
Senja yang mulai tenggelam membuat pemandangan alam semesta dihiasi cahaya berwarna jingga yang sangat indah.
Di dalam rumah yang sangat besar, lampu - lampu di seluruh sudut rumah mulai terlihat menyala. Begitu juga lampu - lampu taman yang mengelilingi bangunan rumah ini.
Di salah satu bagian bangunan, semua pelayan yang ada di dapur sedang sangat sibuk untuk menyajikan makanan khusus untuk malam hari ini. Di sana juga terlihat seorang kepala pelayan yang tengah sibuk mengawasi pekerjaan para bawahannya. Memastikan semua pekerjaan mereka dengan baik dan benar.
Di dapur yang luas ini aroma dari daging yang dipanggang bersama bumbu pilihan, menyeruak keluar dan memenuhi ruangan. Sangat harum dan menggoda siapa saja yang mencium aromanya.
Suara peralatan yang saling beradu dan dimainkan dengan profesional oleh para juru masak itu seolah menjadi sebuah irama tersendiri di dalam ruangan ini. Irama yang selalu mengiringi aktivitas mereka di dalam dapur besar ini.
Sementara di sisi bangunan yang lain, Morgan sedang menjalani perannya sebagai seorang suami yang juga merangkap sebagai perawat dadakan. Ada banyak sekali pelayan yang bisa disuruh atau bahkan ia bisa membawa suster dari rumah sakit, tapi entah kenapa lelaki itu justru memilih melakukannya sendiri.
Ia membantu Eylina membersihkan diri dikamar mandi, mencuci rambutnya dengan telaten serta membasuh seluruh tubuh Eylina.
Bagian perut Eylina memakai sebuah pelindung seperti topi dengan tali yang diikatkan melingkar di pinggangnya, sehingga bagian tersebut tidak akan basah terkena air.
Selesai dengan acara mandinya, Morgan juga dengan cekatan mengeringkan tubuh Eylina dengan sangat lembut, ia menepuk - nepuk seluruh tubuh Eylina dengan handuk. Morgan juga membungkus rambut dan kepala Eylina yang masih basah.
Morgan menuntun wanitanya ke ruang ganti dan memilihkan pakaian yang dirasa anggun dan cantik saat dipakai oleh Eylina nanti. Sementara Eylina disuruh duduk manis dan menunggu di sofa yang ada disana.
Cukup lama juga suaminya memilihkan baju. Lelaki itu berulang kali membolak balikkan pakaian yang tergantung di dalam lemari. Banyak gaun indah disana, namun Morgan tak cukup puas. Jelas saja, Morgan sangat mencintai kesempurnaan. Ia ingin istrinya terlihat cantik malam hari ini, tapi ia juga tidak ingin istrinya mengenakan gaun yang terlalu terbuka, tidak ingin potongan dada yang terlalu rendah atau gaun yang terlalu pendek.
Dan akhirnya pilihannya jatuh pada gaun dengan panjang dibawah lutut berwarna mutiara dengan lengan yang cukup tertutup.
"Kurasa ini cocok untukmu," ujarnya seraya tersenyum puas dengan pilihannya. Morgan menunjukkan gaun tersebut ke hadapan Eylina. "Cobalah!" katanya lagi, seraya melepaskan handuk kimono yang menutupi tubuh istrinya. Hingga nampak lah sebuah pahatan postur tubuh yang indah, ciptaan Sang Pencipta.
Gadis itu dengan reflek menutupi tubuh polosnya dengan kedua tangannya.
"Hahaha ... kau ini kenapa? Apa kau masih merasa malu padaku?"
"Hah? Tidak juga, aku kan belum memakai pakaian dalam."
"Ah iya, kau benar juga. Dimana pakaian dalam mu?" tanya Morgan kemudian.
__ADS_1
"Di laci itu," tunjuk Eylina dengan bibirnya, sedangkan tangannya masih menutupi bagian tubuhnya yang sensitif.
Morgan pun bergegas ke arah yang ditunjuk tadi dan mengambil sepasang pakaian dalam berwarna senada.
"Sayang, biarkan aku memakainya sendiri. Aku bisa melakukannya."
Tolong jangan perlakukan aku secara berlebihan seperti ini, batin Eylina.
"Sssttt ... diam lah. Aku senang melakukan ini untukmu," kata Morgan dengan satu jarinya menempel dibibir Eylina.
Morgan kemudian berpindah ke belakang Eylina untuk memakaikan penutup dada pada gadis itu, ia sedikit bermain - main disana. Tubuh putih bersih milik Eylina terasa sangat menggoda. Melihat hal itu, tentu saja Morgan tidak ingin mengabaikannya begitu saja.
Lelaki itu menangkupkan tangannya pada kedua benda kembar tersebut dan mengusapnya perlahan seraya menciumi tengkuk Eylina.
"Sebenarnya aku sangat merindukanmu," bisik Morgan di belakang telinga Eylina, kemudian memberi kecupan lembut di bagian tersebut. Membuat Eylina merasakan seperti dialiri listrik secara perlahan di sekujur tubuhnya.
Eylina memejamkan matanya, ia pun sama halnya dengan Morgan. Namun apa mau dikata, mereka kini harus berpuasa hubungan hingga beberapa Minggu kedepan. Ini semua demi kebaikan Eylina.
Morgan pun kemudian memakaikan satu persatu pakaian Eylina, kemudian membiarkan gadis itu keluar dari ruang ganti. Sementara dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Morgan membiarkan tubuhnya terguyur oleh air yang dingin untuk meredakan ketegangan yang baru saja ia rasakan di bagian bawah tubuhnya tadi.
Beberapa saat telah berlalu, kini ia merasa sedikit rileks.
Aroma dan keindahan tubuh Eylina sudah seperti candu yang memabukkan bagi dirinya. Hanya dengan memeluknya saja sudah bisa membuatnya hampir tak bisa mengendalikan juniornya yang tegang.
Setelah selesai ia pun mengeringkan tubuhnya dan berganti pakaian di ruang ganti.
Morgan melangkah keluar, ia mendapati sesosok wanita cantik nan anggun dengan gaun yang dipilihkannya tadi. Riasannya yang natural dengan lipstik berwarna peach membuat penampilannya bertambah cantik, ditambah sebuah kalung dengan liontin kecil yang berkilauan semakin menyempurnakan penampilannya. Aura kecantikannya benar - benar keluar malam ini. Rambutnya yang sudah memanjang dan berwarna hitam legam juga tergerai dengan indah. Benar - benar sangat mempesona.
Sehari - hari Morgan sudah melihatnya, memeluknya setiap waktu, bahkan tidur dengannya. Tapi tetap saja, kecantikan Eylina masih membuatnya terpana hingga tak sadar jika dirinya mematung cukup lama di depan pintu ruang ganti.
Eylina tersenyum dan menghampirinya, dengan memakai sepatu yang senada dengan pakaiannya, ia berjalan anggun ke arah suaminya, "Sayang?" ia mengernyitkan dahinya dan menggerakkan tangannya, menyapu udara di depan suaminya. Membuat Morgan tersentak.
__ADS_1
"Bidadari ku, kenapa semakin hari semakin cantik? Sepertinya aku menyesal karena tidak menemukanmu sejak dulu. Aku banyak melewatkan waktuku begitu saja, hingga tak pernah menyadari jika ada bidadari cantik sepertimu ada di dunia ini," kata Morgan seraya meraih kedua tangan Eylina dan menciumnya satu persatu.
"Sudahlah! Aku bisa pingsan jika kau terus memujiku sepanjang waktu," jawab Eylina seraya tersenyum dan memiringkan kepalanya.
Mereka kemudian saling menggenggam tangan dan turun untuk menemui yang lain. Morgan menuntun Eylina perlahan - lahan menuruni satu persatu anak tangga.
Semua orang nampaknya sudah siap di meja makan, Dara dan Ibu juga nampak cantik. Hal itu tentu saja membuat Eylina bertanya - tanya. Siapakah yang menyulap penampilan ibu dan adiknya hingga membuatnya pangling, sementara keluarga ini tidak mengundang Willy dan Miss Anna untuk datang kemari.
Eylina dan Morgan menyapa semua orang yang telah hadir disana, kemudian menempati kursinya masing - masing.
Sista dan sekertaris Rey dimana? Apa mereka tidak ikut makan disini? Hhh ... seharusnya mereka juga ikut menikmati acara jamuan ini. Mereka kan juga bekerja keras.
Eylina mengedarkan pandangannya, namun ia tidak menemukan sosok sahabatnya disana.
Tak lama kemudian, para pelayan pun datang dengan membawa makanan yang diletakkan di atas meja troli.
Pak Gunawan memberi arahan pada pelayan itu tentang tata letak dan penyajian makanan. Para pelayan pun kemudian menyajikan satu persatu hidangan tersebut ke atas meja.
"Selamat menikmati, Tuan, Nyonya, semoga Tuan dan Nyonya serta semuanya menyukai hidangan yang kami sajikan malam ini," katanya seraya menundukkan kepalanya, kemudian memundurkan badannya dan berdiri di belakang Tuan Wira.
Sebagai tuan rumah, Wira pun mempersilahkan tamunya untuk menikmati hidangan yang telah disajikan malam ini.
Santi dan putrinya menyambutnya dengan senyum simpul dan menganggukkan kepalanya dengan sangat sopan serta mengucapkan terimakasih.
Mereka pun menikmati sajian malam ini dengan khidmad, semua orang nampak senang dengan hidangan yang mereka nikmati. Daging panggang yang disajikan benar - benar empuk, aromanya sangat harum dan menggoda, dipadukan dengan saus barbeque lezat, menambah hidangan ini terasa sempurna.
Saat malam hari, keluarga ini memang jarang sekali memasukkan menu nasi putih sebagai hidangan utama, mereka lebih memilih menggantinya dengan kentang atau sumber karbohidrat yang lain, bahkan lebih sering memilih sajian yang rendah karbohidrat dipadukan dengan daging sapi, ayam kampung ataupun seafood.
Jadi tidak heran jika dalam keluarga ini, semuanya memiliki bentuk tubuh yang ideal, rambut yang indah, kuku yang putih berkilau dan kulit yang sehat bersinar.
Malam ini terasa sangat hangat dan int*m diantara kedua keluarga, Wira memang sangat pandai menciptakan kehangatan dalam sebuah suasana. Ditambah putra putrinya yang juga ramah dan banyak omong membuat acara makan malam ini menjadi riuh dan berkesan.
💗💗💗💗💗💗
__ADS_1