Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Gelisah


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana Eylina bisa kembali kerumah dan berkumpul dengan keluarga Wiratmadja.


Eylina sangat bersemangat pagi ini, ia bangun lebih awal. Eylina membuka matanya sesaat setelah ibunya membuka tirai yang menutupi jendela kamar rawatnya. Gadis itu sedang berbunga - bunga dan tidak sabar untuk segera kembali kerumah.


"Sudah bangun Lin?" tanya ibu setelah selesai mengikat tirai panjang yang menjuntai itu.


"Sudah, Buk," jawab Eylina seraya mengucek matanya.


Hari ini ia hanya ditemani oleh ibu, adik dan juga sahabat yang merangkap sebagai bodyguardnya, Sista.


Semalam Morgan berpamitan untuk pulang, karena ada beberapa berkas penting yang harus ia periksa dan segera ditandatangani, juga ada beberapa urusan yang harus ia diskusikan dengan ayahnya. Sehingga dengan sangat terpaksa ia harus meninggalkan Eylina disini.


"Kamu mau sarapan, Nak? Tadi pagi - pagi buta, ada seseorang yang mengantarkan makanan - makanan ini. Namanya Pak ... siapa ya tadi? Pak ... mmm, " Santi berusaha mengingat - ingat nama pelayan tadi.


"Pak Gunawan?" tanya Eylina seraya mengangkat alisnya.


"Nah, iya ... hehehe, ibuk lupa. Ibuk kira siapa tadi, pakaiannya rapi sekali, Nak. Malah tidak seperti seorang pelayan, dia lebih mirip orang kantoran." Santi berbicara sambil menyiapkan sarapan untuk Eylina. Ia membuka satu persatu kotak makan yang diantarkan oleh Pak Gunawan tadi. Ada beberapa kotak yang cukup besar di atas meja. Makanan ini sengaja dikirimkan agar Eylina dan keluarganya tidak perlu repot - repot mencari makan diluar. Yang belum jelas kandungan gizinya.


"Iya, Buk. Pak Gunawan itu adalah kepala pelayan disana. Pak Gun memang sangat rapi, dia bahkan selalu memakai jas. Di rumah papa Wira ada banyak sekali pelayan, mungkin hampir 40 orang. Eylin aja nggak hapal nama mereka, dari sekian banyak pelayan itu, yang Eylin kenal hanya bi Astri sama bi Sani aja. Yang lainnya Eylin nggak tau. Mereka setiap hari sepertinya sibuk sekali dan karena keluarga Papa Wira juga memang tidak memperbolehkan para pelayan untuk sembarangan masuk ke dalam rumah utama kalau memang tidak ada keperluan penting."


"Jangankan elo, gue aja yang kamar tidurnya sebelah - sebelahan sama mereka aja nggak hapal nama mereka, hahaha ...." sahut Sista yang baru saja keluar dari kamar. Gadis itu sepertinya baru selesai mandi. Aroma sabunnya bahkan masih tercium hingga ke indera penciuman Eylina.


Di momen ini, semuanya terasa tak ada sekat antara Tuan dan juga yang lainnya. Kamar mandi di kamar ini dipakai secara bergantian, bahkan Morgan juga kemarin ikut mandi di sini. Dan ia juga merasa tidak masalah.


Mendengar celetukan Sista, Eylina pun terkekeh lebar.


"Memangnya rumah Pak Wira itu sebesar apa, Nak? Sampai menyewa banyak sekali pelayan," tanya Santi seraya menyuapkan makanan ke dalam mulut putrinya.


"Mmm ... besar banget, Buk. Tanya aja sama Sista, iya kan Sis?" Eylina kemudian melahap makanan yang disuapkan oleh ibunya.


"Iya, Tante. Rumahnya udah kayak istana aja. Gede dan mewah banget pokoknya. Kalau aja rumah itu terdiri lebih dari tiga atau empat lantai, orang - orang pasti ngira kalau rumah itu adalah istana sungguhan. Gede banget pokoknya." Sista dengan antusias menjelaskan.

__ADS_1


Sementara Santi hanya manggut - manggut mendengarkannya. Ia selama ini mengira jika besannya adalah orang kaya yang kekayaannya sama rata seperti orang kaya lain pada umumnya. Tapi dugaannya salah, Tuan Wira yang sering dikabarkan ditelevisi itu ternyata lebih dari apa yang ia ekspektasikan selama ini.


Kedua sahabat itu saling sahut menyahuti pembicaraan. Mereka membahas tentang keluarga mertua Eylina yang seolah tidak ada habisnya.


Kini Santi memang sudah seharusnya tau seperti apa keluarga besannya, jadi Eylina menceritakan semuanya. Baik tentang mertuanya dan juga adik - adik iparnya. Tapi tentu saja, tidak dengan alasan pernikahannya.


Tentang hal itu, Eylina dan Morgan telah sepakat untuk menyimpannya untuk diri mereka sendiri. Cukup Rey dan Sista saja yang menjadi saksi perjalanan cintanya.


Selepas Eylina sarapan, seorang suster kembali datang untuk memberikan obat pada gadis itu. Dan baru setelah itu, Santi, Dara dan Sista menyantap sarapan mereka.


Karena Morgan tidak ada disisi Eylina, kini Santi lah yang menggantikannya untuk mengurus gadis itu.


Setelah selesai dengan santapan paginya, Santi pun meminta Dara dan Sista untuk keluar sebentar karena ia akan menyeka tubuh Eylina dan mengganti pakaian putrinya itu.


Jujur saja, Eylina merasa malu sekali. Meskipun Santi adalah ibu kandungnya, tapi tetap saja, Eylina merasa malu jika bagian tubuhnya terekspos tanpa sensor.


Santi dengan telaten menyeka setiap inci bagian tubuh Eylina. Ia juga memberikan sabun dan kemudian menyekanya kembali agar tubuh putrinya menjadi bersih.


Setelah selesai, Santi pun memakaikan pakaian ganti di tubuh Eylina.


"Makasih ya, Buk. Eylin sayang sekali sama Ibuk." Eylina kemudian memeluk tubuh ibunya yang berdiri di samping brankar nya.


"Ibuk juga sayang sekali sama kamu, Lin. Kamu yang selama ini sudah berjuang untuk Ibuk dan juga Dara. Berkat kamu, Ibuk bisa sembuh dari sakitnya ibuk. Berkat kamu juga, ibuk dan Dara sekarang bisa tinggal di rumah yang lebih baik dan juga bisa punya toko kue sendiri. Terimakasih ya, Nak. Nanti sampaikan juga sama suamimu, ya!"


Santi melepaskan pelukan putrinya, ia melihat mata Eylina hitam.


"Ini semua juga berkat doa dari Ibuk, kalau Ibuk nggak mendoakan Eylin. Eylin juga nggak akan mungkin bisa berada diposisi Eylin yang sekarang."


Kedua wanita itu lalu saling tersenyum satu sama lain.


Mereka lalu menyambung cerita mereka pada banyak hal. Yang intinya mereka sangat bersyukur atas hidup mereka selama ini. Tidak ada yang perlu disesali ataupun disayangkan atas apapun yang mereka alami. Setiap kejadian pasti membawa hikmah sendiri. Tumbuh besar tanpa sosok ayah disisinya, tak membuat Eylina dan Dara menjadi patah semangat.

__ADS_1


Beruntung mereka punya ibu yang sangat kuat, tabah dan sangat penyabar. Ibu yang bijaksana, yang sanggup menjadi ayah dan ibu sekaligus. Yang dengan gigih memperjuangkan dan mendidik anak - anaknya.


Tuhan memang mengambil sosok ayah darinya, tapi Tuhan juga memberinya sahabat yang setia, adik yang kuat dan ibu yang seperti bidadari. Dan kini, Eylina mendapatkan sosok pendamping yang begitu menjaga dan mencintainya serta sosok ayah mertua yang sangat baik hatinya.


Eylina sangat bersyukur atas ini semua. Hilang satu sosok, namun Tuhan mengirimkan banyak malaikat padanya.


Cerita mereka bersambung saat Dara dan Sista telah kembali.


Eylina meraih ponselnya yang ada diatas nakas, ia mengusap layarnya dan memeriksanya, karena Eylina mengaktifkan mode senyap di ponselnya. Gadis itu menatap layar ponselnya, namun tak ada satupun panggilan atau pesan yang masuk.


Ia tiba - tiba menjadi gelisah. Morgan tidak pernah mengabaikannya sedikitpun. Ia tahu lelaki itu tidak bisa jauh darinya. Ini tidak seperti biasanya. Biasanya Morgan selalu mengirim pesan saat mereka tak berdekatan, ataupun meneleponnya hanya untuk menanyakan sedang apa.


Eylina melihat aplikasi pengirim pesan dan melihat profil suaminya. Di sana jelas tertulis jika lelaki itu aktif menggunakan aplikasi tersebut dua menit yang lalu. Tapi kenapa tak ada satupun pesan yang singgah di ponselnya. Sesibuk itukah dia? pikir Eylina.


Eylina memonyongkan bibirnya. Ia terlihat berpikir dan menimbang - nimbang.


Apa dia lagi sibuk ya? Mungkinkah dia ke kantor? Tapi kenapa tidak mengirim kabar apapun? Ah baiklah, aku akan tanya Emily saja.


Eylina pun menekan nomor adik iparnya, telepon tersambung tapi Emily tidak menjawabnya. Hingga beberapa kali ia menelepon, adik iparnya itu juga tidak menjawabnya.


Perasaan Eylina semakin tidak enak. Ia pun menelepon Luna. Dan ternyata gadis mungil itupun sama saja. Dia tidak menjawab telepon dari kakak iparnya.


Orang - orang rumah sibuk atau bagaimana sih?


Dengan perasaan khawatir, Eylina pun menekan nomor suaminya. Tidak ada lagi gengsi saat ini, yang ada hanya rasa gelisah dan khawatir. Kekhawatirannya semakin bertambah saat lelaki yang dicintainya itu tak kunjung mengangkat telepon darinya, bahkan hingga panggilan kelima.


Ada apa sebenarnya? Kenapa tidak ada yang mengangkat teleponku sama sekali.


Eylina kemudian menekan nomor sekertaris Rey, panggilan pun tersambung. Namun lelaki itu juga sama saja. Ia tidak mengangkat telepon dari Eylina. Ini sungguh tidak seperti biasanya.


Tak kehabisan akal, Eylina juga menelepon ke rumah. Pak Gunawan mengangkatnya, tapi Eylina tidak merasa puas karena Pak Gun hanya mengatakan jika semua orang telah pergi meninggalkan rumah sejak selesai sarapan tadi pagi. Termasuk juga suaminya.

__ADS_1


Ya Tuhan, ada apa ini?


💗💗💗💗💗💗


__ADS_2