian olahraga dan sepatu olahraga.


Jangan terlambat!


Sista membaca pesan dari sekertaris Rey.


Astaga ... tinggal menjelaskan kembali apa susahnya sih? Dasar!


Sista lalu membuka lemarinya dan mencari satu - satunya setelan pakaian olahraga yang dia punya. Ia lalu melepaskan pakaian kerjanya dan secepat kilat menggantinya dengan pakaian olahraga yang diambilnya tadi. Memakai sepatu olahraga kemudian mengikat rambutnya dengan ikatan kuncir kuda.


Dia lalu mengambil tas kecil dan memasukkan ponsel dan dompetnya ke dalamnya. Sista keluar dari kamarnya, lalu menutup dan mengunci kamar tersebut.


Ia dengan segera berjalan cepat ke arah tempat Rey menunggunya tadi.


Namun ia celingukan saat sampai di taman belakang. Sosok Rey sudah tidak ada disana.


Kemana dia? Dia yang menghilang, tapi nanti aku lagi yang kena marah!


Sista lalu membuka tasnya dan mengambil ponselnya. Ia hendak menghubungi atasannya itu. Namun niat itu ia urungkan setelah melihat ada notifikasi pesan masuk dari atasannya. Sista pun membacanya. Ia kemudian mengayunkan kakinya menuju ke arah luar.


Ia melihat Rey juga telah mengenakan pakaian olahraga.


Bukan hanya itu, Morgan dan Eylina pun sama. Mereka juga mengenakan pakaian olahraga, bahkan Luna pun juga demikian .


Memangnya mau olahraga bersama? gumamnya.


Sista berlari ke arah mereka.


"Selamat sore Tuan, Nona ..." sapanya dengan senyum yang terkembang. Ia juga tak lupa untuk menundukkan kepalanya.


Nah kan benar, aku lagi yang dimaki - maki.


"Rey! Jangan terlalu keras padanya! Kau bisa membuatnya trauma padamu," kata Morgan.


"Baik Tuan,"


"Baiklah, ayo kita berangkat sekarang!" Morgan berjalan seraya mengalungkan lengannya di leher Eylina. Lelaki itu kemudian membukakan pintu untuk Eylina dan adik perempuannya. Ia lalu masuk ke belakang kemudi. Ya, dia mengemudikan sendiri mobilnya. Sementara Rey, mengemudi mobil lain bersama Sista. Sekertaris itu membawa mobil baru milik Eylina.


Mobil Morgan telah lebih dulu melaju memecah udara sore itu. Sementara mobil yang dikemudikan Rey menyusul dibelakangnya.


"Sekertaris Rey, memangnya kita mau olahraga bersama ya?"


"Siapa yang bilang?!"


"Lalu kenapa kita memakai pakaian olahraga seperti ini?"


"Diam dan fokuslah ke depan! Tidak ada yang memberimu hak berbicara dan banyak bertanya seperti itu," Rey melirik sekilas.


"Tidak mau menjawab tidak masalah! Aku tidak akan bertanya lagi." Sista lalu membuang pandangannya ke depan.


Dasar sok berkuasa. Memangnya bertanya dan berbicara harus minta ijin dulu apa?


Batin Sista kesal.


Mobil melaju selama 15 menit sebelum akhirnya sampai di sebuah taman terbuka. Nampak indah sekali pemandangan disana. Rey menghentikan mobilnya. Mereka lalu turun, Sista melihat pemandangan sekelilingnya. Udara disana terasa segar sekali, banyak pohon - pohon besar disini sehingga menjadikan tempat ini sangat sejuk dengan kualitas udara yang baik. Tidak banyak orang yang berkunjung disini, mungkin karena taman ini terletak di dalam komplek perumahan elit. Jadi tidak semua orang bisa mengakses dan bebas berkunjung kesini.

__ADS_1


Morgan, Eylina dan Luna tampak bersenda gurau di pinggir danau buatan. Mereka benar - benar nampak harmonis sekali.


Sista menarik sudut bibirnya hingga terangkat keatas melihat sahabatnya terlihat bahagia bercanda bersama suami dan adik iparnya. Mereka tampak berlarian dan berkejar - kejaran kesana kemari.


"Tangkap aku kalau kau bisa!" Eylina menjulurkan lidahnya ke arah suaminya.


"Beraninya kau ya!" Lelaki itu menyeringai lebar lalu berjalan cepat ke arah istrinya.


Eylina berlari dan bersembunyi di balik pohon besar, ia sesekali tertawa lepas saat Morgan gagal menangkapnya.


"Kena kau! Berani sekali kau menggigit telingaku, hah?" Morgan menangkap Eylina dari belakang dan menggigit kecil bahu gadis itu hingga membuatnya mengerang. Sementara tangannya menggelitik pinggang ramping Eylina.


"Sayang hentikan, hahaha ... sayang please!" Eylina merasakan kakinya lemas karena perbuatan suaminya.


Luna duduk di tepi danau, dia terlihat tertawa menyaksikan ulah kakaknya.


"Aaaawww ...."


Bruk ...


Morgan dan Eylina terjatuh bersamaan karena Eylina memberontak dan mendorongnya hingga membuat suaminya kehilangan keseimbangan dan jatuh kebelakang. Eylina yang belum terlepas dari pelukan Morgan pun akhirnya ikut jatuh dan menimpa lelaki itu.


"Hahaha ...." bukannya merasa kesakitan, keduanya justru tertawa bersama. Begitu juga Luna, gadis itu semakin tertawa lepas melihat pertunjukan di depan matanya.


Sista yang melihat hal itu dari kejauhan ikut tersenyum cekikikan dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Untuk beberapa saat posisi Morgan dan Eylina tidak berubah, mereka saling menatap satu sama lain. Morgan membelai rambut Eylina yang jatuh diatas wajahnya. Bibirnya tersenyum lebar. Eylina mendekatkan wajahnya, bibirnya mulai menyentuh bibir Morgan.


"Uuhhmm ..." Morgan mengerang kesakitan karena bibirnya ternyata sengaja digigit oleh istrinya. Eylina melepaskan pelukan Morgan dan meloloskan dirinya. Gadis itu tertawa terbahak - bahak dan meninggalkan Morgan yang masih terbaring di rerumputan.


Dasar rubah kecil yang nakal, awas kau ya! Bibir yang kau gigit ini akan menuntut balas padamu!


Lagi, kedua sejoli itu saling berkejaran. Mereka terlihat sangat bahagia.


Bahkan Sista saja yang hanya menyaksikannya merasa gemas pada keduanya. Ia tersenyum dan kadang ikut tertawa.


"Ayo!" Rey menarik tangan gadis itu. Sista menggelengkan kepalanya dengan cepat untuk mengembalikan kesadarannya. Ia pun mengikuti langkah kaki Rey yang membawanya menjauh dari tempatnya berdiri saat ini.


Iihh ... dasar rese! Ganggu kesenangan orang saja! gerutunya.


Rey menghentikan langkahnya saat mereka sampai di area olahraga.


"Cepat lakukan pemanasan!" perintahnya. Ia sendiri juga kemudian melakukan pemanasan. Begitu juga Sista, gadis itu melakukan pemanasan seperti yang diperintahkan oleh Rey.


"Lari sepuluh putaran!" perintahnya lagi.


"Apa?" Sista mengernyitkan dahinya.


"Baiklah ... baiklah," gadis itu menutupi telinganya saat Rey mulai mendekat dan mengangkat tangannya.


Sista mulai berlari di area jogging track yang telah disediakan.


Sementara Rey berolahraga dengan menggunakan alat - alat yang menyerupai alat di tempat gym yang tersedia di taman itu.


💗💗💗💗💗💗


Cover akan diganti seperti ini gais ....

__ADS_1


Dikarenakan Thor menemukan ada cover yang kebetulan menggunakan gambar yang sama dengan cover yang thor gunakan.



__ADS_2