Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Imbalan Untuk Mathias


__ADS_3

Siang itu setelah Rey makan siang bersama Pak Gun dan Sista, ia berpamitan pada Morgan.


Ia melajukan mobilnya ke arah dermaga kapal yang ada di pinggiran kota J.


Cukup lama juga untuk sampai ke tempat itu, Rey bahkan memakan waktu lebih dari satu jam. Padahal jalanan yang ia tempuh sangat lengang, terlebih lagi jalan ke arah dermaga lama.


Sampainya di sana ia melihat Robin dan beberapa anak buah yang lain. Mereka berhasil mengamankan anak serta istri Mathias di tangan mereka. Sementara beberapa yang lain mengamankan anak buah Jordan dan Hendrawan.


"Selamat siang sekertaris Rey," sapa Robin.


Namun Rey hanya menganggukkan kepalanya, ia lalu memeriksa tawanan yang ada ditengah - tengah anak buahnya.


Rey berjongkok dan berusaha mengenali wajah mereka dengan meraih dagu mereka secara kasar. Namun nihil, Rey tidak mengenali siapa mereka.


"Bereskan mereka! Aku akan membawa istri dan anak Mathias bersamaku."


"Baik, Tuan."


Robin kemudian memberi kode pada anak buahnya untuk segera mengakhiri permainan.


Beberapa orang anggota The Lion itupun membawa mereka ke dalam hutan. Dermaga lama ini memang dekat sekali dengan hutan belantara. Ada desa - desa kecil disana. Penghuninya sangat sedikit. Jalanan disana juga rusak parah.


Berdasarkan keterangan dari Robin, anak dan istri Mathias di sekap di salah satu bangunan tua yang ada di salah satu desa tersebut.


Keadaan dua orang itu sangat memprihatinkan, Rey bahkan hampir tidak mengenali sosok istri Mathias yang dulu cukup cantik dan terawat. Terlebih lagi anaknya, kondisi mereka benar - benar kurus dan lusuh.


Rey membawa mereka ke dalam mobilnya dan meninggalkan tempat itu.


"Sejak kapan mereka membawa kalian?" tanya Rey setelah beberapa saat melajukan mobilnya.


"Aku tidak tahu, hiks ... hiks ...." istri Mathias nampaknya masih trauma. Tubuhnya bergetar, entah perbuatan apa yang telah orang - orang itu lakukan pada wanita ini.


Sementara seorang anak laki - laki berusia sekitar sepuluh tahun itu nampak seperti orang linglung. Ada bekas luka di pelipisnya, juga lebam - lebam tubuhnya.


"Tenanglah! Setelah ini ku pastikan tidak akan ada kejadian seperti ini lagi."


Rey menatap wanita itu melalui kaca mobil, namun wanita itu nampak sangat takut.


Melihat hal itu, Rey tidak mengajaknya berbicara lagi. Ia fokus pada kemudinya sampai pada tempat tujuan mereka.


"Turunlah, suamimu ada di dalam rumah sakit ini. Tadinya aku ingin mengajakmu untuk mengganti pakaian dulu. Tapi karena kau sepertinya memiliki trauma, jadi aku langsung mengantarkan mu kesini. Tapi tahukah kau? Suamimu sangat mengkhawatirkan mu. Jika dia melihatmu sangat lusuh seperti ini, dia pasti akan sangat sedih."

__ADS_1


Mendengar perkataan Rey, wanita itu nampak berpikir.


"Apa aku bisa percaya padamu?"


"Aku adalah sekertaris Rey, apa kau lupa? Atau kau tidak mengenaliku?"


Sekertaris tentu heran dengan sikap dari anak dan istri Mathias. Jangankan orang yang terlibat di dalam perusahaan, orang luar pun sangat mengenalnya.


"Lalu kenapa kau menyandera ku? Kenapa tuan Wira menyandera kami?" tanya wanita itu dengan matanya yang memerah, menyiratkan sebuah rasa kecewa dan juga kemarahan.


"Tuan Wira? Maksudmu?"


Rey tidak mengerti arah pembicaraan wanita itu, ia mengernyitkan dahinya karena keheranan.


"Para penjaga yang mengurungku mengatakan jika tuan Wira lah yang melakukan hal ini. Dia adalah otak dari semua ini!" ujar wanita itu dengan nada semakin meninggi di akhir kalimatnya.


"Jaga ucapan mu! Jika kau ingin tahu kebenarannya, tanyakan pada suamimu! Dia ada di ruangan di ujung lorong itu."


Rey kemudian berjalan memandu wanita itu bersama anaknya untuk bertemu Mathias di ruang rawatnya.


"Suamiku ...." panggil perempuan itu dengan suara serak.


"Laura? Axel?" Mathias menoleh ke arah sumber suara.


Mathias turun dari ranjangnya dan berhambur memeluk kedua orang yang baru saja datang tersebut. Ia rindu sekali, sangat rindu pada anak dan istri tercintanya.


"Aku sangat mengkhawatirkan kalian," kata Mathias dengan tergugu.


"Kami juga sangat ketakutan, mereka jahat sekali. Aku takut, sayang."


Laura pun menangis tak kalah hebatnya, begitupun putranya. Selama beberapa minggu mereka disandera dan mendapat perlakuan sangat buruk, kini akhirnya mereka bisa selamat dan bisa berkumpul kembali.


"Kau nampak kurus sekali Laura, dan juga kau Axel, banyak sekali memar di tubuhmu, Nak? Maafkan ayah yang tidak bisa menjaga kalian dengan baik."


"Mereka memperlakukan kami seperti hewan. Kami diberi makan dua hari sekali. Mereka juga menyiksa kami."


Mendengar hal itu, Rey merasa sangat geram sekali. Tangannya mengepal dengan keras.


"Benarkah bukan tuan Wira yang melakukan hal ini?" tanya Laura kemudian.


"Apa yang kau katakan? Tentu saja bukan, tuan Wira tidak akan sanggup melakukan hal kejam seperti ini."

__ADS_1


"Tapi mereka menyebutkan nama tuan Wira sebagai otak dari penculikan kami."


"Itu tidak benar Laura! Pelaku yang sebenarnya adalah Jordan. Orang yang dulu pernah hampir meledakkan gedung utama. Kau ingat?"


"Benarkah?"


"Jordan juga hampir membunuhku, lihatlah! Dia menembak ku dua kali. Beruntung sekertaris Rey datang tepat waktu dan menyelamatkan ku. Jika tidak, aku mungkin tidak akan bisa bertemu kalian lagi."


Laura menatap luka di perut suaminya dan menitikkan air matanya.


Entah kini harus bagaimana, ini adalah pengalaman terburuk dalam hidupnya. Tapi meski begitu, ia masih harus tetap bersyukur karena setelah kejadian mengerikan yang ia alami, ia masih bisa bertemu kembali dengan suaminya.


Tak lama setelah itu Morgan dan ayahnya pun masuk ke dalam ruangan itu.


Baik Morgan maupun Wira sama - sama terkejut dengan keadaan anak dan istri Mathias.


"Kalian ... bagaimana bisa jadi seperti ini?" tanya Wira setelah mendekat ke arah mereka.


"Laura dan Axel mendapat perlakuan sangat buruk dari anak buah Jordan, Tuan."


"Rey, minta Riu kembali ke gedung utama dan membantumu menyelesaikan urusan ini secepatnya!" titah tuan Wira.


"Baik Tuan."


Siang itu Wira dan Morgan meminta maaf atas kejadian yang menimpa keluarga Mathias. Mereka tentu tidak menyangka jika Jordan kembali melibatkan anak - anak dan wanita untuk memuluskan aksi mereka.


Ini sudah tidak bisa ditolerir lagi, Wira merasa sangat geram jika Jordan kembali menggunakan cara ini untuk urusan bisnisnya.


Hari itu juga Mathias dan keluarganya diantar pulang ke rumah yang baru, tak jauh dari kediaman Wiratmadja. Di sana sudah ada para penjaga yang siap mengamankan keluarga lelaki itu.


"Tuan Wira, terimakasih sudah sangat peduli pada kami. Dan untuk uang yang sudah saya gelapkan, semua uang itu masih utuh dan aman," kata Mathias.


Mereka kini tengah duduk di ruang tamu, di rumah baru milik Mathias yang baru saja dihadiahkan oleh Wira.


"Aku percaya padamu, untuk sementara waktu kau tidak perlu pergi ke kantor. Fokus dulu pada keluargamu dan gunakan uang itu untuk keperluan mu beserta keluargamu," jawab Wira seraya menepuk bahu Mathias.


"Tapi Tuan ...."


"Mathias, kesetiaan mu padaku dan pada putraku itu harganya jauh lebih mahal. Uang itu sungguh terlalu sedikit untuk menghargai semua pengorbanan mu. Aku dan Morgan sangat berterimakasih pada mu dan sekaligus meminta maaf pada kalian semua," katanya sebagai pemungkas obrolan.


Wira dan putranya serta Rey pun kemudian pamit dari sana.

__ADS_1


💗💗💗💗💗💗


__ADS_2