Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Masalah


__ADS_3

Morgan melangkah lebar dengan kakinya yang panjang. Ia menemui Rey di sebuah cafe.


"Tuan Muda," Rey menyapa Morgan saat lelaki itu sampai di cafe yang terletak di sisi bangunan rumah sakit itu. Lelaki itu bangun dari duduknya dan menundukkan kepalanya dengan hormat. Lalu menarik kursi untuk tuan mudanya.


Morgan mendaratkan tubuhnya di kursi dengan kasar.


"Seret lelaki pengkhianat itu kemari, Rey! Morgan berkata dengan sorot mata yang tajam, melebihi tajamnya sebilah pedang. Ia mengeratkan gigi - giginya serta mengepalkan tangannya. Entah sudah seperti apa bara amarah yang ada di dalam dadanya saat ini.


"Tuan muda, saya mohon tenanglah! Biarkan saya yang mengatasi hal ini." Rey tahu, Morgan adalah orang yang tidak mentolerir sebuah pengkhianatan. Lelaki itu bisa menghancurkan orang tersebut sangat kejam dan tanpa ampun.


Morgan menoleh ke arah Rey, matanya yang tajam dan menyimpan kemarahan itu terlihat berkilat. "Dimana keberadaannya sekarang?" tanyanya.


"Dari hasil pelacakan Robin dan timnya, Mathias pergi meninggalkan Indonesia, Tuan."


"Oya? Sejak kapan? Apa kau tahu hal ini sejak lama, Rey?" Tatapan tajam itu kini menjadi tatapan mengintimidasi lawan bicaranya.


"Mathias pergi sejak kemarin, Tuan. Saya telah lama menyelidiki tentang hal ini. Robin menemukan banyak bukti, dan bukti itu semakin hari semakin kuat. Foto yang saya kirimkan itu adalah hasil dari buruan Robin. Sejak kekuasaan jatuh ke tangan Tuan muda, lelaki itu sudah menunjukkan gelagatnya." Rey menjelaskan.


"Kenapa kau tidak bilang dari awal, Rey? Berapa banyak kerugian dan kekacauan yang dibuat olehnya?" suara Morgan sedikit meninggi. Ada rasa kecewa dalam diri Morgan.


"Maafkan saya, Tuan. Saya masih membutuhkan bukti dan informasi yang akurat sebelum memastikan semuanya. Dia pergi tidak membawa apa - apa, Tuan. Tapi selama ini dia telah berhasil menggelapkan dana perusahaan sebanyak 900 Miliar."


Morgan mengepalkan tangannya dengan kuat dan memejamkan matanya.


Hanya demi 900 Miliar, kau mempermainkan kepercayaan papa?


"Aku tidak peduli berapa banyak yang dia bawa. Nominal itu tidak ada artinya bagiku. Tapi pengkhianatan ini, aku tidak bisa mengampuninya! Apapun caranya, bawa dia kehadapan ku dan letakkan kepalanya di bawah kakiku dalam keadaan masih bernyawa! Buat lelaki itu menyesali apa yang telah diperbuatnya! Hingga ia berpikir jika mati adalah jalan terbaik, Rey!" Suara Morgan nampak begitu berat penuh penekanan.


"Baik, Tuan." Rey kemudian menelepon Robin, dan menginstruksikan agar menyebarkan informasi ini kepada seluruh anak buah yang lain, dan juga kepada sebuah geng mafia terbesar di Asia yang berada di bawah kendali kepemimpinan anak buah Rey. Rey memerintahkan mereka untuk melacak keberadaan lelaki itu.


Morgan menyesap kopinya. Sorot mata kemarahannya masih jelas terpancar. Ia tidak menyangka salah satu orang yang dipercayai oleh ayahnya akan mengkhianatinya seperti ini. Dan yang lebih membuat Morgan murka, Mathias justru bergabung ke dalam perusahaan asing yang selama ini menjadi rival dari perusahaannya. Sebuah perusahaan yang sejak dulu telah berulang kali mencoba menjatuhkan Ayahnya.

__ADS_1


"Apa papa sudah tau hal ini?" tanyanya kemudian.


"Belum Tuan, saya harap sekertaris Ji dan yang yang lainnya tidak sampai mengatakan hal ini pada Tuan besar. Hal ini dikhawatirkan akan bisa mempengaruhi kesehatan Tuan Wira, nanti."


"Ya, kau benar. Jaga informasi tentang kasus ini dari papa. Aku tidak ingin terjadi apapun dengan Papa. Biarkan Papa menikmati masa tuanya tanpa beban apapun, Rey."


"Pasti, Tuan. Saya akan menjaga hal ini, agar Tuan besar tidak sampai mendengarnya."


Mathias! Beraninya kau menyulut api dihadapan ku! Berani sekali kau mengkhianati orang yang telah mempercayaimu selama ini!


Morgan menatap lurus kedepan. Ia sungguh merasa kecewa dan geram pada sosok lelaki pengkhianat itu. Lelaki yang selama ini dipercayai dan diberikan jabatan yang tinggi sebagai kepala keuangan, dan duduk di gedung utama Globalindo, kini justru menikamnya dari belakang.


"Kembalilah ke kantor, Rey! Dan segera bereskan kekacauan ini!"


"Baik Tuan." Rey bangun dari duduknya, begitu juga Morgan. Kedua lelaki itu berjalan beriringan dan memisahkan diri di perbatasan cafe. Rey menuju ke tempat parkir dan Morgan kembali ke kamar Eylina.


Lelaki itu menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan dirinya dan meredakan emosinya. Ia tidak ingin kekacauan pikirannya mempengaruhi sikapnya pada gadis yang dicintainya itu.


Morgan berhenti sejenak di depan ruang perawatan Eylina. Ia memejamkan matanya dan mengusap wajahnya. Ia mendongak keatas, menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Setelah perasaannya dirasa telah netral, ia pun membuka pintu ruang rawat Eylina. Morgan memasang senyumnya, namun tak berselang lama kemudian matanya membulat karena terkejut saat melihat gadis itu tengah berdiri di depan jendela kamar seraya menatap pemandangan ke arah luar.


"Bagaimana kau bisa bangun? Siapa yang membantumu?" tanyanya sedikit khawatir.


Namun gadis cantik dihadapannya justru tersenyum - senyum melihat wajah suaminya yang masih kusut ditambah panik.


"Hey, Tuan ... bisakah kau tenang sedikit? Ada apa denganmu?" Eylina mengusap bahu suaminya dan tersenyum.


"Aku mengkhawatirkan mu tapi kau malah lebih suka bermain - main, hah? Kenapa kau nakal sekali sekarang? Sudah kubilang, telepon aku kalau kau mau sesuatu. Jika sesuatu hal buruk terjadi padamu bagaimana? Maafkan aku, karena telah membiarkanmu sendiri. Seharusnya aku menyuruh suster untuk menjagamu."


"Wah ... kau sekarang banyak bicara ya? Kau mengkhawatirkan ku? Kurasa kau terlalu berlebihan, sayang. Aku tidak apa - apa, kenapa kau selalu mengkhawatirkan ku? Aku bukan anak kecil yang akan membahayakan diriku sendiri." Eylina memiringkan kepalanya.


"Hemm ... ya sudah. Apa sudah tidak sakit lagi?" Morgan berpindah posisi ke belakang gadis itu. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Eylin. Namun belum sampai tangan itu menyentuh pinggang ramping itu, Eylina lebih dulu memperingatkannya.

__ADS_1


"Sayang, jangan lakukan hal ini!" Eylina mengangkat tangannya.


"Sayang, tapi aku merindukanmu. Bagaimana bisa kau melarang ku untuk menyentuhmu? Semalam aku tidur sendirian, dan sekarang kau tidak mengijinkan ku memelukmu."


"Jangan mengada - ada, sayang! Kau tahu sendiri, luka jahitan ku bahkan belum kering." Eylina memberikan tatapan ancaman pada Morgan.


Apa - apaan dia? Eylina masih membulatkan matanya.


"Baiklah, aku minta maaf." Morgan memegang kedua telinganya dan memasang wajah menyesal. Seperti seorang anak kecil yang baru saja melakukan sebuah kesalahan.


Melihat hal itu, Eylina merasa kasihan pada suaminya.


"Hahaha ... apa itu? Kau lucu sekali." Eylina ingin tertawa keras, tapi ia menahannya karena perutnya masih terasa nyeri jika ia tertawa.


Senang sekali melihatmu tertawa, Eylina.


Morgan tersenyum tipis melihat gadis yang dicintainya bisa tersenyum dan tertawa.


"Oya, kau darimana tadi?" tanya Eylina.


"Aku? Bukankah sudah kubilang padamu, aku ada sedikit urusan dengan Rey. Kenapa? Apa kau merindukanku?"


"Tidak, aku hanya penasaran saja. Baiklah kalau begitu cepatlah mandi! Bagaimana kau bisa pergi tanpa mandi tadi?"


Kedua pasang mata itu kemudian saling memandang satu sama lain. Morgan menangkup wajah cantik Eylina.


"Memangnya kenapa? Tidak akan ada orang yang akan terganggu kan? Baiklah aku akan mandi dulu. Jangan terlalu banyak berdiri, ayo kembali ke ranjang mu."


Lelaki itupun menuntun Eylina kembali ke ranjangnya, kemudian ia pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan badan dan juga pikirannya yang sedang kacau.


Cukup lama juga lelaki itu berada di dalam kamar mandi. Morgan menyadarkan tubuhnya di dinding kamar mandi yang dingin.

__ADS_1


Ia nampak tengah berpikir. Meskipun Mathias hanyalah seorang kepala keuangan. Namun lelaki itu cukup tau banyak tentang strategi dari Globalindo group. Tidak dipungkiri, sedikit banyak Morgan juga merasa khawatir. Hal ini bisa saja akan menjadi sandungan besar dalam urusan bisnisnya jika lelaki itu membuka semua informasi pada perusahaan Phanom group yang merupakan musuh bebuyutan dari Globalindo.


💗💗💗💗💗💗


__ADS_2